Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 08 (season 2)


__ADS_3

"Fan, bagaimana?" tanya Zidan disela kerjanya.


"Semua sesuai yang Anda minta tuan muda. Apakah ada hal lain lagi yang harus saya kerjakan?" jawab Fanny dengan sopan. Zidan menyeringai. Ia tersenyum puas dan tak sabar untuk melihat hasilnya.


Baiklah, menjawab pertanyaan beberapa pembaca. Fanny ini adalah laki-laki. Ia satu-satunya sahabat sekaligus orang kepercayaan Zidan. Mereka bersahabat sejak menginjak bangku SMP. Fanny adalah putra salah satu manager perusahaan Arvin. Dirinya mengabdikan diri dan bekerja untuk Zidan. Dan sekarang, ia menjadi asisten yang paling dipercaya oleh Zidan.


"Tidak. Kamu sudah bekerja keras hari ini Fan," jawab Zidan. Fanny mengangguk sopan.


Seperti biasa, mereka selalu disibukkan oleh pekerjaan yang sama. Setelah pembicaraan itu, mereka fokus dengan pekerjaan masing-masing.


"Fan, panggil Aletta ke sini," ucap Zidan.


"Baik tuan muda," jawab Fanny. Ia segera memanggil Aletta, sekretaris pribadinya. Tak lama, Aletta sudah menghadap di depan Zidan.


"Ale, kosongkan jadwal saya sore nanti," ucap Zidan.


"Baik tuan," jawab Aletta. Setelah itu ia kembali ke meja kerjanya.


Waktu terus berjalan. Zidan masih berkutat dengan laptopnya. Sesekali ia melirik jam yang melingkar di tangannya. Ini masih siang, tapi ia begitu tidak sabaran menanti sore nanti.


***


Mata kuliah terakhir di hari ini. Kelas baru saja dimulai. Zara sengaja masuk ke kelas lebih awal. Ia tidak ingin duduk di samping Raffa yang selalu memasang wajah dinginnya. Itu seolah mencekiknya karena kecanggungannya.


Zara duduk lebih dekat dengan meja dosennya. Tepatnya berada di depan meja dosen itu. Ia tidak peduli, teman wanita satu kelasnya menatapnya dengan garang. Ia di sini hanya untuk menuntut ilmu bukan yang lainnya.


Sekitar pukul 12.00 akhirnya selesai. Zara menunggu teman sekelasnya keluar lebih dulu. Ia hanya ingin menikmati ketenangan di dalam kelasnya.


Hanya tersisa dirinya dan Raffa. Raffa masih menyelesaikan catatannya yang belum selesai tadi.


Zara menundukkan kepalanya di atas mejanya. Ia memejamkan matanya sejenak. Walaupun kerjanya dimulai pukul 14.00, ia masih banyak kegiatan yang harus ia lakukan.


Raffa memicingkan matanya seraya menatap Zara. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu, ia begitu lama memandangi punggung Zara. Sampai dering ponselnya menyadarkan dirinya.

__ADS_1


"Ya?" ucap Raffa datar.


"Baiklah, tunggu sebentar," ucap Raffa. Ia mengemasi barangnya dan pergi meninggalkan Zara sendirian di dalam kelas.


Zara mendongak dan menatap Raffa yang keluar dari kelas tersebut. Beberapa saat kemudian, ia keluar dan menuju ke kostnya untuk istirahat sebelum berangkat bekerja.


Raffa memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Ia menunggu Alisya. Ya, yang tadi menghubunginya adalah Alisya, adiknya. Cukup lama ia menunggu Alisya keluar gerbang sekolah.


"Hai bang Raffa," sapa Alisya yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Kenapa tidak menghubungi pak Kariman saja?" ujar Raffa sambil melajukan mobilnya pelan. Memang setiap hari Alisya selalu diantar jemput oleh pak Kariman, sopirnya.


"Kenapa? Aku ingin pulang bersamamu hari ini," ujar Alisya dan memanyunkan bibirnya.


Raffa melirik Alisya sekilas. Ia tersenyum tipis melihat tingkah lucu Alisya.


"Mau sesuatu?" tanya Raffa tanpa menatap Alisya. Ia sudah hafal jika Alisya menghubunginya untuk menjemput adiknya itu, pasti ada sesuatu yang Alisya inginkan.


"Nggak!" tolak Raffa dengan tegas.


"Nggak asik ahh.. Ayo dong, abangku tersayang," ujar Alisya.


"Hari ini aku banyak tugas!" ucap Raffa lagi.


Alisya menghela napasnya kasar. Bahkan ia sudah memiliki rencana untuk main seharian bersama Raffa. Ia ingin menikmati harinya seperti remaja pada umumnya. Tetapi kakaknya itu sama sekali tidak asik.


Hingga sampai di rumahpun Alisya masih terdiam. Mungkin ia kesal pada Raffa atau bahkan marah padanya. Raffa hanya menyetujui ajakan Alisya jika ia merasa luang dan tak ada tugas dari dosen-dosennya.


Waktu bergulir cepat. Pukul 14.00, Zara sudah sampai di depan kedai kopi. Ia mulai memasuki kedai tersebut. Namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya.


"Zara, ke ruangan saya sebentar," ucap laki-laki paruh baya itu. Ia adalah pemilik kedai kopi di sini. Ramdhani Adijaya.


"Baik pak," jawab Zara sambil melangkah mengikuti pak Ramdhani. Pak Ramdhani mempersilakan Zara untuk duduk. Dengan gugup Zara mengangguk dan duduk di depan pak Ramdhani. Zara takut jika dirinya sampai dipecat dari pekerjaannya.

__ADS_1


"Zara,"


"I-iya pak," jawab Zara dengan gugup. Ia meremas jemarinya sendiri. Ramdhani masih menatap tajam Zara.


"Pak, jika saya ada salah saya minta maaf. Tapi saya mohon jangan pecat saya pak. Saya sangat butuh pekerjaan ini. Saya janji akan bekerja lebih giat lagi," ucap Zara yang langsung bersimpuh di depan Ramdhani. Kali ini ia tidak ingin kehilangan pekerjaan ini. Ramdhani mengernyitkan dahinya. Ia bingung dengan sikap Zara.


"Siapa yang ingin memecat kamu?" tanya Ramdhani bingung. Zara terdiam sejenak. Lantas untuk apa jika pak Ramdhani memanggilnya ke ruangannya jika bukan untuk memecatnya. Ramdhani menghela napasnya sejenak.


"Saya punya tugas baru untuk kamu," ucap Ramdhani. Zara mendongak menatap pak Ramdhani. Ia menatapnya bingung.


"Maksud bapak?" tanya Zara masih bingung.


"Duduklah dulu," ucap pak Ramdhani. Zara mengangguk. Ia duduk di tempatnya tadi. Zara masih tidak mengerti dengan tugas baru yang diberikan oleh bosnya ini.


"Selain menjadi barista, kamu harus mengantar pesanan kopi di salah satu perusahaan terbesar di kota ini," ucap pak Ramdhani santai. Zara masih bingung tak mengerti apa yang sedang dibicarakan atasannya itu.


"Selain itu, saya akan naikkan gajimu dua kali lipat. Setiap hari kamu harus mengantar pesanan CEO perusahaan itu," ucap Ramdhani.


"Tapi pak, kenapa harus saya?" Zara benar-benar tidak mengerti sama sekali.


"Karena mereka ingin kamu yang mengantarnya. Jangan membantah lagi. Kamu hanya ada dua pilihan. Dipecat atau mengantarkan pesanan mereka," ucap Ramdhani dengan datar.


"Heh, kalau bukan karena mereka memaksaku dan memberikanku sejumlah uang aku juga tidak akan menaikkan gajimu," gumam Ramdhani.


"Mulai sore ini kamu akan mengantarnya setiap pukul 16.30. Saya juga akan memfasilitasi kamu motor untuk mengantarnya. Biar Fitri yang menyiapkannya nanti. Satu lagi, kopi tersebut harus kamu sendiri yang membuatnya. Dan, jangan membuat masalah yang akan membuatku rugi," ujar Ramdhani.


Meskipun Zara ingin menolaknya tetapi gaji yang ditawarkan atasannya ini sungguh menggiurkan. Saat ini ia membutuhkan uang lebih banyak. Bukankah ini adalah sebuah keberuntungan. Hanya mengantar kopi saja gajinya dinaikkan dua kali lipat.


"Baiklah, saya setuju pak," ucap Zara dengan sopan.


"Bagus jika kamu sudah mengerti. Sekarang segera siapkan dan untuk alamatnya akan saya berikan padamu nanti," ujar Ramdhani. Zara mengangguk dan pamit keluar ruangan.


Antara sedih atau senang ia sekarang bingung. Pekerjaannya bertambah satu lagi namun disisi lain gajinya naik dua kali lipat. Pak Ramdhani ini terkenal keras dan kejam. Ia tak pandang bulu pada setiap karyawannya. Jika Zara sampai membuat masalah akan dipastikan ia dipecat saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2