Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 60 (season 2)


__ADS_3

Dua minggu berlalu.


Sudah dua minggu ini Zara tinggal di rumah orang tua Zidan. Itu Alina lakukan agar Zidan tidak melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Alina sengaja membuat Zara tinggal bersamanya agar Zidan tidak sering menemui Zara di luar sana. Namun nyatanya setiap hari Zidan pulang ke rumah dan bahkan menginap di rumah.


Zara satu kamar dengan Alisya. Karena kesediaan kamar yang terbatas dan tidak ada kamar kosong lagi kecuali kamar pembantu. Awalnya Alina ingin menempatkan Zara di kamar Zidan, namun belakangan ini Zidan pulang ke rumah membuat Alina terpaksa menyuruh Zara tidur bersama Alisya untuk sementara.


Meskipun awalnya canggung, Zara semakin hari semakin terbiasa. Ia bahkan sudah semakin dekat dengan keluarga Zidan. Zara juga sering membantu Alina mengurus rumah. Alina tentu senang karena Zara termasuk orang yang rajin dan cekatan.


Sore pukul 15.00, Zidan sudah pulang dari kantor. Ia sengaja pulang cepat karena ingin segera bertemu dengan Zara. Meskipun setiap hari bertemu, namun tetap saja ia merasa rindu pada Zara. Zara sudah tidak bekerja lagi di kantor Zidan. Zidan sendiri yang menyuruh Zara untuk resign dari pekerjaannya. Dan Zidan menyesal dengan keputusannya itu karena di kantor Zidan tidak bisa fokus.


Saat sampai di rumah, Zidan melihat Zara sedang asik mengobrol dengan Raffa. Raffa juga jarang di rumah karena selama liburan ini ia belajar mengelola restoran ibunya bersama dengan Viona.


Terdengar gelak tawa Zara saat bersama dengan Raffa. Raffa lebih sering tersenyum saat bersama Zara daripada biasanya yang terlihat dingin.


"Ngobrolin apa sih kok seru banget," ucap Zidan dan duduk di samping Zara. Ia memeluk bahu Zara dan mencium pipinya sekilas di depan Raffa. Zidan sengaja memperlihatkan kemesraan mereka.


"Kok sudah pulang? Ini, kita lagi ngobrol soal perkuliahan," jawab Zara.


"Bang, Raffa ke kamar duluan," pamit Raffa. Zidan menganggukkan kepalanya. Raffa melangkah meninggalkan mereka di ruang tengah.


"Kenapa? Cemburu melihatku bersama Raffa?" tanya Zara. Ia tertawa kecil. Zara mengubah posisinya dan kini menghadap Zidan. Zidan mencubit hidung Zara.


"Sakit Zidan," ucap Zara sambil memukul lengan Zidan.


"Salah sendiri membuatku cemburu," balas Zidan santai. Zara hanya tertawa kecil.


"Mommy sama Alisya ke mana sayang?" tanya Zidan. Ia sambil mengendurkan dasinya.


"Keluar sebentar, katanya mau beli bahan makanan," jawab Zara.


"Kamu tidak ikut?" tanya Zidan.

__ADS_1


"Tidak, tadi lagi ngobrol sama Raffa, makanya tante sama Alisya pergi berdua saja," jawab Zara. Zidan mengangguk pelan.


"Ayo ikut aku sebentar sayang," ucap Zidan. Ia menarik tangan Zara agar mengikutinya.


"Ke mana?" tanya Zara bingung.


"Suatu tempat, nanti kamu juga tahu," jawab Zidan.


Mereka memasuki mobil. Zidan membawa Zara ke suatu tempat. Zara hanya menurut begitu saja. Meskipun Zara bertanya, namun Zidan juga tidak memberitahunya.


Mobil Zidan berhenti di tempat pemakaman umum. Ia membawa Zara masuk ke area pemakaman tersebut. Zara menatap Zidan bingung.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Zara bingung. Zidan hanya tersenyum dan terus melangkah. Zara mengikuti Zidan hingga mereka berhenti di salah satu makan yang bertuliskan nama Erika. Zidan berjongkok dan mengusap batu nisan itu. Sedangkan Zara masih berdiri di samping Zidan. Ia tidak tahu makam siapa itu.


"Zara, kemarilah," ucap Zidan sambil menatap Zara. Zara ikut berjongkok di samping Zidan.


"Aku sengaja mengajakmu ke sini karena aku ingin mengenalkanmu dengan mama kandungku," ujar Zidan.


"Papaku pernah menikah sebelum menikah dengan mommy. Dari pernikahan pertama papaku lahirlah aku. Katanya dulu papa tidak mencintai mama Erika. Karena wanita yang papa cintai hanyalah mommy Alina. Mama meninggal tepat setelah berjuang melahirkanku," ujar Zidan. Ia tersenyum tipis. Zara baru tahu jika Zidan bukanlah anak kandung dari Alina. Namun dilihat dari cara Alina memperlakukan Zidan, sama sekali tidak terlihat jika Alina adalah ibu tirinya.


"Apa kamu pernah membenci papamu karena memperlakukan mama kandungmu seperti itu? Atau membenci mommy yang telah merawatmu hingga dewasa?" tanya Zara pelan.


"Tidak! Aku tidak tahu bagaimana kisah mereka. Aku sangat menyayangi mereka Zara. Aku membawamu ke sini hanya untuk mengenalkanmu kepada mama kandungku dan mengetahui kebenaran tentang diriku," ucap Zidan. Zara mengusap bahu Zidan dengan lembut.


Mereka berdoa untuk Erika. Setelah selesai, mereka berdiri dan menatap makam itu sejenak. Zara tahu ada kesedihan yang sedang disembunyikan oleh Zidan.


"Kamu sering berkunjung ke makam mamamu?" tanya Zara.


"Tidak sering. Biasanya satu bulan sekali," jawab Zidan.


"Ayo, kita kembali. Kalau mommy sampai tahu aku membawamu keluar, pasti akan marah lagi sama aku," ujar Zidan. Ia menarik tangan Zara menuju parkiran.

__ADS_1


Zidan melajukan kembali mobilnya. Mereka kembali pulang ke rumah sebelum Alina nanti marah pada Zidan.


"Stop!! Stop!! Berhenti dulu!" ucap Zara tiba-tiba.


"Ada apa sayang?" tanya Zidan bingung. Ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Aku ingin rujak buah tadi, tolong belikan ya," ucap Zara memelas. Zidan menatap ke arah penjual rujak buah di pinggir jalan.


"Ya sudah, kamu tunggu di sini sebentar ya," ucap Zidan. Ia tersenyum dan mengusap puncak kepala Zara dengan lembut.


"Eh tunggu! Mangga mudanya banyakin ya," ucap Zara lagi. Ia meringis ke arah Zidan. Zidan berpikir sejenak. Ia mengangguk dan segera mengantri untuk membelikan Zara rujak buah.


Sepuluh menit berlalu. Kini Zidan sudah kembali dengan membawa satu porsi rujak buah lumayan besar dengan isian berbagai macam buah-buahan. Tetapi mangga muda yang lebih banyak karena permintaan Zara. Zara tersenyum lebar saat melihatnya. Ia segera menyambar rujak buah itu dan menyantapnya dengan lahap. Zidan melajukan kembali mobilnya.


"Selahap itu dia makan rujak buahnya? Apa dia tidak pernah makan rujak buah," gumam Zidan saat melirik Zara yang sedang lahap menyantap rujak tersebut.


"Terima kasih ya sayang," ucap Zara.


"Iya, kalau ada apa-apa atau ingin sesuatu lagi bilang ya. Aku suka kalau kamu manja seperti tadi," ujar Zidan. Zara hanya mengangguk saja.


"Jangan banyak-banyak makan mangganya. Nanti perutmu sakit sayang," ucap Zidan memperingati.


"Tidak akan. Ini sangat enak Zidan. Kamu mau?" ucap Zara dengan mulut yang penuh dengan rujak buah itu. Zidan menggeleng pelan.


Akhirnya mereka sampai di rumah. Alina sudah menyambut Zidan dan Zara di depan rumah.


"Dari mana? Sudah mommy bilangkan jangan bawa Zara keluar dulu," ucap Alina. Zidan hanya menyengir ke arah Alina.


"Maaf Mom, tadi kami hanya jalan-jalan sebentar kok," jawab Zidan. Alina menghela napasnya sejenak. Lalu ia membawa Zara masuk ke dalam rumah. Zidan mengikuti mereka dari belakang.


"Haih, mommy sangat sensitif sekali," gumam Zidan.

__ADS_1


__ADS_2