
Di restoran, Raffa sedang menyelesaikan beberapa laporan akhir bulannya. Tentu saja dibantu oleh Rani. Beberapa hari lagi ia sudah kuliah lagi. Tentunya, semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya harus ia selesaikan.
Raffa lebih suka ketenangan, itu sebabnya ia jarang keluar dari ruangannya. Harus Viona yang memaksanya baru Raffa pasrah dan mengikuti Viona. Seperti saat ini, Viona mengajak Raffa untuk mengecek beberapa barang masuk. Viona menyuruh Raffa untuk membantu memindahkan beberapa barang tersebut.
"Kau mengerjaiku?" tanya Raffa dingin.
"Hei, siapa juga yang mau mengerjaimu. Sebagai calon bos di sini, kamu harus bisa mengerjakan segalanya kan? Aku hanya membantumu saja," ujar Viona tak mau kalah. Ia menahan tawanya karena berhasil mengerjai Raffa.
"Ayo cepat lakukan! Ini sudah hampir jam makan siang," ucap Viona lagi. Raffa memutar bola matanya dengan malas. Ia menghela napasnya sejenak.
"Hei, cepatlah!" ucap Viona.
"Berisik!" ujar Raffa. Ia meninggalkan Viona dan mulai membantu karyawannya memindahkan beberapa barang. Sedangkan Viona bertugas untuk mencatat dan mengeceknya.
"Sebenarnya bosnya aku atau dia sih?" batin Raffa kesal. Jika berhadapan dengan Viona ia selalu kalah. Viona selalu punya cara untuk membuatnya mengalah.
Viona mondar-mandir sambil mencatat dan mengecek barang yang masuk. Ia sesekali memperhatikan Raffa yang sedang fokus dengan pekerjaannya. Viona tersenyum tipis. Kemudian ia menghampiri Raffa untuk menyeka keringat Raffa di dahinya.
Raffa terkejut dengan tindakan Viona. Bahkan beberapa karyawannya memperhatikan mereka. Viona dengan santai menyeka keringat Raffa dengan tisu. Tatapan mereka saling bertemu. Ada rasa aneh dalam hatinya yang sulit Raffa jelaskan saat ini. Viona tersenyum tipis. Ia meniup wajah Raffa dengan cepat. Sehingga Raffa tersadar dari lamunannya.
"Sudah puas lihatinnya? Aku tahu aku cantik," ucap Viona narsis. Raffa mengernyitkan dahinya. Ia sedikit mendekat ke arah Viona.
"Dasar tidak tahu malu. Apa perlu aku belikan kamu cermin yang besar?" ujar Raffa. Ia tertawa kecil. Lagi-lagi Viona terpesona oleh Raffa. Melihat senyuman Raffa yang jarang terlihat saja membuat jantungnya berdegup kencang. Apalagi melihat tawa Raffa yang sungguh manis itu. Membuat dunia Viona seolah porak poranda.
"Boleh juga idemu. Aku jadi lebih tahu kalau aku memang cantik," jawab Viona lagi. Raffa hanya memutar bola matanya dengan malas. Hari ini ia terlalu banyak bicara dengan Viona. Tanpa sadar, Raffa bertindak di luar kendalinya. Biasanya ia hanya diam dan acuh dengan ucapan Viona. Namun kali ini ia merasa terlalu banyak bicara.
__ADS_1
Raffa ingin melanjutkan lagi pekerjaannya. Namun saat ia ingin berbalik, tanpa sengaja salah satu karyawannya menabrak Raffa dari belakang sehingga Raffa terjatuh ke depan.
Brukk
Cup
Raffa dan Viona terjatuh di lantai. Dengan posisi Raffa berada di atas tubuh Viona dan tanpa sengaja bibir mereka saling bersentuhan. Raffa dan Viona sama-sama terkejut. Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu. Suasana menjadi hening. Para karyawan restoran yang berada di sana terdiam canggung. Apa yang mereka saksikan tak seharusnya mereka lihat.
"Maafkan saya tuan, saya benar-benar tidak sengaja," ucap salah satu karyawan yang tanpa sengaja menabrak Raffa tadi. Raffa yang tersadar langsung berdiri. Viona pun juga sama. Pipi Raffa dan Viona memerah karena menahan malu.
"Lupakan saja. Kalian lanjutkan bekerjanya," ucap Raffa. Ia mengusap tengkuknya untuk mengurangi kegugupannya. Setelah itu, Raffa meninggalkan tempat. Ia menuju ke ruangannya.
"A-apa yang terjadi barusan? A-aku dan Raffa...?? Kami berciumankah tadi?" batin Viona yang masih sangat terkejut dengan hal yang terjadi padanya tadi.
"Mbak Viona, saya minta maaf," ucap salah satu karyawan tadi.
Viona menuju ke ruang istirahat bagi karyawan. Ia duduk di sana sambil pikirannya teringat dengan kejadian tadi. Viona seolah linglung. Ia memejamkan matanya sambil menangkup wajahnya. Ia tidak tahu lagi bagaimana akan menghadapi Raffa nanti.
"Itukan ciuman pertamaku, hiks hiks hiks," batin Viona terharu. Mau bagaimanapun lagi, semua juga sudah terjadi.
Di dalam ruangan, Raffa mengusap wajahnya beberapa kali. Ia juga mengacak rambutnya dengan kasar. Raffa merasa canggung dengan Viona. Ia bahkan belum meminta maaf terhadap Viona dan langsung pergi begitu saja. Raffa maupun Viona sama-sama merasa malu dan canggung. Apalagi dilihat oleh banyak karyawannya tadi.
"Bagaimana aku meminta maaf dengan Viona? Dia marah tidak ya?" gumam Raffa bingung. Ia belum punya pengalaman itu sebelumnya. Namun Raffa harus tetap meminta maaf terhadap Viona.
Karena merasa canggung, akhirnya Raffa meminta bertemu dengan Viona secara pribadi sepulang kerja nanti. Ia mengirim pesan kepada Viona dan akan menerima segala hukuman dari Viona. Asal Viona mau memaafkannya.
__ADS_1
Waktu cepat berlalu, kini sudah sore. Raffa meminta izin kepada Rani untuk pulang lebih awal. Viona juga sama. Raffa menunggu Viona di dekat mobilnya. Ia bersandar pada mobil sambil terus memperhatikan pintu masuk restoran itu.
Tak lama kemudian, Viona berjalan keluar restoran menuju tempat Raffa. Viona yang biasanya ceria kini terlihat menjadi pendiam. Raffa mengajak Viona ke taman kota untuk membicarakan masalah tadi siang.
Saat ini, mereka sudah sampai di taman tersebut. Raffa turun dari mobilnya begitu juga dengan Viona. Mereka mencari tempat ternyaman dan sedikit sepi agar bisa maksimal membahas masalah mereka. Viona dan Raffa duduk beriringan. Mereka masih canggung seperti baru pertama kali bertemu.
Lima menit sudah berlalu, mereka juga belum memulai pembicaraan mereka. Raffa bingung ingin memulai dari mana. Sedangkan Viona bingung dan sedikit tak nyaman berada di dekat Raffa.
"Aku minta maaf," ucap Raffa dan Viona bersamaan. Mereka saling memandang dan akhirnya tertawa cukup keras. Viona menepuk lengan Raffa sekilas.
"Vi, aku minta maaf sama kamu. Aku siap kok jika kamu menghukumku karena sudah tidak sopan," ujar Raffa serius. Viona langsung terdiam dan memperhatikan Raffa.
"Apapun?" tanya Viona memastikan. Raffa mengangguk yakin. Walaupun itu juga tidak mengurangi rasa malu Viona. Viona menghela napasnya sejenak.
"Kalau begitu jadilah pacarku," ujar Viona dengan santai. Ia melipat tangannya di depan dadanya. Raffa mengernyitkan dahinya.
"Pacar? Tidak, aku tidak mau!" tolak Raffa keras. Karena ia juga tidak menyukai Viona.
"Hanya itu, jika kamu tidak mau juga tidak apa-apa," ujar Viona sedih. Melihat Viona seperti itu membuatnya tak tega.
"Berapa lama?" tanya Raffa.
"Terserah aku mau berapa lama. Dan kamu tidak boleh menolak. Kalau tidak, aku akan adukan pada tante Alina," ucap Viona. Raffa berpikir sejenak.
"Baikkah, aku setuju," balas Raffa. Viona menatap Raffa tak percaya. Ia pikir akan sulit membujuk Raffa agar menyetujui permintaannya itu.
__ADS_1
"Aku tidak percaya dia akan setuju semudah itu. Kalau tahu begini, kenapa tidak aku lakukan dari awal?" batin Viona.
"Oke, mulai hari ini kita berpacaran," ujar Viona. Ia mengedipkan sebelah matanya. Sedangkan Raffa hanya menatap Viona dengan bingung.