
Semalam Zara pulang larut dengan Zidan. Hari ini ia tidak masuk satu mata kuliah. Ia bangun kesiangan dan nanggung jika ia berangkat sekarang. Akhirnya, ia memutuskan untuk ke kantin kampus sambil menunggu jam mata kuliah selanjutnya.
Ia menikmati bakso yang ia pesan. Karena terburu-buru, ia belum sempat sarapan. Sejak tadi malam, Zara teringat dengan panti asuhan yang sudah membesarkannya sampai sebesar ini. Ia ingin berkunjung ke panti asuhan itu. Namun ia sudah lama tak ke sana. Ia juga tidak tahu bagaimana kabar teman dan ibu yang mengasuhnya saat ini.
'Zidan, hari ini aku izin tidak masuk kerja boleh?' Zara mengirimkan pesan untuk Zidan.
'Ada apa?' Tak sampai lima detik, Zidan sudah membalas pesan tersebut.
'Ada urusan sedikit. Aku ingin berkunjung ke panti asuhan setelah pulang kuliah nanti.' balas Zara.
'Baiklah. Apa perlu aku temani?' balas Zidan.
'Tidak perlu. Kamu selesaikan pekerjaanmu. Aku merindukanmu. I love you.' balas Zara.
Zidan tersenyum tipis saat menerima pesan tersebut. Kemudian ia memasukkan ponselnya kembali ke saku jasnya. Zidan melanjutkan pekerjaannya.
Zara mengembangkan senyumnya. Ia masih tak percaya jika ia sekarang menjadi pacar Zidan. Namun ia juga tidak ingin memanfaatkan kekayaan dan ketenaran Zidan untuk dirinya. Sampai saat inipun ia belum mengetahui alasan Zidan mencintainya seperti sekarang ini.
Namun dihati kecilnya yang paling dalam tersirat perasaan khawatir. Hubungannya apakah akan berjalan lancar mengingat status sosial mereka yang berbeda. Zara belum pernah bertemu secara langsung orang tua Zidan. Ia hanya tahu lewat cerita Zidan bahwa orang tuanya adalah orang yang baik. Mereka tak pernah membedakan orang karena status sosialnya.
Meskipun belum genap satu bulan mereka jadian, tetapi Zidan beberapa kali sempat menawarinya untuk menemui orang tua Zidan. Namun Zara merasa belum siap.
Tak terasa, sekarang sudah masuk jam mata kuliah kedua. Ia bersiap untuk ke kelasnya. Setelah membayar bakso yang telah ia makan tadi, Zara bergegas melangkah menuju kelasnya.
"Dari mana saja kamu?" tanya Rinda yang kebetulan berdiri di tengah pintu. Ia memandang Zara dengan kesal.
"Bukan urusan kamu kan," jawab Zara datar. Ia segera masuk ke dalam kelasnya.
__ADS_1
"Zara tunggu!" ucap Rinda menahan tangan Zara. Zara berbalik dan kini mereka saling berhadapan. Zara memang bersikap acuh dengan teman sekelasnya. Mengobrol dengan mereka saja sangat jarang baginya karena dulu ia harus bekerja sana-sini demi hidupnya.
"Aku tuh nggak habis pikir ya. Bisa-bisanya bu Nirmala memberikan kesempatan padamu satu kelompok dengan Raffa," ucap Rinda kesal.
"Apa? Maksud kamu?" tanya Zara bingung. Hari ini ia tidak mengikuti kelas waktu bu Nirmala mengajar. Jadi dia tidak tahu apa-apa.
Semua teman kelasnya melihat Zara dan Rinda yang sedang beradu mulut. Rinda menyukai Raffa sejak pertama masuk kuliah. Tetapi ia tidak berani dan tidak punya kesempatan untuk mendekati Raffa. Sikap Raffa yang dingin dan tak banyak bicara membuatnya semakin takut. Rinda selalu berharap saat presentasi atau tugas akhir satu kelompok dengan Raffa. Nyatanya sampai semester empat ini ia tidak pernah punya kesempatan itu.
"Iya, tadi bu Nirmala membagikan tugas akhir untuk mata kuliah beliau. Seperti semester sebelumnya, bu Nirmala membagi beberapa kelompok dan satu kelompok dua orang. Dan kamu satu kelompok dengan Raffa. Kenapa harus kamu? Aku tahu kamu pasti punya cara yang licik kan?" ucap Rinda semakin kesal. Bahkan ia secara terang-terangan berkata seperti itu dan di depan Raffa pula.
Zara yang tahu apa-apa hanya memutar bola matanya dengan malas. Ia baru saja tiba di kelasnya dan langsung mendapat tuduhan seperti itu.
"Aku saja baru datang ke kelas loh," jawab Zara.
"Kamu yaa..." ucap Rinda dengan geram. Ia mengepalkan tangannya menahan emosinya.
"Haih, aku saja jarang berkomunikasi dengannya, ini justru satu kelompok. Canggung banget gak sih," batin Zara sedih.
Tak lama, jam kedua dimulai. Dosen mulai mengajar di kelas. Tak banyak materi hari ini karena hampir mendekati UAS.
Setelah selesai, Zara memilih berdiam sejenak. Ia ingin membahas tugas dengan Raffa dan memastikan jika ia satu kelompok dengan Raffa. Di kelas tinggal mereka berdua. Zara mendekati Raffa yang sedang mengemas barangnya.
"Hai Raffa," sapa Zara canggung. Raffa menatap Zara sekilas. Ia berdiri di dekat Zara.
"Maaf tadi aku tidak masuk saat jam mata kuliah bu Nirmala. Aku hanya ingin tanya tugas akhirnya seperti apa ya?" tanya Zara hati-hati.
Raffa mengeluarkan bukunya. Ia mengatungkan tangan kirinya. Zara menatap Raffa bingung.
__ADS_1
"Pinjam ponselmu," ucap Raffa.
"Oh," jawab Zara singkat. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Raffa. Raffa memfoto tugas yang ia catat hari ini. Ia juga mengetikkan sesuatu.
"Sudah aku foto ya. Kamu pahami baik-baik," ucap Raffa. Zara tersenyum canggung. Ia menerima ponselnya kembali.
Raffa berjalan mendahului Zara. Namun saat di ambang pintu ia berbalik menatap Zara yang masih mematung di tempatnya.
"Tadi aku juga catat nomor teleponku. Jika ada yang kurang paham atau perlu didiskusikan chatt saja," ucap Raffa.
"Baiklah. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik," jawab Zara. Ia tersenyum lebar. Raffa mengangguk dan meninggalkan Zara yang masih berada di kelas.
Zara teringat, ia ingin ke panti hari ini. Ia segera menuju supermarket terdekat untuk membawakan mereka makanan ringan. Lalu ia pergi menuju panti asuhan.
Tak lama, ia sudah sampai di depan gerbang panti itu. Panti yang sudah dua tahun ia tinggalkan. Zara mulai membuka gerbangnya dan masuk perlahan.
"Kak Zaraaaa..." teriak anak kecil yang berlari menghampirinya. Dulu memang Zara dekat dengan anak itu. Namanya Ayana. Gadis kecil yang sedikit cerewet.
"Hai Ayana. Kak Zara kangen banget sama kamu," ucap Zara sambil memeluk Ayana. Mungkin usianya sekitar enam tahunan.
"Aya juga. Kangen banget sama kak Zara. Teman-teman Aya juga kangen sama kak Zara. Ayo kak kita masuk ke dalam. Kak Zara bawa apa?" ucap Ayana panjang lebar. Zara hanya tersenyum dan membawa Ayana masuk ke dalam. Tak lupa ia juga memberikan beberapa makanan yang ia bawa tadi kepada Ayana. Untuk dibagikan kepada teman-temannya. Zara menuju ruang pengasuh untuk menemui bu Yasmin.
"Permisi," ucap Zara di depan pintu ruang pengasuh.
"Zara.. Astaga, akhirnya kamu pulang juga," ucap bu Yasmin. Ia segera menghampiri Zara dan memeluknya. Menumpahkan segala kerinduannya selama dua tahun ini. Bu Yasmin meneteskan air matanya.
"Bagaimana kabar ibu?" tanya Zara. Matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Baik sayang. Bagaimana hidupmu di luar sana? Pasti kamu sangat kesulitan kan? Oh iya, sini duduk dulu. Cerita sama ibu," ucap bu Yasmin. Zara dan bu Yasmin duduk di kursi. Zara mulai menceritakan keluh kesahnya selama ini. Sepak terjang kehidupannya setelah memutuskan untuk hidup mandiri.