Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 105 (season 2)


__ADS_3

"Jangan... Jangan ambil bayiku.. Tidak, tidak," gumam Zara mengigau. Zidan yang tidur di samping Zara terbangun dan langsung membangunkan Zara.


"Sayang, ada apa?" ucap Zidan sambil menepuk pipi Zara dengan lembut.


"Jangan ambil bayiku... Aku mohon jangan... Kembalikan diaa..." ucap Zara lagi. Ia terisak tetapi masih memejamkan matanya. Zara mencengkram sepreinya dengan kuat. Zara menangis dan menggigit bibir bawahnya sendiri. Zidan yang panik langsung berusaha membangunkan Zara.


"Zara, sadarlah... Bangunlah sayang..." ucap Zidan.


"Tidak, tidak, tidaaaakkk..." teriak Zara. Ia langsung terbangun dan napasnya tersengal. Zara menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis pilu. Ia belum bisa keluar dari bayang-bayang itu.


Zidan merengkuh Zara masuk ke dalam pelukannya. Ia sedih melihat Zara yang seperti ini. Kecelakaan itu membuat Zara trauma berat. Bahkan sampai saat ini Zara masih menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian bayinya.


"Aku selalu di sampingmu sayang. Berhentilah bersedih," ucap Zidan dengan lembut. Ia mencium puncak kepala Zara sekilas.


"Kenapa Zidan? Kenapa Tuhan mengambil anak kita begitu cepat... Apa salah kita Zidan..." ucap Zara yang semakin terisak. Dadanya terasa sakit dan sesak. Zidan hanya terdiam. Ia membiarkan Zara menumpahkan segala keluh kesahnya. Zidan semakin mengeratkan pelukannya dan berusaha tak terbawa oleh suasana. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan istrinya.


Setengah jam berlalu. Zara sedikit lebih tenang dan mulai bisa menguasai emosinya. Zara masih menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan suaminya. Napasnya mulai tenang kembali. Suara isak tangisnya sudah mulai tak terdengar lagi. Zara dan Zidan terdiam dalam posisi saling berpelukan dengan cukup lama.


"Zidan," panggil Zara dengan suara khas orang habis menangis.


"Hmmm?" jawab Zidan.

__ADS_1


"Aku lapar," ucap Zara dengan polos. Zidan langsung tertawa dengan kerasnya. Bagaimana tidak? Setelah menangis dan bersedih cukup lama, akhirnya Zara bertingkah normal seperti biasanya.


"Jadi, istriku tersayang mau makan apa hari ini?" tanya Zidan dan tersenyum lebar. Zara sedikit mendorong tubuh Zidan. Ia mengusap sisa-sisa air matanya dengan tangannya.


"Apapun yang kamu masak," ucap Zara dengan manja. Zidan tersenyum dan beralih duduk. Ia membantu Zara untuk bersandar pada ranjang.


"Kamu tunggu di sini, aku akan menyiapkannya dulu," ucap Zidan dengan lembut. Ia mengusap puncak kepala istrinya dan mengecupnya sekilas. Zara mengangguk tipis dan menatap kepergian Zidan dari kamarnya.


Zara menatap ke arah jendela dengan sendu. Ia tahu, jika ia bersikap seperti ini Zidan akan sedih dan khawatir padanya. Zara belum bisa melupakan kejadian itu. Namun ia sebisa mungkin tidak akan menunjukkan kesedihan itu di depan suaminya. Tatapannya kosong. Zara melamun dan entah apa yang ia pikirkan. Zara kembali meneteskan air matanya.


Sedangkan di dapur, Zidan ingin membuatkan bubur untuk Zara. Zara belum sembuh total, ia tidak bisa memberikan Zara makanan sembarangan. Namun Zidan juga bukan seorang ahli memasak. Ia belum pernah membuat bubur sebelumnya. Di dapur, Zidan nampak bingung harus memulainya dari mana. Ia menggaruk kepalanya sendiri.


"Sedang apa?" tanya Alina yang mengejutkan Zidan.


"Mommy arahkan Zidan saja. Biar Zidan yang memasaknya sendiri," ucap Zidan. Sesuai dengan permintaan Zara, bubur ini harus Zidan masak dengan tangannya sendiri. Lagi-lagi Alina tersenyum dan mengangguk tipis. Zidan mulai memasak bubur sesuai dengan intruksi dari ibunya.


Tak lama kemudian, bubur itupun jadi. Zidan segera menghidangkannya di mangkok. Tak lupa juga, ia membuatkan Zara segelas susu agar tubuh Zara cepat sembuh dan kembali seperti biasanya. Zidan membawa nampan yang berisi bubur dan susu itu ke dalam kamarnya. Alina tersenyum lega, lambat laun Zara sudah mulai membuka lembaran hidupnya yang baru lagi. Tak lagi berlarut-larut dalam kesedihannya.


"Sayang, maaf ya hanya bisa memasak bubur ini saja," ucap Zidan saat baru masuk ke dalam kamarnya. Zidan terkejut karena Zara tidak ada di atas ranjangnya. Dengan panik Zidan langsung meletakkan nampannya di atas nakas. Ia segera mencari Zara yang tak ada di kamarnya.


"Sayang? Kamu di mana?" tanya Zidan panik. Ia membuka pintu kamar mandi namun Zara tak ada di sana.

__ADS_1


"Zara?" panggil Zidan. Ia melihat jendela kamarnya terbuka. Zidan segera berlari menuju jendela tersebut. Zidan takut Zara melakukan hal yang membuatnya terluka lagi.


Zidan terhenti tepat di ambang pintu jendela itu. Ia bernapas lega, setidaknya Zara tidak melakukan hal yang nekad. Zara berdiri di balkon sambil menatap langit-langit yang tampak cerah sore itu. Dengan angin yang menerpa dirinya, setidaknya kesedihan Zara berkurang karenanya. Zidan perlahan mendekati Zara dan memeluknya dari belakang.


"Kenapa di sini? Udaranya sangat dingin sayang... Kamu baru sembuh," bisik Zidan. Zara tersenyum tipis. Ia menoleh ke arah Zidan sekilas lalu kembali menatap langit.


"Zidan, apakah bayi kita merasa tenang di sana? Apa dia tidak merindukan kita seperti kita merindukannya?" tanya Zara. Ia tersenyum getir.


"Putri kita akan merasa bahagia di sana jika melihat mamanya tidak bersedih lagi atas kepergiannya. Zara, ikhlaskan kepergian putri kita, kita mulai hidup kita kembali, oke?" ucap Zidan dengan hati-hati. Ia takut akan menyinggung Zara dan membuatnya bertambah sedih. Zara menghela napasnya sejenak. Suaminya benar, ia harus bisa kembali dari keterpurukan ini.


"Apakah yang kamu katakan itu benar?" tanya Zara. Zidan tersenyum tipis. Ia membalikkan tubuh Zara perlahan dan menangkup wajah istrinya itu.


"Iya, kalau kamu bersedih terus, putri kita akan menangis di sana," jawab Zidan. Ia membelai rambut Zara lalu mengecup keningnya dengan lembut. Zara tersenyum dan memegang kedua tangan Zidan.


"Aku akan berusaha menerima kenyataan ini Zidan... Tapi ada satu hal yang aku inginkan," ucap Zara hati-hati.


"Katakan sayang,"


"Aku tidak ingin tinggal di sini untuk sementara waktu. Bolehkah aku tinggal di panti asuhan saja? Aku merasa sedih jika tinggal di sini," ucap Zara dengan ragu. Ia menundukkan kepalanya.


"Jika itu kemauanmu, aku akan mengabulkannya. Tapi, kamu harus makan yang banyak dulu baru kita bisa pindah ke sana. Kita tinggal di sini beberapa hari dulu bisa? Aku ingin memastikan bahwa istriku ini benar-benar sehat dulu," ucap Zidan. Zara memanyunkan bibirnya. Zidan tertawa kecil dan segera membawa Zara masuk ke dalam kamar kembali. Mereka duduk di tepi ranjang dan di tengah mereka ada makanan yang tadi telah Zidan siapkan untuk Zara. Zidan mulai menyuapi Zara dengan pelan.

__ADS_1


"Syukurlah, lambat laun Zara mulai bisa menerima kenyataan ini," batin Zidan sambil terus menatap istrinya dengan lekat.


__ADS_2