Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 76 (season 2)


__ADS_3

Rinda masuk ke dalam kelas dan langsung menghampiri Zara yang sedang duduk di bangkunya. Rinda duduk di meja sambil melipat tangannya di depan dadanya. Ia menatap Zara dengan amgkuh.


"Kamu hamil ya Zara?" tanya Rinda sedikit mengeraskan suaranya. Tiba-tiba kelas menjadi hening. Semua mata menatap pada mereka berdua. Zara hanya diam tidak ingin menanggapi pertanyaan Rinda. Karena ia tahu jika Rinda pasti membuat masalah terhadapnya.


"Kamu kapan menikahnya? Tiba-tiba sudah hamil. Wow, cepat banget ya. Baru empat bulan libur semester sudah hamil saja," ucap Rinda dengan sinis. Namun Zara masih dalam pertahanannya. Raffa yang baru saja masuk berdiri mematung di dekat pintu. Ia memperhatikan tingkah Rinda yang sengaja menyudutkan Zara.


Karena tak kunjung mendapatkan respon dari Zara, Rinda mencengkram lengan Zara dengan kuat hingga Zara merasa kesakitan. Namun Rinda tak ada niatan melepas cengkraman itu. Hingga Raffa menghampiri mereka dan menghempaskan tangan Rinda dengan kasar.


"Berani ganggu Zara, kamu berhadapan sama aku!" ucap Raffa tegas dan dingin. Hingga tubuh Rinda bergetar seketika. Rinda menghentakkan kakinya ke lantai lalu pergi menuju tempat duduknya sendiri. Semua yang menyaksikan hal itu langsung mengalihkan pandangan mereka. Raffa mendekatkan kursinya di samping Zara.


"Kamu harusnya tidak perlu mengancamnya seperti itu. Aku tidak apa-apa kok," bisik Zara pada Raffa. Raffa menatap Zara sekilas. Ia menghela napasnya pelan.


"Aku hanya menjalankan tugas dari bang Zidan," ucap Raffa.


Tak lama setelah itu, dosen masuk ke kelas mereka. Pelajaran pertama pun dimulai. Hari ini hanya penyampaian kontrak kuliah selama satu semester ke depan. Belum ada tugas atau materi hari ini.


Tanpa terasa, kini waktunya untuk pulang. Zara merasa lapar, ia ingin ke kantin namun menunggu teman sekelasnya pergi. Ia tidak ingin menyusahkan Raffa karena mereka mengolok Zara.


"Setelah ini mau ke mana?" tanya Raffa.


"Aku mau ke kantin sebentar, kamu kalau tidak mau ikut tidak apa-apa kok. Tunggu saja di mobil, nanti aku nyusul," ujar Zara. Sebenarnya dirinya juga tidak nyaman jika Raffa terus mengikutinya. Mengingat mereka tidak sedekat itu sebelumnya.


"Aku ikut kamu," balas Raffa. Zara menghela napasnya pasrah. Lalu mereka menuju kantin untuk makan siang bersama.


***

__ADS_1


Sedangkan Viona baru sampai di restoran setelah pulang dari kampus. Karena di rumah sepi dan tidak ada orang sama sekali, ia setiap hari memilih untuk ke restoran membantu ibunya.


Viona masuk ke ruangan Rani dan memeluk Rani sekilas. Ia mencium pipi Rani dan beralih duduk di sofa. Viona menyandarkan tubuhnya di sofa dan mengambil ponselnya untuk mengecek apakah Raffa mengirim pesan padanya. Namun Raffa sama sekali tidak mengirim pesan padanya.


"Padahal sudah jadi pacar, tapi sikapnya masih sama saja, haiss," batin Viona sedikit kesal. Ia memilih untuk mengirim pesan pada Raffa duluan.


Cukup lama Viona menunggu balasan dari Raffa. Ia beralih berbaring di sofa sambil matanya terus memperhatikan layar ponselnya. Berulang kali ia masuk dan keluar whatsapp untuk mengecek terakhir dilihat akun Raffa. Viona memutar bola matanya dengan malas. Ia sampai bosan menunggu balasan dari Raffa.


"Dia datang ke sini gak ya nanti," batin Viona bertanya-tanya.


Setelah cukup untuk menghilangkan penatnya, Viona menuju ke dapur untuk bantu-bantu menyajikan beberapa menu makanan. Namun bukannya membantu, Viona lebih sering melamun dan mengakibatkan tangannya tak sengaja menyenggol penggorengan yang masih panas. Ia mengibaskan tangannya dan segera mencari salep untuk meredakan rasa sakitnya.


"Aduh, jadi seperti ini kan kalau tidak fokus," batin Viona saat mengoleskan obatnya dengan tangannya sendiri. Walaupun masih perih, tetapi tidak sesakit tadi. Akhirnya Viona memilih untuk bantu-bantu di kasir sambil menunggu Raffa datang. Itupun kalau dia datang hari ini.


***


"Bagaimana kerjamu hari ini?" tanya Barra saat Kayla sudah duduk di tempatnya setelah mengambil beberapa makanan untuk mereka.


"Lancar seperti biasanya. Tapi, aku akan ada tugas untuk ikut pak Yoko ke luar kota. Menangani masalah di sana," jawab Kayla. Barra menatap Kayla dengan lekat.


"Kenapa harus kamu? Apa tidak bisa pak Yoko sendiri yang pergi? Aku tidak setuju untuk itu," ujar Barra tak terima. Kayla tersenyum tipis.


"Nanti aku coba bicara lagi sama pak Yoko ya," balas Kayla. Lalu mereka segera makan siang agar tidak menyiakan waktu untuk ngobrol.


Selesai makan siang bersama, mereka memutuskan untuk kembali ke kantor. Barra mengecup kening Kayla sekilas sebelum mereka berpisah menuju ruangan masing-masing. Semua orang di kantor tahu jika Barra dan Kayla sudah menikah. Jadi, mereka tidak perlu khawatir atau sembunyi-sembunyi.

__ADS_1


***


Saat ini, Raffa baru saja mengantar Zara. Mereka turun dari mobil dan segera masuk ke rumah. Raffa langsung pamit ke kamarnya. Ia tadi sempat melihat ada notif pesan dari Viona. Namun ia belum sempat membuka dan membalasnya. Raffa merebahkan tubuhnya di atas kasurnya. Ia membuka pesan tersebut dan tersenyum tipis. Raffa hanya membacanya saja tanpa membalas pesan Viona. Raffa melempar ponselnya di atas kasur. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai bersiap, ia mengambil ponselnya dan kembali keluar rumahnya. Ia sedikit berlari keluar rumah. Bahkan tidak sempat untuk istirahat sejenak.


"Loh, sayang mau ke mana?" ucap Alina sedikit berteriak saat melihat Raffa buru-buru. Raffa beralih menghampiri Alina dan mencium punggung tangan Alina.


"Raffa mau ke restoran sebentar Mom," ucap Raffa.


"Eh, nanti sore saja. Kamu juga belum istirahatkan?" ucap Alina. Namun Raffa kekeh untuk pergi. Akhirnya Alina mengizinkan Raffa untuk pergi ke restorannya.


Raffa melajukan mobilnya hingga sampai di restoran. Ia mencari keberadaan Viona. Viona yang duduk di kasir langsung menghampiri Raffa. Ia tersenyum lebar melihat kedatangan Raffa.


"Sayang, apa kamu tahu aku menunggumu lama sekali. Kenapa baru datang?" ucap Viona. Ia memanyunkan bibirnya pura-pura kesal. Raffa hanya mengernyitkan dahinya. Sejak kapan panggilan sayang itu ditujukan untuknya. Bahkan Raffa dan Viona belum membicarakannya. Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Viona, Raffa lebih fokus pada tangan Viona yang terluka. Ia menarik tangan Viona untuk melihat luka tersebut.


"Aww.. Sakit Raffa!," pekik Viona. Namun Raffa menatap Viona dengan dingin.


"Kenapa bisa terluka?" tanya Raffa yang terlihat khawatir. Viona hanya diam terpaku melihat Raffa.


"Dia khawatir padaku ya?" batin Viona.


"Hei, aku bertanya padamu bukan pada patung!" ucap Raffa.


"Tidak apa-apa kok. Tadi tidak sengaja menyenggol penggorengan," balas Viona. Ia menundukkan kepalanya. Raffa menarik Viona untuk mengobati luka pada tangan Viona. Viona masih menatap Raffa dengan heran. Ia tak percaya jika Raffa khawatir padanya.

__ADS_1


__ADS_2