Cinta Anggita

Cinta Anggita
Lukman tukang kompor


__ADS_3

Kini mereka makan malam bersama dengan makanan catering,yang sudah Gilang pesan. Setelah makan malam, sebagian ada yang berkumpul di taman belakang. Di taman belakang ada saung kecil, dengan ada sebuah kolam ikan. terdengar gemericik air dan suara jangkrik yang saling bersautan. Membuat suasana menjadi begitu tenang, membuat suasana semakin terasa nyaman.


Sebagian teman teman Gita malam itu ada yang melakukan masing-masing kegiatan. Ada yang mengobrol di teras depan, Sambil ketawa ketawa, ada yang di saung sedang menikmati kopi dan melihat yang sedang berkumpul di teras belakang rumah. Tapi Gita, Reni,Mpo Ati, Joko, Fahri, Rizal dan teman teman yang lain. duduk berbentuk lingkaran, dengan di temani api unggun di depannya. Merek saling bercerita, tertawa, ada yang sedang bernyanyi sambil memainkan gitar.


"Git, Ren, enak banget ini ya. Mpok kalau di rumah jam segini ya tidur, mau ngapai lagi udah malam. lah ini mpok udah kaya ABG . Di depan api , duduknya sama elu, barengan berondong, yang masih daun muda. Betah ini mpo Git, lailahailallah... " Cerita mpo Ati, yang membuat semua tertawa mendengarnya.


"Masa mpo, lah emang bang Kardun gak ngajak indehoy gitu. Jam segini udah molor?" Tanya Joko, membuat semua yang mendengar terkekeh dengan pertanyaan nyeleneh Joko.


"Lah urusan indehoy mah itu urusan dalam negri ko. Elo gak boleh tau, nanti elo taunya kalau udah nikah. Mangkanya buruan nikah, jangan tuh otak mikirnya kesana nanti kepengen berabeh ko." Jawab mpo ati dengan meledek Joko.


"Yaelah... Mpo Ati,lah pan ada peralon, siapa tau aja Joko suka begituan di peralon. Wahahahahah......" Reni ikut menimpali dengan jawaban yang rada sableng.


"Sembarangan loe Ren, anu gue bisa bisa ledes, kalau pake peralon.. Kadang kadang otak elo gesrek juga lama lama Ren". Omel Joko, semakin membuat semua pada tertawa.


" Udah udah omongan kalian ngelantur kemana-mana. Riski pinjem gitarnya dong." Riski pun memberikan gitar nya ke Gita, Gita pun mengambil gitarnya." Mending kita nyanyi aja yuk, udah pas banget ni suasana nya". Gita pun bermain gitar dengan nada kunci gitarnya. Jreeeng... Jreng ..


🎢🎢🎢


Suatu hari


Dikala kita duduk ditepi pantai


Dan memandang ombak dilautan yang kian menepi


Burung camar terbang


Bermain diderunya air


Suara alam ini


Hangatkan jiwa kita


Sementara


Sinar surya perlahan mulai tenggelam


Suara gitarmu


Mengalunkan melodi tentang cinta


Ada hati


Membara erat bersatu


Getar seluruh jiwa


Tercurah saat itu


Kemesraan ini


Janganlah cepat berlalu


Kemesraan ini


Inginku kenang selalu


Hatiku damai


Jiwaku tentram di samping mu

__ADS_1


Hatiku damai


Jiwa ku tentram


Sementara


Sinar surya perlahan mulai tenggelam


Suara gitarmu


Mengalunkan melodi tentang cinta


Ada hati


Membara erat bersatu


Getar seluruh jiwa


Tercurah saat itu


Kemesraan ini


Janganlah cepat berlalu


Kemesraan ini


Inginku kenang selalu


Hatiku damai


Jiwaku tentram di samping mu


Hatiku damai


Jiwa ku tentram


Kemesraan ini


Janganlah cepat berlalu


Kemesraan ini


Inginku kenang selalu


Hatiku damai


Jiwaku tentram di samping mu


Hatiku damai


Jiwa ku tentram


🎢🎢


Semuanya pun ikut bernyanyi, dengan Gita yang memainkan gitarnya. Pak Hendra, bunda yuni,mamah Henny. Mereka melihat ke arah belakang, Karena mendengarkan suara orang bernyanyi dan memainkan gitar. Pak Hendra pun tersenyum karena yang memainkan gitarnya adalah Gita.


Begitupun juga dengan Gilang, yang terpesona melihat Gita memainkan gitar dengan sempurna. Suaranya yang merdu enak di dengar, tepat dengan suasana di sana. Gilang nampak tersenyum melihat Gita yang bermain Gitar, tanpa Gilang sadari, pak Hendra memergoki Gilang yang sedang menatap Gita.


Benar benar malam itu di nikmati oleh anak anak, menikmati liburannya. Bernyanyi sampai mata mereka benar benar merasa kantuk.

__ADS_1


Dan Gilang yang berada di dalam kamarnya, menemani Jessy yang sudah tertidur. Gilang pun masih mendengar suara Gita bernyanyi, namun kali ini Gita menyanyi dengan lagu melow nya.


Mungkin karena sudah malam atau karena terbawa suasana yang masih mengingat Andi.


Waktu sudah menunjukkan jam 12 malam Gita,Reni, Lukman, Joko, Rizal dan Fahri masih berada di luar. Main gitar pun di hentikan, tapi kali ini mereka saling bercerita. Terdengar suara Gita yang tertawa menimpali suara Fahri bercerita.


Tiba-tiba handphone Gilang berbunyi notifikasi pesan masuk. Terlihat nama Lukman, yang mengirimkan pesan ke Gilang.


βœ‰οΈ Mas, sudah tidur belum.? Kalau belum pasti mas dengarkan suara tawa Gita yang bercanda dengan Fahri. Mereka begitu ceria,apa lagi kalau di liat langsung,sangat akrab banget. Kuping mas Gilang Panas ga denger nya, panas lah, panaas dong. Mas ngerasain gerah gak sih, padahal udara sejuk loh nih malam. Tapi kenapa panas ya, hihihi.....". Lukman niat banget ngirim pesan ke Gilang,kakak sepupunya . Hanya untuk mengompori Gilang, hingga membuat darahnya naik dengan cepat.


βœ‰οΈ Dasar kamu sudah berubah profesi jadi tukang kompor Man.


Balas pesan Gilang. yang mengatai Lukman yang sudah mengompor ngomporin Gilang.


Sebenarnya Gilang memang merasakan gerah di kamarnya, padahal AC di kamar nya pun sudah menyala. Tapi kenapa terasa panas , apa lagi saat dengar Gita tertawa bersama Fahri.


Sebenarnya Gilang ingin sekali melarang Gita untuk terlalu dekat dengan Fahri. Namun Gilang masih belum mempunyai hak untuk melarang itu, tidak ada cara lain Gilang harus melakukan sesuatu agar Gita masuk.


Tut...Tut.. Gilang menelpon seseorang, lalu terdengar suara telpon diangkat.


Gita yang merasa handphone nya bergetar, dan saat di lihat terpampang di layar depan dengan nama pak Gilang. Lalu Gita pun mengangkat panggilan telpon itu.


πŸ“ž"Hallo , assalamualaikum.


πŸ“ž"waalaikumsallam, masuk Git. Sudah malam, jangan di luar terlalu lama. Saya tidak suka kamu terlalu dekat dengan Fahri. Saya sudah bilang kamu itu milik saya, atau mau saya menghampiri kamu dan bilang jangan dekati kamu karena kamu milik saya.?


πŸ“ž"Iya nggak perlu, iya aku masuk sekarang.


πŸ“ž"Pintar, yasudah masuk. Saya dengar suara kamu masih di luar, saya yang akan bawa kamu masuk Git. Udah malam gak baik buat kamu, saya tidak mau kamu sakit.


πŸ“ž" Iya.


πŸ“ž"Yasudah saya tutup telpon nya, Assalamualaikum..


πŸ“ž"Waalaikumsallam.


Panggilan pun terputus. Fahri terus memperhatikan Gita saat menerima panggilan. Fahri pun penasaran dengan sikap Gita saat menerima panggilan telpon.


"Git, kamu nggak kenapa kenapa.?"


"Ah .. nggak kenapa kenapa. Oh iya udah malam,gue juga udah ngantuk gue masuk duluan ya. Fahri Reni, gue masuk duluan ya. Mas Lukman, Gita duluan ya".


Fahri,Reni dan Lukman mengangguk.


"Iya udah malam, gue juga mulai ngantuk. Fahri gue duluan ya, Sayang aku duluan masuk sama Gita ya".


Pamit Reni yang sudah menguap dengan menutup mulutnya.


"Ya sudah kamu istirahat, udah malam juga. Selamat malam sayang". Ucap Lukman ke Reni,dan Reni pun tersenyum.


"Malam juga sayang". Jawab Reni, dan Fahri merasa kesal dengan dua pasangan sejoli itu. Fahri merasa seperti obat nyamuk bakar. Hahahaha....


"Terus kalian begitu di depan gue, udah kaya obat nyamuk aja. Mesra mesraan di depan gue, biar gue duluan yang masuk, Awas awas kalian". Ucap Fahri yang mendahului Reni masuk. Lukman dan Reni hanya tersenyum melihat Fahri yang kesal dengan ke uwwuhan mereka berdua.


Dan akhirnya Lukman pun juga ikut masuk kedalam, dan masuk ke kamar mereka masing-masing.


Sedangkan di dalam kamar, seorang pria sedang tersenyum saat Gita yang sudah masuk kedalam kamarnya. Pria itu adalah Gilang, dia tersenyum saat Gita mengikuti ucapannya,saat menyuruh masuk ke dalam jangan diluar.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2