
Hai-hai.. Season 2 nya aku publish di sini saja ya, hehehe. Sebelumnya terima kasih untuk yang sudah komen dan memberikan sarannya💛💚
Selamat membacađź’›
***
Zidan Putra. Usia 27 tahun dan saat ini pemimpin perusahaan cabang milik ayahnya, Mahardika Company. Entah apa yang menyebabkan Zidan menjadi sosok yang dingin dan tegas, semua dimulai saat dirinya mulai memasuki dunia bisnis. Lulusan S2 itu, mampu membawa kemajuan yang pesat bagi perkembangan perusahaannya hanya dalam kurun waktu dua tahun. Namanya kian melejit menjadi bahan pembicaraan semua orang karena prestasi yang ia peroleh.
Meskipun terlihat dingin terhadap orang-orang di sekitarnya, namun ini berbeda saat dirinya sudah bersama dengan keluarganya. Zidan yang sedang bercengkrama dengan keluarganya adalah Zidan yang ceria dan hangat terhadap saudaranya, apalagi terhadap adik bungsunya itu yang bernama Alisya.
Saat ini Zidan sedang menghadiri rapat tahunan di perusahaannya. Dirinya yang fokus dengan pemaparan setiap devisi terlihat semakin tampan dan memesona. Tak ada satu wanita yang tak mengaguminya. Namun berbeda saat ia berada di rumah. Zidan terlihat frustasi karena desakan dari orang tuanya terutama Alina agar segera menikah. Zidan yang merasa belum pernah menjalin hubungan serius dengan wanita lain tentunya kebingungan dengan permintaan sang ibu. Berulang kali ia selalu mengelak saat ditanya tentang calon istrinya.
Tuuutt... Tuuutt... Tuuutt...
Dering ponselnya sukses membuyarkan perhatiannya pada rapat hari ini. Zidan mengambil ponselnya dan melihat layar tersebut. Zidan mengembangkan senyumnya kala melihat siapa yang menghubunginya.
“Hentikan rapatnya!” perintah Zidan. Semua yang menghadiri rapat tersebut terdiam dan mengangguk dengan sopan.
“Halo Mom,” jawab Zidan sambil mengembangkan senyumnya. Tangannya melambai menandakan agar karyawannya kembali ke pekerjaannya. Semua yang hadir di rapat tersebut pamit undur diri.
“Kapan kamu pulang sayang? Mommy sudah rindu,” ujar Alina dari balik telepon.
Zidan berdiri dan berjalan menuju jendela. Ia bersandar di sana dan menghela napasnya sejenak.
__ADS_1
“Sore ini Zidan akan pulang Mom. Mommy tidak usah khawatir,” jawab Zidan.
“Baiklah sayang. Pulanglah lebih awal, mommy akan memasak makanan kesukaanmu,” ujar Alina.
Zidan tersenyum lebar. Kemudian ia mematikan sambungan telepon tersebut. Kalau dihitung-hitung, memang sudah lama dirinya tidak mengunjungi orang tuanya semenjak Zidan memutuskan untuk menyewa apartemennya sendiri. Zidan hanya ingin mandiri dan mengurus semua urusannya sendiri. Zidan akan pulang saat akhir pekan atau saat dirinya tak banyak pekerjaan.
“Fan, batalkan semua pertemuan kita dengan klien sore nanti. Kita ada urusan yang lebih penting dari itu,” ujar Zidan kepada Fanny, asistennya sekaligus teman dekatnya.
“Memangnya ada urusan apa yang lebih penting dari pertemuan dengan klienmu?” decak Fanny meledek Zidan.
“Kau hanya perlu mengurus pembatalan pertemuannya saja. Tidak perlu tahu alasannya!” jawab Zidan kemudian berlalu meninggalkan Fanny. Fanny hanya menggeleng pelan melihat sikap dingin dari Zidan.
“Pantas saja sampai sekarang belum memiliki calon istri. Mana ada wanita yang betah dengan sikapmu itu,” gumam Fanny pelan.
“Bukan hal yang serius,” jawab Fanny dengan cepat dan tersenyum canggung.
“Astaga, dia ini mempunyai telinga berapa sih. Hampir saja aku kena marah jika dia tahu apa yang aku ucapkan tadi,” ujar Fanny dalam hatinya. Ia segera berjalan mengikuti Zidan.
Zidan menuju ruangannya untuk menyelesaikan sedikit pekerjaannya yang tertunda tadi. Ia terlihat fokus dengan laptop dan beberapa berkas yang ada di depannya. Ada beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangannya hari ini. Ia harus menyelesaikannya sebelum sore nanti. Zidan tidak mau mengecewakan ibunya, ia terlalu sayang. Kapanpun dan bagaimanapun keadaan Zidan, jika Alina menyuruhnya untuk pulang maka ia akan berusaha untuk pulang. Meskipun saat itu ia sedang sibuk. Ia memang lebih mengutamakan ibunya.
Setelah beberapa jam berkutat dengan laptop dan berkasnya, kini selesai juga. Ia segera membereskan dokumen tersebut dan menyerahkan kepada sekretarisnya, Aletta. Zidan melirik jam yang melingkar di tangannya. Kemudian ia berjalan keluar ruangannya. Ini terlihat membosankan saat setiap karyawan yang ia jumpai menyapanya dengan hormat dan menatapnya dengan tatapan penuh harap. Zidan tak gila jabatan atau kepopuleran. Ia justru merasa risih jika orang-orang di sekitarnya menatapnya dengan seperti itu.
Zidan menuju mobilnya dan segera melajukannya menuju kediaman orang tuanya. Tetapi ia tidak sendiri, ia diantar oleh Fanny. Tak butuh waktu lama, mobilnya sudah memasuki kediaman orang tuanya. Fanny segera membukakan pintu mobil untuk Zidan. Zidan keluar dan segera masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
“Bang Zidan...” teriak Alisya yang tengah berlari ke arahnya. Alisya memeluk Zidan dengan erat. Adiknya itu selalu heboh jika Zidan pulang untuk mengunjungi orang tuanya. Zidan tak pernah mempermasalahkan sikap dari Alisya.
“Apa kabar, hem?” tanya Zidan sambil melepas pelukan Alisya. Zidan mencubit pelan hidung Alisya.
“Baik, bang Zidan sendiri?” tanya Alisya balik.
“Yahh, seperti yang kau lihat my princess,” jawab Zidan dan tersenyum tipis.
Mereka bertiga menuju ruang tengah. Alisya masih bertanya perihal apa saja yang dilakukan kakaknya selama tidak di rumah itu. Alisya selalu ingin tahu tentang urusan kakak-kakaknya itu.
Alina berjalan menuju ruang tengah. Ia tadi habis dari kamar mandi. Zidan langsung berdiri dan memeluk Alina dengan posesif. Seolah sudah sangat rindu dengan sosok wanita yang telah membesarkannya itu.
“Mommy apa kabar?” tanya Zidan yang masih memeluk Alina. Alina tersenyum lebar. Putra sulungnya itu sudah dewasa namun tetap saja sikapnya selalu manja jika di depannya. Alina menangkup wajah Zidan dan tersenyum tipis.
“Dasar anak nakal. Jika mommy tidak menghubungimu, apa kamu akan mengunjungi mommy mu ini sayang?” ujar Alina terkekeh.
“Maaf Mom, Zidan terlalu sibuk,” jawab Zidan lirih. Alina membawa Zidan untuk duduk di sofa. Sedangkan Fanny hanya memperhatikan mereka yang berdiri tak jauh dari sofa.
“Di mana Barra sama Raffa Mom?” tanya Zidan karena tak melihat kedua adiknya itu.
“Yahh kamu tahu sendiri kan, Barra sibuk dengan kliennya dan Raffa mungkin masih ada kelas di kampusnya,” jawab Alina dan menghela napasnya dengan pelan. Zidan mengangguk paham. Dan Arvin tidak perlu ditanyakan lagi, sudah pasti berada di kantornya.
Alina membawa Zidan dan yang lainnya untuk makan bersama. Ia secara khusus telah menyiapkan makanan kesukaan Zidan. Inilah yang selalu disukai Zidan, Alina selalu penuh perhatian bahkan untuk hal-hal yang kecil. Fanny juga ikut makan bersama. Ia bukan hanya asisten namun juga teman terdekat dan bisa dibilang teman satu-satunya Zidan.
__ADS_1
Jika di kantor ia adalah bawahan Zidan, namun lain halnya jika di luar jam kerjanya seperti ini. Fanny juga sering beberapa kali menemani Zidan berkunjung ke rumah orang tuanya. Mereka makan dengan santai. Sesekali mengobrol di sela-sela makannya. Zidan benar-benar rindu dengan suasana makan bersama dengan hangat