
Tiga hari berlalu. Zara sama sekali tidak menghubungi Zidan begitu juga sebaliknya. Mereka sama-sama diam. Zara terlalu gengsi untuk menghubungi Zidan. Sedangkan Zidan bingung bagaimana cara menjelaskan rencananya kepada Zara.
Setiap kali pulang kuliah, ia selalu mengurung dirinya di kamar. Zara merasa tak semangat belakangan ini. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar. Hanya beberapa kali keluar kost untuk membeli makanan. Itupun ia beli lewat gofood.
Zara meringkuk di atas kasurnya sambil memeluk bantalnya. Ia menscroll ponselnya. Ia melihat-lihat kembali pesannya dengan Zidan waktu dulu. Sungguh, ia ingin bicara kembali dengan Zidan dan tidak saling mendiamkan seperti ini.
Tiba-tiba saja satu pesan masuk ke ponselnya. Tertera nomor tidak dikenal. Zara mengernyitkan dahinya. Ia membuka pesan tersebut yang ternyata sebuah foto Zidan dan Karina yang tengah berduaan di sebuah mall. Terlihat mereka begitu mesra. Foto tersebut diambil secara diam-diam dari samping. Meskipun posisi Zidan dan Karina difoto tersebut agak jauh, namun Zara masih bisa mengenali mereka.
'Siapa?' tanya Zara. Ia bahkan tidak mengenal siapa yang mengirim pesan tersebut.
'Seseorang yang akan membantumu. Kamu tenang saja, aku tidak berniat buruk padamu. Justru aku kasihan kepadamu.' balas nomor tersebut.
Zara membanting ponselnya di kasurnya. Napasnya naik turun yang menandakan ia saat ini sedang marah.
"Dua kali kamu jalan sama Karina. Zidan, apa yang akan kamu jelaskan kali ini? Masihkah ada aku dihatimu? Ataukah aku sudah tergantikan oleh Karina?" batin Zara sedih. Ia meneteskan air matanya. Zara meringkuk sambil memeluk lututnya.
"Tidak Zara. Kamu tidak boleh menangis. Ayo ke kantor dan minta penjelasan kepada Zidan," gumam Zara. Ia bangkit sambil mengusap sisa air matanya. Zara bersiap untuk ke kantor dan meminta penjelasan untuk kedua kalinya. Ia tidak bisa seperti ini terus menerus.
Tak lama, Zara sudah sampai di kantor Zidan. Ia segera masuk ke ruangan Zidan. Zara hanya minta kepastian dan penjelasan dari Zidan.
Brakk
Zara membuka pintu ruangan Zidan dengan kasar. Ia tak peduli lagi jika ia kena marah ataupun diusir nantinya karena bersikap tidak sopan. Zara berjalan menghampiri Zidan yang masih terduduk di kursi kerjanya. Zidan terkejut dengan kedatangan Zara kali ini.
__ADS_1
"Kamu jalan lagi sama wanita itu?" tanya Zara tanpa basa-basi. Ia bahkan lupa jika Zidan adalah CEO perusahaan ini. Bisa saja ia dituntut karena bersikap kurang ajar. Namun disisi lain, Zidan adalah kekasihnya. Ia merasa berhak untuk menanyakan kebenaran ini. Kebenaran yang selalu menakutinya.
"Iya," jawab Zidan singkat.
Zara membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tak percaya jika Zidan akan mengakuinya secepat itu.
Zara perlahan mendekati Zidan. Ia ingin memastikan segalanya hari ini. Apa yang terjadi nantinya, ia akan siap menerimanya hari ini juga.
"Kenapa kamu nggak bilang sama aku? Aku adalah pacar kamu. Aku berhak tahu masalah apa yang sedang kamu hadapi Zidan," ujar Zara. Zidan masih terdiam. Ia memijat pelipisnya dengan pelan.
"Kamu sekarang jujur sama aku. Kamu punya hubungan apa sama Karina?" tanya Zara tak sabar. Ia mulai emosi. Amarah yang ia tahan sedari tadi kini kian memuncak.
Zidan menghela napasnya pelan.
"Setiap kali aku tanya sama kamu, kamu selalu jawab seperti itu. Kenapa kamu susah sekali untuk menceritakannya kepadaku Zidan? Oke, kalau soal bisnis aku memang tidak bisa membantumu. Tapi setidaknya kamu cerita sama aku Zidan, bukan mendiamkanku seperti ini!" ungkap Zara.
"Ya memang tidak ada apa-apa Zara! Aku tidak pernah punya hubungan apapun dengan Karina. Bagaimana aku menjelaskan ini agar kamu mengerti, hmm? Kamu cukup percaya sama aku Zara, aku tidak pernah mengkhianatimu," Kini Zidan juga terbawa dengan emosinya.
"Bohong!" sahut Zara lantang.
Zidan mengusap wajahnya kasar. Ia beranjak dari tempat duduknya. Kepalanya begitu pening. Ia tidak ingin melanjutkan lagi pertengkaran ini.
"Zara cukup! Aku tidak mau bertengkar gara-gara masalah sepele seperti ini," ucap Zidan. Ia ingin menyudahi pertengkaran yang tiada ujungnya.
__ADS_1
Zara menatap Zidan dengan lekat. Ia tak habis pikir. Bagaimana bisa Zidan menganggap ini hanyalah masalah sepele.
"Kamu bilang masalah sepele? Kamu tahu? Akhir-akhir ini kamu semakin susah dihubungi. Kamu sadar nggak kamu itu salah? Kamu memintaku untuk percaya, oke aku percaya penuh sama kamu. Tapi dua kali kamu menghancurkan kepercayaanku Zidan," ucap Zara semakin lirih. Ia hampir tak kuasa menahan tangisnya. Matanya sudah berkaca-kaca.
Zidan menghampiri Zara. Ia tidak tega melihat Zara yang begitu sedihnya karena itu.
"Aku tidak seperti itu sayang. Aku sayang sama kamu. Aku tidak cerita karena aku punya alasan lain. Jangan sedih, oke?" ucap Zidan berharap Zara lebih tenang. Ia menuntun Zara untuk duduk di sofa.
"Tapi nyatanya kamu terus menyakitiku Zidan. Kamu juga tidak pernah cerita sama aku. Yang lebih menyakitkan lagi, aku tahu itu semua dari orang lain. Kamu tahu?" ucap Zara pelan.
"Aku juga tidak ingin seperti ini. Aku hanya takut jika kamu menghianatiku," sambung Zara lagi. Kini air matanya benar-benar luruh. Ia tak bisa menyembunyikannya terlalu lama lagi.
Zidan berlutut di depan Zara yang masih duduk di sofa. Tak ada sedikitpun tersirat dihatinya untuk mengkhianati Zara.
Zidan menatap Zara dengan intens. Ia menyeka air mata Zara yang membasahi pipinya dengan lembut.
"Jangan menangis lagi. Setiap kali kamu meneteskan air matamu dan itu karena aku, hatiku juga sakit Zara. Bahkan lebih sakit dari apa yang kamu rasakan. Percayalah padaku Zara. Aku tidak akan mengkhianatimu. Apapun yang akan aku lakukan nanti, kamu harus tetap percaya kepadaku," tutur Zidan dengan lembut. Ia mencium punggung tangan Zara. Zara hanya terdiam mendengar ucapan Zidan.
Zidan beralih duduk di samping Zara. Ia mengecup kening Zara cukup lama. Ia melakukannya dengan lembut sekali. Zidan memeluk Zara dengan erat.
"Zara, aku mohon kamu mengertilah keadaanku. Ini semua kulakukan demi hubungan kita," ucap Zidan yang masih memeluk Zara.
"Mengerti? Kamu jalan sama wanita lain aku mencoba diam kan? Kamu kencan dengannya dan kamu bilang itu hanya urusan bisnis aku mencoba bertahan. Di mananya aku tidak mengerti kamu Zidan?" ucap Zara penuh penekanan. Seolah amarah yang telah reda bangkit lagi. Zidan menatap Zara dengan lekat.
__ADS_1
"Aku pikir kamu bisa bersikap dewasa. Namun nyatanya?" ucap Zidan. Ia berdiri dan berjalan menuju dekat jendela. Zara memperhatikan setiap langkah Zidan dengan lekat.