
"Makanlah sayang, ini mommy bawakan makanan kesukaanmu," ucap Alina saat ia melepas pelukannya. Barra mengangguk pelan. Alina menyiapkan makanan itu untuk Barra.
"Mommy suapi ya," ucap Alina menawarkan diri. Barra mengernyitkan dahinya.
"Mom, Barra bukan anak kecil lagi," balas Barra. Ia mengambil alih piring yang berisi makanan yang berada di tangan Alina. Namun Alina menariknya dan ia ingin menyuapi putranya itu. Barra hanya pasrah. Kini Alina mulai menyuapi Barra.
"Hah, bagaimana bisa aku cemburu kepada abangku sendiri? Pasti sikapku tadi sudah membuat Zara tidak nyaman. Aku akan meminta maaf setelah ini saja," batin Barra merasa bersalah. Tak seharusnya ia bersikap demikian.
Sedangkan di kamar, Zara duduk di tepi ranjang. Ia termenung memikirkan sikap Barra tadi. Zidan menghampiri Zara dan duduk di sampingnya.
"Tidak perlu dipikirkan. Mommy akan menyelesaikannya sayang," ujar Zidan. Ia mengusap rambut Zara dan membawanya ke dalam pelukannya. Zara masih terdiam cukup lama.
"Apa kita pindah dari sini saja? Aku tidak mau kalau aku menjadi sebab perpecahan kalian," ucap Zara pelan. Zidan menghela napasnya pelan. Ia juga terkejut dengan sikap Barra tadi, tetapi itu sungguh berdampak buruk pada Zara.
"Mau pindah ke mana? Apartemen?" tanya Zidan memastikan.
"Terserah," balas Zara. Ia nampak sedih. Zara mengeratkan pelukannya. Karena itu mampu membuatnya nyaman.
Zidan menyuruh Zara untuk segera istirahat. Ia tidak ingin Zara terlalu banyak pikiran. Karena itu tidak akan baik untuk kesehatan bayinya. Zara menurut begitu saja. Kini ia sudah berbaring di atas ranjang. Zidan membantu menyelimuti Zara. Ia masih duduk di tepi ranjang sambil mengusap pelan kening Zara agar segera tidur. Sesekali ia mencium kening Zara.
Tak butuh waktu lama, Zara sudah terlelap dalam tidurnya. Zidan perlahan bangkit dan ingin menyelesaikan masalahnya dengan Barra. Ia ingin tahu apa alasan Barra bersikap seperti itu. Dengan pelan Zidan berjalan menuju pintu. Saat ia membukanya, Barra sudah berdiri tepat di depan pintu kamar mereka. Zidan maupun Barra sama-sama diam. Mereka terdiam kaku di tempatnya.
"Bang, aku mau bicara sama Zara boleh?" tanya Barra memecah keheningan. Zidan menatap Zara sekilas. Istrinya sedang terlelap dalam tidurnya, itu tidak akan baik jika Zidan membangunkan Zara saat ini.
__ADS_1
"Dia sedang istirahat. Ada apa?" tanya Zidan.
"Mmm... Aku mau minta maaf bang. Tadi, aku tanpa sadar bereaksi seperti itu," ucap Barra. Zidan menghela napasnya pelan. Ia mengajak Barra ke kamar Barra untuk membicarakan hal ini. Barra menurut dan mengikuti Zidan. Mereka saat ini sampai di kamar Barra. Zidan duduk di sofa dengan santai. Ia tidak marah dengan Barra, namun ia juga tidak bisa mendiamkan masalah ini karena Zara akan terus memikirkan hal itu jika tidak segera diselesaikan. Barra sedikit canggung untuk duduk di dekat Zidan. Ia merasa bersalah dengan sikapnya tadi.
"Bagaimana kamu akan menjelaskannya? Aku tidak habis pikir kamu bisa bersikap seperti itu Barra. Aku dan Zara tidak pernah merebut perhatian mommy. Jika kehadiran kami di rumah ini membuatmu tidak nyaman, aku dan Zara akan pergi dari sini," ucap Zidan. Ia sengaja berucap demikian.
"Tidak, aku sungguh minta maaf bang. Aku terlalu terbawa suasana. Maafkan kesalahan Barra bang," ucap Barra sambil bersimpuh di depan Zidan. Jika Zidan menghukumnya saat itu juga, Barra siap untuk itu.
Zidan tertawa kecil melihat Barra ketakutan seperti itu. Sedangkan Barra hanya mengernyitkan dahinya. Zidan menyuruh Barra untuk duduk di sampingnya.
"Sudahlah, aku tidak mempermasalahkan lagi. Tapi kamu harus meminta maaf secara langsung dengan Zara," ucap Zidan. Ia menepuk bahu Barra cukup keras. Barra mengangguk dan tersenyum.
Mereka akhirnya mengobrol cukup lama. Karena jarang sekali memiliki waktu luang seperti ini. Barra merasa malu dengan tindakannya waktu di meja makan. Tak seharusnya ia melakukan itu. Dan, ia sangat beruntung karena Zidan tidak marah padanya.
***
Zidan mengerjapkan matanya saat mengetahui jika Zara sudah tidak ada di sampingnya. Tatapan Zidan mencari-cari keberadaan Zara. Namun ia tidak menemukan Zara di sekitarnya. Zidan duduk dan bersandar pada ranjangnya.
"Sayang," panggil Zidan. Tak lama setelah itu ia mendengar suara Zara di kamar mandi. Zidan segera menghampiri Zara.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" ucap Zidan sambil mengetuk pintu kamar mandi tersebut.
Zara berjalan keluar kamar mandi. Ia terlihat lemas dan pucat. Zidajn segera memegangi Zara. Ia terlihat cemas.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa," ujar Zara. Zidan membawa Zara kembali ke ranjangnya.
"Apakah itu sakit? Aku panggilkan mommy ya," ucap Zidan. Ia belum berpengalaman menghadapi wanita hamil. Zidan terlalu takut terjadi sesuatu pada Zara atau calon bayinya.
"Tidak perlu sayang. Itu adalah hal wajar, istirahat sebentar nanti juga baikan," balas Zara. Zidan mengusap lembut perut Zara. Ia juga mencium sekilas perut Zara. Zara tersenyum manis melihat betapa lembutnya Zidan memperlakukannya.
"Sayang sini," ucap Zara. Zidan menatap Zara dengan bingung. Zara langsung mencium bibir Zidan. Ia melumatnya dengan lembut. Sedangkan Zidan membelalakkan matanya. Zidan merasa terkejut dengan aksi Zara pagi ini. Namun ia juga membalas ciuman Zara.
"Jangan selalu menggodaku sayang, aku tidak akan bisa menahannya," ucap Zidan saat mereka mengakhiri ciuman itu. Zara tersenyum cantik dan kini membangkitkan gairah Zidan. Namun Zidan juga tidak bisa melakukannya sekarang.
"Mandilah, aku akan siapkan baju kerjamu," ucap Zara. Ia mengecup kening Zidan sekilas. Zara mendorong Zidan agar segera ke kamar mandi untuk bersiap ke kantor.
Setelah selesai menyiapkan baju kerja untuk Zidan, Zara menuju ke dapur untuk membantu Alina menyiapkan sarapan. Saat keluar dari kamar, Zara melihat Barra yang kebetulan keluar kamar juga. Langkah Zara terhenti sejenak. Namun ia segera melangkah kembali.
Barra menghampiri Zara. Mereka saat ini berjalan beriringan menuruni tangga. Zara mengabaikan keberadaan Barra karena ia merasa tidak enak hati.
"Kakak ipar, maafkan kesalahanku kemarin malam, sehingga membuatmu tidak nyaman berada di rumah ini," ucap Barra. Zara menatap Barra bingung. Bukan masalah kemarin yang menjadi pusat perhatiannya sekarang, namun sebutan untuk dirinya.
"Kakak ipar?" ucap Zara lirih. Barra tersenyum tipis.
"Apakah salah?" tanya Barra balik. Seketika pipi Zara merah merona.
"Maaf," ucap Barra lagi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku juga tidak marah dengan hal itu. Lupakan saja," ucap Zara. Barra menghela napasnya lega. Memang Zara adalah wanita baik. Zidan begitu beruntung mendapatkan Zara.
Mereka menuruni tangga dan menuju meja makan. Sekarang kesalahannya telah termaafkan. Ia tidak akan lagi mengulangi hal itu lagi.