
Zidan mendekati Zara. Ia duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan Zara.
"Kenapa ceroboh sekali? Bagaimana jika aku tidak tahu tentang ini? Bagaimana nasibmu selanjutnya?" ujar Zidan. Ia membelai pipi Zara dengan lembut.
Saat Zidan ingin beranjak, Zara menahan tangan Zidan. Zara duduk dan langsung memeluk Zidan. Zidan menghela napasnya sejenak.
Tangan Zara mengusap dada Zidan. Membuat Zidan menelan salivanya. Zara juga mencium bibir Zidan dan memainkannya.
"Apa yang dia lakukan?" batin Zidan.
Namun Zidan lambat laun mengikuti permainan Zara. Ia mendorong Zara hingga terjatuh di kasur kemudian Zidan mencium bibir Zara kembali. Zara semakin semangat, ia melancarkan aksinya dengan membuka kancing baju Zidan. Zidan tersadar dan segera duduk kembali. Ia mengusap wajahnya sekilas.
"Apa yang aku lakukan? Saat ini Zara sedang tidak sadar. Aku tidak boleh memanfaatkannya. Oh iya obatnya," gumam Zidan. Ia melepas jasnya dan mengambil obat yang diberikan oleh Jack. Untung saja Zara masih bisa menelan obat tersebut. Zara menjadi tenang dan kini tertidur. Zidan menghela napasnya lega.
Zidan menyelimuti Zara. Ia menunggu Zara sadar dengan duduk di sofa. Zidan bermain dengan ponselnya dengan sesekali melirik ke arah Zara.
Karena bosan, Zidan berdiri dan kini berjalan mondar-mandir di sekitar sofa. Zidan menelepon Fanny untuk menanyakan keadaan kedua pria tadi. Fanny memberikan jawaban sedetail mungkin.
Zara terbangun. Ia tersenyum melihat Zidan yang sedang berdiri membelakanginga. Zara beranjak dari kasurnya dan berlari memeluk Zidan.
"Zara, kamu..." ucap Zidan terhenti.
Zara beralih dan kini berhadapan dengan Zidan. Ia mengalungkan tangannya di leher Zidan. Zidan merangkul pinggang Zara. Ia menatap Zara dengan lekat. Zara tersenyum manis.
"Aku mencintaimu Zidan," ucap Zara.
"Iya aku tahu itu. Sekarang kamu istirahatlah," ucap Zidan. Ia membawa Zara ke kasurnya namun Zara tidak mau.
"Tunggu sebentar. Aku mau peluk kamu sayang," ucap Zara. Zidan menghela napasnya pasrah. Zara semakin mengeratkan pelukannya. Zara menciumi leher Zidan. Ia mengecupnya berulang kali. Zidan berusaha melepas pelukan Zara namun Zara tidak mau melepasnya.
"Jangan bertingkah lagi Zara," gumam Zidan. Ia memejamkan matanya sejenak. Jantungnya sedari tadi berdetak kencang.
Zidan menggendong Zara dan merebahkannya di kasur. Namun Zara menarik Zidan dan mencium bibirnya.
"Apa obatnya tidak bekerja? Kenapa Zara semakin menggila," batin Zidan.
__ADS_1
Zara menggulingkan Zidan dan kini ia menindihnya. Zara mengunci tangan Zidan dan menatap Zidan dengan tatapan menggoda. Zara menarik dasi Zidan dan melepasnya begitu saja.
"Zara, apa yang kamu lakukan? Tolong sadarlah," ucap Zidan. Namun Zara justru tersenyum nakal dan itu membangkitkan gairah Zidan.
Zara membuka kancing baju Zidan. Ia menciumi leher dan beralih ke dada Zidan. Zara meninggalkan beberapa jejak di sana. Zidan hanya memejamkan matanya. Berusaha mengendalikan dirinya sendiri. Tangan Zara mengusap bagian bawah Zidan. Membuat Zidan terkejut dan menahan tangan Zara.
"Zara, jangan lakukan itu. Apa kamu tidak takut aku melakukan sesuatu padamu?" ucap Zidan dengan napas terengah-engah.
"Sayang, aku menginginkannya," ucap Zara dan menatap Zidan dengan manja.
"Jika berlanjut lagi, aku tidak akan bisa menahannya lagi. Jack sialan! Kenapa obatnya tidak bekerja sama sekali? Sekarang apa yang harus aku lakukan. Setiap sentuhannya membuatku menginginkan yang lebih dari itu," gumam Zidan.
"Sayang... Aku.."
"Cukup Zara! Kamu sedang tidak sadar, jangan lakukan hal ini lagi," ucap Zidan. Tatapannya sayu. Ia berusaha mengendalikan dirinya sekuat tenaganya.
"Tidak mau! Aku menginginkanmu hari ini!" ucap Zara tegas. Ia melanjutkan lagi aksinya.
Zidan membalikkan Zara dan kini ia berada di atas tubuh Zara. Napasnya terengah. Bahkan dia juga berkeringat. Ia menatap Zara dengan lekat. Zara tersenyum manis sambil membelai pipi Zidan dengan lembut.
***
Pukul 20.00 Zidan terbangun. Ia tersenyum tipis melihat Zara yang tertidur pulas di sampingnya sambil memeluknya. Zidan membelai pipi Zara dengan lembut. Ia mengecup kening Zara sekilas.
"Sayang, nanti ketika kamu bangun jangan marah ya," ucap Zidan. Ia tersenyum dan mengecup bibir Zara.
Zidan perlahan beralih duduk. mengusap puncak kepala Zara sekilas lalu melangkah menuju kamar mandi. Zidan membersihkan dirinya.
Setelah mandi, Zidan menghubungi Fanny untuk membawakan baju ganti untuknya dan juga Zara. Tak perlu ditanya lagi, Fanny sudah mengerti situasi yang Zidan alami saat ini.
Sambil menunggu Fanny datang, Zidan yang masih memakai handuk bersandar di sofa. Ia memandangi Zara yang masih terlelap.
"Haiizz.. Pada akhirnya aku melakukannya juga. Bukannya menjaganya tetapi justru merusaknya. Aku menolongnya dan sekarang dia menjadi mangsaku sendiri," gumam Zidan. Ia tersenyum saat mengingat kejadian tadi sore.
Fanny mengetuk pintu kamar Zidan. Kemudian Zidan menuju pintu untuk membukanya. Bahkan Zidan tidak mengizinkan Fanny masuk ke dalam. Zidan mengambil baju ganti yang telah dibawakan oleh Fanny.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan nona Zara tuan muda?" tanya Fanny. Zidan memalingkan wajahnya dan tanpa ia sadari pipinya merona.
"Dia baik-baik saja. Fan, kamu jangan lupa urus Karina. Jangan biarkan dia bebas sebelum menerima balasannya," ucap Zidan.
"Saya mengerti tuan muda. Apakah Anda lapar?" ucap Fanny.
"Ti-tidak! Kamu pergilah sekarang," jawab Zidan. Fanny mengangguk dan tersenyum tipis. Zidan menutup kembali pintu kamarnya dan tak lupa menguncinya.
"Sepertinya telah terjadi sesuatu di antara mereka," gumam Fanny sebelum meninggalkan tempat.
Di kamar lain, Karina selesai mandi. Ia duduk di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia sudah tidak sabar untuk melihat kehancuran Zara.
"Aku akan melihatnya malam ini. Melihat kehancuran Zara," gumam Karina dan ia tersenyum tipis.
Karina menatap ponselnya. Ia terdiam sejenak.
"Kenapa mereka tidak menghubungiku? Apa mereka belum selesai melakukannya?" gumam Karina.
"Hehe, semakin lama bukankah semakin baik," ucap Karina.
Selesai merapikan rambutnya, Karina bergegas ke kamar nomor 112 tempat Zara dan dua pria tadi berada. Namun saat Karina membuka pintunya, ia sama sekali tidak melihat mereka. Bahkan pintunya juga tidak terkunci. Karina mencari hingga sampai ke kamar mandi namun tak menemukan satupun di antara mereka.
"Ke mana mereka?" tanya Karina dalam hati.
Karina masih berdiri menatap ranjang yang masih bersih dan rapi. Ia mengernyitkan dahinya.
"Apakah mereka membawa kabur Zara? Beraninya mereka!" gumam Karina. Ia mengepalkan tangannya.
"Apa nona mencari dua pria yang berada di kamar ini?" tanya Fanny yang sudah berdiri diambang pintu. Karina terdiam kaku. Ia tidak berani untuk menoleh melihat Fanny.
***
Mikirnya dari semalam, bisa up nya sekarang😂
Susah banget diungkapkan dengan kata-kata. Maaf guys kalau kurang greget, wkwk😆
__ADS_1