
"Bagaimana? Ada perkembangan dari kondisi Zara?" tanya Anton yang sudah berada dalam ruangan itu beberapa detik yang lalu. Zidan menghela napasnya pelan. Ia menatap Zara yang masih sama seperti kemarin.
"Kata dokter keadaan Zara semakin membaik. Kita hanya menunggu info selanjutnya saja bagaimana. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan," jawab Zidan. Anton mendekati Zidan yang berdiri di samping tempat tidur Zara.
"Maafkan papa Zidan. Karena keegoisan papa, kamu kehilangan calon anakmu. Dan kini papa juga telah menyakiti putri papa untuk kesekian kalinya," ucap Anton.
"Sudahlah, Zidan juga sudah ikhlas kok Pa atas kepergian calon anak Zidan. Mungkin belum saatnya kami mengemban tugas sebagai orang tua. Itulah kenapa Tuhan mengambil kembali bayi Zidan," ucap Zidan. Ia tersenyum getir.
Mereka masih memperhatikan Zara dengan lekat. Tatapan Diana beralih ke samping meja kecil yang terletak tak jauh dari ranjang Zara. Di atas meja kecil itu ada bekal makanan untuk Zidan. Namun Zidan belum juga memakannya.
"Sayang, kenapa makanannya belum dimakan?" tanya Diana.
"Zidan tidak lapar Ma," jawab Zidan. Diana menghela napasnya dan berjalan menuju meja kecil itu. Diana membuka makanan tersebut dan menyodorkan pada Zidan.
"Makanlah, jika Zara melihat kamu tidak mau makan, dia pasti akan marah. Zidan, jangan menghukum dirimu sendiri seperti ini," ucap Diana. Zidan hanya terdiam. Ia tidak ada selera makan sama sekali.
"Iya Zidan, makanlah dulu," ucap Anton. Zidan mengambil makanan itu dan beralih menuju sofa. Ia mulai memakan makanan itu. Diana dan Anton saling memandang dan tersenyum tipis.
Zidan merasa terpaksa memakan makanan itu. Namun karena ia tidak ingin melihat mertuanya khawatir, Zidan harus memakannya. Setelah makan, ia merebahkan dirinya di sofa sambil memijat pelipisnya. Zidan berharap Zara akan segera sadar dan kembali pulih seperti biasanya.
Sore harinya, Anton dan Diana pamit untuk kembali ke rumah. Karena ada sesuatu hal yang harus Anton selesaikan. Meskipun Diana sudah bertanya kesekian kalinya namun Anton hanya tersenyum dan membelai puncak kepala Diana.
Saat ini mereka dalam perjalanan pulang ke rumah. Diana masih penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan Syifa dan Anton. Karena merasa bingung dan tak kunjung mendapat jawaban, akhirnya Diana hanya diam sambil menatap ke arah luar mobil.
Akhirnya mereka sampai di rumah. Anton dan Diana segera masuk ke dalam rumah. Anton menuju kamar Syifa dengan tidak sabaran. Diana hanya mengikuti suaminya dari belakang.
__ADS_1
"Syifa, papa tahu kamu ada di dalam! Cepat keluarlah atau kau akan tahu akibatnya nanti!" ucap Anton dengan tegas. Diana menatap suaminya dengan bingung. Namun ia saat ini hanya bisa diam sambil melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Tidak mau! Syifa tidak akan keluar!" teriak Syifa. Ia melemparkan barang ke arah pintu. Anton sudah kehilangan kesabarannya. Ia mendobrak pintu tersebut dengan sekali tendangan. Syifa merasa ketakutan saat Anton berhasil membuka pintu tersebut. Di kamarnya, sangat berantakan sekali. Semua barang sudah berserakan di mana-mana bahkan banyak yang pecah. Anton menatap Syifa dengan tajam. Ia berjalan mendekat ke arah Syifa.
"Mas, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian bermusuhan seperti ini?" tanya Diana kesekian kalinya. Ia berharap kali ini mendapatkan jawabannya.
"Ma, tolong Syifa.... Syifa tidak bersalah..." ucap Syifa mengiba. Namun Anton segera menarik paksa Syifa keluar kamarnya. Ia membawa Syifa ke ruang tengah dan menghempaskannya dengan begitu kasar.
"Bi Tia, kemasi barang nona dan segera bawa ke sini!" ucap Anton meninggi. Diana berusaha mencairkan suasananya namun Anton justru menatap Diana dengan tajam.
"Sayang, masuklah ke kamarmu!" ucap Anton pada Diana.
"Tapi mas..."
"Aku tidak mau mengulangi perkataanku untuk kedua kalinya!" ucap Anton sedikit meninggi. Diana pasrah dan menuju kamarnya.
"Pergilah dari sini dan jangan pernah kembali lagi!" ucap Anton sambil melempar tas tersebut. Syifa hanya menangis dan menatap Syifa dengan penuh kebencian.
Syifa mengusap air matanya dengan kasar. Ia berdiri dan mengambil tas tersebut. Ia masih menatap Anton dengan penuh kebencian dalam dirinya.
"Papa tidak bisa melakukan ini!" teriak Syifa.
"Kenapa tidak? Jika kamu bisa melakukan kesalahan itu, kenapa papa tidak bisa mengusirmu? Ini semua kamu yang memilihnya sendiri. Aku tidak menyesal telah membesarkanmu Syifa. Tapi aku sungguh kecewa dengan sikap kekanakan pada dirimu. Pergilah dan jangan kembali!" ucap Anton.
"Baiklah jika ini yang papa inginkan. Syifa akan pergi dari sini!" ucap Syifa.
__ADS_1
"Baguslah," ujar Anton. Ia masuk ke dalam rumahnya dan menyuruh bi Tia untuk memastikan bahwa Syifa keluar dari rumah ini.
"Aku benci sama papa! Aku benci!" batin Syifa yang berjalan keluar rumah itu. Rumah yang hampir 17 tahun ia tempati. Kini ia berakhir seperti ini. Kini ia bingung harus ke mana. Tak ada tempat yang bisa ia tuju sekarang ini.
Anton masuk ke dalam kamarnya. Ia sangat kacau hari ini. Tetapi jika hari ini tidak bertindak tegas, Anton takut Syifa akan melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.
Anton segera merebahkan dirinya di kasur. Diana duduk di samping Anton sambil mengusap lengan Anton.
"Mas, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Diana. Anton menghela napasnya sejenak. Ia menatap Diana dengan lembut lalu beralih untuk duduk.
"Maafkan aku sayang, aku habis mengusir Syifa dari rumah ini," ucap Anton. Diana membulatkan matanya lebar-lebar.
"Kenapa mas? Kenapa kamu tega mengusir Syifa? Kamu tahu kan kalau dia tidak bisa hidup tanpa kita," ucap Diana panik. Anton menangkup wajah istrinya dan mengecup bibirnya dengan singkat.
"Tenanglah, aku punya alasan tersendiri untuk itu. Syifa telah melakukan kesalahan yang besar. Tidak ada hukuman yang lebih buruk dari ini. Dia pantas untuk mendapatkannya," ucap Anton. Diana masih tidak mengerti maksud dari suaminya itu.
"Tidak mas, kasihan Syifa. Kamu harusnya jangan terlalu keras padanya," ucap Diana panik.
"Aku... Aku akan menyusul Syifa dan membawanya kembali," ucap Diana. Ia segera berlari keluar kamarnya.
"Tetap diam di situ atau aku akan membuat Syifa lebih menderita lagi!" ancam Anton dan itu sukses membuat Diana menghentikan langkahnya. Diana berbalik dan menatap suaminya.
"Kenapa mas? Apa yang telah Syifa lakukan hingga membuatmu sangat marah? Syifa adalah anak kita, tidak seharusnya kamu bersikap keras seperti itu!" ucap Diana dengan meninggi.
"Kenapa tidak bisa? Jika Syifa telah berbuat kesalahan apa kamu akan terus membelanya seperti ini? Bahkan jika kamu tahu bahwa Syifa adalah penyebab dari jatuhnya Zara?" ucap Anton ikut emosi. Diana menatap Anton tak percaya.
__ADS_1
"Apa maksud kamu mas?" tanya Diana dan kini mendekat ke arah Anton.
"Syifa yang merencanakan ini semua. Ia cemburu dengan Zara dan bahkan sampai tega melakukan kejahatan ini. Mas tidak ada pilihan lain selain mengusirnya. Mas malu sama Zidan sayang," ucap Anton melemah. Ia merasa gagal mendidik putrinya itu. Diana jatuh terduduk di lantainya. Ia menangis tersedu-sedu mendengar kenyataan ini.