Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 104


__ADS_3

Diusia kandungan lima bulan ini semakin membuat Alina bermanja-manja. Entah kenapa, sosok Alina yang kuat dan bisa menyelesaikan semua pekerjaannya sendiri hilang entah ke mana. Mungkin itu juga salah satu bawaan ibu hamil yang menjadi penyebabnya.


Arvin sebenarnya siap jika harus menambah beberapa pembantu di rumahnya. Namun Alina selalu menolak keras hal tersebut. Alina tak suka dilayani banyak orang. Ia Iebih suka dan nyaman jika hanya ada bi Narsih saja.


Selain itu, Alina sedikit trauma dengan perlakuan Ranti waktu itu. Alina takut jika hal itu terjadi lagi dan membahayakan calon anaknya.


Setelah puas dengan bermain di taman, mereka pulang. Waktu juga menunjukkan semakin sore. Walaupun hanya di taman bermain saja, kedua anaknya juga senang.


***


Mahardika baru saja pulang dari dinas keluar kota. Semakin hari semakin sibuk. Bahkan waktu untuk bersama sang istri juga semakin jarang.


"Bagaimana kabar cucu kita Ma?" tanya Mahardika yang saat ini selesai mandi.


"Baik Pa, mereka juga habis dari sini belum lama ini," jawab Lita sambil memberikan baju kepada suaminya itu.


"Syukurlah," ucap Mahardika dan ia mengambil baju yang diberikan oleh istrinya dan kembali ke kamar mandi.


Tak lama kemudian, Mahardika keluar dan sudah berpakaian rapi. Ia menuju ruang tengah yang saat ini pasti ada istrinya yang sedang menonton sinetron di sana. Mahardika duduk di samping Lita. Ia mengambil secangkir kopi yang ada di meja dan meneguknya sedikit-sedikit.


"Pa, tadi Arvin mengabarkan bahwa kita akan punya cucu perempuan. Mama jadi nggak sabar untuk segera menimangnya," ucap Lita antusias.


"Oh ya? Baguslah. Papa jadi kangen sama mereka," ucap Mahardika.


Setelah mengobrol sedikit lama, mereka memutuskan untuk menjenguk cucunya. Mahardika dan Lita sudah sangat rindu kepada cucu-cucunya.


Mahardika melajukan mobilnya menuju rumah Arvin. Ia melajukan dengan kecepatan sedang. Walaupun tak begitu ramai tetap harus berhati-hati bukan?


Di rumah, Zidan dan Barra lebih dulu tertidur. Mungkin karena kelelahan bermain sore tadi. Meskipun ini masih pukul 18.30. Jika anak-anaknya lelah, Alina juga tidak melarangnya untuk istirahat.


Saat ini tinggal Arvin dan Alina di ruang keluarga. Tangan Arvin tak mau diam untuk tak menggoda Alina dan Alina semakin jengah dengan tingkah Arvin. Bagaimana tidak, Arvin bukannya mengusap perut Alina yang membuncit itu justru menjalar ke mana-mana. Mulai mengusap paha Alina dan semakin ke atas.


"Mas ah," ucap Alina sambil mengalihkan tangan Arvin.

__ADS_1


"Apa sayang?" tanya Arvin dan sedikit menarik Alina dalam pelukannya.


"Nonton sinetronnya itu loh," ucap Alina mengarahkan pandangan Arvin pada tv yang ada di hadapan mereka.


"Lebih seru nonton kamu. Apalagi jika kamu tidak pakai baju," balas Arvin sambil menaik turunkan alisnya.


"Mas. Apaan sih. Jangan mulai deh," ujar Alina dan tanpa sadar pipinya sudah merona. Arvin terkekeh melihatnya.


Saat Arvin ingin menggoda Alina kembali, mereka dikejutkan dengan kedatangan kedua orang tuanya.


"Mama ganggu ya?" tanya Lita sambil terkekeh. Sedangkan Mahardika hanya tersenyum tipis.


"Ma, pa, tumben ke sini?" tanya Alina sambil mencium punggung tangan mertuanya. Alina mempersilakan mereka untuk duduk.


"Begitu mendengar jika kalian akan punya bayi perempuan, papa kamu langsung buru-buru ke sini loh," ungkap Lita.


Arvin dan Alina tersipu malu. Mereka saling pandang dan tersenyum tipis.


"Mereka sudah tidur Ma, tadi habis dari main di taman," jawab Arvin.


Keinginannya untuk bermain dengan cucunya harus ia urungkan dulu. Karena ia tak mungkin membangunkan mereka berdua. Akhirnya hanya mengobrol santai saja sambil bersenda gurau.


Waktu sudah semakin malam, Mahardika dan Lita pamit untuk pulang. Lita tadi juga sempat berpesan kepada Alina seputar kehamilannya. Dan juga menyarankan Alina untuk segera berhenti sementara dari pekerjaannya.


"Sayang, istirahat yuk," ajak Arvin dan dijawab anggukan oleh Alina. Mereka menuju kamar.


Arvin membaringkan tubuhnya dan tak lupa merengkuh Alina dalam pelukannya. Ia juga mengusap lembut perut Alina. Ia sudah tak sabar menantikan kelahiran bayi perempuannya itu.


Mereka terlelap dalam tidur karena merasa lelah juga. Dan mereka tidur dalam posisi saling berpelukan.


***


Suara kicauan burung memekik telinga mereka berdua. Namun Alina tetap membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya. Sedangkan Arvin sudah membuka matanya.

__ADS_1


"Bangun sayang," bisik Arvin pada Alina. Alina hanya menggeleng pelan. Ia semakin mengeratkan pelukannya.


Karena Alina yang bermalas-malasan sehingga memasak menu sarapan diambil alih sepenuhnya oleh bi Narsih. Setelah sarapan Zidan dan Arvin berangkat.


"Ingat, jangan bekerja dulu. Tetap di rumah sayang," ujar Arvin lembut dan mengecup kening Alina. Alina hanya mengangguk.


Hari ini akan ia lewati untuk bermalasan sambil mengawasi Barra yang sedang bermain. Alina membuka satu buku dan mulai membacanya. Ia hanya duduk bersantai di ruang tengah.


Waktu berjalan begitu cepat, tanpa terasa hari sudah menunjukkan pukul 16.00. Biasanya Zidan sudah pulang sekitar dua jam yang lalu bersama Arvin. Namun sampai sekarang mereka berdua belum pulang. Alina mencoba menghubungi Arvin. Tetapi tidak tersambung juga. Akankah ponsel Arvin mati dan lupa tidak dicharger.


Alina sedikit gelisah. Bahkan ia sampai bertanya kepada guru kelas Zidan, namun guru tersebut bilang jika Zidan sudah pulang sejak tadi siang. Ke mana sebenarnya anak dan suaminya ini pergi? Kenapa tidak memberitahukan padanya sebelumnya.


Alina menghubungi orang tuanya dan juga mertuanya. Siapa tahu jika mereka mampir ke sana. Namun juga mengecewakan, bahwa mereka berdua tak berkunjung ke rumah orang tuanya.


Cukup!! Alina tak bisa menunggu lebih lama lagi. Dirinya juga semakin gelisah karena Arvin dan Zidan juga belum pulang.


"Mas, kalian ke mana sih?" gumam Alina yang terus melihat ke arah pintu masuk.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Bukan panggilan dari Arvin namun dari nomor tak dikenal. Alina sempat ragu, mungkin saja itu suaminya yang meminjam ponsel milik orang lain. Atau mungkin tebakannya itu salah.


"Halo?" sapa Alina ingin tahu siapa yang meneleponnya.


"Maaf nyonya, saya adalah asisten tuan Arvin. Saya ingin mengabarkan bahwa tuan Arvin, dia... Di-dia.." ucap asisten tersebut gugup.


"Ada apa? Kenapa kamu jadi gugup seperti itu? Sebenarnya apa yang telah terjadi kepada mereka?" ucap Alina tak sabaran. Hatinya kini sudah gelisah dan semakin gelisah.


"Tu-tuan Arvin mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang selepas menjemput tuan muda," ungkap asisten tersebut dengan suara gemetar menahan tangisnya.


Seketika tubuh Alina lemas. Bagaimana bisa suaminya mengalami kecelakaan. Ini tidak mungkin terjadi. Air matanya luruh membasahi pipinya.


"Di mana mereka sekarang?" teriak Alina panik.


Bi Narsih dan pak Kariman yang mendegar teriakan Alina langsung mendekat.Tak biasanya majikannya histeris seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2