Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 17 (season 2)


__ADS_3

"Tuan muda?" panggil Fanny pelan. Ia menggoyangkan lengan Zidan berharap Zidan membuka matanya.


Zidan hanya menggeliat kecil. Tetapi Zidan belum membuka matanya. Fanny semakin panik.


"Bagaimana ini? Aku tidak punya pengalaman untuk merawat orang sakit," gumam Fanny. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Akhirnya Fanny memutuskan untuk menghubungi Jack. Teman sekaligus dokter pribadi Zidan. Karena sudah beberapa kali Fanny mencoba membangunkan Zidan nyatanya tidak ada respon sama sekali.


Butuh sedikit waktu untuk Jack sampai di apartemen Zidan. Karena rumahnya yang lumayan jauh dan ia tadi sebenarnya sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Ada apa dengannya?" tanya Jack yang baru datang ke kamar Zidan. Ia meletakkan tasnya dan mengeluarkan stetoskop. Ia mulai memeriksa Zidan.


"Aku juga tidak tahu. Dari tadi tidak sadarkan diri. Badannya juga demam," jawab Fanny.


Jack terpaksa harus memasang infus untuk Zidan. Yah, sepertinya dia kelelahan karena jarang istirahat dengan baik. Jack sudah selesai memasang infusnya untuk Zidan.


"Kita tunggu beberapa menit lagi jika belum sadarkan diri segera bawa ke rumah sakit. Aku takut sakitnya akan semakin parah," ujar Jack. Fanny dan Jack memutuskan untuk menunggu Zidan hingga sadar. Mereka duduk di sofa sambil memerhatikan Zidan.


"Zara..." Tanpa sadar Zidan menyebut nama Zara. Meski lirih tetapi masih terdengar oleh Jack dan Fanny. Jack menatap Fanny. Dirinya mengernyitkan dahinya meminta penjelasan kepada Fanny.


"Dia adalah karyawan baru di kantor," ucap Fanny dengan santai.


"Apakah dia orang yang Zidan cintai? Waahh, sepertinya aku telah melewatkan sesuatu," ucap Jack dan tersenyum tipis.


"Aku juga belum tahu. Tapi belakangan ini tuan muda seperti sedang mengejar nona Zara. Nona adalah orang yang baik dan pekerja keras," ujar Fanny dan dirinya menatap Jack sekilas. Jack menghela napasnya dan bersandar di sofa.


"Bukankah itu sesuatu yang baik? Aku belum pernah melihatnya mencintai seorang wanita," ujar Jack santai.


"Mommy..." ucap Zidan lagi. Jack dan Fanny secara bersamaan berdiri dan menghampiri Zidan.


"Coba kamu hubungi mommy nya. Siapa tahu dia sedang kangen dengan mommy nya," ujar Jack. Fanny mengangguk. Ia mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Alina.

__ADS_1


Mungkin karena kesibukan Alina atau apa, sudah beberapa kali Fanny menghubungi namun tak ada satupun yang terjawab. Jack menatap Fanny. Fanny hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.


Fanny menghubungi Barra, namun saat ponselnya berhasil tersambung, perlahan Zidan membuka matanya. Zidan menatap Fanny dan Jack bergantian.


"Jangan beritahu mommy Fan. Aku nggak mau mommy khawatir," ucap Zidan dengan lemas. Fanny mengurungkan niatnya dan mematikan sambungan teleponnya.


"Syukurlah kau segera sadar. Jika tidak kau akan berakhir di rumah sakit," ucap Jack. Ia memeriksa infusnya.


"Tuan muda, Anda makanlah sedikit," ucap Fanny. Fanny mengambil mangkuk berisi buburnya dan menyuapi Zidan. Zidan memalingkan wajahnya. Ia tidak selera sama sekali.


"Apa perlu aku panggilkan Zara?" canda Jack. Zidan segera menatap Jack. Bagaimana bisa dia tahu tentang Zara.


"Fan," panggil Zidan. Ia menatap tajam ke arah Fanny.


"Jangan salahkan dia. Kamu sendiri yang mengigau menyebut nama Zara," ucap Jack membela Fanny. Meskipun tadi Fanny sempat cerita sedikit tentang Zara dan Zidan. Zidan terdiam.


"Bukankah hari ini hari pertamanya bekerja?" tanya Zidan.


"Aku ingin ke kantor siang ini Fan. Siapkan segalanya," ucap Zidan. Dia berusaha untuk duduk. Fanny segera membantu Zidan dan menyandarkan Zidan di ranjang.


"Apa kau sudah gila? Kau bahkan belum sembuh. Jika ingin menemui kekasihmu, sebaiknya suruh saja dia ke sini. Jika tidak, jangan harap kamu bisa lepas dari rumah sakit Zidan," ujar Jack sedikit kesal. Keadaan Zidan yang masih lemah dan butuh istirahat ini bisa-bisanya berpikir untuk pergi ke kantor. Sungguh, Jack tidak mengerti jalan pikiran sahabatnya ini.


Setelah berdebat kecil, akhirnya Zidan menuruti Jack untuk istirahat. Dan Fanny tentunya diam-diam mengirim pesan kepada Zara agar datang ke apartemen Zidan. Tentunya secara pribadi ia sendiri yang akan menjemputnya. Fanny menghubungi Zara tanpa sepengetahuan Zidan. Karena tadi Zidan sempat menolak dan tidak ingin merepotkan Zara. Padahal dalam hatinya ia ingin melihat gadis itu.


"Istirahatlah. Aku harus ke rumah sakit dulu. Jika ada apa-apa hubungi aku," ucap Jack. Ia mengemas peralatannya dan segera pergi menuju rumah sakit. Karena jadwal prakteknya hari ini lumayan padat.


Di sisi lain, Zara sedang bersiap untuk ke kampus. Hari ini tidak terlalu pagi. Jadi ia bisa lebih santai lagi. Sambil menunggu jadwal kuliahnya tiba, ia berjualan minuman dingin sekitar jalanan kampus.


Tring..


Zara mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirimnya pesan. Tertera nomor itu belum tersimpan di kontaknya. Zara mengernyitkan dahinya. Ia mulai membuka pesan tersebut.

__ADS_1


'Nona Zara, ini saya Fanny. Jika tidak keberatan, setelah kelas Anda selesai mohon tunggu saya di gerbang kampus. Ada sesuatu yang harus saya sampaikan. Ini menyangkut pekerjaan Anda.' Isi pesan tersebut.


Zara bingung. Memang hari ini adalah hari pertama ia bekerja di kantor Zidan. Tetapi ada masalah apa sehingga Fanny menyuruh Zara untuk menunggunya di gerbang depan.


'Apakah ada masalah tuan?' tanya Zara. Namun tak ada balasan dari Fanny. Zara memilih melanjutkan berjualannya menyusuri jalanan sekitar.


Setelah cukup lama, akhirnya perkuliahan hari ini dimulai. Zara terfokus pada presentasi teman-temannya. Sesekali ia mencatat hal-hal yang penting atau yang belum ia mengerti untuk ditanyakan.


Zara melirik Raffa yang tak jauh dari tempat duduknya. Ia masih merasa bersalah. Namun jika Raffa mengatakan tidak perlu ganti rugi, ia bisa apa.


Tring...


'Nona hanya perlu menunggu sesuai perintah saya. Ingat, kabari saya jika kelas Anda sudah selesai.' Balasan dari Fanny. Zara hanya membacanya saja. Ia tak berniat untuk bertanya kembali.


Hari ini hanya ada satu mata kuliahnya. Sehingga ia bisa pulang lebih cepat. Ia masih kepikiran tentang hal yang diberitahukan Fanny olehnya.


Kelas selesai, Zara segera mengemas barangnya dan segera menuju ke gerbang kampus.


"Zara..." panggil seseorang yang menghampiri Zara.


"Arka?" ucap Zara terkejut. Bagaimana bisa Arka mengetahui dirinya di sini saat ini.


"Apa kabar? Apakah kamu sudah mendapatkan pekerjaan baru?" tanya Arka panik. Zara hanya tersenyum canggung. Ia tidak ingin bertemu Arka saat ini.


"Aku... Aku baik-baik saja kok. Kamu apa kabar?" tanya Zara basa-basi.


"Gimana kalau kita ke kafe terdekat dulu. Biar lebih santai saja ngobrolnya," ujar Arka. Tanpa mendengar jawaban Zara, Arka menarik tangan Zara agar mengikutinya.


"Eh, setelah ini aku harus kerja Ka. Maaf tidak bisa menemuimu saat ini," ucap Zara. Ia melepaskan diri dari Arka namun Arka sama sekali tidak terganggu.


Zara tidak ingin terlalu dekat dengan Arka. Karena ayah Arka tidak suka jika Zara dekat dengan anaknya. Karena itu, sebisa mungkin ia menghindar dari Arka.

__ADS_1


__ADS_2