
Hari sudah semakin gelap. Arvin juga belum pulang. Biasanya sore ia sudah pulang ke rumah. Tapi nyatanya hari ini sampai sekarang Arvin belum kembali.
Tadi sore Soraya sempat ke rumahnya dan membawa Zidan serta Barra menginap ke rumahnya. Kedua putranya tersebut mengiyakan begitu saja.
Saat ini Alina berada di kamarnya. Ia habis menidurkan Raffa di ranjang bayi. Setelah itu ia keluar kamarnya menuju meja makan. Alina terus memperhatikan pintu rumahnya. Menantikan kedatangan Arvin.
"Nyonya, kenapa tidak di makan? Apakah makanan yang bibi masak tidak enak?" tanya bi Narsih di samping Alina.
"Bukan kok bi. Alina hanya tidak selera makan saja," ucap Alina lalu tersenyum tipis.
"Nyonya mau makan apa? Biar bibi buatkan," tawar bi Narsih. Alina berpikir sejenak. Sebenarnya ia ingin makan makanan di luar. Tapi tidak mungkin juga menyuruh bi Narsih untuk membelikannya. Ia menghubungi Arvin juga tidak diangkat, entah kapan suaminya itu akan pulang. Bi Narsih masih menunggu jawaban dari Alina.
"Tidak perlu bi, Alina makan ini saja," jawab Alina. Bi Narsih mengangguk kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Setelah makan, Alina menuju ruang tengah. Ia memilih menonton tv sejenak untuk menghilangkan rasa bosannya. Biasanya terdengar gelak tawa anaknya, tapi ini hanya sunyi. Merasa bosan, Alina mencoba menghubungi Arvin kembali. Berharap kali ini suaminya mengangkat teleponnya.
"Ada apa?" tanya Arvin yang baru saja mengangkat telepon Alina.
"Mas nggak pulang?" tanya Alina.
"Maaf masih ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kalau mau tidur dulu nggak apa-apa. Oh iya, anak-anak bagaimana?" tanya Arvin dari balik teleponnya.
"Oh, ya sudah. Mas jangan lupa istirahat. Kalau bisa jangan pulang larut," ucap Alina tak semangat. Entah kenapa ia kembali menitikkan air matanya.
"Sampai kapan kamu bersikap seperti ini mas?" batin Alina sedih.
"Oke," jawab Arvin. Alina mematikan sambungan telepon tersebut.
Alina meringkuk merasakan sesak di dadanya. Bahkan acara tv favoritnya tak mampu menghiburnya. Ia menuju kamarnya. Melihat Raffa sebentar lalu menuju balkon kamarnya.
__ADS_1
Semilir angin malam menambah galaunya hati. Alina memejamkan matanya untuk merasakan kesedihan hatinya. Sampai kapan hubungannya dengan suaminya renggang seperti ini.
Tiba-tiba saja lampunya padam. Alina panik karena ia takut kegelapan. Alina meraba-raba sekitarnya untuk masuk ke dalam. Baru masuk ke dalam kamarnya dan ingin mencari lilin, lampunya menyala kembali. Alina bernapas lega.
"Apa kamu takut sayang?" ucap seseorang yang berada di belakang Alina. Lebih tepatnya di balkon kamarnya itu. Alina segera berbalik.
Nampak Arvin berdiri di balkon tersebut dengan membawa bunga mawar yang ia letakkan dimulutnya dan tangannya ia lipat di depan dadanya. Arvin bersandar di pagar balkon itu.
"Mas? Ini beneran kamu?" ucap Alina tak percaya.
Arvin mengambil bunga tersebut dan perlahan mendekati Alina. Ia menyelipkan rambut yang mengenai wajah Alina ke belakang telinga.
"Kenapa? Tidak percaya? Apa suamimu ini begitu tampan hingga kamu tidak mengenalinya lagi?" ujar Arvin terkekeh.
"Bukan seperti itu. Tadi mas bilang ada banyak pekerjaan di kantor kan? Lalu dari kapan mas berdiri di sana? Tadi tidak ada," ujar Alina bingung.
Arvin tersenyum tipis. Ia memberikan setangkai mawar tersebut ke Alina. Arvin sedikit mendekatkan tubuh Alina.
"Mas nggak marah lagi?" tanya Alina. Matanya berbinar-binar. Arvin menggelengkan kepalanya dengan pelan. Matanya masih menatap wajah Alina. Yang setiap hari ia rindukan. Alina menerima mawar tersebut dan memeluk Arvin dengan erat. Ia menumpahkan air matanya kembali. Arvin juga memeluk Alina dan memejamkan matanya. Berkali-kali mengecup puncak kepala Alina.
Arvin melepas pelukannya. Ia menyeka air mata Alina yang membasahi pipinya. Arvin mencium kening Alina sangat lama. Kemudian ia menempelkan keningnya dengan kening Alina.
"Jangan bersedih lagi. Maafkan mas sudah membuatmu sedih beberapa hari ini. Sebenarnya mas nggak tega melihatnya. Tapi mas harus menghukum istri mas yang nakal ini," ucap Arvin dan tersenyum tipis. Ia mengecup bibir Alina sekilas.
"Nggak mas. Aku yang salah. Aku juga minta maaf," jawab Alina.
Arvin memiringkan wajahnya sambil memejamkan matanya. Ia ******* dengan lembut bibir Alina. Alina membalas ciuman itu dan mengalungkan tangannya dileher Arvin.
Arvin melepas pagutannya. Ia tersenyum melihat Alina yang terengah-engah. Tatapannya sayu. Ia menginginkan yang lebih dari ini. Namun ia harus tahan untuk sementara waktu.
__ADS_1
Arvin membawa Alina ke balkon. Ia memeluk Alina dari belakang. Sambil merasakan hembusan angin yang menerpa mereka berdua. Arvin menyandarkan dagunya ke bahu Alina. Sesekali melirik Alina yang sedang memejamkan matanya menikmati sejuknya malam ini, seperti hatinya.
"Buka matamu sayang," bisik Arvin. Alina perlahan membuka matanya. Alina terkejut dan membulatkan matanya. Kalung dengan liontin berbentuk hati yang dulu pernah Arvin berikan padanya ada di depan matanya saat ini.
"Mas, ini...." ucap Alina tak percaya. Alina ingat, dulu Arvin pernah memberikannya kalung liontin hati yang sama seperti ini. Tapi entah ke mana kalung itu saat ini. Alina bahkan sudah melupakannya.
"Kamu ingat dengan kalung ini sayang? Kalung yang dulu pernah aku berikan padamu saat kita jadian dulu," ujar Arvin.
"Dari mana mas dapatkan ini?" ucap Alina tak percaya.
"Rahasia dong. Sini aku pasangin," ujar Arvin dan membantu Alina untuk memasang kalungnya. Alina berbalik dan kembali memeluk Arvin dengan erat.
"Terima kasih mas," ujar Alina senang.
"Terima kasihnya dengan cara menjadi istri dan ibu yang baik. Jangan nakal lagi atau melakukan hal-hal yang bodoh lagi," ucap Arvin. Alina mengangguk. Alina mencium bibir Arvin dan melumatnya. Ia benar-benar bahagia malam ini.
"Istirahat yuk," ajak Arvin. Alina hanya mengangguk. Arvin menggendong istrinya sampai di kasur dan merebahkannya dengan pelan. Tak lupa ia menyelimuti Alina.
"Tidurlah, aku akan ke kamar mandi sebentar," ucap Arvin dan mengecup kening Alina sekilas. Alina menurut dan memejamkan matanya.
Arvin menuju kamar mandi. Ia harus meredakan gejolak hatinya. Tadi pagi ia sudah melakukannya dengan istrinya. Jika kali ini ia melakukannya lagi, ia takut akan menyakiti calon anaknya itu. Terpaksa Arvin harus menahan dan meredakannya sendiri di kamar mandi.
Setelah selesai, ia keluar kamar mandi dan menuju ranjang bayi. Ia mencium Raffa sebentar.
"Tidurlah yang nyenyak sayang. Jangan menyusahkan mommy ya," ujar Arvin pelan. Takut membangunkan Raffa.
Arvin beralih menuju ranjangnya. Ia tidur di samping Alina sambil memeluknya. Mengusap sekilas kepala Alina dan mencium keningnya.
"Selamat malam sayang. Semoga mimpi indah," ujar Arvin. Kemudian ia memejamkan matanya.
__ADS_1
***
Author : Jiwa jombloku meronta😐