Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 91 (season 2)


__ADS_3

Diana terus memperhatikan suaminya. Tidak mungkin bagi Anton menyerah begitu saja. Ia tahu sifat suaminya. Pasti dibalik ini semua, suaminya telah merencanakan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak mengetahuinya.


"Mas, syukurlah jika mas ingin berdamai dengan keluarga Mahardika," ujar Diana. Anton menatap istrinya sekilas. Ia tertawa lebar.


"Kamu pikir semudah itu aku menyetujuinya? Tuan Muda dari Mahardika Corp ini sungguh polos sekali. Hanya dengan beberapa patah kata saja langsung percaya," ucap Anton dengan santai. Ia kembali ke kamarnya.


Waktu sudah hampir malam, Zidan melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Ia harus sampai di rumah sebelum Zara terbangun dari tidurnya.


"Siapa sih Zara itu? Dan Ziva? Apakah anak kandung mama sudah ditemukan?" batin Syifa. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.


"Aku harus cari tahu secepatnya tentang siapa Zara itu. Dan apa hubungannya dengan pria tampan tadi?" gumam Syifa lagi. Ia ingin menyelidiki secara diam-diam tentang Zara.


***


Zidan sudah sampai di rumah. Ia segera masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya. Saat tiba di dalam kamar, Zara baru saja selesai mandi.


"Dari mana saja? Kata mommy kamu pergi dari tadi sore," ujar Zara. Zidan tersenyum dan menghampiri Zara.


"Aku ada urusan sedikit di kantor," ucap Zidan berbohong. Ia terpaksa berbohong pada Zara agar Zara tidak mencemaskan dirinya. Zara mengangguk paham.


Zidan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia menunggu Zidan keluar kamar mandi dengan duduk di tepi ranjang. Zara mengusap perutnya yang kini sudah nampak membuncit. Ia begitu tidak sabar menantikan kehadiran buah hatinya.


Beberapa saat kemudian, Zidan sudah selesai mandi. Ia menuju depan cermin untuk menyisir rambutnya. Kemudian, ia membawa Zara keluar kamar untuk menuju ruang makan. Mereka makan malam bersama seperti biasanya.

__ADS_1


***


Dua hari berlalu...


Zidan membawa Zara ke rumah Anton sesuai kesepakatan mereka waktu itu. Awalnya Zara takut dan menolak, namun Zidan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Zidan tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Zara dan calon anaknya. Kali ini, Zidan akan percaya pada Anton selaku mertuanya. Zidan mengesampingkan segalanya hanya demi ingin berdamai dengan orang tua Zara.


"Sayang, bagaimana jika ternyata ayahku tidak mengizinkanku untuk bertemu denganmu?" ucap Zara khawatir. Saat ini mereka dalam perjalanan menuju ke kediaman Mahindra. Bukannya Zara tidak merindukan orang tuanya atau tidak senang dengan kehadiran mereka. Namun situasi yang memanas belakangan ini membuatnya ragu, apakah mereka benar orang tuanya atau bukan. Karena menurut Zara, seharusnya orang tua itu mendukung putrinya dan mengesampingkan segala egonya agar putrinya bahagia.


"Hanya satu minggu sayang. Papamu berjanji akan merestui hubungan kita jika aku membiarkanmu tinggal bersama mereka selama satu minggu. Mungkin papamu ingin mengenalkanmu pada keluarga Mahindra," ujar Zidan dan ia tersenyum tipis.


Tak lama setelah itu, mereka sampai di rumah Anton. Zidan keluar dari mobil dan kini membawa Zara masuk ke dalam rumah. Anton dan Diana menyambut mereka dengan bahagia. Sedangkan Syifa menatap Zara dengan sinis. Tak pernah ia bayangkan akan ada hari ini. Di mana ia tiba-tiba harus berbagi kasih dengan orang asing yang sekarang menjadi kakaknya. Anton dan Diana memeluk Zara secara bergantian. Mereka menyuruh Zara dan Zidan duduk di sofa ruang tamu.


"Terima kasih nak Zidan sudah mau mengantar Ziva ke rumah kami," ucap Diana dengan ramah. Zidan hanya mengangguk pelan.


"Sayang, kamu pasti lelahkan? Ayo, aku antar ke kamar kamu. Mulai hari ini panggil kami mama dan papa ya. Dan itu adalah adik kamu namanya Syifa," tutur Diana dengan senang.


"Menyebalkan! Beraninya mengambil perhatian mama dan papa!" batin Syifa kesal.


Zara berdiri dan menghampiri Zidan. Zidan tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. Kemudian Diana membawa Zara ke kamar barunya. Kamar yang ia desain khusus untuk putrinya. Kamar itu telah lama kosong. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam kamar tersebut, bahkan Syifa sekalipun. Setiap kali Syifa merengek untuk melihat apa yang ada di dalam kamar ini, Diana selalu tidak memperbolehkannya dengan berbagai alasan. Syifa juga ikut mengantar Zara melihat kamar baru Zara.


Diana membuka pintu kamar tersebut. Setelah mendengar kabar bahwa Zara akan menginap di rumahnya, secara khusus Diana membersihkan kamar itu kembali. Menata ulang tata letak kamar tersebut agar Zara betah dan menyukainya.


"Lihat, ini adalah kamarmu 19 tahun yang lalu sayang. Saat kamu masih bayi dan sangat lucu," ujar Diana. Zara memperhatikan setiap sudut kamar tersebut. Kamar dengan desain sederhana dan nyaman. Tak pernah terbayang jika ia akan memiliki kamarnya sendiri selain di panti.

__ADS_1


"Sayang, apa yang papamu pernah ucapkan jangan kamu masukkan dalam hati ya. Kami hanya takut akan kehilanganmu lagi," ucap Diana sedih. Zara yang tak tega melihat ibunya bersedih langsung memeluk ibunya sekilas.


"Tidak apa-apa bu, Zara juga minta maaf jika Zara punya salah," ucap Zara. Ia tersenyum tipis. Syifa yang memperhatikan mereka hanya menatap mereka dengan kesal.


"Bahkan mama sampai menyiapkan kamar ini khusus untuknya. Kamarku saja tidak sebesar ini," batin Syifa.


Zara duduk di tepi ranjang. Diana mengeluarkan beberapa pakaian yang tersimpan di almari yang beberapa hari yang lalu telah ia beli. Ia memperlihatkan pakaian tersebut pada Zara. Zara hanya tersenyum saat ibunya memperlihatkan pakaian-pakaian tersebut. Diana juga bercerita banyak hal pada Zara. Ia memperlihatkan album foto waktu Zara masih bayi. Syifa hanya berdiri tak jauh dari mereka. Syifa merasa seperti obat nyamuk yang kehadirannya tidak diinginkan lagi.


"Sayang, sini," ucap Diana menyuruh Syifa agar mendekat dan duduk di sampingnya. Syifa tersenyum canggung dan segera duduk di samping Diana.


"Mulai hari ini, Zara adalah kakak kamu. Kalian berdua harus akur ya," ucap Diana. Ia menyatukan tangan Zara dan Syifa. Diana tersenyum tipis.


"Pasti Ma, Syifa akan menyayangi kak Zara," ucap Syifa.


"Iya bu," balas Zara. Mereka saling berpelukan.


Setelah cukup lama berada di kamar, Diana membawa Zara untuk menemui Zidan sebelum Zidan pergi.


"Nyonya, makan siang sudah siap," ucap bi Tia, pembantu di rumahnya. Diana mengangguk dan menuju ke ruang tamu. Ia mengajak Zidan untuk makan siang bersama sebelum pergi.


Saat ini mereka berada di ruang makan. Zara membantu Zidan untuk mengambilkan makanannya. Syifa menatap mereka dengan kesal. Ia tidak suka dengan kehadiran Zara. Ia berpikir jika kehadiran Zara akan merebut perhatian kedua orang tuanya.


Selesai makan, Zidan pamit untuk pulang. Zara mengantar Zidan hingga sampai di dekat mobil. Ia sebenarnya tidak ingin Zidan pergi. Bahkan Zara sampai meneteskan air matanya karena tidak ingin Zidan pergi dari sisinya meski itu hanya satu minggu.

__ADS_1


"Jangan menangis. Nikmatilah waktu bersama keluarga barumu selama satu minggu ini sayang. Nanti aku akan menjemputmu kembali. Meskipun kita tidak saling bertemu, kita bisa saling berbalas pesan dan panggilan video nanti," ucap Zidan sambil menyeka air mata Zara. Zara memeluk Zidan. Zidan mengecup kening Zara cukup lama.


"Jaga anak kita baik-baik," bisik Zidan. Zara mengangguk dan tersenyum lebar. Zidan masuk ke mobilnya dan perlahan melajukan mobilnya meninggalkan rumah keluarga Mahindra.


__ADS_2