
"Raffa, lagi apa?" tanya Alina yang membuka sedikit pintu kamar Raffa. Raffa menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Alina yang masih berdiri di ambang pintu.
"Lagi mengerjakan tugas Mom," jawab Raffa. Ia tersenyum tipis ke arah mommy nya.
"Boleh mommy masuk?" tanya Alina pelan. Raffa mengangguk. Alina masuk ke dalam kamar Raffa. Ia duduk di sofa dan Raffa berjalan menghampiri Alina. Ia duduk di samping Alina.
"Kenapa nggak keluar kamar? Lagi ada masalah?" tanya Alina. Hanya Raffa yang jarang menceritakan masalahnya kepada Alina. Ia akan bercerita jika Alina memaksanya. Tidak seperti saudaranya yang lainnya terutama Alisya. Alina terkadang bingung juga dengan sikap Raffa yang seperti itu. Namun sebisa mungkin ia terus berusaha membangun kedekatan antara dirinya dan Raffa. Agar Raffa tidak merasa tidak diperhatikan.
"Nggak ada Mom. Hanya malas keluar saja. Ingin bersantai di dalam kamar," jawab Raffa. Ia tersenyum tipis.
Alina membelai ujung kepala Raffa. Ia menatap putranya dengan intens.
"Kalau ada masalah apapun Raffa harus cerita sama mommy ya. Mommy akan marah jika Raffa tidak menceritakan apapun ke mommy. Dan mommy akan sangat marah lagi jika sampai tahu dari orang lain," ucap Alina lembut. Ia masih membelai rambut Raffa dan menatapnya.
Raffa memeluk Alina. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Alina. Alina mengusap pelan punggung putranya itu.
"Iya Mom. Raffa pasti akan cerita ke mommy apapun itu," ucap Raffa. Ia memejamkan matanya sejenak. Sudah lama Raffa tidak memeluk Alina seperti ini.
Mereka mengobrol cukup lama. Alina begitu antusias dengan apa yang diceritakan Raffa.
"Ponsel kamu kenapa sayang?" tanya Alina yang matanya tertuju pada layar ponsel Raffa yang retak. Alina mengambilnya dan memandangi ponsel tersebut.
"Tidak sengaja jatuh Mom. Tapi masih bisa dipakai kok," jawab Raffa. Karena retaknya juga tidak terlalu parah.
"Kenapa nggak dibenerin saja?" tanya Alina dan memandangi Raffa.
"Belum sempat saja. Lagipula masih banyak tugas kuliah. Nanti saja kalau sudah senggang," jawab Raffa lagi. Alina mengangguk dan meletakkan kembali ponselnya.
Setelah cukup puas mengobrol, Alina memutuskan untuk keluar. Ia menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
__ADS_1
Sedangkan Barra dan Alisya memilih untuk pergi ke tempat Zidan. Tadi Barra sempat menghubungi Zidan dan ternyata Zidan lagi bersantai di rumahnya.
Mereka mampir ke supermarket untuk membeli camilan dan minuman ringan. Setelah selesai, Barra melajukan kembali mobilnya.
Sampai di apartemen Zidan, Barra dan Alisya langsung masuk begitu saja. Kebetulan mereka juga sudah tahu kata sandi apartemen tersebut.
"Bang Zidan..." ujar Alisya dan memeluk Zidan. Zidan tersenyum dan mengacak rambut Alisya dengan gemas. Ia memeluk Barra sekilas dan menyuruh mereka duduk.
"Bagaimana kabar papa dan mommy?" tanya Zidan.
"Baik bang. Kenapa jarang pulang ke rumah sekarang? Mommy selalu khawatir dan memikirkanmu bang," ujar Barra. Sedangkan Alisya sibuk menyiapkan camilan dan minumannya.
Zidan bersandar di sofa. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan.
"Maaf, lain kali abang akan lebih sering pulang ke rumah," ucap Zidan. Dirinya tersenyum tipis.
Alisya menghampiri mereka sambil membawa camilan dan beberapa minuman. Alisya menyalakan televisi untuk menonton acara kesukaannya. Ia memilih untuk duduk di karpet. Sedangkan Barra dan Zidan mengobrol masalah pekerjaan dan sebagainya.
Barra dan Alisya sudah sampai di rumah. Alisya sedikit berlari sambil membawa paper bag yang berisi belanjaannya tadi sore. Setelah memasukkan mobil ke garasi, Barra menyusul Alisya masuk ke dalam rumah.
"Hai Pa, hai bang Raffa," sapa Alisya dan duduk di samping Raffa. Ia meletakkan paper bag itu di atas meja. Alisya seperti terlihat kelelahan.
"Dari mana saja tadi?" tanya Arvin.
"Dari mall, habis itu mampir ke apartemen bang Zidan Pa," jawab Alisya. Ia mengambil ponselnya dan memainkannya.
Tak lama, Barra juga ikut duduk di sofa ruang tengah. Alisya dan Raffa sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Barra bersandar di sofa sambil memejamkan matanya.
"Kalau capek istirahat di kamar Barra," ujar Arvin. Ia kemudian berdiri dan melangkah menuju dapur. Alina berada di sana sedang menyiapkan makan malam. Barra hanya tersenyum.
__ADS_1
Setelah selesai memasak, mereka makan malam bersama. Selesai makan, Alina menanyakan kabar Zidan pada Alisya. Ia sungguh rindu kepada Zidan. Alisya menceritakan kegiatannya hari ini termasuk saat di apartemen Zidan.
Malam semakin larut, mereka memutuskan untuk ke kamar masing-masing. Barra video call dengan Kayla, sedangkan Alisya mencoba beberapa pakaian yang baru ia beli tadi.
Raffa menuju balkon kamarnya. Ia memasang headphone nya dan mendengarkan lagu kesukaannya. Dirinya sambil menikmati indahnya malam dari balkonnya.
Sedangkan di kamar lainnya, Alina dan Arvin baru selesai ganti baju tidur. Arvin lebih dulu berbaring di kasur. Sedangkan Alina duduk di depan cermin untuk menyisir rambutnya. Arvin tersenyum lebar sambil memerhatikan Alina. Dirinya menopang kepalanya dengan tangan kanannya.
"Sayang, sini cepat," ucap Arvin dengan manja. Ia menepuk kasurnya beberapa kali.
Alina menoleh sekilas. Ia seolah tidak mendengarkan ucapan Arvin. Ia terus melanjutkan menyisir rambutnya.
"Sayang... Sini..." ucap Arvin kembali. Ia merengek seperti anak kecil.
"Bentar mas," jawab Alina yang melirik Arvin sekilas. Arvin memanyunkan bibirnya. Seolah ia sedang merajuk. Alina hanya bisa menahan tawanya.
Setelah selesai menyisir, Alina beralih ke kasurnya dan merebahkan dirinya di samping suaminya. Ia memiringkan tubuhnya dan kini mereka saling berhadapan. Arvin mencium sekilas kening Alina. Ia membelai rambut Alina dan menyibakkannya ke belakang. Arvin menyatukan kening mereka. Mereka sama-sama memejamkan matanya.
"Tidurlah," ujar Arvin. Ia mencium sekilas bibir Alina. Alina mengangguk pelan dan memeluk Arvin. Mereka sama-sama tertidur.
***
Keesokan harinya...
Zidan terbangun dari tidurnya. Ia dengan malas meraih ponselnya dan menghubungi Fanny. Hari ini badannya tiba-tiba kurang sehat. Zidan menyuruh Fanny untuk membelikan obat dan membelikan makanan untuknya.
Kepalanya sangat berat. Ia juga merasakan pusing dan badannya demam. Semalam, Zidan kurang bisa tidur karena kepalanya pusing. Ia kembali memejamkan matanya sembari menunggu kedatangan Fanny.
Beberapa saat kemudian, Fanny sudah tiba di apartemen Zidan. Ia segera menuju dapur untuk menaruh bubur yang ia bawa tadi ke piring dan tak lupa mengambil air putih. Ia segera menuju kamar Zidan.
__ADS_1
Tanpa mengetuk pintunya, Fanny masuk begitu saja. Ia menaruh nampan tersebut ke nakas samping ranjang Zidan. Perlahan tangannya menyentuh dahi Zidan. Badannya panas tinggi. Fanny mulai panik dan mencoba membangunkan Zidan agar segera sarapan dan minum obatnya.