Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 12 (season 2)


__ADS_3

"Maaf, tapi saya benar-benar tidak bisa," ucap Zara. Ia berdiri dan berjalan meninggalkan Fanny begitu saja. Naif jika Zara tidak tergiur dengan gajinya. Ini masalah kepercayaan. Dan ia sudah dipercaya menjadi barista di salah satu kedai kopi tersebut. Jika ia mengundurkan diri begitu saja, itu akan mengecewakan atasannya dan teman kerjanya.


Setelah membayar tagihan di kafe itu, Fanny berniat mengejar Zara. Ia harus bisa membuat Zara menyetujui penawaran tersebut. Namun belum sampai ia berhasil mengejar Zara, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Fanny mau tidak mau harus mengurungkan niatnya mengejar Zara.


"Iya tuan muda?" tanya Fanny saat mengangkat telepon tersebut.


"Bagaimana Fan? Apa Zara sudah menyetujuinya?" tanya Zidan.


"Belum, tetapi tuan muda tidak perlu khawatir, saya pasti bisa membawa nona Zara ke perusahaan kita," ucap Fanny yakin.


"Baiklah, aku menunggu kabar baiknya," balas Zidan. Ia menutup teleponnya.


Fanny menghela napasnya lega.Tetapi satu masalah lagi untuknya. Ia kehilangan jejak Zara. Fanny tidak tahu lagi harus mencari Zara ke mana.


"Sial, ke mana aku harus mencari nona Zara," gumam Fanny sambil melangkah menyusuri taman kampus.


Zara sudah sampai di kostnya. Ia segera menuju kamarnya dan berbaring di kasurnya. Ia memikirkan cara agar orang tadi tidak lagi memaksanya untuk pindah kerja. Namun alasan apapun yang akan ia katakan sepertinya akan sia-sia. Dilihat dari segi manapun juga orang tadi bukan orang biasa.


"Apa aku izin saja hari ini ya? Tapi, pasti orang tadi bakal mencariku lagi," ucap Zara. Ia membolak-balikkan tubuhnya sambil memeluk bantalnya.


Zara duduk kembali. Ia menopang dagunya dengan bantal yang ada dipelukannya.


"Apasih tujuan mereka sebenarnya?" tanya Zara pada dirinya sendiri. Semakin berpikir Zara semakin dibuat pusing.


Zara memutuskan untuk izin kerja hari ini. Ia hanya takut jika orang tadi mendatanginya di tempat kerja. Walaupun sempat kena marah oleh pak Ramdhani, tetapi akhirnya dia mengizinkan Zara juga. Zara bisa fokus untuk mengerjakan tugasnya di kamar. Biarpun hanya sehari, tetapi setidaknya ia bisa terhindar dari orang aneh tadi.


Baru saja ia membuka laptopnya, ponsel Zara berdering. Namun Zara memilih tak menghiraukannya. Ia tetap mengerjakan tugas kuliahnya. Namun ponselnya terus saja berbunyi. Ia jengah dan meraih ponselnya yang ada di atas kasurnya. Tertera nama Fitri di layar ponselnya.


"Halo mbak, ada apa?" jawab Zara santai. Ia duduk di tepi ranjang.


"Gawat Ra, kamu buruan ke sini deh. Ada hal penting yang mau disampaikan oleh pak Ramdhani," ujar Fitri panik. Zara mengernyitkan dahinya.


"Kenapa mbak?" tanya Zara bingung.

__ADS_1


"Nggak ada waktu untuk menjelaskannya sekarang. Buruan ke kedai, mbak tunggu, oke?" ucap Fitri dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


Dengan terpaksa Zara menuju kedai kopi tersebut. Ia tidak tahu hal penting apa yang akan disampaikan oleh pak Ramdhani. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada ia harus segera sampai di sana.


Beberapa menit kemudian, Zara sampai di kedai kopi itu. Zara langsung menghampiri Fitri yang tengah membuat kopi untuk pelanggan.


"Ada apa mbak?" tanya Zara bingung.


"Nggak tahu, tadi pak Ramdhani bilang ingin menemuimu. Pak Ramdhani sudah menunggumu di ruangannya," ucap Fitri. Zara menuju ke ruangan pak Ramdhani.


"Maaf, apa bapak mencari saya?" tanya Zara yang baru saja membuka pintu ruangan tersebut.


"Kemarilah Zara," ucap pak Ramdhani.


Zara mengangguk. Ia perlahan menuju tempat di mana pak Ramdhani duduk. Matanya membulat sempurna kala melihat Zidan dan asistennya berada di dalam ruangan itu.


Beberapa jam yang lalu...


"Maaf tuan muda, saya kehilangan jejak nona Zara," ucap Fanny yang sedang menelepon Zidan.


"Sekarang kamu di mana?" tanya Zidan.


"Saya saat ini berada di kedai tempat nona Zara bekerja tuan," jawab Fanny.


Tanpa menjawab lagi, Zidan langsung mematikan ponselnya. Ia bergegas menuju kedai kopi itu. Zidan tak ingin kehilangan kesempatan. Hari ini juga ia harus bisa membuat Zara keluar dari pekerjaannya.


Tak lama ia sudah sampai di kedai itu. Ia segera menemui Fanny. Zidan langsung bertanya kepada salah satu barista untuk menemui atasan mereka.


"Ada hal apa yang membuat tuan datang menemui saya?" ucap Ramdhani terkejut saat Zidan memasuki ruangannya.


"Santai pak. Saya ke sini ingin meminta bantuan Anda," jawab Zidan santai.


"Maksudnya? Apa yang bisa saya bantu tuan?" ujar Ramdhani senang. Ia sangat mengenal sosok Zidan meskipun belum pernah menemuinya. Ia hanya tahu dari sosial media dan televisi yang memberitakan tentang Zidan, direktur muda yang sukses dalam kurun waktu dua tahun.

__ADS_1


Zidan duduk sedangkan Fanny hanya berdiri di samping Zidan. Zidan memberikan sebuah dokumen kepada Ramdhani.


"Bacalah," ucap Zidan. Pak Ramdhani mengambil dokumen tersebut dan mulai membacanya. Setelah itu matanya langsung tertuju pada Zidan.


"Apa maksud Anda?" tanya Ramdhani tak percaya. Zidan menyeringai. Ia tersenyum sinis.


"Di situ sudah tertulis dengan jelas, bahwa saya akan mengambil alih kedai ini," ucap Zidan santai.


"Tidak bisa! Kedai kami tidak pernah menyinggung Anda tuan," ujar Ramdhani.


"Saya tidak akan mengakuisisi kedai ini asal Anda membantu saya," ucap Zidan kembali.


"Apa mau Anda?" tanya Ramdhani sedikit emosi. Zidan membisikkan sesuatu pada Ramdhani. Setelah itu ia tersenyum tipis.


"Bagaimana pak?" tanya Zidan memastikan kembali.


"Zara adalah karyawan yang rajin. Dia bahkan sangat membantu sekali dalam penjualan kopi ini karena rasa kopi buatannya yang enak. Tetapi jika aku tidak menyetujuinya, maka aku yang akan rugi besar," batin Ramdhani bingung.


"Baiklah, saya akan memecat Zara jika Anda menginginkannya," ucap Ramdhani dengan berat hati. Ia juga tidak bisa mempertahankan Zara lalu kehilangan kedainya.


Flashback off...


Pak Ramdhani berdiri. Ia menghampiri Zara yang masih berdiri tak jauh dari mereka.


"Kamu adalah karyawan saya yang paling kompeten Zara. Tapi maaf, karena suatu hal saya harus memecat kamu. Tapi kamu tenang saja, saya akan membayar gaji kamu bulan ini full," ucap Ramdhani dan menepuk bahu Zara pelan.


"Tapi kenapa pak? Apakah orang ini yang menyuruh bapak untuk pecat saya?" tanya Zara tak percaya bahwa dengan cara seperti ini ia kehilangan pekerjaannya.


"Bukan, tapi aku punya alasan lain dan itu kamu tidak perlu tahu," ucap Ramdhani ketus.


Ramdhani menuju meja kerjanya. Ia mengambil sejumlah uang untuk Zara. Lalu ia memberikannya pada Zara.


"Ini, terimalah," ucap Ramdhani sambil memberikan uang tersebut. Zara menatap tak percaya.

__ADS_1


"Setelah ini jangan kembali lagi ke sini," ucap Ramdhani dengan datar. Ia sama sekali tak menatap Zara. Zidan yang menyaksikan kejadian itu hanya tersenyum puas.


__ADS_2