
"Di mana mereka sekarang?" teriak Alina panik.
Bi Narsih dan pak Kariman yang mendegar teriakan Alina langsung mendekat.Tak biasanya majikannya histeris seperti itu.
"Tuan dan tuan muda berada di rumah sakit X nyonya," jawab asisten tersebut.
Alina menangis sejadi-jadinya. Bagaimana bisa suami dan anaknya kecelakaan.
"Nyonya kenapa? Apa nyonya baik-baik saja?" tanya bi Narsih. Ia masih bingung apa yang sebenarnya terjadi. Alina menjelaskan jika Arvin dan Zidan mengalami kecelakaan.
"Bi, tolong jaga Barra. Pak Kariman antar saya ke rumah sakit X sekarang juga!" ucap Alina sambil mengusap air matanya dengan kasar. Alina sedikit berlari ke kamarnya untuk mengambil tasnya dan berganti baju. Kemudian ia kembali lagi dan mencium kening anaknya sekilas. Alina berangkat menuju rumah sakit X.
Di dalam mobil, Alina semakin gelisah. Ia tadi sudah memberitahukan kabar ini kepada orang tua dan mertuanya. Mungkin saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Alina langsung menuju ruangan operasi, tempat anak dan suaminya berada.
"Nyonya," ucap asisten itu dan membungkuk dengan hormat.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Alina panik.
"Tuan dan tuan muda sudah dalam penanganan. Nyonya jangan khawatir," jawab asisten tersebut.
"Bagaimana kecelakaan ini bisa terjadi?" tanya Alina dengan lemah. Alina menatap ke dalam ruangan tersebut.
"Maafkan saya nyonya. Saya juga tidak tahu. Tapi nyonya tenang saja, saya akan menyelidiki kasus ini segera," jawab asisten tersebut dengan hormat.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, orang tua dan mertuanya datang dengan tergesa-gesa. Alina memeluk Lita dan menangis dalam pelukan itu. Kemudian beralih memeluk Soraya dan semakin menumpahkan kesedihannya.
"Jangan terlalu sedih sayang, kasihan pada bayimu," ucap Soraya agar Alina lebih tenang.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Lita dan kini menitikkan air matanya. Alina menggeleng pelan. Bahkan ia juga belum tahu kabar dari suami dan anaknya. Apakah mereka baik-baik saja atau tidak.
Selama satu jam mereka menunggu di luar ruang operasi. Akhirnya dokter yang menangani mereka keluar. Semua orang berdiri dan menunggu kabar dari Arvin dan Zidan.
"Pasien telah berhasil dioperasi. Tidak perlu khawatir, kami akan berusaha sebaik mungkin. Pasien akan dipindahkan di ruang rawat inap. Saya permisi dulu," ujar dokter tersebut. Semua yang berada di situ mengangguk.
Saat ini mereka berada di ruang rawat inap. Alina tidak ingin mereka dirawat dengan ruangan terpisah. Agar ia bisa menjaga suami dan putranya sekaligus.
Dokter bilang jika mereka berhasil melewati malam ini, maka kondisi mereka akan baik-baik saja. Alina mendekati Arvin perlahan. Ia menatap Arvin dengan sendu. Laki-laki yang tengah berbaring lemah dihadapannya. Air mata Alina tak berhenti menetes.
"Mas, jangan tinggalkan aku. Bukankah kamu ingin melihat anak perempuan kita? Cepatlah bangun mas," ucap Alina dengan pilu.
"Sayang, istirahatlah. Jangan sedih terus. Bukankah dokter sudah bilang baik-baik saja? Kasihan pada bayi yang kamu kandung sayang," ucap Lita sambil menuntun Alina agar duduk di sofa. Alina menyandarkan tubuhnya ke bahu Lita. Lita terus mengusap lengan Alina dengan lembut. Tujuannya agar Alina lebih tenang.
Malam semakin larut, mereka tak ada yang pulang. Termasuk asisten Arvin, Farhan. Mereka menunggu Arvin dan Zidan siuman. Mereka sama-sama tidak bisa tidur, terutama Alina. Meskipun Alina merasakan pening di kepalanya, tetapi ia memilih untuk diam tak memberitahu keluarganya. Alina tak ingin mereka bertambah panik.
"Sini, kamu jangan terjaga terus seperti ini. Setidaknya pikirkan bayi yang ada dikandungan kamu. Tidurlah sejenak," ucap Soraya sambil merengkuh Alina. Soraya mendekap Alina berharap Alina juga istirahat. Alina tak mau egois, bagaimanapun juga kondisinya tidak boleh sampai drop. Ia harus kuat dan tegars menghadapi musibah ini. Alina mulai memejamkan matanya dengan berbaring di sofa dan paha Soraya sebagai bantalnya.
Hari menjelang pagi. Semua masih terjaga kecuali Alina. Alina masih terlelap dalam tidurnya, mungkin juga karena Alina lelah. Semuanya gusar menunggu Arvin dan Zidan sadarkan diri.
Alina menggeliat kecil. Kepalanya terasa berat dan pusing. Dirinya mengerjap untuk mengingat apa yang sudah terjadi. Alina segera bangkit dan menatap Soraya yang sama sekali belum tidur.
__ADS_1
"Ma, apa mereka sudah siuman?" tanya Alina yang mengagetkan Soraya.
"Belum sayang," jawab Soraya. Raut Alina berubah sendu. Soraya kembali merengkuh Alina dan mengusap lengan Alina dengan pelan.
Tak lama kemudian, Zidan mulai menggerakkan jemarinya. Itu artinya ia akan segera sadar. Lita yang mengetahui hal tersebut langsung memanggil dokter. Dokter datang dan memeriksa Zidan sebentar. Zidan mulai membuka matanya.
"Mommy..." ucap Zidan lirih. Alina segera mendekat dan mengecup kening Zidan.
"Iya sayang, mommy di sini," ucap Alina dan air matanya kembali menetes.
Dokter mengatakan jika masa kritis Zidan telah terlewati dengan aman. Kini hanya tinggal pemulihan saja. Berbeda dengan Arvin yang masih terbaring lemah.
Paginya, Lita dan Mahardika harus pulang ke rumah karena ada urusan yang harus diselesaikan. Begitu juga Soraya dan Jovan. Kini tingalah Alina dan Farhan, asisten Arvin yang berada di ruangan tersebut.
Zidan sudah mulai sadar sepenuhnya. Namun Arvin belum ada tanda-tanda untuk membuka matanya. Alina duduk di samping Zidan sambil sesekali menatap sendu suaminya.
"Nyonya istirahat saja. Biar saya yang menjaga tuan dan tuan muda," usul Farhan karena tidak tega melihat Alina seperti itu. Apalagi dirinya sedang mengandung. Pasti bukan hal yang baik baginya memaksakan diri seperti ini. Alina menggeleng pelan. Ia tidak akan pulang sebelum Arvin siuman. Ia akan menemani anak dan suaminya di sini hingga sembuh.
"Kamu saja yang pulang Farhan. Saya tidak apa-apa," jawab Alina. Air matanya kembali membasahi pipinya.
Siangnya Lita kembali ke rumah sakit sendirian. Ia akan menemani Alina menjaga anak dan cucunya itu. Sedangkan Soraya membantu mengurus Barra. Tak mungkin juga kan Alina membawa Barra ke rumah sakit.
Farhan sudah kembali ke kantor lagi untuk mengurus perusahaan selama Arvin sakit. Dirinya juga melakukan penyelidikan apakah ada unsur kesengajaan dalam kecelakaan ini.
Tak lama setelah itu, Briant dan Dewi datang menjenguk. Dewi turut prihatin atas musibah yang menimpa keluarga Alina. Briant dan Dewi juga saling memberikan penguatan dan dukungan agar Alina tak larut dalam kesedihan.
__ADS_1
Alina yang duduk di samping Arvin terus memandanginya tanpa henti. Berharap Arvin segera sadar dan pulih seperti sedia kala. Alina mengusap pelan kening dan tangan Arvin. Berharap agar segera sadar.