Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 45 (season 2)


__ADS_3

Zara memejamkan matanya sejenak. Ia benar-benar lelah dengan pertengkaran ini.


"Harusnya kita tidak pernah bertemu Zara. Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita yang tidak bisa berpikir dewasa seperti kamu," ucap Zidan tanpa melihat ke arah Zara. Ia terus menatap luar jendela.


Zara menatap Zidan. Ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Zidan. Laki-laki yang ia cintai saat ini.


"Apa kamu bilang?" tanya Zara.


"Seperti yang kamu dengar," jawab Zidan. Ia menyembunyikan genggaman tangannya di saku celananya. Zidan mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Kenapa kamu bilang seperti itu? Kamu menyesal telah mengenalku?" ucap Zara masih tak percaya.


"Maafkan aku Zara. Aku awalnya ingin mempertahankanmu, tetapi kamu sendiri yang tidak bisa mempertahankan hubungan ini," ujar Zidan.


Zara meneteskan air matanya kembali. Ia tak menyangka laki-laki dihadapannya yang selama ini ia percaya akan berkata seperti itu.


"Ternyata aku belum cukup mengenalmu Zidan. Aku pikir, aku adalah satu-satunya. Tapi aku hanya salah satunya. Lantas, ungkapan sayang yang kamu ucapkan padaku barusan hanya sandiwarakah?" batin Zara sedih.


Zara mengusap air matanya dengan kasar. Ia berdiri dan masih menatap tajam ke arah Zidan. Sedangkan Zidan sama sekali tidak menatap Zara.


"Baiklah, jika kamu menyesal telah mengenalku, mulai hari ini kita tidak ada hubungan apapun lagi. Silakan cari wanita lain yang lebih dewasa dan mengerti dengan keadaan kamu," ucap Zara dengan suara bergetar. Ia melangkah keluar ruangan Zidan.


Zidan berbalik menatap Zara. Ia ingin sekali merengkuh Zara. Apa yang ia ucapkan tadi hanyalah keterpaksaan saja. Dada Zidan terasa sesak melihat kepergian Zara. Tetapi ia tidak bisa mencegah Zara untuk pergi.


"Maafkan aku sayang," batin Zidan pilu.


Tanpa Zara sadari, Karina ternyata mengetahui gerak-gerik mereka. Karina memperhatikan Zidan dan Zara cukup lama. Awalnya ia ingin langsung masuk dan melabrak Zara. Namun ketika mendengar apa yang diucapkan Zidan barusan, ia merasa lega.


"Jika bukan karena Karina, aku tidak akan mengatakan hal sejahat itu," batin Zidan.

__ADS_1


Zidan diam-diam menghubungi Fanny.


"Fan, lakukan sekarang! Lindungi Zara dari Karina. Kita lakukan semua sesuai rencana awal," perintah Zidan melalui sambungan telepon.


"Baik tuan muda," jawab Fanny. Kemudian mematikan sambungan teleponnya.


Zara melangkah keluar kantor. Ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Perkataan Zidan masih terngiang ditelinganya.


"Sekarang akupun sadar, bahwa cintamu semu. Aku berharap tak akan pernah bertemu denganmu lagi. Selamat tinggal Zidan. Semoga kamu menemukan wanita yang bisa mengerti tentang kamu. Dan itu bukanlah aku. Aku tidak ingin menjalani kisah cinta yang seperti ini lagi," batin Zara kecewa. Ia segera menuju ke kostnya.


Flashback on...


Zidan terpaksa menemui Karina. Ia jengah dengan tingkah Karina yang terus-terusan mengganggunya.


Saat ini, Zidan dan Karina bertemu di sebuah kafe yang tak jauh dari kantor Zidan. Karina tersenyum licik menatap Zidan yang sudah ada di depannya.


"Kamu memintaku untuk melepaskan Zara?" tanya Karina santai. Zidan sudah dari tadi mengepalkan tangannya. Jika bukan wanita, mungkin Zidan sudah menghajarnya.


"Hahahaha..." Karina tertawa lepas.


"Dia sudah menghalangiku untuk mendapatkanmu. Kalau aku tidak menyingkirkannya, jangan panggil aku Karina. Apapun yang aku inginkan, pasti akan aku dapatkan," ucap Karina yakin. Karina menyibakkan rambutnya ke belakang. Kemudian ia meminum jus yang telah ia pesan sebelumnya.


"Zara tidak salah apapun. Asal kamu melepaskannya, aku akan melakukan apapun untukmu," ucap Zidan serius.


Karina terdiam sejenak. Ia berpikir untuk memanfaatkan kesempatan ini. Ia tidak boleh kehilangan kesempatan emas di depan matanya.


"Baiklah. Aku akan melepaskan Zara asal kamu memenuhi tiga permintaanku," ucap Karina. Zidan mengernyitkan dahinya.


"Apa yang akan wanita ini lakukan," batin Zidan bingung.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Karina memastikan.


"Apa syaratmu?" ucap Zidan datar.


"Aku tidak akan mengatakan sekarang. Asal kamu menuruti tiga permintaanku, aku janji akan melepaskan Zara," ucap Karina santai.


"Aku setuju tapi aku juga punya syarat untukmu!" ucap Zidan tegas.


"Aku menginginkan sebuah dokumen milik ayahmu. Apa kamu sanggup memberikan dokumen itu? Jika lusa kamu berhasil membawakannya untukku, aku akan menuruti apapun syarat yang kamu ajukan," ucap Zidan.


Karina terdiam sejenak. Dokumen apa yang Zidan inginkan hingga membutuhkan bantuannya? Namun karena tergiur dengan tawaran Zidan yang mau menyetujui apapun syarat darinya, membuat Karina setuju dengan syarat yang Zidan ajukan. Lusa, Karina akan membawakan dokumen yang Zidan inginkan. Karina sama sekali tak berpikir panjang.


"Baiklah, kita sepakat untuk ini," ucap Karina ia mengulurkan tangannya. Zidan membalas uluran tangan Karina.


Setelah itu, Zidan keluar meninggalkan kafe tersebut. Dengan menghancurkan bisnis keluarganya, Karina tidak akan bisa melakukan apapun. Tetapi ia harus bersabar terlebih dahulu. Ia belum tahu tiga syarat dari Karina apa saja.


Waktu berlalu, kini Karina sudah berada di ruangan Zidan. Sesuai kesepakatan, Karina membawakan dokumen yang Zidan inginkan. Ia mencurinya dari kantor ayahnya. Bahkan Karina juga tidak melihat atau membaca isi dari dokumen tersebut. Yang ia pikirkan, Karina akan bisa mendapatkan Zidan seutuhnya.


Zidan tersenyum miring. Ia tak percaya akan semudah itu mendapatkan dokumen penting yang beberapa hari ini ia inginkan.


Karina mengajukan syarat yang pertama. Ia meminta Zidan menemaninya makan siang di salah satu kafe dekat kampus Zara. Tetapi ia juga meminta Zidan untuk tidak menceritakan apapun kepada Zara. Zidan tahu apa maksud Karina. Ia ingin Zara tahu jika Zidan sedang jalan dengan wanita lain dan menciptakan pertikaian di antara mereka.


Karena sudah sesuai kesepakatan, Zidan menyetujuinya. Ia berpikir ini adalah syarat yang begitu mudah. Zidan terpaksa menemani Karina makan siang di kafe itu dengan memesan ruangan VIP. Selebihnya kalian sudah tahukan apa yang terjadi selanjutnya? Hehe.


Besoknya, Karina kembali datang ke kantor Zidan. Ia mengajak Zidan untuk menemaninya belanja di mall. Ini adalah syarat kedua dari Karina. Karena masih dibatas wajar, Zidan menyanggupinya.


Tapi siapa sangka, ini justru menjadi petaka dalam hubungannya dengan Zara. Karina menyusun rencana begitu sempurna. Ia menyuruh bawahannya untuk memfotonya bersama Zidan dan mengirimkannya kepada Zara. Karina yakin kali ini Zara akan marah besar kepada Zidan.


Setelah itu berhasil, syarat ketiga adalah memutuskan hubungannya dengan Zara. Zidan harus putus dari Zara bagaimanapun caranya. Dan ternyata tiga syaratnya dipenuhi oleh Zidan. Ia membuat Zara membenci Zidan. Dengan begitu, Karina akan lebih leluasa mendekati Zidan. Ia merasa berhasil memporandakan emosi mereka.

__ADS_1


Flashback off...


__ADS_2