
Setelah mengantar Viona pulang, Raffa kembali melajukan mobilnya pulang ke rumah. Raffa senyum-senyum sendiri jika teringat saat dirinya ditembak oleh Viona tadi sore.
"Dasar wanita aneh," batin Raffa. Tanpa terasa, dirinya sudah sampai di rumah. Raffa segera masuk ke dalam rumahnya.
"Bang, sudah pulang? Kak Kayla," ucap Raffa saat mengetahui Barra dan Kayla berada di rumah. Barra dan Kayla mengangguk. Raffa pamit untuk pergi ke kamarnya.
"Tumben bang Raffa sudah pulang jam segini," ucap Alisya yang sambil duduk di sofa dan memakan camilan kesukaannya.
Sampainya di kamar, Raffa langsung membuang tas dan ponselnya di atas kasur. Begitu juga dengan pakaian yang ia kenakan tadi. Raffa kini telanjang dada dan merebahkan dirinya di kasur. Ia memandangi langit-langit kamarnya. Tiba-tiba saja bayangan Viona yang sedang tersenyum muncul begitu saja. Raffa segera menggelengkan kepalanya untuk menepis pemikirannya. Raffa mengusap wajahnya dengan kasar.
Raffa bangkit dan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia berendam di bath up untuk merilekskan pikirannya sejenak. Menghilangkan rasa lelah pada dirinya. Setelah itu, ia membilas tubuhnya dan memakai handuknya. Raffa berjalan keluar kamar mandi. Setelah memakai baju, Raffa keluar kamar sambil membawa ponsel dan headphone nya. Ia ikut bergabung di ruang tengah sambil menunggu Alina selesai menyiapkan makan malam mereka.
Di tempat lain, Zidan baru saja pulang dari kerja. Ia diantar oleh Fanny menuju panti untuk menginap di sana menemani istrinya. Ia tidak bisa jauh meninggalkan Zara sendirian. Setelah cukup lama dalam perjalanan, akhirnya ia sampai di tempat tujuan. Saat masuk panti tersebut, ia melihat Zara yang baru saja membantu bu Yasmin menyiapkan makan malam mereka dan anak-anak panti tersebut. Zidan tersenyum tipis dan berjalan menghampiri Zara.
"Aku tunggu di kamar, cepatlah datang," bisik Zidan dan pamit untuk ke kamarnya terlebih dahulu pada bu Yasmin. Zara menatap Zidan dan tersenyum tipis.
"Bu, Zara ke kamar sebentar ya," ucap Zara. Bu Yasmin mengangguk dan melanjutkan aktivitasnya. Zara menyusul Zidan ke kamarnya.
Sampainya Zara di dalam kamar, Zidan segera mendekap Zara. Membuat Zara sedikit terkejut namun ia tidak menolak pelukan tersebut.
"Ada apa?" tanya Zara sambil mengendurkan dasi Zidan. Zidan menatap Zara dan mencium keningnya.
"Kalau di luar tidak bisa memelukmu seperti ini. Aku ingin waktu aku pulang kerja disambut seperti ini oleh istriku," ujar Zidan. Ia mencubit hidung Zara dengan gemas. Zara menghela napasnya sejenak. Ia membantu Zidan melepas jas yang dipakai oleh Zidan. Zara menggantung jas tersebut dan mengambil handuk untuk Zidan. Zidan mengekori Zara di belakangnya.
"Mandilah dulu, aku tunggu di ruang makan. Kamu belum makan kan?" ucap Zara sambil menyerahkan handuk itu. Namun Zidan menarik Zara dan mendekapnya dari belakang. Ia menyandarkan dagunya pada bahu Zara. Tangannya mengusap lembut perut Zara.
__ADS_1
"Tidak bisakah di sini lebih lama?" ucap Zidan. Zara membalikkan tubuhnya. Ia mengernyitkan dahinya sambil menatap suaminya.
"Kenapa lagi?" tanya Zara bingung.
Zidan pura-pura ngambek. Dia membelakangi Zara sambil melipat tangannya di dadanya. Zara tersenyum tipis. Ia memeluk Zidan dari belakang dengan manja.
"Sayang, jangan ngambek dong. Aku hanya tidak enak dengan bu Yasmin kalau berlama-lama di kamar," ucap Zara agar Zidan tidak salah paham terhadapnya. Zidan memegangi tangan Zara.
"Ya sudah, aku mandi dulu," ucap Zidan sambil melepaskan pelukan Zara. Ia mencium kening dan pipi Zara sekilas sebelum pergi. Ia berjalan keluar kamar. Zara bergegas menuju dapur untuk membantu bu Yasmin menyiapkan makan malam.
***
Di rumah, Arvin beserta anak-anaknya baru selesai makan malam. Setelah makan malam, Barra dan Kayla bersiap untuk ke rumah orang tua Kayla. Mereka sudah membicarakan hal ini pada Arvin dan Alina terlebih dahulu.
Setelah selesai berkemas, Barra pamit pada orang tuanya dan adik-adiknya. Karena masa cuti mereka akan segera berakhir dan kembali ke rutinitas mereka seperti biasanya.
"Iya Mom, kami pamit dulu ya," ucap Barra. Mereka menyalami dan mencium punggung tangan Arvin dan Kayla secara bergantian. Mereka menunggu Barra dan Kayla sampai keluar rumahnya baru mereka masuk ke dalam. Rumahnya kini serasa sepi, satu persatu anak-anaknya meninggalkan mereka untuk membangun keluarga kecilnya sendiri. Alina menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya. Arvin merangkul Alina dan mencium puncak kepalanya sekilas.
"Apa seperti ini perasaan orang tua kita dulu saat kita memutuskan untuk hidup mandiri dan membangun keluarga kita sendiri mas?" tanya Alina.
"Mungkin," jawab Arvin santai. Ia membawa Alina masuk ke dalam rumahnya.
***
Viona baru selesai membantu ibunya beres-beres berkas di ruangannya. Tadi sore setelah Raffa mengantarnya pulang, ibunya meneleponnya untuk kembali ke restoran. Mau tidak mau ia harus kembali lagi ke restoran itu.
__ADS_1
Viona dan Rani langsung menuju rumah mereka setelah memastikan pekerjaan mereka selesai. Tentunya dengan diantar oleh sopir pribadi keluarganya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Raffa? Mama lihat kamu begitu menyukainya," tanya Rani penasaran. Untungnya Rani tidak mendengar gosip mereka tadi siang karena Viona dan Raffa langsung membungkam karyawan yang menyaksikan kejadian itu. Karyawannya cukup penurut dan mematuhi perintahnya dan Raffa. Kalau tidak, mungkin Rani akan sangat marah padanya.
Viona menghela napasnya sejenak. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu ibunya.
"Ada perkembangan sih, kami sudah resmi pacaran. Tapi mama jangan meledek kami berdua ya. Bisa-bisa Raffa akan memutuskan Viona lagi," ucap Viona dan ia cemberut. Rani tertawa kecil. Putri bungsunya ini sungguh tidak tahu bagaimana cara mengejar laki-laki.
"Memangnya kenapa kalau mama tanya kepada Raffa soal hubungan kalian? Mama berhak ya untuk itu. Tapi sayang, harusnya kamu itu lebih anggun dan lembut sikapnya. Agar Raffa semakin jatuh cinta denganmu," tutur Rani. Viona hanya mengangguk pelan.
"Benar juga sih, siapa yang akan mau sama wanita yang berisik sepertiku," batin Viona.
Tanpa terasa, mereka sudah sampai di rumah. Rani dan Viona segera masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.
Danis dan putri sulungnya sudah berada di ruang tengah. Farida, putri pertama mereka sedang sibuk dengan laptopnya. Sedangkan Danis menonton acara pertandingan bola.
"Malam Papa, kak Far," ucap Viona saat mereka sudah sampai di ruang tengah.
"Tumben pulangnya agak telat," tanya Danis.
"Iya mas, soalnya tadi harus ngecek barang masuk dulu jadi agak lama," jawab Rani. Ia duduk di samping suaminya. Rani mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Danis. Lalu Danis berganti mencium kening Rani dengan lembut.
"Mandi dan istirahatlah lebih awal sayang," ucap Danis pelan. Rani mengangguk tipis. Kedua putri mereka hanya berpura-pura tidak tahu dan acuh dengan keromantisan keluarganya.
"Kalau iri ya segera menikahlah, biar ada yang dipeluk seperti ini," ucap Danis sambil memeluk Rani.
__ADS_1
"Ah, papa nih nikah mulu bahasannya," celetuk Farida karena beberapa kali Danis mendesaknya agar segera menikah. Viona hanya tertawa kecil dan langsung menuju ke kamarnya.