Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 81 (season 2)


__ADS_3

Sudah satu minggu Zara tidak masuk kuliah. Bukan karena takut pada teman-temannya, namun karena Zara butuh waktu untuk memulihkan diri. Goncangan itu sangat berpengaruh padanya. Zara terlihat tertekan dan gelisah. Itu akan berdampak pada kehamilannya. Selama di rumah pula, Zara lebih sering menghabiskan waktu bersama Alina jika Zidan berangkat kerja.


Hari ini hari ia kuliah lagi. Zara sudah lebih baik dari biasanya. Ia diantar oleh Zidan, karena mereka akan cek up kandungan setelah Zara pulang kuliah. Beberapa hari yang lalu terpaksa Zidan batalkan dan hanya mengundang dokter tersebut ke rumahnya. Hari ini, mereka akan tahu jenis kelamin calon bayi mereka.


"Kamu hati-hati ya. Terus sama Raffa saja biar aman," ucap Zidan. Ia mengecup kening Zara.


"Iya, kamu juga hati-hati," balas Zara. Ia mencium pipi Zidan.


"Aku tungguin sampai Raffa datang deh. Aku khawatir sama kamu," ucap Zidan. Mereka masih berada di dalam mobil. Zidan menunggu kedatangan Raffa di parkiran kampus. Mau tidak mau Zara mengiyakan keinginan Zidan.


Selang beberapa menit, Raffa sudah memarkirkan mobilnya. Zara dan Zidan turun dari mobil. Mereka menghampiri Raffa yang baru saja keluar mobilnya.


"Titip Zara. Jagain!" ujar Zidan. Raffa tersenyum tipis dan mengangguk. Setelah itu, Zara dan Raffa pamit kepada Zidan untuk menuju ke kelas mereka. Zidan menatap sampai mereka menghilang dari pandangannya. Baru ia melajukan mobilnya menuju kantornya.


Sampai di dalam kelas, semua temannya takut pada Zara. Mereka memilih untuk diam daripada bernasib sama seperti Rinda dan Fara. Memang tidak sampai dikeluarkan dari kampus, namun hukuman yang Fanny berikan cukup membuat mereka takut dan tidak berani lagi mencari masalah dengan Zara. Bahkan Rinda dan Fara memilih untuk pindah kelas daripada bertemu dengan Zara setiap hari.


Kelas dimulai, semua mendengarkan penjelasan dari dosen. Suasana hening saat dosen memberikan beberapa materi hari ini. Hingga sampailah jam terakhir. Saat ini mereka sudah selesai dengan kelasnya.


Raffa dan Zara berjalan sebentar sambil menunggu Zidan datang menjemput Zara. Raffa menemani Zara ke manapun Zara ingin pergi. Saat ini, Zara ingin makan di salah satu kafe dekat kampusnya. Ia ingin sekali makan seafood. Raffa menemani Zara dan mereka menuju kafe yang Zara inginkan.


***


"Nyonya, mau sampai kapan Anda di sini?" tanya asisten nyonya Diana. Karena hampir satu jam nyonya Diana berada di kafe tersebut.


Nyonya Diana menghela napasnya pelan. Ia kembali termenung dalam pikirannya. Ochie, asisten nyonya Diana yang hampir sepuluh tahun mengikuti nyonya Diana.


"Aku kangen sama Ziva. Aku menyesal telah meninggalkannya waktu kecil dulu Chie," ujar nyonya Diana. Ia terlihat begitu menyedihkan. Bahkan berkali-kali ia menyeka air matanya yang hampir tumpah.

__ADS_1


"Anda pasti akan menemukannya kembali nyonya," balas Ochie. Nyonya Diana mengangguk.


Karena kelalaiannya, ia kehilangan putrinya. Putri kesayangan keluarga Mahindra. Selama ini nyonya Diana berusaha mencari keberadaan putrinya. Namun tetap saja tidak menemukannya. Setiap hari nyonya Diana selalu berkunjung di kafe dekat kampus Zara. Siapa tahu ia bisa menemukan putrinya yang hilang di sana.


"Gadis itu..." gumam nyonya Diana sambil menatap Zara yang baru masuk ke kafe bersama Raffa.


"Kenapa aku rasanya sangat dekat dengan gadis itu?" gumam nyonya Diana lagi. Ia terus memperhatikan ke arah meja Zara yang kebetulan tak jauh dari tempat duduknya.


"Nyonya? Sebaiknya kita pergi dari sini secepatnya," ujar Ochie. Nyonya Diana menatap asistennya. Lalu ia berdiri dan pergi dari kafe itu.


Di sisi lain, Zara sedang lahap makan makanan yang sedari tadi ia inginkan. Raffa hanya memesan minuman saja. Tak lama setelah itu, ponsel Zara berdering. Ternyata Zidan sudah sampai di kampus dan sedang menunggu Zara dan Raffa. Zara meminta Zidan untuk ke kafe dekat kampusnya karena Zara sedang berada di sana. Tak butuh waktu lama, Zidan sudah sampai di meja mereka.


"Hai sayang, lagi makan apa?" tanya Zidan. Ia mengecup kening Zara sekilas lalu duduk di samping Zara.


"Ini, kamu mau?" jawab Zara. Zidan menggeleng. Setelah Zara menghabiskan makanannya, Zidan langsung membawa Zara menuju rumah sakit. Tentunya mereka juga sudah pamit pada Raffa dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


"Berjalan dengan baik. Mereka tidak menggangguku lagi," jawab Zara. Ia menyentuh lengan Zidan dengan lembut. Zidan tersenyum dan mengangguk paham.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Zara.


"Tidak menarik sama sekali," jawab Zidan. Zara mengernyitkan dahinya karena tidak paham.


"Karena tidak ada kamu di sampingku seperti dulu," lanjut Zidan. Zara tertawa kecil. Bisa-bisanya Zidan menggodanya.


Mereka sampai di rumah sakit. Zidan dan Zara menuju ke ruangan dokter kandungan yang sudah ia pesan sebelumnya. Kini sampai di ruangan dokter tersebut, Zara segera diperiksa untuk mengetahui perkembanhan calon bayinya. Dokter itu tersenyum ramah saat sudah selesai memeriksa Zara.


"Bagaimana dok?" tanya Zidan. Dokter itu tersenyum.

__ADS_1


"Tidak ada masalah, semuanya normal," jawab dokter tersebut.


"Lalu jenis kelaminnya?" tanya Zidan.


"Perempuan tuan," jawab dokter itu. Zara dan Zidan saling menatap. Mereka sama-sama tersenyum.


Setelah berkonsultasi, Zara dan Zidan pamit. Dokter juga memberikan beberapa vitamin untuk Zara. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Sesampainya di dalam mobil, Zara bersandar di kursi yang ia duduki. Zara mengusap lembut perutnya dan tersenyum tipis. Begitu juga Zidan, ia merengkuh Zara dan mencium kening Zara. Zidan menatap Zara dengan lembut.


"Setelah ini mau ke mana?" tanya Zidan. Zara berpikir sejenak.


"Bukankah kamu harus kembali ke kantor?" ujar Zara. Zidan menghela napasnya pelan. Ia melajukan mobilnya.


"Kamu ikut ke kantor saja ya," ucap Zidan. Zara mengangguk. Mereka menuju ke kantor. Zara sudah lama tidak berkunjung ke kantor setelah pernikahannya.


Saat ini mereka sudah berada di kantor. Zidan melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Zara duduk di sofa sambil memperhatikan suaminya.


"Kalau kamu terus memperhatikanku, aku jadi tidak bisa fokus dengan pekerjaanku sayang," ujar Zidan. Zara tertawa kecil. Ia menghampiri Zidan dan memeluknya dari belakang.


"Kamu sedang mencoba menggodaku?" tanya Zidan sambil melirik Zara. Zara menggeleng pelan. Ia mengecup pipi Zidan sekilas.


"Lalu ini?" tanya Zidan sambil mengernyitkan dahinya.


"Memberikan kamu semangat," jawab Zara. Ia melepas pelukannya dan ingin kembali ke sofa lagi. Namun Zidan menariknya hingga Zara duduk di pangkuan Zidan.


"Di sini saja," ucap Zidan. Ia melingkarkan tangannya untuk menahan Zara agar tidak pergi.


"Lalu pekerjaanmu?"

__ADS_1


"Biarkan saja," balas Zidan. Ia menarik tengkuk Zara dan mencium bibir Zara dengan lembut. Zara pun juga membalasnya.


__ADS_2