Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 119 (season 2)


__ADS_3

Kayla dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Setelah itu, ia dan bayinya diperbolehkan untuk pulang. Alina dan Arvin sering mengunjungi mereka. Hari ini, Zidan dan Zara berniat untuk berkunjung ke rumah Kayla. Mereka tidak sabar ingin melihat keponakan barunya. Melihat Kayla lahiran, membuat Zara ingin cepat-cepat melahirkan bayi kembarnya tersebut. Namun butuh waktu tiga bulan lagi untuknya melahirkan buah hatinya ke dunia.


Kehamilannya saat ini menjadi kecemasan untuknya dan Zidan. Apalagi mereka memutuskan untuk tinggal terpisah dari kedua orang tuanya. Meskipun di apartemennya ada bi Sumi yang menemani Zara, tetap saja membuat Zidan tidak tenang. Terkadang ia merasa cemas karena takut kejadian kala itu menimpanya lagi. Tetapi untunglah, proses kehamilannya hingga enam bulan ini berjalan lancar. Meskipun ia sedang mengandung bayi kembar dan biasanya akan beresiko lebih tinggi.


"Mas, katanya anak mereka perempuan ya," ucap Zara yang sedang bersiap di kamarnya.


"Iya sih, Mommy kemarin bilangnya gitu," jawab Zidan sambil menyisir rambutnya. Ia menatap Zara yang sedang memakai make up nya. Zidan membungkuk dan memeluk Zara dari belakang.


"Kamu mau laki-laki atau perempuan nanti?" tanya Zidan. Zara tersenyum sambil memandang pantulan wajah mereka di cermin.


"Laki-laki atau perempuan sama saja mas, yang terpenting mereka sehat," jawab Zara.


"Bukan hanya mereka sayang, tapi kamu juga." Koreksi Zidan. Mereka sama-sama tersenyum.


Selesai bersiap, mereka segera keluar dari kamar dan menuruni tangga. Zidan menuju ke ruang tengah untuk membawa bingkisan yang sudah Zara siapkan untuk Kayla dan bayinya. Tak lupa ia berpamitan kepada bi Sumi untuk keluar sebentar.


Mereka menuju parkiran apartemen. Setelah sampai di mobil, Zidan menaruh bingkisan itu di jok belakang. Lalu mereka segera masuk ke dalam mobil dan Zidan melajukannya dengan kecepatan sedang.


Dua puluh menit kemudian, mereka sudah tiba di depan rumah keluarga Kayla. Tak lupa Zidan membawa kado itu. Zidan dan Zara berjalan beriringan memasuki rumah mereka.


"Bang," ucap Barra yang sedikit terkejut dengan kedatangan Zidan. Zidan dan Barra saling memeluk.


"Selamat ya, sekarang kamu sudah menjadi ayah. Jangan nakal seperti dulu lagi, haha," canda Zidan. Barra tertawa kecil.

__ADS_1


"Mana ada, oh iya, terima kasih ya bang," ujar Barra. Barra membawa Zidan dan Zara menuju kamar mereka. Setelah mendengar kabar bahwa Kayla sudah dibawa pulang, Zidan dan Zara buru-buru untuk datang menjenguknya. Karena selama berada di rumah sakit, Zidan maupun Zara tidak mengunjunginya.


Saat mereka masuk, Kayla sedang menyusui baby Ara. Ia bersandar di ranjangnya sambil memangku baby Ara.


"Halo baby..." sapa Zara dan langsung duduk di samping Kayla. Ia menatap gemas bayi mungil itu yang persis seperti Kayla. Hanya saja itu versi kecilnya.


"Halo juga..." jawab Kayla sambil menirukan suara anak kecil. Barra dan Zidan berdiri tak jauh dari mereka.


"Mirip sekali denganmu Kay," ujar Zara sambil memainkan pipi bayi itu dengan gemas. Zara semakin tak sabar menanti kelahiran bayinya sendiri. Zara meminta untuk menggendong bayi mungil tersebut. Meskipun ia baru pertama kali menggendongnya, Zara terlihat cukup mahir.


Cukup lama mereka berada di sana. Kemudian, Zidan dan Barra memutuskan untuk mengobrol di luar. Zara masih betah berada di kamar itu.


Sore harinya mereka baru pulang. Setelah cukup puas bermain dengan baby Ara, Zara dan Zidan memutuskan untuk kembali.


"Bang, terima kasih banyak atas kedatangannya. Barra doakan semoga lahiran kak Zara nanti juga lancar," ucap Barra sambil memeluk Zidan sekilas.


***


Di tempat lain, Raffa sedang menemui Viona. Kali ini bukan di restoran ataupun di taman yang biasa mereka kunjungi saat berkencan, melainkan Raffa secara khusus menjemput Viona ke kampusnya. Raffa membawa Viona ke kafe yang telah ia pesan sebelumnya. Selepas kuliah, mereka langsung menuju ke sana.


Viona merasa terharu, Raffa yang awalnya bersikap dingin kini perlahan menjadi hangat. Raffa juga lebih sering tersenyum daripada diam. Perubahan itu terjadi saat ia mulai dekat dengan Viona. Kehadiran Viona mampu mengubah sikap Raffa yang dingin itu.


Saat ini Viona dan Raffa duduk saling berhadapan. Nampak dari raut wajah Raffa, ia ingin membicarakan sesuatu hal yang penting. Raffa menatap Viona dengan lekat. Ia menggenggam tangan Viona yang berada di atas meja itu. Tak lama kemudian, makanan yang telah mereka pesan tiba.

__ADS_1


"Vi, aku hanya ingin memastikan sesuatu sebelum kita melangkah lebih jauh dalam hubungan ini," ucap Raffa.


"Memangnya mau bicara soal apa?" tanya Viona yang sedikit gugup.


"Vi, apa rencana kamu ke depannya nanti setelah kita lulus kuliah?" tanya Raffa. Viona belum menjawab. Ia belum memikirkan rencananya nanti saat ia lulus kuliah.


"Entahlah, mungkin membangu mama di restoran. Memangnya kenapa?" ucap Viona penasaran. Raffa tersenyum tipis.


"Jika seandainya aku melanjutkan studiku lagi nanti, apakah kamu masih bersedia menungguku?" tanya Raffa. Viona mulai mengerti ke mana arah pembicaraan Raffa. Viona menghela napasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Raffa tadi.


"Tergantung kamu masih mau menerimaku atau tidak. Lagipula bukankah selama ini aku sanggup menunggumu? Lalu apa masalahnya?" ujar Viona.


Raffa menghela napasnya sejenak. Meskipun ini bukan keputusan finalnya, namun Raffa harus segera membicarakan rencana ini pada Viona.


"Aku tahu kamu bisa menungguku. Vi, aku serius terhadapmu. Tapi untuk saat ini aku belum bisa menjanjikan apapun," ucap Raffa sedih.


"Aku juga serius sama kamu Raffa," jawab Viona.


Raffa mengeluarkan sebuah cincin. Ia memakaikannya di jari manis Viona. Viona terkejut, ia membungkam mulutnya dengan tangan kanannya.


"Vi, ini adalah bukti aku serius padamu. Maaf, belum bisa melamarmu secara resmi di depan keluarga kita," ucap Raffa dengan lembut. Ia menatap Viona dengan tatapan teduh. Viona masih tidak percaya. Ini adalah kejutan manis untuknya.


"Raffa, meskipun kamu tidak memberiku cincin, aku pasti akan menunggu kamu kok. Aku sanggup menunggumu sampai kapanpun," ujar Viona. Raffa menggeleng pelan. Ia tidak akan membiarkan Viona menunggunya terlalu lama.

__ADS_1


Setelah itu, mereka makan bersama. Ini adalah kencan teromantis mereka selama masa pacaran ini. Karena biasanya hanya bertemu di restoran ataupun taman. Dan sikap Raffa yang begitu kaku terhadap Viona.


Raffa bisa lebih tenang lagi untuk mencapai cita-citanya. Ini ia lakukan karena suatu saat nanti ia akan menjadi pemimpin menggantikan ayahnya. Selagi bisa, Raffa akan menimba ilmu dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Ini juga demi masa depannya bersama dengan Viona kelak.


__ADS_2