Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 62 (season 2)


__ADS_3

Hari berganti hari, kini sudah tiba waktunya bagi Zidan dan Zara melangsungkan pernikahan. Pernikahan yang digelar secara sederhana di gereja setempat. Hanya dihadiri orang-orang terdekat saja.


Akhirnya, hari yang mereka nantikan telah tiba. Zidan dan Zara sudah siap untuk melangsungkan prosesi pernikahan. Orang-orang yang hadir dalam acara pernikahan mereka turut bahagia. Mereka saling mendoakan agar kelak menjadi keluarga yang bahagia hingga ajal menjemput mereka.


Pagi hari, Zidan dan seluruh keluarga berangkat ke gereja. Zidan dan Zara duduk bersanding di depan mimbar. Sementara keluarga dan orang yang hadir menyaksikan duduk di barisan yang telah disiapkan.


Setelah beberapa rangkaian acara dilakukan, kini Zidan dan Zara melakukan upacara peneguhan nikah yang dipimpin oleh pendeta. Dalam upacara ini, pendeta mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Zidan dan Zara. Pertanyaan ini bertujuan agar kedua mempelai benar-benar siap mengarungi bahtera rumah tangga.


Dilanjut dengan pengucapan janji pernikahan. Ini adalah momen yang sangat menegangkan bagi Zidan dan Zara. Karena ini pertama kalinya bagi mereka. Mereka dengan lantang mengucap janji setia sebagai pasangan suami istri. Setelah itu, mereka saling menyematkan cincin pernikahan di jari manis masing-masing.


Kini, Zidan dan Zara telah sah menjadi sepasang pengantin baru. Keluarga dan orang-orang yang hadir menyaksikan saling memberikan ucapan selamat kepada Zidan dan Zara secara bergantian.


"Aku merasa pusing sekali, tapi ini adalah hari bahagiaku dengan Zidan," gumam Zara.


"Selamat sayang, kamu sudah resmi menjadi bagian dari keluarga kami," ucap Alina. Ia memeluk Zara dengan erat.


"Terima kasih tante," jawab Zara. Ia berusaha tersenyum.


"Eh, kok tante. Sekarang panggilnya mommy dong," Ralat Alina. Zara tersenyum malu-malu.


Secara bergantian mereka mengucapkan salam kepada Zara dan Zidan.


Selesai dengan acaranya, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Zidan dan Zara satu mobil dengan disopiri oleh Fanny. Yang lainnya naik mobil sendiri-sendiri.


"Kenapa tegang sekali?" ucap Zidan yang melihat Zara masih tegang. Dan wajahnya terlihat pucat.


"Aku hanya sedikit gugup," jawab Zara. Ia tidak ingin Zidan khawatir padanya. Terlebih lagi ini adalah hari bahagia mereka.


Zidan merangkul Zara dengan tujuan agar Zara lebih tenang. Ia mencium pipi Zara sekilas dan mereka saling tersenyum. Zidan menggenggam tangan Zara dengan erat. Zara menyandarkan kepalanya di bahu Zidan.


"Tidak, tidak, jangan muntah di sini, pliss..." gumam Zara saat merasa mual. Ia memejamkan matanya dan mengeratkan genggaman tangannya.


"Ada apa sayang?" tanya Zidan. Ia melirik ke arah Zara.


"Aku merasa tidak enak badan. Rasanya mual," ucap Zara pelan. Zidan mengubah posisinya dan kini merengkuh Zara ke dalam pelukannya. Ia mengusap punggung Zara dengan lembut.

__ADS_1


"Fan, percepat mobilnya. Dan jangan lupa panggil Jack untuk ke rumah sekarang juga," ucap Zidan. Fanny mengangguk paham dan mempercepat laju mobilnya.


Zara memejamkan matanya. Ia terlihat pucat dan lemas. Membuat Zidan khawatir dengan kondisi Zara saat ini.


"Apa beberapa hari ini kamu tidak istirahat dengan benar sayang?" tanya Zidan.


"Aku istirahat kok. Justru akhir-akhir ini aku sering merasa lelah," jawab Zara pelan.


Kini, mobil mereka sudah sampai di halaman rumah orang tua Zidan. Zidan menawari untuk menggendong Zara hingga sampai di kamar mereka, namun Zara menolak dan memilih untuk jalan sendiri. Ia malu jika dilihat oleh anggota keluarganya.


Alina, Arvin, Raffa, dan Alisya sampai di rumah beberapa detik kemudian. Disusul lagi di belakang Barra dan Kayla. Mereka mulai memasuki rumah.


Sampai di ruang tengah, Zara merasa badannya lemas dan pusing. Ia tiba-tiba pingsan. Untungnya Zidan dengan sigap menangkap Zara sebelum Zara terjatuh. Ia panik dengan kondisi Zara.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Zidan panik. Ia menepuk pipi Zara namun Zara belum juga sadar. Semua orang panik dan mengerumuni Zara dan Zidan.


"Ada apa? Apa Zara sakit?" tanya Alina panik.


"Zidan tidak tahu Mom," jawab Zidan. Ia segera membawa Zara ke kamarnya. Zidan membaringkan Zara dengan pelan dan berusaha membangunkan Zara.


"Sayang, bangunlah. Jangan membuatku khawatir," ucap Zidan sambil menggosok punggung tangan Zara. Ia duduk di tepi ranjang.


"Kamu tenanglah, segera hubungi dokter untuk memeriksa keadaan Zara," ujar Arvin.


Tak lama setelah itu, Jack datang bersama Fanny. Ia segera memeriksa keadaan Zara. Jack dengan teliti memeriksa kondisi Zara.


"Bagaimana Jack? Zara sakit apa?" tanya Zidan tak sabaran.


Jack melepas stetoskopnya. Ia menatap satu persatu orang yang berada di kamar Zidan. Wajah mereka terlihat tegang termasuk Zidan. Mereka menanti penjelasan dari Jack.


"Tidak perlu khawatir, istrimu baik-baik saja," jawab Jack santai. Zidan mengernyitkan dahinya. Ia tak mengerti maksud Jack.


"Dia tidak sakit, kalau aku tidak salah, istrimu sekarang sedang mengandung," ucap Jack.


Hening.

__ADS_1


Tak ada suara apapun. Semuanya saling pandang satu sama lain. Jantung Zidan berdetak begitu cepat.


"Apa kamu bilang?" tanya Zidan tak percaya.


"Iya, dia sedang mengandung. Sebaiknya kamu bawa ke rumah sakit untuk cek lebih lanjut. Agar lebih yakinnya," ujar Jack. Lalu ia mengemas barangnya ke dalam tasnya.


Zidan menatap Alina dengan senang. Begitu juga Alina. Semua yang mendengar berita itu merasa bahagia.


"Mom, apa mommy dengar? Zara sedang hamil anak Zidan," ucap Zidan masih tak percaya. Alina tersenyum dan memeluk Zidan.


"Selamat sayang, kamu jaga istri kamu baik-baik mulai sekarang," ujar Alina.


"Pasti," jawab Zidan yakin.


"Bang, selamat ya. Sebentar lagi bakal jadi daddy, hehe," ucap Barra. Ia merangkul Zidan sekilas. Semuanya mengucapkan selamat untuk Zidan.


"Ehem, kalau begitu saya pamit dulu. Zidan, jangan lupa setelah Zara sadar segera bawa ke rumah sakit untuk memastikannya," ucap Jack sebelum pergi. Zidan mengangguk paham.


Alina dan Arvin keluar kamar Zidan. Begitu juga dengan Barra dan Kayla. Mereka menunggu Zara sadarkan diri di ruang tengah. Sedangkan Alisya dan Raffa masih berada di dalam kamar sejenak. Kemudian mereka keluar bersama. Fanny juga ikut menunggu di luar kamar.


Zidan memandangi wajah Zara. Ia tersenyum tipis dan mengecup sekilas kening Zara. Zidan menggenggam tangan Zara dan juga mengusap perut Zara yang masih rata.


"Benarkah anak kita tumbuh di dalam sini sekarang?" gumam Zidan. Ia beralih memandangi Zara.


"Cepat sekali, padahal baru sekali melakukannya," ucap Zidan pelan. Ia terkekeh saat teringat apa yang ia lakukan waktu itu.


Perlahan Zara membuka matanya. Ia mengerjap untuk mendapatkan kesadarannya kembali.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja? Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Zidan lembut.


"Aku kenapa Zidan?" tanya Zara lirih. Ia berusaha untuk duduk dan bersandar di ranjang. Zidan membantu Zara.


"Kamu tadi pingsan. Tapi kata Jack kamu tidak apa-apa. Apa kamu tahu, apa yang terjadi padamu sebenarnya?" ucap Zidan sambil menatap Zara dengan lekat. Zara menelan salivanya dengan kasar. Ia takut jika ia di diagnosa mempunyai penyakit parah.


"Kata Jack, kemungkinan kamu hamil sayang," ucap Zidan. Zara seketika terkejut dan menatap Zidan lamat-lamat.

__ADS_1


"Apa kamu bilang? Aku hamil?" ucap Zara tak percaya. Ia menutup mulutnya sendiri dan memandangi perutnya. Tanpa terasa ia meluruhkan air matanya. Ia tak percaya, dalam rahimnya kini tumbuh buah hatinya dengan Zidan.


"Terima kasih sayang, telah memberikan hadiah pernikahan ini," bisik Zidan sambil menempelkan dahinya dan Zara. Ia tersenyum tipis.


__ADS_2