Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 41 (season 2)


__ADS_3

"Malam ini tidur di sini saja ya?" ujar Zidan dengan lembut. Ia mengusap puncak kepala Zara dengan pelan. Zara melepas pelukannya. Mereka saling menatap satu sama lain.


"Nggak bisa, Zidan! Jangan aneh-aneh kamu ya," balas Zara.


Zidan tersenyum tipis. Ia membelai rambut Zara dengan lembut. Zidan menarik napas dan menghembuskannya dengan pelan.


Zidan merengkuh kembali tubuh Zara sedikit kasar. Hingga Zara terjatuh ke dalam dekapan Zidan. Tangan Zidan mengunci tubuh Zara dengan memeluknya erat. Berulang kali Zidan mengecup kening Zara.


"Kenapa? Takut kalau aku melakukan sesuatu padamu, hemm?" tanya Zidan lembut. Zara menyembunyikan wajahnya yang saat ini merona.


"Iyalah. Aku dan kamu bukan anak kecil lagi ya. Antar aku pulang lagi, aku besok masih ada ujian," rengek Zara. Zidan tertawa kecil. Semakin Zara berusaha untuk menghindar, semakin gemas ia dan tak tahan ingin menggoda kekasihnya itu.


"Beri aku satu ciuman, aku akan antar kamu pulang selamat sampai di kost. Bagaimana?" ujar Zidan. Ia menaik turunkan kedua alisnya.


"Hais, jangan bercanda, Zidan!" ucap Zara. Ia memanyunkan bibirnya.


Zara mendorong tubuh Zidan agar menjauh. Ia berbalik dan melangkah menuju pintu. Namun sebelum Zara mencapai pintu, Zidan sudah merengkuh tubuh Zara dan kini Zidan memeluknya dari belakang. Zara sedikit terkejut. Zara menghela napasnya pelan.


"Cium aku dulu sayang, baru aku akan mengantarmu pulang. Jika tidak, kamu akan di sini semalaman," ucap Zidan manja. Ia menyandarkan dagunya di bahu Zara. Zara tertawa kecil. Kemudian, ia berbalik dan kini mereka saling berhadapan. Zara menangkup wajah Zidan dan ia menciumi bibir Zidan berulang kali. Zidan hanya diam sambil mengamati Zara.


"Tidak ada seorangpun yang bisa merebutmu dariku. Kamu adalah milikku Zara. Milik Zidan Putra. Ingat itu baik-baik," batin Zidan.


"Sudahkan? Ayo pulang," ucap Zara. Ia menarik tangan Zidan untuk keluar apartemen.


"Sayang, kamu sudah membangunkan singa yang sedang tidur. Bagaimana kamu akan bertanggung jawab, hem?" goda Zidan.


Zidan langsung menyambar bibir mungil milik Zara. Ia melumatnya dengan sangat lembut. Menyesap perlahan, menikmati manisnya kecupan itu. Zarapun juga membalas ciuman Zidan. Ia mengalungkan tangannya ke leher Zidan.


Drrrtt... Drrtt... Drrtt...

__ADS_1


Ponsel Zara bergetar. Ada sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Zara mengeluarkan ponselnya dari saku dan melihat siapa yang menghubunginya. Zidan melirik ke arah layar ponsel Zara. Ia ingin tahu siapa yang berani mengganggunya saat dengan Zara.


"Siapa?" tanya Zidan. Walaupun ia tahu itu adalah telepon dari Raffa.


"Telepon dari Raffa, temanku. Sebentar ya, aku angkat dulu," ucap Zara. Ia berjalan menjauhi Zidan. Mungkin ada hal penting sehingga Raffa menghubunginya.


"Apa tidak bisa mengangkat teleponnya di sini saja? Masih harus rahasia begitukah?" batin Zidan tidak senang.


Ia berjalan menghampiri Zara yang sedang berbicara dengan Raffa dari balik telepon. Zidan memeluk Zara dari belakang. Ia berusaha ingin mendengar pembicaraan mereka. Zara tersenyum tipis saat melirik Zidan. Ia mengusap pipi Zidan dengan lembut.


"Oh, tidak apa-apa. Nanti setelah ini akan aku kerjakan. Terima kasih ya," ucap Zara. Namun Zidan tidak senang melihat Zara berbicara dengan pria lain sekalipun itu adalah adiknya sendiri. Dengan usil, Zidan mengecup leher Zara dan meninggalkan jejak merah di sana beberapa kali. Ia tersenyum puas dengan karya yang telah ia buat.


Zara menutup teleponnya. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya. Ia berbalik dan mencubit kedua pipi Zidan dengan gemas.


"Jangan buat banyak-banyak, besok aku masih harus kuliah," ucap Zara. Ia tahu apa yang dilakukan Zidan tadi. Zidan merasa cemburu karena Zara sudah mengabaikannya. Zidan tersenyum tipis dan mencubit hidung Zara dengan gemas.


"Jangan lupa untuk pakai syal. Maaf, membuatmu malu dengan tanda itu," ujar Zidan. Zara ingin marah namun itu akan memperburuk hubungannya nanti.


"Iya. Ya sudah sana pulang. Hati-hati di jalan," ucap Zara. Ia turun dari mobil. Setelah memastikan mobil Zidan menghilang dari pandangannya, Zara segera menuju kamarnya. Tentunya ia menutupi lehernya dengan tas kecil yang ia bawa.


***


Pagi hari setelah Zidan dan keluarga sarapan, ia menuju kantornya. Setelah pamit dengan orang tuanya, Zidan segera menuju kantor bersama dengan Fanny.


"Fan, apa beberapa hari yang lalu Karina menemui Zara?" tanya Zidan saat mereka sudah berada di mobil. Fanny melajukan mobilnya santai menuju kantor.


"Betul tuan muda. Menurut mata-mata yang berada di dekat nona Karina, dia menemui nona Zara dan mengancam nona Zara," jawab Fanny.


Zidan mengepalkan tangannya. Sudah ia duga, bahwa Karina tidak akan diam saja. Untungnya Zidan menugaskan seseorang untuk selalu berjaga di dekat Karina. Apapun yang wanita itu lakukan, Zidan akan mengetahuinya lewat mata-matanya itu.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana reaksi Zara?" tanya Zidan penasaran.


"Nona hanya diam saja. Sepertinya nona belum menyetujui apapun," jawab Fanny.


"Baguslah kalau Zara belum menyetujui apapun darinya. Fan, kita lakukan sesuai apa yang kita rencanakan kemarin," ujar Zidan. Fanny melirik Zidan dari kaca spion yang ada di depannya.


"Apa Anda yakin tuan muda? Bagaimana dengan nona Zara nantinya?" tanya Fanny hati-hati.


"Tidak perlu khawatir. Aku yang akan bicara padanya nanti," balas Zidan. Fanny mengangguk paham.


Tak lama, mereka sampai di kantor. Zidan segera masuk ke ruangannya diikuti oleh Fanny. Kemudian, Aletta masuk ke ruangan untuk menginformasikan jadwal Zidan hari ini. Namun Zidan menyuruh Aletta untuk membatalkan semua janji dengan kliennya.


Di tempat lain, Zara melangkah menuju kelasnya. Hari ini hanya ada satu mata kuliah yang ujian di kelas. Karena satunya lagi hanya pengumpulan tugas kelompok yang sudah dibagikan beberapa minggu lalu.


Setelah tanda tangan kehadiran, Zara keluar kelasnya untuk membeli sesuatu. Ia belum sarapan pagi ini. Sebuah tangan menahannya dan membawa Zara begitu saja. Saat Zara menoleh, ternyata Raffa yang sedang menggenggam tangannya. Ia membawa Zara ke taman kecil yang sedikit jauh dari kelasnya. Mereka duduk dibangku yang ada di taman tersebut.


Zara mengernyitkan dahinya. Ia menatap Raffa bingung. Raffa mengeluarkan sebuah kotak makan dan disodorkan untuk Zara.


"Belum sarapankan?" ucap Raffa. Ia tersenyum tipis.


"Ini untuk Zara?" tanya Zara memastikan. Raffa mengangguk tipis. Zara menerima kotak makan tersebut. Ia membuka kotak makan tersebut. Kemudian beralih menatap Raffa.


"Makanlah," ucap Raffa. Ia berdiri dan ingin meninggalkan Zara.


"Apa ini tante yang menyuruh? Harusnya nggak perlu repot-repot begini," ucap Zara. Raffa berbalik menatap Zara.


"Bukan," jawab Raffa. Kemudian ia melangkah meninggalkan Zara begitu saja.


"Maksudnya apa?" gumam Zara tak mengerti. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


__ADS_2