Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 92 (season 2)


__ADS_3

Keesokan harinya...


Zara terbangun dari tidurnya. Ia segera membersihkan diri seperti yang setiap hari ia lakukan. Namun bedanya sekarang tidak ada suaminya di sampingnya. Pagi pertama ia tanpa suaminya, rasanya sangat berbeda. Setelah membersihkan diri, Zara duduk di depan meja riasnya untuk berhias. Setelah selesai, Zara ingin pergi ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan mereka.


Sebelum keluar, Zara mengusap perutnya dan mengajak bicara anak yang ada dalam kandungannya. Ia sangat senang bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya. Namun di sisi lain ia sedih karena suaminya tak ada di sampingnya untuk saat ini.


Zara keluar kamarnya untuk menuju ke dapur. Sesampainya di dapur, ternyata bi Tia dan mamanya sudah sibuk di sana. Zara berdiri tak jauh dari mereka.


"Pagi Ma," sapa Zara. Ya, Zara kini memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan mama dan papa. Sama seperti Syifa.


"Pagi sayang... Sini, duduklah. Mama sudah memasakkan sesuatu spesial untuk kamu," ucap Diana senang. Zara duduk di kursi yang telah disiapkan oleh Diana.


"Ma, bolehkah nanti Zara berangkat kuliah?" tanya Zara ragu. Diana menatap Zara sejenak. Ia berpikir dalam diam. Lalu Diana tersenyum sambil membelai puncak kepala Zara.


"Boleh dong sayang. Tapi nanti mama yang antar ya," ucap Diana. Zara mengangguk.


Tak lama setelah itu, Anton tiba di ruang makan. Ia menarik kursi dan duduk di sana. Zara menyapa Anton dengan ramah. Anton tersenyum hangat kepada Zara.


Tak jauh dari ruang tamu, Syifa sudah lama berdiri di dekat anak tangga. Ia menyaksikan kehangatan sikap orang tuanya untuk Zara yang jarang ia dapatkan sewaktu pagi. Kedua orang tuanya sibuk, jadi Syifa sering sarapan sendirian.


"Iiihhh... Dasar tukang rebut perhatian mama dan papa!" gumam Syifa sambil menghentakkan kakinya. Ia dengan kesal menuju ruang tamu. Syifa duduk di kursinya sedikit kasar. Ia sedang dalam suasana hati yang buruk.


"Ma, nanti Syifa ikut mobil mama ya saat berangkat ke sekolah," ucap Syifa.


"Loh, biasanya diantar oleh sopir kan?" ucap Diana.


"Syifa juga ingin diantar oleh mama. Kalau kak Zara saja diantar mama, kenapa Syifa enggak?" ujar Syifa dengan kesal.

__ADS_1


"Tapi nanti kamu telat sayang," balas Diana.


"Nggak peduli!" jawab Syifa lantang.


"Syifa jangan nakal! Diantar sopir saja," ucap Anton. Seketika Syifa menunduk dan tidak protes lagi. Zara serba salah, sepertinya di mata Syifa, Zara merebut kasih sayang orang tuanya. Zara hanya menunduk dan kembali menikmati sarapannya.


Setelah selesai, Anton pamit untuk pergi ke kantor. Diana mengantar suaminya itu hingga sampai ke mobil.


"Hati-hati ya mas," ucap Diana. Anton mengangguk dan mengecup kening istrinya. Lalu ia masuk ke mobil dan melajukannya dengan kecepatan ringan.


"Hebat ya, baru sehari tapi sudah merebut kasih sayang dan perhatian mama dan papa!" ucap Syifa dengan sinis. Mereka masih berada di ruang makan. Zara hanya tersenyum. Ia tak menanggapi omongan Syifa. Syifa berlalu dan pamit pada mamanya untuk berangkat sekolah.


"Berangkat sekarang?" tanya Diana. Zara mengangguk pelan. Ia menunggu mamanya bersiap. Zara duduk di ruang tamu. Ia mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan pada suaminya. Baru kemarin Zara dan Zidan pisah rumah, kini mereka sudah merasa rindu.


Diana menuruni tangga dan menuju ruang tamu. Ia sudah siap untuk mengantar putrinya berangkat kuliah. Ochie sudah siap di depan untuk mengantar mereka. Saat ini, Zara dan Diana sudah berada di dalam mobil. Ochie mulai melajukan mobilnya menuju kampus Zara.


***


"Lama-lama bisa gila aku... Hufft," gumam Zidan. Tanpa terasa, ia sudah sampai di depan kantornya. Zidan dan Fanny berjalan menuju ruangannya.


"Fan, apa jadwal kita hari ini?" tanya Zidan saat ia sudah sampai di dalam ruangan.


"Pukul 10.00 pagi meeting dengan tuan Louis di hotel Louis Corp tuan muda," jawab Fanny dengan sopan. Zidan mengangguk.


"Lalu pukul 11.30 Anda..." ucap Fanny terhenti saat melihat Zidan mengangkat tangannya.


"Batalkan semua jadwal kecuali yang tadi. Aku lagi tidak fokus bekerja Fan," ucap Zidan. Ia duduk di kursi kerjanya sambil menopang dagunya. Fanny mengangguk paham. Ia segera menghubungi Vanya untuk membatalkan janji dengan beberapa kliennya.

__ADS_1


"Fan, suruh orang untuk mengawasi Zara. Suruh mereka untuk melaporkan padaku setiap satu jam sekali," ujar Zidan.


"Hais, bukankah itu berlebihan? Nona Zara pasti aman bersama dengan keluarga barunya. Masih perlu pengawasan lagi?" batin Fanny. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Fan?" ucap Zidan.


"Iya tuan muda, saya akan mengatur seseorang untuk mengawasi nona," jawab Fanny. Zidan tersenyum lebar.


***


Hari ini Arvin sengaja tidak masuk kerja. Ia ingin bersama dengan Alina di rumah. Mereka bersantai di ruang keluarga. Arvin tiduran di sofa dengan kepalanya di atas paha Alina. Alina membelai lembut rambut suaminya.


"Mas, kamu tidak ada niatan untuk berdamai dengan keluarga Mahindra? Setidaknya demi Zidan dan Zara," ucap Alina. Arvin sebenarnya malas jika membahas tentang Anton. Ia sama sekali tidak punya keinginan untuk berdamai. Namun hubungan Zidan dan Zara akan terkena dampaknya nanti.


"Mas akan berdamai jika Anton sendiri yang mengumumkan untuk berdamai denganku," ucap Arvin. Alina menghela napasnya sejenak. Apa susahnya berdamai demi putra dan putri mereka? Sungguh, ego keduanya cukup besar sehingga tidak mau untuk mengaku kalah.


"Dasar! Semakin tua bukannya menambah teman malah menambah musuh," dengus Alina kesal. Arvin tertawa kecil.


"Bukan begitu sayang," ujar Arvin. Ia beralih untuk duduk. Alina memalingkan wajahnya. Arvin memegang dagu Alina dan menghadapkan padanya. Namun Alina menepis tangan Arvin dan memalingkan wajahnya kembali.


"Apa susahnya sih bilang ingin berdamai gitu?" tanya Alina.


"Susah. Itu menyangkut harga diri sayang," jawab Arvin. Alina berpikir untuk membuat Arvin berdamai dengan keluarga Mahindra. Meskipun ia tidak tahu apa yang membuat mereka berseteru. Tentu hal ini tidak akan baik nantinya.


"Hei, jangan sedih gitu dong," ucap Arvin sambil mencolek pipi Alina.


"Mas janji sayang. Mas tidak akan membuat masalah dengan Anton. Lagipula mas juga malas berurusan dengannya," ucap Arvin lagi. Ia menarik Alina ke dalam dekapannya. Alina menurut dan bersandar pada dada Arvin. Arvin mengusap puncak kepala Alina dan menciumnya sekilas. Arvin tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya. Namun keadaannya tidak semudah itu untuk berdamai. Kecuali jika Anton sendiri yang memulai lebih dulu, mungin Arvin akan mempertimbangkannya.

__ADS_1


__ADS_2