
"Barra?" ucap seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka. Barra menoleh dan dirinya terkejut melihat seseorang yang memanggilnya.
Barra langsung berdiri dan menghampiri seseorang itu. Seseorang yang sempat ia dan Kayla bahas tadi. Barra memeluknya dan ia terlihat terkejut sekaligus senang.
"Bang Zidan kenapa bisa ada di sini?" tanya Barra terkejut. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Zidan di restoran ini. Zidan tersenyum dan menepuk bahu Barra.
"Habis bertemu klien. Kamu sendiri? Dan wanita itu siapa?" tanya Zidan menyelidik. Barra langsung menoleh ke arah Kayla yang menatap mereka bertiga, Barra, Zidan, dan Fanny.
"Ayo, aku akan cerita sama abang," ucap Barra. Ia menarik Zidan untuk bergabung ke mejanya.
Sebenarnya Zidan masih belum sehat betul. Ia terpaksa untuk menemui kliennya karena ia tak ingin ada masalah dengan kantornya. Siapa lagi kalau bukan tuan Raymond. Hari ulang tahun putrinya semakin dekat. Zidan hanya bisa menurut saja.
Meskipun Fanny sudah memperingatinya untuk banyak-banyak istirahat, namun Zidan tetap memaksa untuk diantar di tempat yang telah dijanjikan.
"Jadi, apa yang mau kamu ceritakan padaku?" tanya Zidan lagi.
Sebelum menjawab pertanyaan Zidan, Barra menghela napasnya sejenak. Kemudian ia menggenggam tangan Kayla.
"Dia calon istriku bang. Namanya Kayla. Kay, ini abang aku, bang Zidan," ucap Barra. Kayla dan Zidan saling bertatap mata dan tersenyum tipis.
"Aku berniat untuk segera melamar dan menikahinya bang," ucap Barra. Zidan yang mendengar kabar tersebut tentunya sangat senang.
"Bagus dong. Tapi apa kamu sudah mengenalkannya pada mommy?" tanya Zidan. Barra menggeleng pelan. Zidan hanya mengernyitkan dahinya.
"Aku takut jika mommy tidak merestui kami untuk menikah bang. Apalagi, bang Zidan kan belum menikah juga," jelas Barra. Zidan mengusap tengkuknya pelan.
"Jangan bilang kamu akan menungguku menikah dulu baru kamu akan menikah Barra," ucap Zidan menyelidik. Ia menatap Barra dengan lekat.
"Aku memang sempat berencana seperti itu bang, tapi aku juga kasihan sama Kay," jawab Barra. Ia melirik Kayla yang terdiam memerhatikan dirinya dan Zidan.
Zidan semakin bingung. Itu kabar baik jika Barra ingin menikah. Tetapi kenapa harus menunggunya menikah terlebih dahulu bari adik-adiknya? Untuk sekarang saja Zidan masih belum menemukan wanita yang tepat untuk dirinya, apalagi berencana untuk menikah dalam waktu dekat ini.
Zara, wanita yang coba ia dekati akhir-akhir ini juga belum bisa ia pastikan jika Zara setuju menikah dengannya. Zidan sama sekali tak masalah jika adik-adiknya menikah duluan. Ia justru senang dengan kabar ini.
"Dengarkan aku. Abang tidak masalah jika kamu ingin segera menikah. Atau nanti abang yang akan berbicara dengan mommy jika mommy sampai tidak setuju?" ucap Zidan.
"Terima kasih bang. Tapi Barra akan coba membicarakan hal ini sendiri sama mommy dulu," ujar Barra. Ia lega, Zidan tak mempermasalahkannya.
__ADS_1
Zidan sebenarnya merasa sedikit pusing. Tetapi ia tahan demi mereka. Zidan juga tak ingin Barra khawatir dengan keadaannya. Fanny yang berdiri di samping Zidan diam-diam memerhatikan Zidan. Ia ingin sekali menarik Zidan ke mobil agar segera istirahat kembali.
"Tuan muda, sebaiknya Anda segera istirahat. Saya khawatir dengan kesehatan Anda," ucap Fanny berbisik pada Zidan. Zidan mengangguk.
"Ya sudah, kalau begitu kalian lanjutkan lagi makan siangnya. Abang masih ada urusan lainnya," pamit Zidan sambil ia berdiri.
"Terima kasih bang Zidan," ucap Barra. Mereka saling berpelukan sebelum Zidan pergi.
Saat Zidan ingin beranjak, tiba-tiba ia merasa pusing. Hampir saja dirinya terjatuh kalau Fanny tidak dengan sigap memegangi Zidan.
"Bang Zidan kenapa?" tanya Barra panik.
"Tidak apa-apa. Abang pamit dulu ya. Ayo Fan," ucap Zidan dan mereka berlalu meninggalkan Barra dan Kayla.
Kayla berdiri dan menghampiri Barra yang tengah berdiri. Kayla mengusap lengan Barra dan tersenyum manis ke arah Barra. Mereka melanjutkan lagi makan siangnya yang sempat tertunda.
Di mobil, Zidan segera bersandar di kursi penumpang. Ia memejamkan matanya dan memijat pelipisnya.
"Tuan muda, saya akan mengantar Anda ke rumah sakit agar Anda segera mendapatkan penanganan," ucap Fanny khawatir. Ia mulai menjalankan mobilnya.
"Kita ke kantor sebentar Fan," ucap Zidan. Fanny hanya mengangguk dan melajukan mobilnya menuju kantor.
Sesampainya di kantor, Zidan segera merebahkan dirinya di sofa. Ia terlihat sangat lemas dan pucat. Fanny yang melihatnya merasa tidak tega.
"Zara kapan datang bekerja Fan?" tanya Zidan yang masih memejamkan matanya.
"Pukul 13.00 tuan muda. Dan ini masih ada waktu setengah jam lagi," jawab Fanny.
"Bangunkan aku pukul 12.45 Fan, ingat jangan sampai telat," ucap Zidan. Fanny mengangguk lagi.
Zidan terlelap dalam tidurnya. Sedangkan Fanny duduk di sofa yang lainnya. Ia tetap duduk di sofanya sambil menunggu waktu itu tiba.
Cukup lama juga. Ia membangunkan Zidan tepat pukul 12.45. Namun Zidan masih enggan untuk membuka matanya.
"Tuan muda, nona Zara sudah datang," ucap Fanny. Seketika Zidan bangun dan membuka matanya lebar-lebar. Fanny menahan tawanya sambil memalingkan wajahnya.
"Di mana Zara, Fan?" tanya Zidan bingung.
__ADS_1
"Nona belum sampai tuan," jawab Fanny. Zidan menatap Fanny dengan kesal.
"Sialan kamu!" umpat Zidan. Fanny ingin tertawa namun ia tidak ingin membuat Zidan semakin kesal.
Tak lama setelah itu, Aletta mengetuk pintunya. Ia memberitahukan bahwa Zara sudah sampai di kantor. Karena hari ini hari pertama ia kerja, Zara belum tahu apa yang akan ia kerjakan nantinya. Saat datang dan melapor ke resepsionis, mereka mengatakan untuk menyuruh Zara datang langsung ke ruangan Zidan. Zidan mempersilakan Zara masuk duluan. Zidan menuju kamar mandi sebentar untuk menyegarkan dirinya.
Zara masuk ke ruangan dengan sedikit gugup. Fanny mempersilakan Zara untuk duduk sembari menunggu Zidan. Saat Zidan keluar kamar mandi, ia memberikan kode agar Fanny meninggalkan mereka berdua. Fanny mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu.
"Zara," panggil Zidan. Zidan duduk di samping Zara.
"Iya tuan," jawab Zara dengan sopan.
"Pertama, jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu, aku tidak suka," ucap Zidan keberatan.
"Lalu, saya harus memanggil tuan bagaimana?" tanya Zara bingung.
Zidan sekilas menyeringai ke arah Zara.
"Panggil saja Zidan. Tidak perlu memanggilku dengan formal seperti itu," jawab Zidan santai.
"Tapi tuan..." protes Zara.
"Kamu panggil aku Zidan atau sayang, pilih salah satu," sela Zidan dengan cepat.
"Hah?" Zara merasa terkejut. Apa-apaan ini. Zara menelan salivanya dengan kasar.
Zidan tertawa kecil melihat ekspresi Zara.
"Sayang... Eh, Zara maksud saya, mulai hari ini panggil nama saya saja, Zidan. Dan tugas kamu adalah menemani saya di dalam ruangan ini. Membuatkan saya kopi hitam setiap harinya. Kamu tidak diperbolehkan membantu atau membuatkan karyawan lainnya kopi. Hanya saya seorang yang berhak atas itu. Paham?" ucap Zidan dengan santai.
"Pekerjaan macam apa ini?" batin Zara. Namun ia benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Mau tak mau ia menyetujuinya.
"Zara..." panggil Zidan lembut.
"Iya tuan? Eh, Zi-Zidan," jawab Zara dengan gugup. Zidan tertawa kecil saat melihat Zara gugup seperti ini.
Seketika Zidan lupa dengan sakitnya. Karena kehadiran Zara yang mampu menyihirnya dan mulai merubah hatinya terhadap Zara. Mungkin bisa dikatakan jika Zidan mulai jatuh cinta kepada Zara.
__ADS_1