Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 05 (season 2)


__ADS_3

Tanpa terasa, hari sudah semakin sore. Zidan menyandarkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya. Ia habis meeting dengan beberapa kliennya. Ia merasa sungguh letih hari ini.


"Minumlah sedikit tuan muda," ucap Fanny sambil menyodorkan secangkir kopi. Zidan memicingkan matanya. Ia menatap Fanny dengan heran.


"Minum kopi bisa menenangkan pikiran Anda," ucap Fanny kembali. Zidan menghela napasnya sejenak. Ia memang jarang meminum kopi, apalagi kopi hitam seperti ini. Bukan tak suka, karena ia tidak sempat untuk bersantai ria sambil meminum kopi di ruang kerjanya. Hanya beberapa kali saja karena Fanny selalu menawarkan itu padanya.


"Fan, kamu tahu kan aku tidak terlalu suka minum kopi," ucap Zidan tanpa menatap Fanny yang berdiri di sampingnya.


"Saya tahu tuan muda. Tapi kali ini percayalah, kopi ini akan membuat pikiran tuan muda menjadi lebih rileks," ujar Fanny. Zidan menurut begitu saja dengan apa yang diucapkan Fanny. Ia mulai menyeruput kopi tersebut. Seketika dirinya terdiam sejenak.


"Siapa yang membuat kopi ini?" tanya Zidan dan menatap tajam ke arah Fanny. Tatapan yang begitu mengintimidasi bagi Fanny. Fanny susah payah menelan salivanya. Ini memang bukan buatan siapa-siapa. Ia hanya memesannya asal lewat online saja.


"Apakah tuan muda tidak menyukainya? Kalau begitu saya buatkan yang baru lagi," jawab Fanny dengan gugup. Jika Zidan sampai marah itu bukan sesuatu hal yang bagus untuknya.


"Apa aku berkomentar tentang rasanya? Aku hanya bertanya siapa yang membuat kopi ini kan? Kenapa kamu begitu ketakutan?" ujar Zidan dan meneguk kopinya lagi. Fanny menghela napasnya lega. Kali ini ia selamat dari amukan singa.


"Itu, saya membelinya lewat aplikasi online. Apakah tuan muda keberatan?" tanya Fanny hati-hati.


"Di mana kamu belinya? Antar saya ke sana," ucap Zidan tergesa-gesa.


"Sa-saya tidak tahu tempatnya di mana tuan. Itu diantar oleh ojek online tadi. Saya hanya memesannya asal," jawab Fanny. Zidan menghela napasnya sejenak. Ia kembali merebahkan tubuhnya pada sandaran sofa.


"Aku beri kamu waktu lima menit untuk menanyakan kepada ojek online itu. Setelah itu kita pergi ke sana," ujar Zidan yang sambil memejamkan matanya. Lagi-lagi Fanny kesusahan menelan salivanya sendiri. Namun ia tidak bisa membantah perintah Zidan.


"Astaga, ada apa dengan tuan muda? Jangan bilang jika tuan muda ingin mengakuisisi kedai kopi itu," batin Fanny ke mana-mana.


"Masih tidak bertindak juga?" ucap Zidan sedikit kesal.


"Baik, akan saya tanyakan," ucap Fanny. Ia berjalan keluar ruangannya.

__ADS_1


Lima menit berlalu. Fanny kembali lagi ke ruangan Zidan. Ia berdiri di samping Zidan yang sedang memejamkam matanya.


"Tuan muda," ujar Fanny pelan.


"Hmmm.."


"Saya sudah tahu di mana kedai kopi tersebut berada. Tetapi ada satu hal yang sedari tadi mengganjal pikiran saya. Bolehkah saya bertanya sesuatu?" ujar Fanny hati-hati.


"Apa yang ingin kau tahu?" tanya Zidan dan kini membuka matanya. Ia memposisikan dirinya untuk duduk.


"Apakah tuan muda berniat mengakuisisi kedai kopi tersebut karena rasanya yang kurang enak?" tanya Fanny. Kini wajahnya sudah pucat pasi.


"Hahahahahaa..." Zidan tertawa keras. Ia benar-benar merasa lucu dengan pertanyaan yang dilontarkan Fanny, asistennya itu.


"Sudah berapa tahun kamu mengikutiku? Apa kamu masih belum mengerti tentang diriku, hah?" ucap Zidan disela tawanya. Fanny benar-benar tidak mengerti. Apakah ia salah mempertanyakan hal itu agar ia bisa mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi nanti?


"Sudahlah. Kau akan tahu nanti, cepat antar aku ke sana," ujar Zidan dan ia berdiri. Zidan merangkul Fanny dari samping dan berjalan beriringan.


Cukup lama mereka untuk sampai di kedai kopi itu. Fanny meminggirkan mobilnya di tepi jalan yang berseberangan dengan kedai itu. Kedai kopi yang tak begitu luas namun sangat ramai oleh pengunjung.


Zidan bisa melihat betapa ramainya kedai kopi tersebut. Ia masih memperhatikan kedai itu.


"Tuan, itu tempatnya," ucap Fanny yang menatap Zidan dari spion.


"Ramai sekali," ujar Zidan.


"Apa saya perlu mengosongkan tempat tersebut untuk Anda tuan muda?" tanya Fanny. Apapun yang diinginkan Zidan selagi itu masuk akal ia akan melakukannya.


"Tidak perlu," jawab Zidan.

__ADS_1


Manik hitamnya masih menatap kedai kopi tersebut. Cukup lama ia dalam posisi itu. Fanny juga hanya setia menunggu perintah selanjutnya. Ia bahkan tidak tahu apa yang sedang dipikirkan tuannya itu. Apa sedang menyusun rencana atau sedang memikirkan hal lainnya.


"Aku sangat penasaran, siapa orang yang membuat kopi tadi. Rasanya sangat enak hingga aku tidak bisa melupakannya," batin Zidan.


"Kita ke sana sekarang Fan," ucap Zidan. Fanny mengangguk dan menjalankan kembali mobilnya menuju parkiran kedai kopi 'Tentang Rasa' itu.


Fanny keluar dan membukakan pintu mobilnya untuk Zidan. Zidan keluar dari mobil. Ia berjalan pelan masuk ke dalam kedai tersebut dengan Fanny yang mengikutinya dari belakang. Fanny masih belum paham dengan tujuan Zidan ke sini. Zidan berhenti sejenak dan berbalik menatap Fanny.


"Apakah benar tadi tempatnya di sini?" tanya Zidan memastikan.


"Iya tuan muda," jawab Fanny sambil menunduk. Zidan kembali melangkahkan kakinya.


"Ah, bukankah itu wanita yang tadi pagi?" gumam Zidan yang melihat Zara sedang menyeduh kopi pesanan dari para pengunjung.


"Tuan muda, ada apa?" tanya Fanny bingung. Karena Zidan kembali terdiam sambil memperhatikan para barista itu.


"Kau ingat dengan wanita itu?" tanya Zidan sambil menunjuk ke arah Zara. Sorot mata Fanny mengarah ke tempat yang ditunjuk Zidan.


"Iya, dia adalah wanita yang menjajakan minuman dingin di perempatan tadi pagi," jawab Fanny. Zidan mengembangkan senyumnya. Ia berjalan cepat menghampiri wanita itu.


"Buatkan saya satu cappucino," ucap Zidan yang sudah berada di depan Zara.


Zara menatap sekilas laki-laki itu. Ia tersenyum ramah. Sambil tangannya yang dengan lihai menyeduh kopi tersebut.


"Ah bukan, satu kopi hitam dan satu cappucino," ralat Zidan kembali.


"Maaf tuan, silakan tulis pesanan Anda nanti jika sudah siap kami akan antarkan ke meja Anda," ucap Zara ramah. Lagi-lagi Zidan masih memperhatikan Zara.


"Siapa namamu?" pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa Zidan sadari. Zara hanya acuh tak menanggapinya.

__ADS_1


"Aku tanya siapa nama kamu?" ucap Zidan mengulangi pertanyaannya.


Namun Zara memang tidak berniat meladeni ucapan Zidan. Ia hanya tersenyum sekilas lalu menyibukkan dirinya kembali. Sedangkan Fanny masih menatap Zidan dengan penuh keheranan. Sesekali ia mengusap tengkuknya. Menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


__ADS_2