Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 02 (season 2)


__ADS_3

Selesai makan, mereka mengobrol santai di ruang tengah sambil menunggu yang lainnya pulang. Alisya selalu merecoki Zidan jika Zidan pulang ke rumah seperti ini.


“Fan, kamu bisa pulang sekarang. Sepertinya aku akan menginap di sini untuk malam ini,” ujar Zidan. Fanny mengangguk hormat. Ia pamit pada Zidan dan Alina.


“Bang Zidan kenapa nggak tinggal di rumah saja sih. Kenapa harus tinggal di apartemen?” tanya Alisya kesal. Zidan tersenyum dan mengacak rambut adiknya itu dengan gemas. Sudah kelas tiga SMA namun kelakuannya masih sama seperti kecil dulu.


“Biar lebih cepat saja. Lagipula kalau berangkat dari rumah menuju kantor jauh,” jawab Zidan dengan santai. Ia mengeluarkan ponselnya dan bermain ponsel. Alina hanya memperhatikan mereka dan sesekali tersenyum kala Zidan mencoba menggoda Alisya.


Hari semakin sore, Arvin baru kembali dari kantornya. Ia sedikit terkejut kala Zidan sudah berada di rumahnya. Arvin memeluk dan menepuk bahu Zidan sekilas.


“Sudah lama?” tanya Arvin menatap Zidan dan mendekat ke arah Alina. Ia mencium kening istrinya itu sekilas. Zidan menggeleng pelan. Alina membantu Arvin membawakan tas kerjanya. Mereka memasuki kamar.


“Mas, bagaimana tadi kerjaannya?” tanya Alina sambil membantu Arvin membuka jas dan kemeja.


“Seperti biasanya, lancar. Kenapa? Tidak percaya dengan suamimu ini, hem?” ujar Arvin dan mendekatkan dirinya dengan Alina.


“Bukan begitu mas,” jawab Alina pelan. Ia beralih memilihkan baju ganti untuk suaminya.


Meskipun umur mereka tak muda lagi, mereka tetap harmonis dan romantis. Nggak terlalu tua juga sih. Setelah berganti pakaian, mereka kembali menuju ruang tengah. Dan ternyata di sana sudah ada Raffa yang baru saja pulang dari kampusnya. Mereka bertiga, Zidan, Raffa, dan Alisya sedang bergurau ria menikmati moment yang sudah jarang terlihat dan terdengar di rumah ini. Itu semua karena kesibukan masing-masing.


Alina menghentikan langkahnya sebelum mencapai anak tangga yang paling bawah. Ia juga menahan tangan Arvin agar berhenti seperti dirinya. Arvin menatap istrinya sekilas kemudian beralih menatap anak-anaknya. Arvin paham, Alina ingin menikmati moment ini yang sudah jarang ia dengar. Arvin memeluk Alina dari belakang. Melingkarkan kedua tangannya di perut istrinya.


“Rasanya jadi ingin punya anak lagi,” ujar Arvin yang masih memperhatikan anak-anaknya. Alina langsung menyodok perut Arvin dengan sikunya namun pelan. Bisa-bisanya di usia mereka yang sekarang ini masih memikirkan untuk memiliki anak kembali. Seharusnya mereka menimang cucu bukan anak lagi.


“Harusnya anak kamu tuh mas suruh cepat-cepat menikah. Biar kita ada kerjaan membantu mengurus cucu kita nanti. Bukan malah ingin nambah anak lagi,” ucap Alina sambil membayangkan jika dirinya menimang cucu nanti.

__ADS_1


“Ya kenapa memangnya kalau punya anak lagi?” tanya Arvin santai.


“Malu sama anak-anak mas,” jawab Alina. Ia meninggalkan Arvin yang masih berdiri di tangga. Arvin hanya terkekeh lalu menyusul istrinya.


Melihat kedatangan Alina dan Arvin, Raffa langsung bergegas memeluk dan mencium tangan mereka bergantian. Mereka kembali duduk. Dan kini Zidan beralih duduk di samping Alina. Ia memeluk Alina dengan manja.


“Ada apa?” tanya Alina sambil mengusap lembut kepala putranya itu.


“Kangen mommy,” jawab Zidan yang masih menyembunyikan wajahnya di leher Alina. Alina tersenyum tipis dan terus mengusap lembut kepala Zidan.


“Ih, bang Zidan kebiasaan peluk-peluk mommy. Aku juga mau peluk mommy...” ujar Alisya yang merasa cemburu melihat Zidan memeluk mommy nya. Alisya segera duduk di samping Alina dan memeluknya juga. Sedangkan Raffa hanya melirik mereka sekilas dan tersenyum tipis. Diam-diam Raffa mengabadikan moment tersebut dengan ponselnya.


“Kalian itu bisa nggak kalau nggak bertengkar gini, haa?” ucap Alina jengah.


“Nggak!!” jawab mereka bersamaan.


Malam semakin larut. Alisya pamit untuk ke kamar duluan begitu juga Barra. Di ruangan tersebut tersisa Arvin, Alina, Zidan, dan Raffa. Suasana hening sesaat.


“Kamu kapan ngenalin calon istri kamu ke mommy dan papa. Ingat, usia kamu sudah tidak muda lagi loh,” ujar Alina mengawali pembicaraan.


“Iya Zidan. Seharusnya kamu itu sudah mempunyai calon istri untuk dikenalin ke mommy sama papa,” timpal Arvin sambil menatap putra sulungnya.


Zidan tersenyum tipis. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa. Mengusap pelan wajahnya yang letih. Bahkan sampai sekarang dirinya belum menemukan sosok wanita yang mampu menarik hatinya. Ia bahkan bingung jika orang tuanya selalu mempertanyakan hal yang sama setiap kali ia pulang berkunjung ke rumah orang tuanya.


"Jika Zidan sudah menemukan wanita yang sifatnya seperti mommy, Zidan janji akan langsung mengenalkannya pada mommy. Tapi untuk saat ini Zidan belum bisa Mom," ujar Zidan pelan.

__ADS_1


Dirinya masih tetap sama seperti dulu kala ditanya kriteria seperti apa untuk calon istrinya nanti. Dengan santainya Zidan menjawab hal demikian. Bahkan selalu diulang-ulang untuk meyakinkan orang tuanya.


Beberapa kali Alina sampai memperkenalkan Zidan kepada beberapa anak teman bisnis Arvin. Dengan harapan Zidan akan melirik mereka dan segera memantapkan dirinya untuk berumah tangga. Namun itu hanyalah sia-sia.


"Ya sudah, kamu pasti lelah kan seharian ini bekerja. Istirahatlah," ucap Alina dan mengusap punggung Zidan dengan pelan. Zidan mengangguk, ia pamit untuk ke kamar lebih dulu.


"Belum selesai tugasnya?" tanya Alina beralih mendekat ke Raffa yang sedang fokus dengan laptopnya.


"Sebentar lagi Mom. Mommy sama papa istirahatlah lebih dulu," jawab Raffa sambil menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


"Jangan begadang," ujar Arvin dan menepuk bahu Raffa. Raffa mengangguk, Arvin dan Alina menuju kamarnya untuk istirahat.


Raffa menaruh headphone nya di meja. Ia tersenyum tipis kala kedua orang tuanya menuju kamar. Melihat orang tuanya yang selalu mesra seperti itu terkadang membuatnya iri.


Raffa mengemas laptopnya dan menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya yang sudah lelah seharian ini. Ia mengecek ponselnya sebentar lalu memejamkan matanya.


Sedangkan Arvin dan Alina baru saja naik ke atas ranjang. Alina merebahkan dirinya di dada Arvin. Ini yang ia sukai. Memeluk suaminya sebelum ia terlelap dalam tidur.


Arvin mengusap puncak kepala Alina dan beberapa kali menciumnya. Tubuhnya yang lelah butuh segera istirahat.


"Mas," panggil Alina pelan sambil memainkan tangannya di dada suaminya itu.


"Hhmm.."


"Bagaimana kalau Zidan belum juga menemukan pendamping hidupnya? Aku khawatir mas," ujar Alina. Arvin menghela napasnya pelan. Kekhawatiran Alina memang wajar, namun itu tak perlu dikhawatirkan.

__ADS_1


"Tunggulah beberapa saat lagi sayang. Mas yakin Zidan pasti bisa menemukan wanita yang benar-benar ia cintai," ujar Arvin.


"Tidurlah," bisik Arvin.


__ADS_2