Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 39 (season 2)


__ADS_3

Zara langsung pulang menuju kostnya. Ia pulang dengan jalan kaki karena kafe itu lumayan dekat dengan kostnya. Sampai di kost, ia langsung merebahkan dirinya di kasur. Zara meletakkan tangannya di keningnya dan ia sambil memejamkan matanya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus memberitahu Zidan tentang ancaman Karina?" batin Zara bingung.


Tak lama, ponselnya berdering. Zara mengambil ponselnya dan ternyata panggilan video dari Zidan. Zara mengembangkan senyumnya. Ia membenarkan posisinya sebelum mengangkat panggilan video tersebut. Zara segera menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan video dari Zidan.


"Hai," sapa Zara. Ia tersenyum tipis melihat Zidan yang juga lagi merebahkan dirinya di kasur.


"Dari mana? Kenapa lama mengangkat teleponnya?" tanya Zidan.


"Dari kamar mandi," jawab Zara berbohong. Ia belum ingin menceritakan tentang pertemuannya dengan Karina.


"Bentar, kamu lagi di mana? Kok sepertinya bukan di kamar apartemenmu?" tanya Zara menyelidik. Zidan tersenyum lebar.


"Lagi di rumah mommy. Kenapa?" tanya Zidan balik.


"Oh, pantesan. Kirain lagi di mana gitu," ucap Zara.


Mereka cukup lama mengobrol. Satu minggu ke depan, Zara akan melangsungkan ujian akhir semester. Ia juga sudah izin kepada Zidan untuk tidak masuk kerja. Meskipun berat bagi Zidan karena selama satu minggu tidak melihat Zara, ia juga tidak ingin mengganggu waktu belajar Zara.


Hampir satu jam mereka video call. Banyak yang mereka bicarakan termasuk hubungan mereka kedepannya. Zidan hanya ingin Zara bersabar sebentar lagi, karena ada beberapa hal yang harus ia selesaikan agar hubungannya dengan Zara tidak ada gangguan dari siapapun.


Setelah Zidan meminta izin kepada pengasuh panti waktu itu, Zidan juga berjanji pada dirinya sendiri untuk membahagiakan Zara dan tidak membiarkan siapapun menyakiti Zara. Ia hanya butuh Zara. Wanita yang selamanya akan ia cintai dan nikahi.


"Kamu baik-baik ya. Sampai bertemu nanti. Aku selalu merindukanmu Zara. Kalau ada waktu luang jangan lupa hubungi aku ya. Aku tidak akan menghubungimu duluan karena takut mengganggu belajarmu," ucap Zidan sebelum menutup panggilan video itu.


"Iya. Tunggu setelah selesai ujian, aku akan kembali padamu, hehe," jawab Zara. Mereka sama-sama tersenyum. Dan akhirnya, panggilan video itu berakhir.


Zara menatap langit-langit kamar kostnya. Ia juga sama, selalu merindukan Zidan setiap harinya meskipun mereka sering bertemu. Namun ada rasa sedih dan gelisah jika mengingat Karina. Wanita itu akan melakukan apapun jika Zara tetap tidak meninggalkan Zidan.


Di tempat lain, Zidan justru merasa gelisah. Ia memikirkan bagaimana rencana untuk menyingkirkan Karina tanpa menyakiti Zara.


Tok tok tok

__ADS_1


"Sayang, mommy boleh masuk sebentar?" tanya Alina yang sudah berdiri di luar kamar Zidan.


"Masuk saja Mom, pintunya tidak dikunci," jawab Zidan.


Alina membuka pintunya dan ia masuk ke kamar Zidan. Alina duduk di tepi ranjang. Tangannya mengusap rambut Zidan dengan lembut. Zidan beralih menyandarkan kepalanya di pangkuan Alina.


"Ada apa?" tanya Alina.


"Zidan bingung Mom," jawab Zidan.


Zidan beralih duduk dan memeluk Alina dari samping dengan kepalanya bersandar di bahu Alina. Setiap ada masalah yang sulit ia selesaikan, hanya dekapan dari mommy nya yang seolah menjadi obat untuk kegundahannya.


"Mom,"


"Ya?"


"Zidan suka sama seseorang. Kami memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Namun saat ini hubungan kami sedang dalam masalah. Zidan bingung Mom, Zidan harus bagaimana sekarang?" ungkap Zidan.


Alina menghela napasnya pelan. Ia tahu rasanya tak berdaya itu. Disaat ia harus berjuang demi orang yang disayang namun keadaan berkata lain.


"Dia istimewa Mom. Dia seperti mommy. Baik, lembut, penyayang dan dia itu mandiri. Itu yang membuat Zidan suka dengannya. Saat Zidan menatapnya rasanya sangat teduh sekali. Zidan merasa nyaman," ungkap Zidan.


"Kenapa Zidan baru cerita sekarang? Memangnya siapa gadis itu?" tanya Alina penasaran.


"Namanya Zara, Mom. Dia gadis sederhana yang ingin Zidan nikahi. Hanya dia Mom," jawab Zidan. Alina mengernyitkan dahinya.


"Zara?" tanya Alina memastikan bahwa nama yang ia dengar memang Zara itu. Alina sedikit terkejut.


"Iya, ada apa Mom?" tanya Zidan bingung.


"Zara teman kampusnya Raffa? Gadis yang tadi ke rumah Mommy kan? Atau ada Zara lain lagi?" ujar Alina panik.


"Tunggu! Mommy bilang apa tadi? Temannya Raffa?" tanya Zidan terkejut. Selama ini ia memang tahu jika Zara kuliah satu kampus dengan Raffa. Namun ia juga tidak mengira mereka akan satu kelas.

__ADS_1


"Apa ini orangnya Mom?" tanya Zidan. Ia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Zara. Alina memperhatikan foto itu dengan lekat.


"Tidak salah lagi. Dia memang temannya Raffa. Yang sempat mommy ceritakan waktu itu sayang. Dan kalian saling mengenal? Zara memang beberapa kali sempat ke sini juga," ungkap Alina.


"Zara beberapa kali datang ke sini tapi tak pernah cerita sama aku. Kenapa? Apa dia lagi dekat dengan Raffa juga? Sial! Kenapa aku tidak tahu tentang ini," batin Zidan.


Alina menatap Zidan yang kini sudah berubah raut mukanya. Alina terkejut saat mengetahui fakta bahwa Zara adalah gadis yang dicintai Zidan. Dan selama ini pula Alina berusaha mendekatkan Raffa dengan Zara.


"Zidan?" panggil Alina lembut. Zidan menatap Alina. Ia tersenyum tipis.


"Bentar Mom, ada yang ingin Zidan tanyakan pada Raffa," ucap Zidan. Ia beranjak keluar kamarnya. Alina ingin menghentikan Zidan namun tak sempat. Alina khawatir jika mereka akan bertengkar. Alina membuntuti Zidan untuk memastikan semuanya.


Zidan menuju kamar Raffa. Ia hanya ingin bertanya tentang hubungannya dengan Zara. Ia mengetuk pintu kamar Raffa beberapa kali. Terlihat bahwa ia tak sabar untuk menemui Raffa. Tak lama kemudian, Raffa membukakan pintunya. Ia menatap Zidan dan tersenyum tipis.


"Bang Zidan, ada apa?" tanya Raffa.


"Ikut abang sebentar," ucap Zidan. Ia menarik tangan Raffa dan membawanya menuju halaman belakang. Namun Alina buru-buru menghampiri mereka berdua.


"Zidan, jangan..." ucap Alina menggantung.


"Zidan hanya ingin bertanya sama Raffa saja Mom. Mommy tak perlu khawatir. Zidan tidak akan berkelahi dengan Raffa," sela Zidan yang tahu bahwa Alina sedang mengkhawatirkan mereka berdua. Alina mengangguk dan meninggalkan mereka berdua.


Raffa dan Zidan sudah duduk di kursi yang ada di halaman belakang. Raffa dan Zidan saling diam. Raffa tidak tahu apa yang akan Zidan tanyakan padanya.


"Raffa kenal dengan Zara?" tanya Zidan tanpa basa-basi.


"Iya," jawab Raffa singkat. Ia tak terkejut sama sekali dengan pertanyaan Zidan.


"Sudah berapa kali Zara datang ke rumah?" tanya Zidan lagi. Ia menatap lekat Raffa yang tanpa ekspresi.


"Tidak tahu. Raffa hanya mengajaknya sekali. Namun sepertinya beberapa hari ini sering datang karena mommy yang memintanya," jawab Raffa jujur.


"Raffa suka sama Zara?" tanya Zidan lagi.

__ADS_1


Raffa tidak langsung menjawabnya. Ia terdiam untuk beberapa saat.


__ADS_2