
Dua hari kemudian...
Zidan bersiap untuk menghadiri acara ulang tahun putri dari tuan Raymond. Sebenarnya ia malas, tetapi karena sudah terikat oleh janji dan kontrak mau tidak mau ia harus hadir.
Acara diselenggarakan di sebuah hotel milik tuan Raymond. Untuk masalah kado dan pakaian yang akan ia kenakan tentu saja ia serahkan pada Fanny dan Aletta. Zidan tak mau repot dengan hal kecil seperti itu. Kecuali jika Zara yang sedang berulang tahun.
"Aahh, kenapa Zara selalu memenuhi pikiranku," gumam Zidan saat dirinya bercermin sebelum berangkat ke tempat acara. Namun ia suka membayangkan dan mengkhayal hubungannya dengan Zara. Hanya Zara, ia hanya akan menikahi dan hidup dengan Zara.
Zidan keluar kamarnya dan disambut oleh Fanny. Mereka keluar apartemen bersama. Fanny melajukan mobilnya menuju hotel Patria tempat acara itu berlangsung.
Tak lama, mereka sampai di hotel itu. Seketika para wartawan mengerumuni Zidan. Dan sialnya lagi, ternyata acara ini disiarkan langsung di salah satu stasiun tv. Fanny berusaha melindungi Zidan dari wartawan itu.
Susah payah mereka berjalan menuju aula. Hingga sesampainya di sana ia segera disambut langsung oleh tuan Raymond dan Karina. Mereka saling menyapa. Fanny memberikan bingkisan kadonya kepada Karina.
"Selamat datang Zidan. Akhirnya kamu mau menghadiri pesta ulang tahun putriku," sambut tuan Raymond. Zidan dan tuan Raymond saling berjabat tangan. Zidan hanya tersenyum tipis saja. Dan itupun terpaksa.
"Hai, aku Karina. Terima kasih sudah mau menjadi pasanganku malam ini," ucap Karina. Ia mendekati Zidan.
"Saya Zidan," jawab Zidan singkat.
Tuan Raymond membiarkan waktu kepada Zidan dan Karina untuk saling mengenal. Ia tahu jika ini pertemuan pertama mereka. Tuam Raymond menginginkan Zidan menjadi menantunya. Dan itu pas sekali, karena Karina juga telah jatuh cinta kepada Zidan.
Zidan sangat ingin pulang sekarang juga, namun ia harus menahannya setidaknya untuk beberapa jam ke depan. Zidan juga tidak ingin merusak kebahagiaan keluarga Raymond.
Setelah dirasa para tamu undangan sudah hadir, tuan Raymond segera memberitahukan kepada pembawa acara untuk memulai acara ini. Acara dimulai dari penyambutan para tamu dan pengucapan terima kasih dari tuan Raymond. Kemudian disusul lagi dengan sedikit ucapan dari Karina. Karina tak lupa memperkenalkan Zidan sebagai pacarnya. Awalnya Zidan ingin bersuara saat itu juga. Ia ingin menyangkal rumor tersebut, namun ini bukan acaranya. Zidan harus bisa menahan dirinya.
Hingga pada puncaknya yaitu peniupan lilin dan pemotongan kue ulang tahun. Semua tamu undangan bersorak bahagia. Potongan kue pertama Karina berikan kepada ayahnya yaitu tuan Raymond. Kalau bertanya soal ibunya kenapa tidak hadir, karena orang tua Karina sudah lama bercerai dan memiliki keluarga masing-masing. Potongan kue kedua ia berikan secara khusus kepada Zidan. Zidan terpaksa untuk menerimanya.
Setelah itu, acara dansa dimulai. Kali ini Zidan menolak keras untuk berdansa dengan Karina. Tetapi bukan tuan Raymond namanya jika tidak bisa memaksa Zidan. Akhirnya ia berdansa juga dengan Karina.
Hari semakin larut. Zidan berhasil keluar dari acara itu dengan alasan ia sedang tidak enak badan. Zidan pulang setelah berpamitan kepada tuan Raymond dan Karina.
__ADS_1
"Tuan muda, Anda terlihat kurang baik," ucap Fanny.
"Bagaimana bisa baik, wanita itu menempel terus padaku. Aku tidak suka dengan sikapnya yang agresif begitu," jawab Zidan kesal. Barra hanya mengangguk pelan. Ia melajukan mobilnya menuju apartemen.
Keesokan harinya, saat Zara sedang berjalan menuju kampusnya ia melihat sebuah koran yang sedang dijajakan oleh pedagangnya. Yang membuat Zara penasaran adalah wajah yang tak asing menurutnya. Seperti wajah Zidan.
Zara melihat koran tersebut. Dirinya sedikit terkejut. Benar, memang itu foto Zidan. Tetapi ia sedang memeluk seorang wanita di sebuah pesta. Dan ia tak sengaja membaca isi dari artikel itu yang membahas tentang Zidan dan Karina, si wanita yang ada difoto sedang berpacaran.
"Oh, jadi ini pacar Zidan? Cantik juga," gumam Zara tanpa sadar.
"Neng, mau beli korannya?" tanya pedagang itu.
"Eh, nggak jadi pak," jawab Zara. Ia segera mengembalikan koran tersebut dan berjalan lagi hingga ke kampusnya.
***
Sudah satu minggu ini Zara bekerja di kantor Zidan. Dan selama itu pula ia hanya duduk di sofa sambil memerhatikan Zidan yang sibuk bekerja.
Pekerjaan ini, Zara sungguh tak mengerti bagaimana jalan pikiran Zidan. Hanya menyeduhkan secangkir kopi tetapi ia digaji tiga kali lipat dari gajinya di kedai waktu itu.
Dirinya juga tak merasakan dirugikan dengan hal ini. Justru ia untung banyak. Tetapi dengan Zidan? Apa keuntungannya dalam hal ini. Tentu saja pekerjaan ini hanya kedoknya untuk mendekati Zara.
Zidan semakin yakin terhadap perasaannya. Ia juga tidak mau kalah dari Barra yang sudah mau menikah. Walaupun Zidan tak masalah jika Barra menikah lebih dulu. Zidan akan terus memperjuangkan Zara bagaimanapun keadaan nantinya.
"Zara, kemarilah!" ucap Zidan. Zara segera menuju ke meja Zidan.
"Ya?" jawab Zara.
Tanpa basa-basi, Zidan menarik Zara hingga Zara duduk di pangkuannya. Zara terkejut dan segera melepaskan diri. Namun Zidan menahannya dengan memeluknya.
"Zi-Zidan, apa yang kamu lakukan?" ucap Zara gugup. Namun Zidan hanya membenamkan wajahnya di bahu Zara.
__ADS_1
Terdengar akrab memang dengan memanggil langsung nama dan sapaan 'aku kamu' antara Zara dan Zidan. Namun itu semua permintaan dari Zidan sendiri. Zidan akan menghukum Zara jika Zara salah menyebutnya.
"Kamu kurus banget sih," ucap Zidan yang mendongak menatap ke arah Zara. Zidan mengabaikan pertanyaan Zara.
"Hah?" Zara semakin salah tingkah. Apalagi saat ini dirinya duduk di pangkuan Zidan. Ini memalukan jika ada yang tiba-tiba datang ke ruangan itu.
Zidan membelai lembut rambut Zara yang tergerai. Zara hanya diam dengan perlakuan Zidan padanya. Rasanya ia juga tidak ingin menolak sentuhan itu. Zidan tersenyum tipis sambil memerhatikan Zara. Ternyata Zara lebih cantik jika dilihat dari dekat seperti ini.
"Kamu kuliah sudah semester berapa?" tanya Zidan.
"Semester empat," jawab Zara.
"Masih lama dong lulusnya," ucap Zidan. Ara mengernyitkan dahinya. Ia menatap Zidan dengan tatapan bingung. Apa urusannya dengan Zidan? Pikir Zara saat ini.
"Me-memangnya kenapa?" tanya Zara asal.
"Nggak apa-apa. Berarti masih lama dong nikahnya," ucap Zidan dan tersenyum kecil.
"Iya mungkin," jawab Zara dan meringis ke arah Zidan.
"Kalau misal tiba-tiba ada yang melamar kamu, kamu akan terima atau tidak?" tanya Zidan kesekian kalinya. Sebenarnya Zara dari tadi tidak paham ke mana arah pembicaraan Zidan ini. Tiba-tiba bertanya hal yang pribadi seperti ini. Dan anehnya lagi posisi mereka sekarang ini.
"Ya tergantung. Jika dia baik pasti aku akan menerimanya," jawab Zara.
"Sudah ya, jangan seperti ini. Aku tidak nyaman Zidan," pinta Zara merengek.
"Tapi aku nyaman. Kan aku bosnya di sini," ucap Zidan santai. Zara mengalah. Ia memang kalah jika menyangkut tentang posisi mereka saat ini. Zara menatap tajam ke arah Zidan. Seandainya ia punya keberanian lebih, pasti saat ini akan meninju wajah Zidan yang mulus itu.
"Kenapa? Minta dicium ya?" tanya Zidan dan ia lagi-lagi tertawa kecil. Zara tersenyum sinis. Ia segera memalingkan wajahnya.
"Siapa juga yang ingin dicium olehmu," ucap Zara lirih. Hampir saja Zidan tak dapat mendengarnya.
__ADS_1