Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 10 (season 2)


__ADS_3

Dengan langkah gontai Zara memasuki kedai kopi itu. Dirinya tadi melajukan motornya lumayan kencang. Ia hanya ingin segera sampai di kedai ini.


Beberapa pengunjung yang mengenalnya menyapa dan hanya dijawab senyuman manis dan anggukan darinya.


"Ada apa? Apakah ada masalah?" tanya Fitri saat melihat Zara sedikit melamun.


"Nggak ada kok mbak. Ini kunci dan surat motornya mbak," ucap Zara dan menyerahkan kunci tersebut ke Fitri.


"Eh, kenapa dikembalikan? Pak Ramdhani memfasilitasimu motor. Jadi pakek saja motor itu," ucap Fitri santai. Ia sambil membuatkan kopi untuk pelanggan.


"Maksudnya bagaimana mbak? Aku nggak paham," ujar Zara. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Motor itu kamu bawa pulang. Jadi setiap hari kamu ke sininya naik motor itu. Lumayankan, daripada naik ojek online terus," jawab Fitri santai.


Zara masih bingung. Lebih bingung lagi dengan sikap pak Ramdhani. Seolah sikap pak Ramdhani berubah drastis.


"Sudah nggak usah bengong. Ayo lanjut kerja," ujar Fitri dan menepuk bahu Zara. Zara tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.


Pikirannya masih terisi oleh perubahan sikap pak Ramdhani padanya. Hari ini ia diperlakukan berbeda dari biasanya. Pak Ramdhani juga tidak segan untuk menaikkan gajinya.


Sedangkan di kantor, Zidan masih bersandar di kursi kerjanya. Tangannya memegang cup kopi itu sambil memandanginya. Ia bahkan sudah berjam-jam dalam posisi seperti itu.


"Apa yang istimewa dari kopi ini? Hanya kopi biasa saja. Apa yang membuatku sampai ingin meminumnya setiap hari?" ujar Zidan pelan. Ia masih memerhatikan cup tersebut.


"Itu karena Anda tertarik dengan nona Zara tuan muda," gumam Fanny yang berdiri tak jauh dari Zidan.


"Fan, apa kau sudah menyelesaikan tugas yang aku berikan?" tanya Zidan dan melirik Fanny sekilas.


"Iya. Saya sudah mendapatkan beberapa info mengenai nona Zara," jawab Fanny sopan.

__ADS_1


"Katakan!"


"Nona Zara tinggal di salah satu kost dekat kampusnya. Setiap hari nona bekerja part time di kedai kopi 'Tentang Rasa'. Nona Zara juga kuliah di salah satu Universitas ternama di kota ini. Nona sama sekali tidak memiliki teman atau sahabat. Nona juga berasal dari panti asuhan. Asal usul keluarganya belum diketahui. Setiap hari kerja banting tulang untuk menghidupi dirinya sendiri."


Fanny menghela napasnya sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


"Untuk saat ini nona tidak punya kekasih. Ada satu pria anak dari kedai tersebut yang sudah lama suka dengan nona. Tetapi nona tidak pernah menghiraukannya. Nona orangnya juga pendiam," ucap Fanny.


Zidan terdiam cukup lama. Senyumnya terukir dibibirnya begitu manisnya.


"Lalu, bagaimana hubungannya dengan teman kerjanya? Apakah baik?" tanya Zidan.


"Selama ini hubungan nona dengan rekan kerjanya baik-baik saja. Tidak ada masalah sama sekali tuan muda," jawab Fanny. Zidan mengangguk paham.


Betapa menyedihkannya kehidupan Zara. Ia harus bekerja keras demi tetap bisa makan. Tak seperti wanita pada umumnya yang selalu bermanja meminta uang pada orang tuanya.


"Kenapa rasanya hatiku sakit jika aku mendengar dirinya telah bekerja keras selama ini demi hidupnya. Kenapa aku begitu kesal saat aku mendengar kisah hidupnya? Ada apa dengan diriku," gumam Zidan tak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini. Ia ingin melindungi wanita itu. Membahagiakannya dan menjaga senyumnya.


"Tidak tuan muda," jawab Fanny. Zidan mengangguk paham.


Zidan kembali menikmati kopinya. Ia harus memikirkan cara bagaimana agar Zara mau beralih bekerja di perusahaannya. Membayangkan beratnya pekerjaan yang dijalani Zara saja sudah membuatnya kesal. Zidan mengetukkan telunjuknya di atas meja.


"Fan, aku ingin Zara bekerja di sini bagaimanapun caranya," ujar Zidan memecah keheningan.


"Tapi tuan muda, nona~" belum


"Aku tidak suka bantahan," sela Zidan.


"Baik, akan saya atur nanti," jawab Fanny pasrah.

__ADS_1


Tak lama, Aletta selaku sekretaris pribadi Zidan datang untuk memberitahukan bahwa tuan Raymond datang untuk membahas masalah kerjasama dengan perusahaannya. Jika tuan Raymond bukanlah klien yang sangat berpengaruh, ia tidak ingin menjalin kerjasama ini. Apalagi dengan adanya syarat aneh yang harus Zidan setujui sebelum tanda tangan kontrak tersebut. Zidan harus setuju menjadi pendamping putrinya saat acara ulang tahun yang ke 24. Sebenarnya Zidan sama sekali tak ingin menghadiri acara tersebut.


"Suruh tuan Raymond menunggu di ruang rapat. Saya akan ke sana sebentar lagi," ucap Zidan. Aletta mengangguk dan segera memberitahukan pada tuan Raymond.


"Tuan muda. Apa Anda ingin menyetujui syarat yang diajukan oleh tuan Raymond?" tanya Fanny. Ia bisa melihat jelas aura kemarahan dalam diri Zidan.


"Kalau kita tidak menyetujuinya, kita akan rugi besar Fan. Mungkin aku akan mengambil langkah ini demi perusahaan ini," jawab Zidan.


Zidan berdiri dan segera melangkah menuju ruang rapat. Sebenarnya ini bukan jam kerja lagi. Hari sudah semakin malam. Entah angin apa sehingga tuan Raymond menemuinya di luar jam kerja seperti ini.


Zidan masuk ke ruang rapat tersebut. Ia hanya ditemani oleh Fanny, karena Aletta sudah izin pulang duluan. Zidan mendudukkan dirinya dengan angkuh. Ia tidak ingin basa-basi dengan orang yang ada dihadapannya ini.


"Ada apa?" tanya Zidan datar. Tuan Raymond tersebut tersenyum lebar.


"Bagaimana dengan syarat yang saya ajukan kemarin Zidan? Saya harap kamu bisa mempertimbangkan lagi," ujar tuan Raymond santai.


"Baiklah. Tapi saya ingin kita menandatangani kontraknya sekarang juga," jawab Zidan. Ia menatap tajam ke arah tuan Raymond.


"Tidak masalah. Asal kamu menepati janjimu," ujar tuan Raymond. Ia menyeringai ke arah Zidan.


"Aku Zidan tidak akan mengingkari janjiku. Tuan Raymond tenang saja," jawab Zidan penuh penekanan. Tuan Raymond tersenyum puas. Mereka mengobrol sejenak membicarakan seputar kerjasamanya. Dan pertemuan itu berakhir dengan ditandatanganinya surat kontrak.


Setelah pertemuan itu, mood Zidan berantakan. Ia benar-benar kesal hari ini. Sepanjang perjalanannya menuju mobil mukanya begitu dingin dan datar.


"Tuan muda, apa Anda ingin pergi ke kedai kopi lagi?" tanya Fanny. Siapa yang tahu jika Zidan pergi ke sana moodnya akan membaik.


"Tidak perlu! Kita pulang saja," ujar Zidan. Fanny mengangguk dan melajukan mobilnya ke apartemen Zidan.


Sampai di apartemen juga Zidan langsung menuju kamarnya dan mendinginkan pikirannya di kamar mandi. Ia berendam di bathup cukup lama. Bahkan ia tak peduli dengan Fanny yang masih berada di apartemennya. Apa yang dilakukan orang itu ia tak peduli. Zidan hanya butuh ketenangan saat ini.

__ADS_1


"Zara..." gumam Zidan lirih setengah sadar. Ia masih memejamkan matanya. Menikmati wanginya sabun yang mampu membuatnya rileks. Entah kenapa hanya nama itu yang terlintas dalam benaknya. Bukan mommy nya atau siapapun.


__ADS_2