Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 18 (season 2)


__ADS_3

Hingga sampailah mereka di kafe dekat kampus. Arka tetap menggenggam tangan Zara. Ia hanya punya satu kesempatan ini. Jika dirinya tidak menggunakannya dengan baik-baik, maka kedepannya akan sangat sulit menemui Zara. Karena Arka tahu betul bagaimana sifat Zara.


Arka memesan minuman untuknya dan Zara. Setelah beberapa saat, minuman itu sudah berada di atas meja mereka.


"Arka, tolong lepasin tanganmu. Aku tidak mau ada yang salah paham nantinya," ucap Zara sambil berusaha melepas genggaman itu.


"Berjanjilah padaku dulu, baru aku lepaskan," ucap Arka. Zara menghela napasnya sejenak.


"Baiklah, apa yang kamu inginkan?" tanya Zara pasrah.


"Kita bicara baik-baik, oke?" pinta Arka. Zara mengangguk pelan. Setelah itu Arka melepaskan genggaman tangannya. Ia menatap Zara dengan lekat. Suasana cukup hening. Mereka sama-sama diam.


"Apa kamu tidak ingin kembali bekerja di kedai kopi lagi?" tanya Arka dengan serius.


Zara menatap Arka sekilas. Bahkan jika disuruh memilih, ia pasti ingin kembali bekerja di kedai itu. Namun sekarang ia sudah terikat oleh kontrak. Juga, pak Ramdhani sudah memecat dan mengusirnya. Itu akan sulit baginya untuk bekerja di kedai kopi lagi.


"Zara?" panggil Arka. Karena Zara hanya melamun saja.


"Aku sudah ada pekerjaan baru Ka. Jadi tolong hargai keputusan aku," ucap Zara.


"Kenapa Ra? Jika papaku memecatmu, aku juga bisa membawamu kembali ke sana lagi," ucap Arka yakin.


"Bukan itu masalahnya. Aku sudah dapat pekerjaan baru yang lebih baik. Tolong jangan paksa aku Ka," ucap Zara.


Terlihat jika Arka sangat marah dengan hal itu. Ia mengepalkan tangannya. Zara hanya tersenyum tipis.


"Ra, aku kangen sama kamu. Beberapa hari tidak ada kamu di kedai, aku merasa ada sesuatu yang hilang," ucap Arka lirih. Ia menundukkan kepalanya. Zara sedikit terkejut dan langsung menatap Arka. Zara tahu ke mana arah pembicaraan Arka.


Tring..


'Nona di mana? Apakah belum selesai?' Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Zara mengeluarkan ponselnya dan membaca isi pesan tersebut.

__ADS_1


"Siapa Ra?" tanya Arka.


"Aku harus pergi sekarang Ka. Maaf..." ucap Zara. Ia berdiri dan melangkah meninggalkan Arka. Namun Arka menarik Zara dan langsung memeluk Zara dari belakang. Ia bahkan tidak peduli dengan pengunjung lainnya.


"Arka, apa yang kamu lakukan?" Zara sangat terkejut. Ini tempat umum dan Arka berani memeluknya seperti ini.


"Berjanjilah kalau kita akan bertemu lagi nanti," ucap Arka berbisik di dekat telinga Zara.


"Iya aku janji. Tapi tolong jangan seperti ini," ucap Zara. Arka tersenyum tipis dan melepaskan pelukannya. Zara buru-buru keluar dari kafe tersebut. Namun tak terduga jika Fanny sudah berada di parkiran depan kafe itu.


Fanny langsung mempersilaka Zara masuk ke dalam mobil. Awalnya Zara menolak, karena merasa tidak pantas diperlakukan seperti ini. Apalagi ia hanyalah karyawan biasa. Tetapi karena Fanny tetap kekeh, mau tidak mau Zara ikut satu mobil dengannya.


Zara duduk di belakang. Di dalam mobil hanya ada mereka berdua. Zara dan Fanny sama-sama bungkam. Zara memilih menatap jalanan dari baik jendela mobil.


"Apa hubungan nona dengan pria tadi? Apakah dia pacar baru nona?" batin Fanny bingung. Ia memerhatikan Zara dari balik kaca.


"Eh, ini bukan arah ke kantor kan?" tanya Zara saat menyadari jika mobilnya tak mengarah ke kantor. Zara terlihat sedikit panik.


Tak lama, mereka sampai di parkiran apartemen. Fanny membantu membukakan pintu mobil untuk Zara. Meski tidak suka dengan perlakuan Fanny yang berlebihan, ia tidak bisa menolaknya juga.


"Ini di mana?" tanya Zara bingung.


Fanny mempersilakan Zara untuk jalan. Mereka jalan beriringan menuju lift.


"Maaf jika saya tidak memberitahukan ini sebelumnya. Tuan muda sakit, jadi saya minta tolong Anda untuk merawatnya," ucap Fanny santai.


"Hah?" Zara merasa tak percaya.


"Kenapa harus saya? Di mana keluarganya?" tanya Zara.


"Tuan muda hanya tinggal sendirian. Tolong nona, untuk kali ini saja. Saya juga tidak bisa merawat tuan muda," jawab Fanny. Ia terlihat seperti memohon kepada Zara. Zara menghentikan langkahnya. Seketika Fanny juga ikut berhenti.

__ADS_1


"Maaf, tapi saya rasa saya bukan orang yang tepat. Jika tuan sakit, sebaiknya di bawa ke rumah sakit saja," ucap Zara. Ia berbalik dan melangkah menjauh.


"Tunggu nona. Apakah Anda tidak ingin merawat tuan muda?" tanya Fanny.


"Mau sakit atau enggak itu bukan urusanku. Lagipula kenapa bukan keluarganya saja yang merawatnya?" batin Zara kesal.


"Percaya atau tidak, saya bisa mempersulit kuliah Anda nona. Jadi tolong bekerjasamalah kali ini," ucap Fanny dingin. Zara mematung di tempatnya. Ia terlihat bingung.


"Baiklah, orang kaya memang bisa melakukan apa saja," batin Zara pasrah. Ia kembali berjalan ke arah Fanny.


"Baiklah, saya akan ikut Anda tuan," ucap Zara pasrah. Fanny tersenyum dan mereka langsung menuju apartemen Zidan.


Terlihat jika Zara merasa kagum dengan lingkungan apartemen tersebut. Tempatnya begitu mewah. Baru kali ini ia menapakkan kakinya di sini. Zara mengikuti langkah Fanny dari belakang. Mereka terus berjalan hingga sampailah di depan apartemen Zidan.


"Silakan masuk nona," ucap Fanny sopan. Zara ragu-ragu masuk ke dalam. Ia merasa takjub dengan apartemen tersebut. Zara mengikuti langkah Fanny hingga sampai di depan pintu kamar Zidan. Fanny membuka pintunya dan masuk ke dalam.


"Fan, kamu dari mana saja? Aku..." ucapan Zidan terhenti saat melihat Zara masuk ke dalam dengan sedikit ketakutan. Zidan memalingkan wajahnya. Ia sungguh terkejut dengan kedatangan Zara. Tanpa sepengetahuan Zidan, Fanny membawa Zara ke apartemennya.


"Maaf tuan muda, saya tadi keluar untuk menjemput nona Zara," jawab Fanny sopan.


"Nona, silakan lakukan tugas Anda. Jangan kecewakan saya," bisik Fanny. Zara mengangguk pelan. Jika ia tidak menurut mungkin akan ada masalah dengan perkuliahannya nanti. Zara tidak ingin itu terjadi.


Fanny pamit untuk keluar kamar. Zara masih berdiri di tempatnya. Ia bingung harus berbuat apa. Ini sangat canggung untuk mereka berdua. Karena sebelumnya juga belum sedekat itu sampai menyuruh Zara untuk merawatnya.


"Sialan kau Fan! Beraninya membuat keputusan tanpa memberitahuku dulu. Aku jadi malu sendirikan," batin Zidan.


Zara perlahan mendekati ranjang. Ia duduk di tepi ranjang dan mengambil mangkok yang berisi bubur. Ia yakin jika Zidan belum makan dari tadi.


"Anda pasti belum makan kan tuan? Ini, silakan dimakan biar cepat sembuh," ucap Zara dan menyodorkan makanan itu pada Zidan. Zidan hanya menatap bubur tersebut tanpa menyentuhnya.


"Baiklah, izinkan saya untuk menyuapi Anda tuan," ucap Zara. Zidan tersenyum dan langsung menyandarkan dirinya. Zara mulai menyuapi Zidan namun masih terlihat kaku. Itu membuat Zidan ingin tertawa sekerasnya.

__ADS_1


__ADS_2