Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 84 (season 2)


__ADS_3

Zara dan Raffa baru saja sampai di kampusnya. Hari ini jadwal kuliah mereka sore hari. Seperti biasanya, setelah sampai mereka langsung menuju ke kelas.


Tak lama setelah itu, dosen datang dan kelas segera dimulai. Hari ini hanya satu mata kuliah saja. Zara dan yang lainnya mendengarkan materi dari dosennya hingga pembelajaran selesai. Semenjak Rinda dan Fara pindah kelas, Zara sudah tidak diganggu lagi oleh mereka dan yang lainnya. Jangankan diganggu, bertemu saja sudah tidak pernah lagi.


"Habis ini ikut dulu ke restoran ya, aku ada urusan sebentar," ucap Raffa. Zara mengangguk meski ia tidak tahu restoran mana yang dimaksud oleh Raffa.


Setelah kelas selesai, mereka langsung menuju ke mobil dan berlalu dari kampusnya. Raffa melajukan mobilnya menuju restoran.


"Kamu tunggu di sini atau ikut?" tanya Raffa saat mereka sudah sampai di depan restoran. Zara tidak mendengarkan pertanyaan Raffa melainkan ia merasa kagum dengan restoran tersebut. Raffa tersenyum tipis sambil menatap Zara.


"Ayo turun!" ajak Raffa.


"Eh," ucap Zara terkejut.


Mereka turun dari mobil. Raffa menghampiri Zara dan berdiri di sampingnya. Ia menjelaskan jika ini adalah restoran milik keluarganya yang dikelola oleh keluarga sahabat ibunya. Zara lagi-lagi menatap kagum. Seberapa banyak lagi misteri yang belum ia ketahui dalam keluarga ini.


"Waahh, setelah ini masih ada apa lagi?" batin Zara.


"Menyebalkan! Kenapa Raffa akrab sekali dengannya. Dan senyuman itu sangat jarang ia tunjukkan saat di depanku," batin Viona yang memperhatikan mereka. Viona ingin menyambut Raffa namun langkahnya terhenti saat melihat Zara. Kini Zara dan Raffa melangkah memasuki restoran tersebut. Raffa menyuruh Zara untuk duduk dan ia memesankan beberapa makanan untuk Zara. Lalu dirinya mencari keberadaan Viona.


Melihat kedatangan Raffa bukannya menyambut, Viona justru menatap Raffa dengan sinis. Meskipun ia tahu hubungan Raffa dan Zara hanyalah kakak dan adik ipar, dalam penglihatannya tetap saja mereka terlihat mesra.


Raffa mengernyitkan dahinya. Biasanya Viona langsung heboh dengan kedatangannya. Baru kali ini ia terlihat pendiam. Raffa tersenyum dan mencubit hidung Viona dengan gemas.


"Ada apa?" tanya Raffa.


"Tidak, kenapa kamu bisa sama dia?" tanya Viona ketus.

__ADS_1


"Kami habis dari kampus langsung ke sini," jawab Raffa.


"Oh," jawab Viona singkat. Ia beralih untuk duduk di sofa. Raffa menghampiri Viona dan duduk di sampingnya. Viona masih terdiam. Bisa dikatakan jika Viona sedang cemburu pada Raffa. Namun Raffa seolah tidak mengetahui hal tersebut. Mereka mengobrol cukup lama. Tanpa mereka sadari, Zara sudah lama menunggu Raffa dan kini dirinya mulai gelisah. Semenjak hamil, Zara tidak nyaman berada di tempat umum lama-lama. Zara mencari-cari keberadaan Raffa sambil memainkan tangannya di atas meja.


"Aku pulang dulu ya, kasihan Zara. Dia sudah menunggu lama di sana," ucap Raffa.


"Iya, kamu hati-hati," balas Viona dengan jutek.


Raffa tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke arah Viona. Viona menjadi gugup dan salah tingkah. Jantungnya berdetak kencang saat menatap Raffa yang hanya berjarak benerapa senti di depannya.


"Jangan cemburu, aku hanya sayang padamu saja," bisik Raffa. Kemudian ia langsung beranjak berdiri.


Pipi Viona seketika merah merona. Ia sempat berpikir jika Raffa akan menciumnya. Ternyata hanya membisikkan kata-kata itu saja. Raffa tersenyum dan mengacak rambut Viona dengan gemas. Lalu ia pamit untuk pulang.


"Yah, meskipun tidak begitu romantis, tetapi aku suka," gumam Viona yang mendapatkan keceriaannya kembali. Setelah memastikan Raffa dan Zara pulang, Viona melanjutkan lagi pekerjaannya.


Waktu berlalu, kini Zidan baru selesai pulang kerja. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun yang berbeda, kali ini Zara tidak menyambutnya seperti biasanya. Saat ia masuk ke dalam kamar, ia melihat Zara sedang mengerjakan tugasnya. Zidan tidak ingin mengganggu Zara dan langsung menuju ke kamar mandi.


Selesai membersihkan diri, Zidan beralih duduk di samping Zara yang sedang bersandar di ranjang dengan laptop yang ada di pangkuannya. Zidan mengecup pelipis Zara sekilas dan ikut melihat apa yang sedang dikerjakan istrinya itu.


"Lagi ngapain?" tanya Zidan penasaran.


"Lagi mengerjakan tugas presentasi. Aku sengaja meminta untuk presentasi di awal seperti ini. Takutnya nanti jika di akhir-akhir, aku tidak bisa memenuhi tanggung jawabku," tutur Zara dengan serius. Karena perutnya yang semakin membesar akan mudah lelah juga ia. Zidan tersenyum melihat Zara yang bersemangat mengerjakan tugas kuliahnya.


"Sini, aku bantu. Kamu istirahatlah sayang," ucap Zidan sambil mengambil alih laptop Zara.


"Tidak usah, aku akan mengerjakannya sendiri," ujar Zara.

__ADS_1


"Suamimu juga lulusan dari jurusan yang sedang kamu tempuh. Aku masih ingat dengan materi-materi ini," ucap Zidan kembali. Zara memanyunkan bibirnya. Ia berusaha mengambil laptopnya kembali dari tangan Zidan, namun Zidan tidak mengizinkannya.


"Zidan, kembalikan," ucap Zara. Zidan menggelengkan kepalanya dengan pelan. Zara mendengus kesal sambil menatap suaminya. Zidan tertawa kecil. Ekspresi apapun yang ditampilkan Zara di depannya semua terlihat sama, yaitu menggemaskan. Zidan menaruh laptopnya di meja kecil dekat tempat tidurnya. Ia merengkuh Zara dan mengusap perut Zara dengan lembut.


"Kapan kamu ambil cutinya? Apa kamu tidak lelah harus bolak-balik ke kampus dengan kondisimu yang seperti ini?" tanya Zidan.


"Tapi, kalau aku cuti sekarang, berarti aku harus mengulang tahun depan dong?" tanya Zara.


"Bukan masalah besar, atau aku panggilkan dosen privat untuk kamu agar cepat lulus?" ujar Zidan. Ia tertawa kecil.


"Jangan meledekku," ucap Zara dengan jutek. Lalu Zidan segera mengecup bibir Zara sekilas. Ia tersenyum manis.


Zidan menceritakan kegiatannya di kantor seharian ini. Zara hanya menjadi pendengar yang baik. Kini mereka berbaring saling berhadapan. Zara mengusap rambut Zidan dengan lembut sambil mendengarkan curahan suaminya.


"Sayang," panggil Zidan.


"Hmm?" jawab Zara.


"Aku kangen sama kamu," ujar Zidan dengan tatapan penuh arti dan senyuman nakalnya. Zara tahu apa yang diinginkan oleh Zidan. Tanpa aba-aba, Zidan langsung menerkam istrinya. Ia melakukannya dengan lembut agar tidak menyakiti calon anaknya.


Pukul 20.30 Zidan dan Zara baru keluar kamar. Mereka melewatkan makan malam bersama keluarganya karena lelah setelah bergulat di atas kasurnya. Zara merengek karena lapar dan ingin makan makanan yang Zidan buat. Mau tak mau ia juga ikut turun ke dapur untuk menyiapkan makanan.


Pemandangan ini bukan pertama kalinya yang Zara lihat. Sebelum menikah, Zidan juga pernah memasakkan makanan untuknya. Zara menunggu masakan itu matang. Ia sudah tidak sabar untuk memakan masakan Zidan.


"Kenapa memperhatikanku seperti itu?" ujar Zidan yang ternyata mengetahui Zara sedang memperhatikannya.


"Pede banget sih, aku hanya memperhatikan masakannya tuh," gurau Zara. Dirinya tertawa kecil.

__ADS_1


Zidan selesai memasak untuk Zara. Kini Zara makan hasil masakan suaminya yang sangat cocok dilidahnya itu. Zara selalu melahap makanan itu dengan rakus seolah akan ada yang merebutnya. Sedangkan Zidan hanya memperhatikan istrinya yang sibuk makan.


__ADS_2