Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 90


__ADS_3

Dua tahun kemudian...


Waktu terus berjalan. Tanpa terasa kini usia Barra sudah 2,5 tahun. Sedangkan Zidan sudah memasuki sekolah dasar kelas dua. Lika-liku perjalanan rumah tangga mereka menjadi saksi kisah cinta Arvin dan Alina.


Melihat anak-anaknya yang mulai tumbuh besar, ia ingin kembali mengelola restorannya yang sudah lama ia serahkan kepada bawahannya. Alina bersikeras ingin bekerja. Bahkan saat Arvin melarangnya, ia tidak mengalah begitu saja.


"Pokoknya mas gak kasih izin sama kamu untuk kembali bekerja sayang," ucap Arvin sambil keluar dari kamar diiringi oleh Alina di belakangnya.


"Huft, kenapa sih mas. Aku bisa kok membagi waktuku untuk keluarga dan pekerjaan," kekeh Alina.


Mereka menuruni tangga menuju meja makan.


"Pagi Pa, Mom. Pagi dek Barra," ucap Zidan yang sudah berada di meja makan.


"Pagi sayang," sahut Alina dan Arvin bersamaan.


Mereka sarapan bersama. Dan seperti biasa, hanya keheningan yang terdengar di antara mereka.


"Sayang, mas berangkat dulu ya," ucap Arvin dan mengecup kening Alina sekilas. Lalu beralih mengecup pipi Barra. Alina mengangguk.


"Mommy, Zidan berangkat sekolah dulu," ucap Zidan dan mencium tangan Alina. Ia mencubit gemas pipi adiknya. Zidan melambaikan tangannya ke arah adiknya itu.


"Hati-hati mas, Zidan juga ya. Jangan nakal kalau di sekolah," ujar Alina yang mengantarkan mereka sampai depan rumah.


"Ingat, tetap di rumah. Jangan bekerja apapun di luar rumah," peringat Arvin kepada Alina. Alina hanya bisa menghela napasnya pelan.


Mau memohon seperti apapun Arvin tidak akan mengizinkannya untuk bekerja apalagi mengelola restorannya kembali. Alina hanya ingin mengisi waktu luangnya. Mengelola restoran juga bukan tiap hari. Mungkin satu minggu hanya beberapa kali ia berkunjung. Sehingga ia tetap bisa fokus untuk keluarga.


Namun pandangan Arvin berbeda dari apa yang ia pikirkan. Sekalipun bekerja itu akan menguras waktunya. Meskipun Alina berusaha profesional dalam pembagian waktu, tetap saja akan ada hari-hari di mana akan sibuk dengan pekerjaannya. Arvin hanya ingin ia saja yang bekerja menafkahi keluarganya. Alina cukup di rumah dan fokus kepada pertumbuhan anak-anaknya. Salahkah ia jika menginginkan hal seperti itu?


"Kalau hanya berkunjung boleh kan mas?" tanya Alina dengan tatapan memohon.


"Iya sudah, hanya berkunjung ya?" ucap Arvin. Alina tersenyum lebar. Akhirnya ia diizinkan untuk ke restorannya. Meskipun hanya berkunjung.

__ADS_1


Setelah memastikan suami dan anaknya berangkat bekerja dan sekolah, ia menutup pintunya dan masuk ke dalam.


Barra sudah semakin aktif. Jika tidak ada yang menjaganya, ia akan berlarian ke sana ke sini. Naik turun tangga dan lain sebagainya. Ia sudah tidak mempekerjakan Mira lagi. Satu tahun yang lalu Mira mengundurkan diri karena ia ingin pulang ke kampungnya. Hanya ada bi Narsih dan pak Kariman yang masih ia pekerjakan.


Karena Zidan juga sudah besar dan tidak perlu dijaga oleh babysitter lagi, ia memutuskan untuk tidak mencari pengganti Mira.


"Dek, jangan lari-larian, nanti jatuh," ucap Alina yang mencoba meraih Barra yang sedang berlari.


"No mommy," jawab Barra yang menghindari Alina.


Alina mendudukkan dirinya di sofa. Ia menghela napasnya sejenak. Tapi matanya selalu mengarah pada Barra yang tengah bermain.


"Adek, sini deh," ucap Alina sambil mendekati Barra. Barra berlari mendekati Alina.


Alina menciumi Barra. Gelak tawa Barra terdengar mengisi seluruh rumah. Begitu lucu dan menggemaskan.


Alina menghentikannya sejenak, ia menggendong Barra menuju kamarnya. Alina mendudukkan Barra di atas kasur. Lalu ia berjalan ke dekat almari untuk mengambil pakaian. Sambil berganti pakaian, Alina sambil mengawasi Barra.


"Mommy mau ke mana?" tanya Barra saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Kita mau jalan-jalan sayang. Barra suka gak?" tanya Alina dan mencium pipi Barra dengan gemas. Barra mengangguk.


"Geli mommy.." eluh Barra sambil tertawa. Mereka berdua tertawa lepas.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di restoran. Seperti biasanya, restorannya selalu ramai pengunjung. Alina merasa kagum dengan perkembangan restorannya itu. Setiap tahunnya selalu meningkat.


Kedatangannya kali ini dengan cepat diketahui oleh Rani. Rani segera berlari menuju tempat Alina berdiri. Rani menyapa Alina dengan sopan. Alina mengangguk dan mereka mulai memasuki restoran tersebut. Seperti biasa, Rani menceritakan secara garis besar tentang perkembangan restoran ini.


"Mommy, kita mau makan?" tanya Barra saat mereka sudah berada di dalam restoran.


"Adek mau makan lagi?" tanya Alina. Barra dengan cepat menggeleng. Karena ia sudah kenyang. Di rumah sudah makan tadi pagi.


"Adek ingin apa?" tanya Alina sambil berjalan menuju ruangannya. Nuansa dari ruangan tersebut tidak pernah berubah. Semua sama seperti saat ia masih mengelola restoran ini.

__ADS_1


"E' kim boleh?" tanya Barra sambil menatap lekat Alina.


"Tidak boleh sayang, nanti pilek," ucap Alina. Karena Barra sedikit ada masalah dengan es krim. Setiap selesai makan es krim, Barra selalu demam dan akhirnya sakit. Semenjak saat itu, ia tak lagi memperbolehkan Barra makan es krim. Meskipun Barra selalu merengek.


"Dikit mommy," ucap Barra sambil menunjukkan jemarinya.


"Tidak boleh sayang," ucap Alina dan mencium kening putranya itu.


"Dikiiiitt..." ujar Barrq lagi.


"Yang lain saja ya," ucap Alina. Ia tidak mau mengambil resiko nantinya. Barra mengangguk. Alina bernapas lega, untung saja Barra tidak merengek.


Alina berjalan menuju ruangan manager yang selama ini ia percayakan untuk mengelola restorannya. Selagi di sini, suaminya tidak akan tahu apa yang ia kerjakan, pikirnya. Alina meminta laporan tahun ini. Manager tersebut langsung mempersiapkannya untuk Alina.


Alina kembali ke ruangannya dan mulai membaca laporan tersebut. Sedangkan Barra ia biarkan bermain di ruangan itu. Sambil sesekali ia melihat Barra.


Hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.15. Zidan pasti sudah pulang dari tadi. Namun Alina masih fokus dengan laporannya.


Setelah selesai, Alina merenggangkan ototnya. Dilihatnya Barra sudah tertidur karena kelelahan bermain. Ia melirik jam yang terletak pada dinding ruangannya. Ia terkejut karena ini sudah sore.


"Astaga, kenapa aku sampai lupa waktu," ucap Alina dan merapikan laporan tersebut. Ia menyimpannya di laci.


Alina menggendong Barra dan ia keluar ruangannya. Yang tak kalah mengejutkan lagi, ternyata Arvin juga berada di parkiran depan restorannya.


"Ran, mbak pamit duluan ya," ujar Alina kepada Rani. Rani mengangguk hormat.


Alina sedikit berlari menuju parkiran. Melihat Alina keluar restoran, Arvin mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam.


"Mas," sapa Alina dan dirinya tersenyum kikuk.


Arvin mengernyitkan dahinya sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Ia menunggu penjelasan Alina.


"Ayo," ucap Arvin dengan nada datar. Alina tahu jika suaminya ini sedang marah padanya.

__ADS_1


__ADS_2