Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 111 (season 2)


__ADS_3

Satu bulan berlalu sudah. Hari ini adalah hari di mana keluarga Mahindra memperkenalkan Zara secara resmi sebagai putrinya. Selama ini kejadian hilangnya Zara 20 tahun yang lalu memang tidak pernah dipublikasikan. Hanya orang-orang terdekat mereka yang mengetahui berita ini.


Pesta sederhana ia gelar di kediamannya. Anton dan Diana hanya mengundang beberapa teman bisnis dan koleganya untuk menyaksikan acara itu. Setelah selesai berdandan, Zara keluar dari kamarnya bersama dengan Diana. Para tamu undangan begitu terpesona dengan kecantikan Zara. Mereka berbisik memuji betapa cantiknya Zara hari ini.


Dengan anggun, Zara berjalan menghampiri Zidan yang sedari tadi sudah ada di area pesta itu. Zidan menggenggam Zara dan mereka segera menuju ke panggung kecil yang sudah dipersiapkan. Acara itu dipandu oleh MC dan berakhir dengan sambutan yang diberikan oleh Anton sekaligus memperkenalkan Zara dan Zidan kepada mereka.


"Selamat siang semuanya. Terima kasih atas kedatangannya hari ini. Di sini saya akan mengumumkan bahwa putri dari keluarga Mahindra telah kembali. Zara Mahindra, dan yang di sampingnya adalah suaminya," ucap Anton memperkenalkan diri. Semua bertepuk tangan dengan meriah. Zara menghampiri Anton dan memeluknya sekilas.


"Terima kasih Pa," ucap Zara. Anton mengangguk sambil mengusap rambut Zara dengan lembut.


Acara demi acara mereka lewati bersama. Banyak yang memberikan ucapan selamat kepada Zara. Membuat Zara sedikit canggung dengan keadaan ini. Untungnya, Zidan selalu mendampingi Zara di sisinya.


"Zidan, aku capek," bisik Zara.


"Aku akan bilang sama papa agar kamu bisa istirahat ya," ucap Zidan. Ia ingin menemui Anton namun Zara menahannya.


"Jangan, papa lagi sibuk dengan para koleganya. Aku bisa menahannya sedikit lagi," ucap Zara. Zidan menghela napasnya sejenak.


"Ya sudah, aku temani kamu di sini," ucap Zidan melemah. Ia terus berdiri di samping Zara untuk menemani Zara.


Acara tersebut telah berlangsung kurang lebih tiga jam. Zara merasa sedikit pusing namun ia tahan demi keluarganya. Zara tidak ingin membuat keluarganya kecewa karena dirinya. Zidan yang menyadari bahwa Zara tidak baik-baik saja langsung menuntun Zara untuk duduk sejenak. Ia langsung mengambilkan Zara minuman. Zara langsung meneguknya sampai habis.


"Jangan memaksakan diri jika tidak kuat," ucap Zidan yang berada di samping Zara.


"Aku hanya sedikit pusing saja. Mungkin karena kelelahan," jawab Zara.

__ADS_1


Diana menghampiri Zara. Ia khawatir dengan keadaan Zara yang terlihat pucat dan lemas. Diana meminta Zara untuk istirahat di kamar dan tidak melanjutkan lagi acara ini. Zidan menuntun Zara menuju kamarnya dan menemani Zara istirahat.


"Mama tidak bisa menemanimu di sini sayang. Mama harus menyambut para tamu terlebih dulu," ucap Diana. Zara mengangguk pelan.


"Biar Zidan yang temani Zara Ma," ucap Zidan. Diana lega jika Zara ada yang menemani. Diana pamit keluar untuk menyambut kembali para tamunya.


"Zidan sini," ucap Zara sambil menepuk kasurnya. Zidan duduk di samping Zara dan ikut bersandar pada ranjang. Zara memeluk Zidan dengan manja. Zidan membalas pelukan itu sambil mengusap punggung Zara dengan lembut.


Sorenya, acara tersebut benar-benar sudah selesai. Arvin dan Alina ingin pamit pulang. Namun mereka tidak melihat di mana Zara dan Zidan.


"Diana, di mana Zara dan Zidan? Aku tidak melihatnya dari tadi," tanya Alina.


"Tadi Zara mengeluh tidak enak badan. Jadi dia istirahat di kamarnya bersama Zidan," jawab Diana. Alina mengangguk paham. Mereka pamit pulang tanpa memberitahu Zidan dan Zara. Karena mereka mengira mungkin Zara lelah dan butuh istirahat.


"Kenapa? Capek?" tanya Anton dan ia duduk di samping Diana. Diana menghela napasnya pelan.


"Iya mas, akhirnya acaranya selesai juga," jawab Diana. Mereka menuju ke kamar untuk istirahat sejenak.


Zara menggeliat kecil sembari membuka matanya. Tiba-tiba ia merasa mual dan perutnya sakit. Zara segera menuju ke kamar mandi untuk memuntahkannya. Zara mengira jika ia hanya kelelahan saja sehabis acara tadi. Kemudian ia beralih menuju almari untuk mengambil baju ganti. Setelah berganti pakaian, ia turun ke bawah untuk mencari makanan yang masih tersedia. Ia merasa lapar, karena tadi siang ia belum sempat makan.


"Nona mau apa? Biar bibi ambilkan," ucap bi Tia yang melihat Zara berada di dapur.


"Eh bibi, Zara mau makan bi. Zara lapar," jawab Zara.


"Biar bibi siapkan, nona duduk saja," ucap bi Tia. Zara mengangguk dan segera duduk di ruang makan. Tanpa sadar Zara mengusap perutnya berulang kali sambil menunggu makanan yang disiapkan bi Tia.

__ADS_1


"Ini nona makanannya," ucap bi Tia sambil menyajikannya di atas meja. Mencium aroma masakan itu membuat Zara merasa mual. Zara berlari menuju wastafel untuk memuntahkannya.


"Nona kenapa?" tanya bi Tia panik.


"Tidak apa-apa bi, hanya tidak enak badan saja," jawab Zara. Ia kembali duduk di ruang makan. Zara mengambil segelas air putih dan meneguknya. Makanan di depannya itu sudah tidak ada niatan untuk memakannya lagi.


"Bi, maaf. Bisakah bibi buatkan Zara bubur saja?" ucap Zara. Bi Tia mengangguk dan segera membuatkan bubur untuk Zara.


Zara berpikir sejenak. Dua hari ini ia sempat mual saat bangun tidur atau mencium bau yang menurutnya aneh. Ia juga terkadang menginginkan memakan sesuatu tanpa sadar. Zara mengernyitkan dahinya dan mengusap perutnya dengan lembut.


"Apakah aku sedang hamil? Tapi, jika aku memberitahu Zidan takutnya itu hanya asumsiku saja," batin Zara bingung. Ia akan merasa senang jika memang benar hamil. Tapi ia juga belum yakin. Terlebih lagi tanda-tandanya terlalu umum.


"Ini buburnya nona," ucap bi Tia menyadarkan Zara dari lamunannya. Zara mengambil makanan tersebut dan segera memakannya. Zidan tiba-tiba memeluk Zara dari belakang dan mengecup pipinya sekilas.


"Apa perutmu bermasalah lagi? Bagaimana kalau kita periksa ke dokter," ucap Zidan.


"Iya," jawab Zara singkat. Zidan duduk di samping Zara dan terus memperhatikannya saat sedang makan bubur. Zara tidak keberatan akan hal itu. Ia justru nyaman dengan tatapan suaminya itu.


Setelah itu, Zara dan Zidan duduk di ruang keluarga. Zara ingin menonton acara kesukaannya. Karena tidak ada kerjaan, Zidan menemani Zara. Zara bersandar pada Zidan. Zidan mendekap Zara sekaligus memainkan rambutnya sambil fokus pada acara TV yang mereka tonton.


"Jadi periksa ke dokter? Kalau iya, aku hubungi Jack dulu," ucap Zidan. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Jack.


"Aku rasa tidak perlu ke dokter dulu deh. Perutku sudah membaik setelah makan bubur tadi," jawab Zara.


"Benarkah? Kamu nggak lagi bohong sama aku kan?" tanya Zidan tak percaya. Zara mengangguk dengan cepat. Akhirnya Zidan menuruti kemauan Zara untuk tidak cek ke dokter dulu.

__ADS_1


__ADS_2