Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 82 (season 2)


__ADS_3

Keesokan paginya...


"Pagi sayang," ucap Barra sambil memeluk istrinya dari belakang yang sedang menyiapkan sarapan mereka. Kayla tersenyum dan langsung membalikkan badannya menghadap suaminya. Kayla mengecup pipi Barra sekilas dan mendorongnya agar menunggu di kursi ruang makan. Kayla kembali lagi ke dapur untuk menyiapkan menu kesukaan suaminya. Barra terus memperhatikan Kayla.


"Pulang kerja kita ke rumah mommy ya," ajak Barra. Kayla menatap Barra.


"Boleh," jawab Kayla. Ia melanjutkan pekerjaannya.


Setengah jam kemudian, Kayla selesai memasak makanannya. Ia segera menghidangkan untuk suaminya. Orang tuanya juga sudah bergabung di meja makan. Mereka sarapan bersama-sama pagi ini.


Selesai makan, Barra dan Kayla bersiap untuk bekerja. Memang Barra tidak melarang Kayla untuk terus bekerja. Karena ini adalah mimpi mereka berdua. Bekerja dalam satu instansi dan berprofesi sama di luar sana. Barra dan Kayla memang tidak banyak meminta bantuan kepada orang tua mereka. Mereka ingin merintis semua dari bawah. Barra dan Kayla ingin mandiri dan mengurus semua kebutuhan mereka tanpa bantuan finansial dari orang tuanya. Meskipun orang tua Kayla sudah menghadiahkan mereka rumah saat pernikahan, Kayla dan Barra tak langsung menempatinya. Mereka ingin bekerja keras terlebih dahulu dengan keringatnya sendiri.


Mereka berangkat bekerja. Setiap hari mereka berangkat bersama, jika Barra atau Kayla tidak sedang ada tugas dadakan. Beberapa menit saja, mereka sudah sampai di kantor. Kebersamaan mereka hanya sampai pada parkiran kantor hingga lobi. Setelahnya, mereka harus berpisah untuk menuju ruangan masing-masing.


Barra lebih suka bekerja di bawah pimpinan orang lain daripada harus memimpin perusahaan yang diberikan ayahnya. Ia tidak mempunyai keinginan untuk menjadi CEO dan sebagainya. Ia hanya ingin menikmati hidup seperti karyawan biasa. Bekerja di bawah tekanan dan bekerja keras demi tercapai tujuannya.


Kayla adalah pewaris satu-satunya dalam keluarganya. Namun jalan yang ia pilih juga berbeda. Kayla juga tidak suka mengurusi masalah perusahaan. Itulah kenapa hingga saat ini orang tua Kayla yang masih mengelola bisnis keluarganya. Pemikiran Kayla dan Barra hampir sama. Mereka tidak ingin terbebani dengan masalah perusahaan.


Waktu terus berputar, kini tibalah mereka selesai bekerja. Barra menunggu Kayla di dalam mobilnya. Karena Kayla yang sedari siang tidak ada di kantor dan sedang bertugas di luar sana. Untuk masalah dirinya ke luar kota, Barra meminta pengacara pembimbingnya untuk membatalkannya. Barra tidak tega jika Kayla ikut dalam perjalanan tersebut. Ia juga tidak bisa sembarangan untuk menemani Kayla. Ia juga punya tanggung jawabnya sendiri. Untungnya mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut dan hanya menggantinya dengan menambah sedikit pekerjaannya. Itulah kenapa Kayla sering telat pulang dan Barra setia menunggu Kayla sampai selesai.

__ADS_1


Dari kejauhan, Barra melihat Kayla berjalan ke arahnya. Barra memperhatikan Kayla dengan lekat. Wanita yang sedang menuju ke arahnya, yang sekarang menjadi istrinya.


"Maaf ya sayang, aku telat lagi," ucap Kayla saat Kayla sudah berada di luar mobil. Barra tersenyum tipis. Kayla langsung masuk ke dalam mobil. Barra membelai rambut Kayla dengan lembut. Ia tertawa kecil.


"Langsung ke rumah mommy atau mau ke mana dulu gitu?" tanya Barra. Kayla menghembuskan napasnya pelan.


"Langsung ke rumah mommy saja deh," jawab Kayla. Ia menatap Barra dan tersenyum. Barra mengangguk dan segera melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di kediaman orang tua Barra. Barra dan Kayla langsung masuk ke dalam rumah.


"Mommy," ucap Barra. Alina yang sedang membaca buku laporan restorannya menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Kami hanya sebentar kok Mom. Oh iya, di mana bang Zidan dan yang lainnya?" tanya Barra yang melihat rumah tampak sepi. Mereka duduk di sofa bersama.


"Abangmu dan papamu belum pulang dari kantor. Raffa dan Zara mungkin dalam perjalanan pulang. Kalau Alisya sibuk dengan kuliahnya," jawab Alina. Ia tersenyum dan bangkit dari duduknya. Alina menuju dapur untuk menyiapkan minuman dan camilan untuk mereka. Kayla menghampiri Alina di dapur.


"Biar Kay bantu ya Mom," ucap Kayla dan ia tersenyum tipis.


"Hanya membuat minuman saja sayang. Mommy tidak repot kok, kamu pasti lelahkan habis bekerja?" ujar Alina. Kayla mengangguk.

__ADS_1


"Bagaimana kehidupan rumah tangga kalian?" tanya Alina. Kayla mengambil gelas dan mengelapnya.


"Baik Mom, bagaimana kabar dari kakak ipar?" tanya Kayla balik.


"Sehat," jawab Alina. Mereka saling mengobrol. Sudah lama mereka tidak bertemu dan mengobrol seperti ini.


Selesai menyiapkan minuman dan camilan, mereka menuju ke ruang tengah. Barra sedang fokus dengan ponselnya.


"Mom, Barra ke kamar dulu ya untuk membersihkan diri," pamit Barra. Alina mengangguk. Barra berjalan ke kamarnya untuk membersihkan diri. Untungnya di kamarnya masih ada baju ganti untuknya. Tak lama setelah itu, Arvin pulang dari kantornya.


"Sayang, aku pulang," ucap Arvin sambil memasuki rumahnya. Alina segera menghampiri suaminya dan tak lupa untuk mencium punggung tangan suaminya. Ia juga mengambil alih tas kerja suaminya. Mereka berjalan hingga ke ruang tengah. Setibanya di sana, Arvin sedikit terkejut dengan kehadiran Kayla. Hampir saja ia bermanja kepada istrinya seperti yang setiap pulang kerja ia lakukan. Kayla menyapa Arvin dan tak lupa mencium punggung tangan Arvin. Arvin dan Alina pamit ke kamar mereka sebentar. Alina mengurus suaminya yang baru pulang kerja.


"Mas, bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Alina. Pertanyaan itu yang setiap kali Alina tanyakan setiap kali Arvin pulang kerja.


"Lancar seperti biasanya. Meski ada sedikit kendala tadi," jawab Arvin. Alina membantu suaminya melepas jas dan dasinya. Arvin menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Alina menyiapkan baju ganti untuk suaminya.


Kini, mereka berempat sudah berada di ruang tengah. Mereka mengobrol santai sambil menunggu Zidan dan yang lainnya pulang. Tak lama kemudian, Raffa dan Zara pulang dari kampus. Mereka pulang sedikit terlambat karena Raffa harus kerja kelompok sebentar. Terpaksa Zara harus menunggu Raffa hingga selesai dengan urusannya. Disusul lagi dengan Zidan dan Alisya yang kebetulan sampai rumah bersamaan. Alisya kini sudah mulai sibuk dengan kuliahnya. Tugas-tugas juga mulai banyak. Membuatnya sedikit sibuk.


Setelah lengkap, mereka makan malam bersama. Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang tengah sambil mengobrol. Itulah yang setiap harinya mereka lakukan. Karena dari pagi sampai sore mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hanya setelah makan malam mereka sempatkan untuk saling berkomunikasi satu sama lain. Pukul 21.00 Barra dan Kayla pamit untuk pulang kembali. Walaupun Alina ingin mereka menginap meski hanya satu malam saja, tetapi ia tidak bisa menahan putra dan menantunya itu untuk tetap tinggal di sana. Melihat Barra dan Kayla mau berkunjung menemuinya saja sudah membuat Alina senang.

__ADS_1


__ADS_2