Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 06 (season 2)


__ADS_3

"Tuan muda, jangan berkata apapun lagi yang akan membuatmu malu," batin Fanny meraung.


Zidan masih menunggu jawaban dari Zara. Ia sama sekali tak peduli ada berapa pasang yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Saat ini dunianya serasa teralihkan. Meskipun ia tidak tahu kenapa ia bertingkah demikian. Bahkan Zidan tak mendengar sahutan Fanny sama sekali.


Zara tak menghiraukannya. Ia di sini hanya ingin bekerja. Bahkan hampir setiap hari ada beberapa pria yang sengaja menggodanya. Ia tak kaget jika bertambah satu lagi. Zara tak ada waktu untuk meladeni mereka yang bertanya tentang nama, alamat dan bahkan nomor teleponnya. Memang tak nyaman jika terus digoda seperti itu. Namun ia harus tetap ramah kepada pembelinya. Karena ia tidak ingin dipecat oleh atasannya. Hampir dua tahu ia bekerja sebagai barista. Ia tak mau kerja kerasnya ini sia-sia. Hanya pekerjaan ini yang bisa ia andalkan saat ini.


"Tampan sih, tapi nggak sopan banget sih. Sok kenal juga," gumam Zara saat sedikit melirik Zidan.


"Ini pesanan Anda tuan," ujar Zara. Ia sengaja mendahulukan pesanan Zidan. Ia tak ingin laki-laki dihadapannya itu menatapnya dengan intens. Adakalanya ia juga merasa salah tingkah. Apalagi pria tampan seperti dia yang sedang memperhatikannya.


"Fan, bawa ini ke meja kita," perintah Zidan. Zidan tersenyum sekilas sebelum meninggalkan tempat. Fanny mengangguk. Ia membawa nampan yang berisi pesanan Zidan tadi.


"Maafkan tuan saya. Ia mungkin hanya ingin berkenalan dengan Anda nona," ujar Fanny sopan. Zara mengangguk dan tersenyum.


"Tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa seperti itu," ucap Zara. Fanny menuju meja yang sudah ada Zidan di sana. Ia meletakkan nampannya dan duduk di depan Zidan.


"Fanny, aku ingin tahu segalanya tentang perempuan itu," ucap Zidan menatap Fanny dengan tajam.


"Sesuai yang Anda perintahkan tuan muda," jawab Fanny.


Zidan menatap cangkir tersebut sebelum menyesapnya. Entah kenapa senyumnya terukir begitu saja. Suasana hatinya sedang baik hari ini.


Cukup lama Zidan berada di sana. Ia begitu menikmati moment dan suasana yang begitu nyaman. Pas untuk Zidan menghilangkan penatnya.


"Apakah tuan muda mulai tertarik dengan wanita itu? Syukurlah jika tuan muda masih normal," batin Fanny yang beberapa kali melirik raut wajah Zidan. Ini benar-benar moment langka.


"Ayo kita pulang sekarang. Jangan lupa untuk mencari tahu tentang wanita itu. Kamu bayarlah minuman tadi," ujar Zidan. Ia meninggalkan Fanny dan ia segera menuju mobilnya.


Setelah membayar minuman tadi, Fanny segera menyusul Zidan dan melajukan mobilnya menuju apartemen Zidan.


Zidan nampak lelah, ia memejamkan matanya dan bersandar di kursi belakang. Kedai kopi ini lumayan jauh dari apartemennya.

__ADS_1


"Tuan muda," ujar Fanny pelan.


"Kita sudah sampai," ucap Fanny kembali.


Zidan membuka matanya perlahan. Dirinya tadi ketiduran sampai tidak sadar bahwa sudah sampai di parkiran apartemennya.


"Terima kasih. Kamu tidak perlu mengantar saya sampai ke apartemen. Segeralah pulang," ujar Zidan. Fanny hanya mengangguk mengiyakan perkataan Zidan.


***


"Mommy..." sapa Barra setelah pulang kerja. Ia mencium punggung tangan Alina dan mencium pipinya. Alina sedang bersantai di ruang tengah sambil membaca majalah favoritnya.


"Kenapa pulang malam?" tanya Alina sembari meletakkan majalahnya.


"Biasa, banyak yang harus dikerjakan. Oh iya di mana semua orang? Kenapa hanya ada mommy di sini?" tanya Barra yang duduk di samping Alina. Ia mengambil remote tv dan menyalakannya.


"Papa kamu tadi telepon ada kerjaan yang harus ia selesaiakan. Mungkin pulang larut. Kalau Raffa sama Alisya lagi keluar," ucap Alina. Barra mengangguk paham. Ia tersenyum tipis ke arah Alina.


"Bang Zidan nggak pulang lagi?" tanya Barra yang masih fokus menonton acara berita.


"Yah, seperti biasanya. Mungkin dia lebih nyaman tinggal di apartemennya," ucap Alina. Ia berdiri lalu melangkah menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuk putranya itu.


Barra pamit ke kamar terlebih dahulu. Ia menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri. Setelah beberapa menit, ia turun menuju meja makan.


Alina sudah menyiapkan makan malam untuk Barra. Ia sudah duduk manis menunggu Barra ke meja makan.


"Duduk dan makanlah," ujar Alina saat Barra baru sampai di sana. Barra mengangguk dan menarik kursinya untuk ia duduk.


"Mommy, kami pulang..." ucap Alisya yang selalu heboh dengan teriakannya.


Raffa dan Alisya menuju meja makan. Ia memeluk Alina dan mencium pipinya sekilas. Sedangkan Raffa langsung mengambil gelas dan menuangkan air putih. Ia meneguknya segera.

__ADS_1


"Dari mana saja?" tanya Alina. Ia menatap Raffa dan Alisya bergantian.


"Jalan-jalan Mom. Tapi bang Raffa tidak asik ah. Masa iya Alisya nggak dibolehin makan makanan di pinggir jalan," ucap Alisya kesal.


"Bukannya nggak boleh. Kamu itu harus jaga kesehatan. Gimana kalau habis makan kamu sakit hayo? Kalau mau makan di pinggir jalan nggak usah ajak aku. Aku nggak mau nanggung kesalahanmu," ucap Raffa tanpa ekspresi. Ia mengacak rambut Alisya dengan kasar. Alisya semakin kesal dibuatnya.


"Mommy lihat, bang Raffa nakal," adu Alisya dan memeluk Alina dari belakang. Alina hanya tersenyum sambil mengusap lengan Alisya.


"Sudahlah, jangan bertengkar lagi. Lihat, abangmu jadi terganggu kan makannya," ucap Alina.


Raffa izin ke kamarnya. Ia langsung membuka laptopnya untuk mengerjakan tugasnya. Sedangkan Alina dan kedua anaknya masih di meja makan.


Alisya pamit untuk belajar. Ia memilih untuk belajar di dalam kamarnya. Karena selalu saja Barra mengganggunya dan akhirnya ia tidak bisa konsentrasi.


"Mommy ke kamar dulu ya sayang. Jangan lupa untuk menutup pintunya nanti," ucap Alina. Barra mengangguk dan tersenyum tipis.


Alina memang sedikit lelah hari ini. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sembari menunggu suaminya pulang.


Di sisi lain, Zara baru saja selesai bekerja. Ia merenggangkan otot-ototnya yang sudah lelah karena seharian bekerja.


"Ra, tadi itu siapa?" tanya Arka, anak dari pemilik kedai kopi itu. Arka juga menjadi barista di kedainya sendiri. Ia diam-diam menaruh rasa kepada Zara. Wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya.


"Yang mana?" tanya Zara. Ia bingung siapa yang sedang dibicarakan.


"Laki-laki yang menggodamu tadi," jawab Arka santai. Ia melirik ke arah Zara yang sedang berada di sampingnya.


"Oh, aku tidak mengenalnya," ucap Zara. Mereka berdua berjalan keluar kedai.


"Aku antar ya," ucap Arka. Namun Zara menolaknya. Ia tidak ingin sampai timbul masalah dengan karyawan yang lain karena Arka lebih memperhatikannya. Tetapi Zara juga tidak bisa terus untuk mengelaknya. Setiap kali menolak ajakan Arka, ia merasa bersalah terhadap Arka.


"Kenapa sih Ra kamu selalu menolak kalau aku antar?" tanya Arka yang merasa tidak senang karena Zara menolak tawarannya setiap kali pulang bekerja.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu saja. Kalau begitu aku pulang duluan ya," jawab Zara dengan ramah. Ia buru-buru pergi dari sana sebelum Arka memaksanya. Arka hanya menatap kepergian Zara. Ia merasa kecewa karena selain urusan pekerjaan, Zara bahkan sulit di dekati.


Zara pulang naik ojek online. Karena sudah larut malam akan susah untuk mencari angkutan umum. Apalagi dirinya pulang sendirian. Jika terjadi sesuatu di jalan nantinya itu tidak akan baik.


__ADS_2