
Setelah kepergian ibunya, Kayla melanjutkan tidurnya. Kepalanya semakin pening jika terus-terusan terjaga. Ia menarik selimutnya dan mencoba memejamkan matanya.
Sedangkan di tempat lain, Risti kebingungan untuk mencarikan buah yang diinginkan putrinya. Kayla memang terkadang suka minta yang aneh-aneh saat sakit. Karena merasa kasihan, Risti mencoba mencarikan buah yang diinginkan putrinya tersebut.
"Kay ada-ada saja, mana ada durian di musim seperti ini? Ke mana lagi aku harus mencarinya. Aku bahkan hampir menjelajahi semua toko buah yang ada di sini," batin Risti. Namun ia juga tidak ingin menyerah. Keinginan putrinya adalah hal yang harus ia wujudkan, apalagi disaat Kayla sakit seperti ini.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Satu panggilan dari Barra. Risti menatap bingung layar ponselnya dan menerka apa yang membuat Barra sampai menghubunginya.
"Halo?" ucap Risti.
"Ma, bagaimana keadaan Kayla? Barra hubungi di nomornya tapi tidak diangkat," ucap Barra. Kebetulan sekali Barra meneleponnya saat ini.
"Kayla baik-baik saja. Mama lagi ada di luar rumah sayang. Kayla minta mama untuk membelikan buah durian, namun mama bingung mau cari ke mana lagi," eluh Risti.
"Durian?" tanya Barra memastikan lagi. Ia terkejut saat Kayla meminta buah itu. Buah yang sampai saat ini Kayla hindari.
"Ma, biar Barra saja yang mencarinya. Kebetulan hari ini jadwal sidangnya tidak terlalu padat. Barra bisa langsung pulang nanti," ucap Barra. Ia tidak ingin merepotkan ibu mertuanya.
"Baiklah, terima kasih sayang," ucap Risti. Lalu mereka mematikan sambungan teleponnya.
Akhirnya Risti memilih untuk kembali pulang dan menemani Kayla di rumah. Ia juga tidak tega harus meninggalkan Kayla seorang diri tadi. Untungnya Barra menelepon, dan akhirnya Risti meminta Barra untuk mencarikan buah yang diminta istrinya.
Risti membuka pintu kamar Kayla dengan pelan. Ia melihat Kayla yang sedang terlelap. Risti mendekati ranjang Kayla dan duduk di tepinya. Ia memeriksa suhu tubuh Kayla. Namun demamnya tak kunjung mereda.
"Apa sebaiknya aku menghubungi dokter Ratna saja untuk memeriksa kondisi Kayla? Takutnya akan lebih parah nanti," batin Risti. Ia langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi dokter Ratna, dokter pribadi keluarga mereka.
Kayla mengerjap untuk membuka matanya dan menatap Risti. Ia semakin lemah dan tak punya tenaga.
"Ma, durian yang aku minta tadi mana?" tanya Kayla dan menatap Risti dengan sendu.
__ADS_1
"Suamimu sedang mencarinya. Mungkin sebentar lagi pulang," jawab Risti. Tiba-tiba saja Kayla meneteskan air matanya.
"Loh, kenapa menangis?" tanya Risti yang semakin bingung dengan sikap Kayla.
"Mau durian Ma... Suruh Barra cepat ke rumah," ucap Kayla. Ia langsung memalingkan tubuhnya. Tak lama setelah itu, dokter Ratna datang untuk memeriksa kondisi Kayla.
"Selamat siang bu," ucap dokter Ratna dengan ramah.
"Siang dokter. Tolong periksa Kayla. Sudah tiga hari ini demamnya tak kunjung turun dok," ucap Risti khawatir. Dokter Ratna hanya tersenyum sembari mengeluarkan alatnya untuk memeriksa Kayla.
Kayla membalikkan tubuhnya dan siap untuk diperiksa. Dokter Ratna mulai memeriksa Kayla dengan teliti. Setelah itu ia justru tersenyum lebar. Risti dan Kayla menatap dokter Ratna dengan bingung.
"Jika dilihat dari tanda-tandanya, kemungkinan besar nona Kayla sedang hamil. Tetapi agar lebih jelasnya lagi, nanti bisa datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih detail," tutur dokter Ratna. Kayla masih bengong dan mencoba mencerna kata-kata dokter itu.
"Dokter serius? Anak saya hamil?" tanya Risti tak percaya. Dokter Ratna tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. Risti sangat bahagia, akhirnya ia akan segera memiliki cucu.
Dokter Ratna pamit setelah memberikan beberapa resep obat untuk Kayla. Agar tubuhnya tidak terlalu lemas dan demamnya cepat turun. Kayla masih tak percaya jika dirinya saat ini benar-benar mengandung. Kayla memandangi perutnya dan mengusapnya dengan pelan.
Tak lama kemudian, Barra sampai di rumah dengan membawa beberapa buah durian yang diminta istrinya. Ia membawanya masuk ke dapur lalu beranjak menuju kamar Kayla.
"Sayang, bagaimana keadaan kamu?" tanya Barra saat baru masuk kamarnya. Ia melepas jasnya dan duduk di samping Kayla.
"Mama tinggal ke dapur dulu ya," ucap Risti. Mereka berdua mengangguk.
Kayla menatap Barra dengan senang. Ia langsung memeluk Barra dengan erat. Rasa pusingnya tiba-tiba menghilang setelah mendapat kabar yang membahagiakan itu. Kini, rasanya tubuhnya sudah kembali bugar.
"Ada apa? Kenapa senang sekali?" tanya Barra bingung.
"Dengar ini baik-baik. Aku hanya akan mengatakannya sekali saja," ucap Kayla sambil menatap Barra.
__ADS_1
"Apa sih?" tanya Barra semakin bingung.
"Kamu... Sebentar lagi.... Akan jadi ayah," ucap Kayla.
"Terus?" ucap Barra bingung.
"Eh, apa tadi kamu bilang?" tanya Barra mengulangi pertanyaannya. Kayla hanya tersenyum sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Ulangi lagi sayang," ucap Barra. Kayla menggeleng dengan cepat. Ia terus tertawa. Barra menangkup wajah Kayla dan menatapnya dengan lembut.
"Aku tidak salah dengar kan? Aku akan jadi ayah? Jadi, saat ini kamu hamil?" ucap Barra memastikan lagi. Kayla mengangguk senang. Barra langsung mengecup kening Kayla dan memeluknya. Barra terharu hingga meneteskan air matanya. Lalu ia menempelkan dahinya pada dahi Kayla.
"Kenapa menangis?" tanya Kayla. Barra tersenyum dan mengecup tangan Kayla dengan lembut.
"Terima kasih, aku bahagia dengan kabar baik ini. Sangat, sangat bahagia," ucap Barra. Ia kembali mengecup kening Kayla dengan lembut.
"Kata dokter Ratna harus cek lagi ke rumah sakit untuk memastikannya," ucap Kayla.
"Jadi ini belum pasti?" tanya Barra sedikit kecewa.
"Siapa bilang? Dokter Ratna sendiri yang mengatakan kalau aku sedang hamil. Tapi untuk lebih pastinya lagi harus diperiksa di rumah sakit," ungkap Kayla.
Barra langsung bersiap untuk membawa Kayla ke rumah sakit. Kebahagiaan ini hadir di tengah kesedihan keluarganya. Setelah bersiap, mereka langsung menuju ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Kayla.
"Bagaimana dok? Istri saya benar hamil?" tanya Barra yang tidak sabar untuk mengetahui hasilnya. Dokter tersebut tersenyum tipis.
"Dari pemeriksaan tadi, istri Anda memang sedang hamil pak. Berhubung usia kandungannya baru satu bulan, jadi harus banyak-banyak istirahat. Kalau bisa jangan melakukan pekerjaan dulu," ujar dokter itu. Kayla dan Barra saling memandang. Mereka tersenyum bahagia. Barra menggenggam tangan Kayla dan mengecupnya sekilas.
"Terima kasih dok, kalau begitu kami pamit dulu," ucap Barra. Lalu mereka pamit dan segera mengabarkan kabar baik ini pada keluarganya.
__ADS_1
Barra membawa Kayla pulang kembali. Ia juga meminta Kayla untuk cuti bekerja atau berhenti saja. Demi kebaikannya dan buah hatinya, tentu saja Kayla menuruti apa yang dikatakan suaminya. Ia akan menjaga baik-baik buah hatinya hingga lahiran nanti.