
Praang...
Praaang..
Praaaang...
Karina membanting semua barang yang ada di hadapannya. Keluarganya hancur dan ia tidak punya apa-apa lagi. Hanya tersisa satu mobil dan rumah yang saat ini ia tinggali. Itu saja sebentar lagi rumahnya akan disita akibat orang tuanya yang terlilit hutang. Karina hancur sehancur-hancurnya. Ia sungguh kacau beberapa bulan ini.
Karina terduduk di lantai. Tak pernah ia membayangkan akan ada hari ini. Hari di mana ia akan terjatuh seperti ini. Kehidupannya sekarang berbanding terbalik dari kehidupannya dulu. Bahkan ia saat ini harus bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri.
Karina meringkuk dan menangis merasakan kepedihan hatinya. Ia sudah tidak tahan hidup susah seperti ini. Penampilannya berantakan, hidupnya kacau, dan orang tuanya yang pergi entah ke mana. Ia tak punya lagi tempat untuk bersandar dan berbagi cerita tentang kepahitan hidup yang ia jalani saat ini. Setiap waktu ia harus berusaha menghindari para penagih utang.
"Semua ini karena Zara! Jika dia tidak hadir dalam hubunganku dengan Zidan, aku tidak akan menderita seperti ini! Zara yang harusnya hancur!" teriak Karina. Kebenciannya pada Zara kini telah membutakannya.
Karina bangkit dari duduknya. Ia mengusap air matanya dengan kasar lalu berjalan menuju watafel. Ia mencuci mukanya dan memandangi dirinya yang berantakan di depan cermin.
"Zara! Aku tidak akan melepaskanmu!" tekad Karina. Jika dirinya hancur, Zara harus ikut bersamanya. Merasakan kehancuran itu.
Karina berjalan menuju ruang tamu dan mengambil tasnya. Ia keluar rumahnya dan mengendarai mobilnya. Karina melajukan mobilnya cukup kencang ke suatu tempat.
***
Setelah jam istirahat, Zara dan Raffa berjalan menuju kantin. Namun aroma kantin membuat Zara mual dan ingin muntah. Ia meminta Raffa agar membawanya pergi dari sana. Karena bingung, Raffa membawa Zara ke kedai bakso yang tak jauh dari kampusnya. Zara sangat antusias saat Raffa mengajaknya ke sana. Itu adalah makanan favorit Zara, dan ia sudah lama tidak mencicipinya. Terakhir kali waktu bersama Zidan kali itu.
Diana yang sedang duduk di sebuah kafe tak sengaja melihat Zara dan Raffa berjalan menuju kedai bakso. Diana langsung berlari untuk menghampiri mereka. Ia tidak ingin menunggu lagi. Diana hanya perlu bertemu dan memastikan identitasnya. Selepasnya, Ochie yang akan bergerak menyelidiki Zara secara diam-diam.
__ADS_1
"Tunggu!" ucap Diana sambil berlari. Raffa dan Zara menatap Diana dengan heran.
"Apakah kita bisa bicara sebentar?" tanya Diana memelas sambil memegang tangan Zara. Zara memandang Raffa.
"Maaf, tapi kami buru-buru," jawab Raffa sambil menarik tangan Zara. Ochie yang baru saja sampai karena harus membayar tagihan dulu hanya terpaku di samping Diana.
"Maaf, tapi nyonya kami ingin berbicara sebentar dengan nona ini. Tolong berikan kami waktu sebentar saja," ucap Ochie dan menghadang Raffa. Raffa dan Zara berhenti sejenak. Mereka bahkan tidak mengenal dua orang ini. Tetapi dilihat dari penampilannya, sepertinya mereka bukan orang sembarangan.
"Apa kamu bisa menjamin jika dia akan baik-baik saja?" tanya Raffa. Ia tidak ingin mengambil resiko karena menyetujuinya. Keamanan Zara di kampus adalah tanggung jawabnya.
"Saya menjamin hal itu. Lagipula nyonya kami hanya ingin bertemu dengan nona saja," ucap Ochie.
"Raffa, tidak apa-apa. Mungkin ada sesuatu hal yang penting," ucap Zara. Raffa mengangguk. Diana tersenyum senang. Ia langsung membawa Zara ke taman yang sedikit sepi. Sedangkan Raffa dan Ochie memperhatikan mereka tak jauh dari sana.
"Aku bisa merasakan bahwa dia adalah Ziva," batin Diana.
"Tante ini, kenapa aku merasa tidak asing dengannya? Apa sebelumnya aku pernah bertemu dengannya? Tapi kapan?" batin Zara bingung. Rasanya ia sangat dekat dengan wanita paruh baya yang ada di depannya ini.
"Putriku... Mama sangat merindukanmu sayang..." ucap Diana dan langsung memeluk Zara. Ia menumpahkan kesedihannya pada Zara. Zara terdiam membisu.
Raffa ingin menghampiri mereka namun ditahan oleh Ochie. Ochie menyuruh Raffa untuk memberikan mereka waktu sejenak.
"Maaf, tapi saya tidak kenal dengan Anda nyonya," ucap Zara pelan. Zara melepas pelukan mereka. Mungkin wanita yang sedang memeluknya mengalami gangguan jiwa sehingga mengira jika dirinya adalah putrinya, pikir Zara.
"Aku adalah mamamu sayang. Mama datang untuk menjemputmu," ucap Diana dengan sedih. Zara semakin dibuat bingung. Memang ia tidak pernah bertemu dengan orang tuanya sejak kecil, tetapi itu bukan berarti ia harus percaya jika ada yang mengatakan bahwa wanita itu adalah ibunya.
__ADS_1
"Maaf, mungkin Anda salah orang," ucap Zara menolak.
Akhirnya mereka duduk di tempat duduk yang tersedia di sana. Raffa mengikuti mereka dan terus memantaunya. Jika terjadi hal yang tanpa terduga, ia bisa langsung sigap melindungi Zara.
"Kamu lagi hamil?" tanya Diana yang terfokus pada perut Zara. Zara mengangguk pelan.
"Sudah lama menikah? Apa kamu hidup layak beberapa tahun ini?" tanya Diana lagi.
"Iya, saya sangat bahagia dengan kehidupan saya. Nyonya, jika tidak ada hal lain lagi saya pamit untuk pergi. Sebentar lagi saya harus masuk kelas lagi," ujar Zara. Ia ingin terlepas dari kecanggungan ini. Tanpa menunggu jawaban dari Diana, Zara langsung berdiri dan pergi meninggalkan Diana.
"Siapa nama kamu sayang?" tanya Diana. Ia juga tidak bisa menahan Zara lama-lama di sana. Ini adalah pertemuan pertama mereka. Diana ingin meninggalkan kesan baik pada Zara.
Zara terhenti sejenak. Ia berbalik dan menatap Diana. Zara tersenyum manis ke arah Diana.
"Saya Zara," jawab Zara. Ia langsung berlalu meninggalkan Diana. Zara menghampiri Raffa dan mengajaknya untuk kembali ke kelas.
"Apa nyonya tidak apa-apa?" tanya Ochie yang mendekat ke arah Diana. Diana menggeleng pelan. Ia justru tersenyum senang.
"Tidak kusangka, dia ternyata sudah menikah dan sekarang sedang mengandung," batin Diana.
"Ochie, aku serahkan tugas ini padamu dan segera mungkin laporkan hasilnya padaku," ucap Diana sambil memberikan beberapa helai rambut Zara yang dengan sengaja ia ambil. Ochie mengamankan helaian rambut Zara. Lalu mereka pulang ke rumah.
Zara dan Raffa tak jadi makan siang di kedai bakso. Zara sudah tidak bernafsu untuk makan. Meskipun Raffa memintanya untuk makan, namun Zara tetap menolak. Pikirannya terfokus pada Diana. Entah kenapa, rasanya ada kesedihan dalam hatinya yang tak dapat ia jelaskan. Zara menjadi pendiam dan pikirannya terganggu oleh kedatangan wanita itu.
"Kenapa aku selalu merasa dekat dengan ibu tadi? Siapa sebenarnya ibu itu? Kenapa beliau memanggilku dengan sebutan putrinya?" gumam Zara. Ia merasa pusing karena terus kepikiran dengan itu. Bahkan ia hampir jatuh jika Raffa tidak segera memegangnya.
__ADS_1