Cinta Anggita

Cinta Anggita
Gilang kembali


__ADS_3

" Ayo maju, kenapa kalian takut. Ayo pengecut, model keroyokan mau jadi jagoan." Gilang menunjukkan senyum menyeringai dan tatapan membunuh. Satu persatu di lirik oleh Gilang.


Saat orang itu melangkah maju, untuk menghajar Gilang. Tiba tiba Ada bunyi sirine mobil polisi, lalu kelompok begal itu lari kocar-kacir meninggalkan Gilang.


Saat orang itu semuanya berlari, lalu Gilang duduk dengan lemas di jalan. Nafasnya yang tersengal-sengal, pandangan nya yang semkin gelap. Dan Gilang pun akhirnya tak sadarkan diri.


Keesokan paginya Gilang tersadar, dan di hadapan seorang anak laki-laki sedang menatapnya. Anak itu tersenyum menatap Gilang.


"Siapa kamu, dan saya di mana ini.?"


"Om di kelinik, om semalam terkena begal. Om ingat.?" Gilang berusaha mengingat kejadian semalam, dan Gilang pun mengangguk.


"Mereka lari karena bunyi mainan saya om." Bocah itu menjelaskan kejadiannya dan sampai Gilang di bawa ke kelinik untuk di obati.


Lalu ada seorang pria paruh baya, mendekati Gilang. Dan menjelaskan kalau Ali lah yang menolong dan membawanya ke kelinik untuk di obati.


Dan karena ide Ali lah begal itu bisa lari. Lalu bapak itu menghubungi polisi untuk membawa satu begal yang terkapar di TKP.


Kini Gilang dan Ali sedang di interogasi oleh polisi untuk menjadi saksi.


Setelah urusan dengan polisi, kini urusan dengan pihak rumah sakit. Gilang ingin pulang, karena merasa sudah lebih baik.


Setelah di perbolehkan pulang, Gilang pun juga meminta izin untuk mengajak Ali untuk ikut bersamanya. Karena Ali bercerita dia sudah tidak mempunyai tempat tinggal. Dia sendiri tinggal di sebuah gubuk reyot, yang pernah dia tinggalkan bersama ibunya dulu. Namun kini kedua orang tua nya sudah tidak ada, telah meninggal dunia. Kini ia hidup sebatang kara di sana, tanpa sanak saudara.


Dan pak Rt serta penduduk setempat pun setuju dari pada Ali Luntang Lantung di jalan. Gilang juga berniat nanti akan mengadopsi Ali, sebagai bentuk trimakasih nya.


Flashback of


" Begitu yah ceritanya". Semuanya mendengar kan ceritanya Gilang dengan sangat serius.


"Trimakasih ya nak, sudah menyelamatkan om ini". Ucap pak Hendra dengan tulus.


"Trimakasih ya, kamu sudah menyelamatkan anak saya. Sekaligus ayah dari cucu saya Jessy." Kata bunda Yuni.

__ADS_1


"Sama sama pak Bu, saya menolong om Gilang tulus. Kebetulan saya lewat karena saya habis pulang mulung, dan ketemu mainan itu, dan masih bisa di pergunakan. Dan ternyata mainan itu bermanfaat untuk membantu om Gilang. Saya senang bisa menolong seseorang, bukan hanya om Gilang saja ." Kata bocah bernama Ali tersebut dengan sangat bijak.


" Bun Sekarang aku ingin bersama istriku, dimana Gita Bun.?" Wajah Gilang kembali terlihat khawatir dengan istrinya.


" Mamah di bawa kerumah sakit pah". Kata Jessy dengan matanya sudah mengembun, dan kembali menangis.


"Astaghfirullah.... Gita. Bun bagaimana keadaan nya Gita dan calon anak ku.?"


"Semalam Lukman bilang, Gita lagi di ruangan IGD. Belum sadarkan diri, dan ada flek juga dari kandungan Gita. Dan tadi Lukman bilang Gita sudah sadar, namun kondisi Gita sangat memprihatikan. Dia nangis terus menerus, tidak mau makan dan minum. Dan di tangan nya di pasang jarum infus, untuk membantunya agar Gita tidak lemah." Gilang merasa tersayat hatinya mendengar kondisi istrinya.


"Aku mau kerumah sakit. Ali kamu di rumah sama mereka dan bersih bersih kan badan kamu. Bun aku titip anak anak ya sama bunda dan mamah Henny. Tolong belikan baju ganti untuk Ali, minta tolong pak Rohmat. Sekarang aku ingin kerumah sakit, melihat kondisi istri dan calon anakku." Bunda dan mamah Henny mengangguk kan kepalanya.


"Ayah ikut Lang, sekarang kamu bersih bersih seluruh tubuh mu. Nanti ayah akan antar kamu ke sana, sekalian ayah ingin liat menantu ayah." Kata pak Hendra dan Gilang pun mengangguk.


Tiga puluh menit Gilang dan pak Hendra perjalanan, kini mereka sudah sampai di depan rumah sakit tempat Gita di rawat.


Baru turun dari mobil, Gilang sudah melihat Lukman yang sedang duduk di bawah pohon. Gilang pun menghampiri Lukman.


"Man, ngapain kamu di sini.?" Lukman yang mengenal suara yang memanggil nya, langsung tersenyum dan memeluk Gilang.


" Nanti saja ceritanya, sekarang dimana Gita.?"


"Gita di dalam mas, paman. Ayo masuk mas, semuanya pasti sangat senang. Terutama Gita pasti keadaannya langsung membaik melihat mas datang."


Kini Lukman, Gilang, dan pak Hendra masuk ke dalam rumah sakit. Dan tepat di depan ruang IGD mertuanya ,dan Reni sedang menunggu Gita.


Pak Jaka dan Bu Siti yang melihat kedatangan menantu nya sungguh Bahagia.


"Alhamdulillah, nak Gilang kamu selamat." Pak Jaka memeluk tubuh menantu nya dengan sangat bahagia dan bersyukur.


Begitupun Bu Siti merasa bahagia suami dari anaknya selamat. Dan Reni pun juga merasa bersyukur karena kakak iparnya kembali dengan selamat, dan keadaan Gita pasti akan membaik.


"Alhamdulillah saya baik baik saja. Bagaimana keadaan istri saya.?"

__ADS_1


"Gita sedang tertidur mas, habis menangis memanggil nama mas Gilang. Dan tadi di paksa makan dan minum, terus habis minum obat juga." Kata Reni yang memberi tahu keadaan Gita.


"Baik kalau begitu, saya masuk kedalam dulu ya. Saya ingin bertemu istri saya dulu". Semuanya pun mengangguk.


Ceklak pintu terbuka dan Gilang melihat keadaan istrinya. Setelah meminta izin kepada perawat Gilang pun boleh duduk di samping Gita.


Gilang memandangi wajah istrinya yang terlihat pucat. Gilang mengecup kening Gita, lalu mencium tangan istrinya. Tak lupa Gilang mengecup perut istrinya.


'Nak kamu yang kuat ya, di perut mamah. Kamu anak kuat, kamu harus kuat seperti papah dan mamah ya. Papah mohon kamu bertahan dan yang kuat ya nak. Papah dan mamah mengharapkan kamu hadir di tengah-tengah kami sayang.' Sambil membelai perutnya istrinya.


Gilang di beri tahu, oleh perawat. Bahwa kandungan istrinya kini sangat lemah. Mungkin akibat stress,dan tekanan darahnya yang sangat rendah. Dan ibunya pun tidak ingin makan, mungkin itu mengaruh untuk kandungan nya.


"Mas Gilang... Mas... Kamu dimana,jangan pergi. Jangan tinggalkan aku mas..." Gita mengigau dalam tidurnya. Gita pun juga mengeluarkan air mata,saat mengigau.


"Gita sayang, ini mas. Mas gak akan kemana-mana, mas juga tidak akan meninggalkan kamu sayang." Ucap Gilang Sambil mengusap air mata Gita, di wajahnya.


Gita pun membuka matanya secara perlahan, Gilang pun tersenyum ke arah istrinya.


"Sayang, ini aku suami kamu."


"Mas Gilang..." Suara Gita sangat lemah, hampir suaranya tak terdengar jelas.


"Iya sayang ini mas, kamu cepat sehat ya sayang". Ucap Gilang yang matanya mulai mengembun.


Lalu Gilang menempelkan bibirnya di bibir istrinya, untuk mengecup nya sejenak.


"Maass....Hiks...Hikss....Kaa mu gak apa-apa kan mas.?" Gilang hanya tersenyum dan mengangguk kan kepalanya.


Lalu tangan kanan Gita terangkat, lalu menyentuh wajah suaminya. Yang terdapat luka panjang. Lalu Gilang memegang tangan Gita, lalu di kecup tangan Gita.


"Aku baik baik saja. Kamu jangan khawatir ya, aku akan di sini menemani kamu. Kamu cepat sehat ya, agar kita bisa kumpul bersama." Gilang berbicara sangat lembut kepada istrinya. Sampai perawat yang berada di balik tirai mereka mendengar Gilang bicara sampai tersenyum.


Lalu Gilang pun mencium kening Gita, Dan Gita pun tersenyum. Gilang membelai rambut Gita hingga Gita pun tertidur. Setelah Gita tertidur, Gilang pun bangun dari duduknya. Dan berkumpul dengan ayah den mertuanya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2