
Hari-hari pun berlalu. Zara dan Zidan sudah kembali lagi ke kediaman orang tuanya. Tiga hari berada di panti asuhan mampu mengobati kerinduannya pada tempat yang sudah membesarkannya. Meskipun kini ia serba berkecukupan, namun Zara tetaplah Zara yang dulu. Ia tidak pernah sombong atau pun merendahkan orang lain.
Hari ini juga adalah hari pertama ia masuk kuliah kembali setelah libur panjang yang melelahkan. Zara ingin melanjutkan kuliahnya hingga akhir. Ia tidak ingin pendidikannya terputus di tengah jalan. Apalagi ia mendapatkan beasiswa tersebut dengan susah payah.
Pagi ini, Zara sudah selesai membantu Alina untuk menyiapkan sarapan. Setelah selesai, ia masuk kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap, sekaligus menyiapkan keperluan suaminya. Selesai mandi, Zara berdandan sedikit agar terlihat lebih segar dan natural. Selesai merapikan rambutnya, Zara segera membangunkan Zidan yang masih terlelap tidur. Sudah menjadi kebiasaan Zidan jika pagi susah untuk bangun dan hanya bangun jika Zara yang membangunkannya. Ia semakin bermanja pada istrinya itu.
Setelah susah payah membangunkan Zidan, akhirnya Zidan terbangun juga. Ia duduk di tepi ranjang sebelum menuju kamar mandi. Zidan menatap Zara dengan heran. Sepagi ini Zara sudah bersiap dan terlihat cantik. Zidan memajukan wajahnya mendekat ke arah Zara dan memandangi Zara. Ia menatap Zara dengan lekat.
"Sepagi ini sudah rapi mau ke mana?" tanya Zidan. Ia lupa jika hari ini hari pertama Zara masuk kuliah lagi. Zara tersenyum dan mencubit hidung Zidan dengan gemas.
"Lupa? Aku harus kuliah hari ini," jawab Zara. Zidan mengangguk dan berpikir sejenak. Ia masih tidak tega jika Zara berada di luar jangkauannya.
"Aku antar ya, aku tungguin sampai kamu pulang kuliah," ucap Zidan serius. Zara tertawa geli. Ia tidak habis pikir jika Zidan memperlakukannya seperti bocah TK.
"Aku bukan anak TK lagi sayang... Kan semalam kita sudah bahas masalah ini," balas Zara. Zidan menjatuhkan kepalanya di bahu Zara. Ia memejamkan matanya sejenak.
Ya, semalam Zara dan Zidan sudah membahas masalah ini. Zara akan berangkat dan pulang bersama Raffa. Karena mereka teman satu kelas dan Zidan akan merasa Zara lebih aman daripada dikawal oleh Fanny atau yang lainnya. Namun disisi lain, Zidan cemburu pada Raffa dan Zara karena Zara setiap hari satu mobil dengan Raffa. Meskipun kini status mereka berbeda dan sudah berubah dari teman menjadi kakak dan adik ipar.
"Ya sudah, tapi kamu jangan dekat-dekat dengan Raffa ya. Meskipun dia adikku aku tidak mau kamu lebih dekat dengannya," tutur Zidan. Lagi-lagi Zara menghela napasnya panjang. Yang Zidan takutkan sama sekali tidak akan pernah terjadi.
Setelah membujuk Zidan agar segera mandi dan bersiap, Zara menuju ke meja makan terlebih dahulu. Alisya menarik Zara untuk duduk di sampingnya. Zara mengangguk dan duduk di samping Alisya sambil menunggu semua anggota keluarganya lengkap.
__ADS_1
Selesai sarapan, Zara dan Raffa bersiap untuk ke kampus. Zidan mengantar Zara sampai ke mobil. Ia ingin mengantar Zara namun di kantornya ada rapat sebentar lagi.
"Sayang, hati-hati ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku," ucap Zidan lembut saat Zara sudah berada di dalam mobil. Zara tersenyum dan menyentuh tangan Zidan dengan lembut.
"Raffa, tolong jaga kakak ipar kamu. Jangan biarkan orang lain menyakitinya," ucap Zidan dengan tegas. Raffa mengangguk dan tersenyum tipis. Lalu mereka pamit untuk ke kampus.
Selepas kepergian Zara dan Raffa, Zidan segera bersiap untuk ke kantor. Hari ini ia mengendarai sendiri mobilnya.
***
"Vi, ayo bangun. Kamu hari ini harus kuliah kan?" ucap Rani berteriak memanggil Viona. Namun Viona masih setia dengan kasurnya. Bahkan tidurnya semakin pulas. Rani mendengus kesal, pasalnya hampir setiap pagi ia berteriak untuk membangunkan putri bungsunya.
"Kenapa Ma? Viona malas bangun pagi lagi?" tanya Farida sambil terkekeh. Rani yang sedang menyiapkan secangkir kopi untuk suaminya terhenti sejenak. Ia menoleh menatap Farida yang sudah duduk manis di kursinya.
"Adikmu memang seperti itu. Kalau belum diteriaki mama belum bangun juga," ucap Rani. Setelah menyiapkan sarapan, Rani menuju kamar Viona. Ia membangunkan Viona dengan segala cara.
"Oh, nak Raffa tumben ke sini. Mau bertemu dengan Viona?" ucap Rani sedikit keras. Viona langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia langsung terduduk dan mencari keberadaan Raffa.
"Raffa ke sini Ma?" tanya Viona.
"Di ruang tamu," ucap Rani dan keluar kamar Viona. Dengan keterkejutannya Viona langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia terburu-buru karena mengira Raffa sedang menunggunya di ruang tamu. Selesai bersiap, Viona langsung berlari keluar kamarnya.
__ADS_1
"Ma, di mana Raffa?" tanya Viona yang celingukan mencari keberadaan Raffa.
" Ya di rumahnya lah sayang. Untuk apa pagi-pagi dia ke sini, hem?" balas Danis sambil menikmati sarapannya. Viona menuju meja makan dan menatap mamanya dengan penuh selidik.
"Mama bohong sama Viona?" tanya Viona. Rani tersenyum dan mengangguk tanpa rasa bersalah. Viona memanyunkan bibirnya dan duduk di kursinya. Ia memakan sarapannya dengan kesal.
"Kirain ke sini beneran. Tapi, untuk apa juga Raffa ke sini? Hubungan kami juga terkesan memaksa," batin Viona. Mereka melanjutkan sarapan dan pergi ke tempat kerja masing-masing.
"Mas, hati-hati ya," ucap Rani sebelum Danis berangkat ke kantor. Danis mencium kening Rani sekilas dan tersenyum tipis.
"Iya, kamu juga," balas Danis. Setelah itu, mereka berangkat untuk bekerja dan Viona ke kampusnya.
***
Raffa dan Zara sudah sampai di parkiran kampusnya. Selama perjalanan ke kampus tadi tidak ada pembicaraan sama sekali. Raffa yang selalu bersikap dingin sedangkan Zara yang canggung jika hanya berdua seperti itu. Mereka keluar dari mobil dan menuju kelas baru.
"Kamu duluan saja tidak apa-apa kok," ucap Zara pelan.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian. Bang Zidan sudah berpesan untuk menjagamu, kakak ipar," ujar Raffa. Zara tersenyum canggung. Ia hanya kepikiran tentang reaksi teman sekelasnya nanti jika melihat Zara datang ke kampus bersama Raffa.
Tanpa terasa, mereka sudah sampai di luar kelas. Namun tatapan teman-temannya mengintimidasi Zara. Bukan karena Zara berangkat bersama Raffa, namun karena perut Zara yang sudah mulai kelihatan membuncit. Bahkan teman-temannya mulai menggosipkan tentang dirinya. Zara berusaha untuk mengabaikannya. Ia hanya mengusap perutnya dengan lembut lalu masuk ke dalam kelasnya. Karena Raffa berada di dekat Zara, membuat mereka hanya berbisik dan tidak berani menghujat Zara secara langsung. Tatapan Raffa begitu dingin dan mengintimidasi. Membuat siapa saja hanya terdiam tanpa berani bertindak lebih.
__ADS_1