Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 51 (season 2)


__ADS_3

Pagi harinya setelah sarapan, Alina ingin mengunjungi restorannya yang sudah lama ia serahkan kepada Rani dan suaminya. Sejak saat itu, hanya beberapa kali saja Alina mengunjungi restorannya. Karena Arvin yang tak mengizinkan Alina sibuk dengan urusan restoran.


Tadi Alina juga sudah izin pada suaminya untuk ke restorannya sekalian bertemu dengan Rani. Ia rindu dengan suasana ramai di restoran tersebut.


"Raffa, hari ini ada jam kuliah tidak?" tanya Alina saat ia sudah bersiap ingin ke restoran. Raffa sedang duduk di sofa ruang tengah sambil membaca buku.


Raffa menghentikan membacanya dan menutup bukunya. Ia menatap Alina.


"Tidak ada Mom," jawab Raffa.


"Raffa mau tidak mengantar mommy ke restoran?" tanya Alina. Raffa mengangguk.


"Kalau begitu Raffa siap-siap dulu ya Mom," ujar Raffa. Alina mengangguk dan tersenyum tipis.


Lima menit kemudian, Raffa sudah bersiap untuk mengantar mommy nya ke restoran. Mereka mengendarai mobil dengan Raffa yang menyetirnya. Tak lama setelah itu, mereka sudah sampai di restoran Clarissa. Alina dan Raffa turun dari mobil.


"Mom, Raffa tunggu di sini saja ya," ucap Raffa. Alina menoleh menatap Raffa.


"Kenapa? Raffa tidak ingin masuk ke dalam?" tanya Alina.


"Ya sudah, Raffa ikut mommy," ucap Raffa pasrah. Alina tersenyum senang dan segera membawa Raffa masuk ke restoran tersebut.


"Selamat siang, apa bu Raninya ada?" tanya Alina pada salah satu karyawan di sana.


"Siang nyonya. Ada di ruang kerjanya. Mari saya antar," ucap karyawan tersebut. Ia mengantar Alina dan Raffa ke ruangan itu.


Alina masuk bersama Raffa setelah karyawan tersebut memberitahukan kedatangan Alina pada Rani. Rani sangat senang akhirnya Alina berkunjung ke resto.


"Mbak Alina, apa kabar?" ucap Rani. Ia langsung memeluk Alina dengan erat.


"Baik, kamu sendiri bagaimana? Maaf ya, aku jarang sekali ke sini. Oh iya, kenalkan ini putraku yang ketiga, namanya Raffa," ucap Alina.


"Waahh, tampan seperti ayahnya, hehe," ujar Rani.


Raffa mengulurkan tangannya dan mereka saling berjabat tangan. Tak lupa Raffa mencium punggung tangan Rani sebagai tanda kesopanan.

__ADS_1


Rani mempersilakan Alina dan Raffa untuk duduk di sofa. Semua ruangan ini sama sekali tidak berubah. Sama seperti beberapa tahun yang lalu.


Rani juga meminta karyawannya untuk menyajikan makanan untuk Alina dan Raffa. Rani begitu senang dengan kedatangan Alina. Selama ini, ia mengelola restoran ini bersama suaminya. Alina hanya memantaunya dari jauh saja. Bahkan restorannya juga sudah mulai buka cabang di beberapa kota.


"Ran, kalau misal putraku aku suruh bantu-bantu mengurus restoran bagaimana? Kamu setuju tidak?" tanya Alina.


"Mbak Alina kenapa harus bertanya? Boleh banget mbak.. Memangnya siapa yang mau bantu Rani di sini?" tanya Rani senang.


Alina menoleh ke arah Raffa.


"Raffa maukan membantu mommy mengurus restoran ini?" tanya Alina.


"Raffa mau belajar Mom. Lagipula Raffa juga sudah mulai libur semester," jawab Raffa. Alina tersenyum lebar. Memang hanya Raffa yang tidak pernah menolak permintaannya. Raffa begitu menurut kepadanya dan juga Arvin.


"Baiklah, kalau Raffa sudah setuju. Nanti mommy akan bantu minta izin pada papamu agar kamu diizinkan untuk mengurus restoran," ucap Alina. Raffa mengangguk.


"Oh iya, di mana anak-anak?" tanya Alina. Biasanya kedua putri Rani sering membantu Rani juga. Namun jika mereka lagi senggang saja.


Pernikahan Rani dengan Danis dikaruniai dua putri yang begitu cantik. Yang satu sudah lulus kuliah dan bekerja di kantor membantu Danis, ayahnya. Sedangkan satunya lagi sering membantu Rani saat senggang habis kuliah. Putri yang pertama bernama Farida dan putrinya yang kedua bernama Viona.


"Biasanya sore kalau ke sininya mbak. Mungkin sebentar lagi datang," jawab Rani. Alina mengangguk paham.


"Mom, Raffa tunggu di mobil ya," ujar Raffa. Ia merasa bosan jika hanya diam saja di sana. Alina mengangguk. Ia tahu jika Raffa sedang bosan.


Raffa pamit keluar ruangan. Tak lupa ia memasang headphone yang selalu ia bawa ke mana-mana. Raffa mulai memutar lagu kesukaannya dan ia melangkah menuju mobil.


"Siapa dia?" batin Viona saat berpapasan dengan Raffa. Viona yang baru datang dan ingin ke ruangan ibunya. Viona terpana dengan pesona Raffa.


Viona segera menuju ruangan ibunya. Ia ingin menanyakan pria yang baru dari ruangan ibunya tersebut.


"Bundaa..." teriak Viona. Ia berjalan masuk ke ruangan. Alina dan Rani seketika menoleh ke arah pintu ruangan tersebut. Viona terkejut karena ada Alina di sana.


"Tante Alina," ucap Viona. Ia segera menghampiri Alina dan ibunya. Tak lupa Viona memberi salam kepada Alina.


"Hai sayang, masih ingat sama tante?" tanya Alina. Ia tersenyum tipis sambil mengusap bahu Viona.

__ADS_1


"Masih dong. Oh iya tante, laki-laki yang baru keluar ruangan tadi siapa?" tanya Viona penasaran.


"Namanya Raffa. Putra dari tante Alina," jawab Rani. Viona merasa terkejut. Ternyata itu adalah anak dari Alina.


"Raffa yang selalu pendiam itu?" ucap Viona tak percaya. Alina tertawa kecil. Ia mengangguk.


"Mmm.. Tante, bunda, Viona pamit untuk bantu-bantu di depan ya," ucap Viona. Alina dan Rani mengangguk.


Viona keluar ruangan. Ia ingin memastikan kembali bahwa itu benar-benar Raffa. Terakhir kali Viona bertemu dengan Raffa saat dia masih SMP. Dan Raffa juga jarang ikut Alina ke sini saat Alina mengunjungi restorannya.


"Hah, Raffa ke sini? Apa dia masih ingat sama aku ya? Perempuan yang selalu menjahilinya dulu waktu masih SD, hehe," gumam Viona. Viona dan Raffa sempat satu sekolah saat duduk di bangku sekolah dasar. Namun saat SMP mereka beda sekolah hingga sampai kuliah.


Tuk tuk tuk


Viona mengetuk kaca mobil Raffa. Raffa mengernyitkan dahinya. Ia menurunkan kaca mobil tersebut.


"Haii,," sapa Viona hangat.


Namun Raffa hanya diam saja. Ia sudah lupa dengan wanita yang berdiri di samping mobilnya saat ini.


"Siapa?" tanya Raffa datar. Ia melepas headphonenya.


"Haih, sudah kuduga dia pasti lupa. Sikapnya masih saja seperti dulu," gumam Viona.


"Kamu lupa sama aku?" tanya Viona. Raffa menatap Viona semakin bingung. Viona menghela napasnya sejenak.


"Aku Viona. Kamu lupa?" ucap Viona kembali.


"Oh," ujar Raffa. Viona menatap tak percaya jika Raffa begitu dinginnya. Ia kembali memasang headphonenya untuk melanjutkan mendengarkan lagunya.


"Hei, apa kamu tidak ingin turun dari mobilmu dan berbincang denganku?" ucap Viona.


"Tidak!" jawab Raffa singkat.


Viona memutar bola matanya malas. Sikap Raffa yang seperti ini tak mudah ia hadapi.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa? Atau mau minum?" tanya Viona lagi.


"Aku tidak butuh apapun!" ucap Raffa. Ia menutup kembali kaca mobilnya. Terlihat Viona berdecak kesal dan memukul pintu mobil. Namun Raffa juga tidak mempedulikannya.


__ADS_2