
+21
Reni juga tidak mau, rencana pernikahan mereka kandas. Soalnya persiapan pernikahan mereka sudah sampai 90%.
Seluruh keluarga pun sudah tau akan pernikahan mereka, jika sampai gagal. Reni ga kebayang seperti apa nantinya.
Dan Reni benar benar merasa nyaman jika Bersama Lukman, hanya Lukman lah yang mampu membuka hati Reni kembali. Setelah hatinya tertutup untuk pria lain, karena mencintai terlalu dalam bersama Arya.
Lukman baru melepaskan pelukannya di saat Reni mulai tenang, tidak emosi seperti tadi. Reni masih betah dengan diamnya.
"Aku minta maaf,aku gak meragukan kamu Reni. Hanya saja aku merasa tak suka dengan ucapannya, selama kalian pacaran, dia sering membuat tanda bagian..." Lukman tidak mau melanjutkan ucapannya lagi. " Sudah lah gak usah di lanjutkan lagi, maaf aku membuat kamu sedih."
Reni menatap wajah Lukman, Reni yakin Lukman masih ragu." Aku dan Arya memang berpacaran, aku memang merasakan sakit hati karena dia. Aku pun berpacaran hanya melakukan ci*man di bibir saja mas, ga lebih dari itu. Aku juga gak mau mas, melakukan yang segala Arya bilang membuat tanda merah di mana aja. Dan apa lagi Sampai aku melakukan itu ke dia, bisa bisa aku di gorok batang leher ku sama ayahku dan ka Riko. Mangkanya aku marah saat kamu ngeraguin aku mas, aku nggak terima mas. Aku pinta kamu jangan ragu ya mas, semuanya nanti akan jadi milik kamu." Reni menjelaskan panjang lebar ke Lukman, agar tidak ada salah paham lagi di antara mereka. Di akhir kalimat nya terlihat bibir Lukman terangkat, seperti bentuk perahu. Reni pun ikut tersenyum, karena Lukman sudah mulai tersenyum.
" Trimakasih sudah menjelaskan semuanya ke aku, maaf aku sempat ragu sama kamu. Aku sayang sama kamu Reni, aku ga mau karena salah paham, hubungan kita renggang." Lukman tersenyum,Reni pun mengangguk kan kepalanya.
"Aku juga mas, aku gak mau kamu ragu sama aku." Tiba tiba Lukman mendekati wajah Reni, lalu Lukman menc*m bibir Reni. Cukup lama mereka melakukan itu, sampai mereka pun menghentikan nya. Nampak wajah malu dari Reni, dan senyum manisnya. Membuat Lukman tersenyum melihat tingkah malu malu Reni. Dan akhirnya mereka pun berbaikan,karena adegan itu.
Reni pun bertanya kenapa Lukman bisa di tempat itu, di mana Gita sahabatnya..?
Lukman menjelaskan apa yang terjadi oleh Andi, Gita dan Gilang. Reni terkejut dengan apa yang Lukman cerita kan, Reni khawatir dengan keadaan Gita.
"Lagi lagi karena Andi, Mas terus keadaan Gita sekarang gimana ya.?" Lukman menaikan kedua bahunya.
" Sayang, mas Gilang itu orangnya pemarah gak sih.?"
Lukman nampak berpikir.
" Eeemmm.... Kalau di bilang pemarah dia orang yang pemarah,jika ada orang yang menggangu dia. Apa lagi keluarga nya, dan istrinya lagi. Tapi dia ga akan kasar dengan keluarga apa lagi dengan anak istrinya. Sekedar marah karena cemburu wajar, tapi aku yakin mas Gilang gak akan main kasar dengan Gita." Lukman melihat wajah Reni sangat khawatir dengan Gita.
__ADS_1
" Kamu tenang aja, Gita gak akan kenapa kenapa. Paling kena sedikit hukuman dari mas Gilang". Lukman terkekeh sendiri dengan ucapannya.
"Gita dapat hukuman, hukuman apa mas. Ya ampun Gita kasian banget si nasib lo Maimunah". Sedangkan Lukman hanya senyum senyum mendengar Reni yang menghawatirkan Gita.
****
Sedangkan di kediaman Gilang, Gita merasa bingung di acuhkan oleh suaminya. Sejak sampai Gilang mendiami Gita, dan menghindar dari Gita. kini Gita sedang makan seorang diri, merasa tidak berselera untuk makan. Karena Gilang tadi habis makan dengan Lukman dan teman temannya.
Gilang yang baru selesai mandi pun keluar dari dalam tandas, dan melihat Gita baru masuk kamar selesai makan.
"Mas..." Panggil Gita.
"Eemm.." jawab Gilang, Gita merasa sedih yang di diami oleh suaminya. Lalu Gilang melihat wajah istrinya yang cemberut,merasa sedih di cuekin dirinya.
Gilang sebenarnya juga tak tega, tapi Kenapa Gilang masih merasa kesal jika ingat Andi memeluk Gita sangat erat.
Sedangkan Gilang keluar kamar, untuk membuatkan kopi. Saat sedang membuat kopi, Gilang teringat kembali kejadian Gita dan andi.
" Sampai kapan pria itu terus mengejar Gita. Padahal dia sudah mempunyai istri, masih saja mengejar Gita. Di tambah lagi kakak nya Reni, pria itu juga mantan Gita. Dan sebentar lagi Lukman dan Reni menikah, pasti pria itu di sana." Gilang pun memijat keningnya sendiri, yang terasa berdenyut.
Setelah kopi yang di buat oleh Gilang sudah jadi. Kini Gilang kembali ke kamarnya, dan seperti biasa Gilang Gilang berdiri di luar balkon kamarnya.
Gilang meletakkan kopinya di atas meja, lalu Gilang berdiri di berjalan menuju pembatasan pagarnya. Gilang menatap langit malam, yang membentang dengan adanya setitik cahaya bintang yang hadir menemani malam itu.
Gilang pun membuang nafas nya yang membuatnya sesak, lalu Gilang memejamkan matanya, hingga membuat dirinya tenang.
Tiba tiba Gilang kaget karena ada tangan yang melingkar memeluk tubuh nya dari belakang. Tangan yang putih bersih, dan halus memeluk nya. Sedikit senyuman saat melihat tangan istrinya itu.
Gilang mendengar suara Isak tangis dari istrinya, yang kini berada di belakang tubuhnya.
__ADS_1
" Mas... Aku minta maaf, aku sungguh tadi tidak sengaja bertemu Andi di rumah Aldo. Kalau aku tau ada dia di sana, aku gak akan datang ke sana. Aku juga selalu menghindar mas dari dia. " Gita semakin terisak karena suaminya tak membalas ucapannya.
" Mas... Aku mohon kamu jangan diami aku seperti ini, aku gak bisa mas, kalau aku di cuekin sama kamu mas."
Hiks.. Hiks.. Hiks... Lalu Gilang menyentuh tangan Gita,yang sedang memeluknya dari belakang. Lalu Gilang membalikkan badannya untuk melihat istrinya,yang kini sedang menangis dengan wajahnya yang menunduk. Pundak Gita yang bergetar, karena Isak tangis nya.
Lalu Gilang mengangkat dagu Gita, dan melihat wajah Gita yang sudah basah karena air matanya. Dan matanya pun sudah sembab mungkin karena Gita menangis cukup lama. Gilang menghapus air mata menggunakan jarinya, dan menatap wajah Gita membuat dirinya tak tega.
"Jujur Git, aku sangat marah. Apalagi saat pria itu memeluk kamu, aku ga munafik aku sangat cemburu melihat itu. Aku gak ingin kamu di dekati oleh orang lain, apalagi sampai di sentuh. Aku sangat marah ketika aku ingat itu. Tapi aku gak bisa marah sama kamu Git." Lalu Gilang menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya ." Aku diam sama kamu, karena aku ingin menenangkan diri ku sendiri, agar aku ga kepanjangan marah sama kamu. Dan aku menyuruh kamu mandi, aku ga mau ada bekas pelukan dia dari tubuh kamu. Aku gak rela Git, kamu di sentuh oleh orang lain. Maafin aku karena sudah membuat kamu sedih seperti ini, aku gak bermaksud seperti itu sayang."
Dan Gita pun mengangguk kan kepalanya, Gilang terus membelai lembut rambut Gita, agar Gita tenang.
"Mas.. Aku hanya takut kamu marah." Kata Gita dengan suara hampir tak jelas di dengar, karena Isak tangis nya.
" Uuuss... Mana bisa aku marah sama kamu sayang." Kata Gilang dengan tersenyum.
Kini mereka pun berbaik kan, kini Gita sudah sedikit tenang. Dan sudah tersenyum, begitupun juga Gilang membalas senyuman nya kepada istrinya .
"Aku sudah memaafkan mu, bukan berarti kamu tidak aku hukum. Kamu akan menerima hukuman dari ku".
" Memang kamu bilang tadi aku akan di hukum mas.?" Gita nampak berpikir.
" Sepertinya kamu tidak bilang aku akan dapat hukuman. Katanya mas udah maafin aku, tapi kenapa harus ada hukuman. Tandanya kamu belum memaafkan aku". Sambil memanyunkan bibirnya, membuat Gilang berusaha menahan tawanya.
Tanpa aba-aba Gilang langsung menggendong Gita ala bridal style. Gita pun terkejut akan suaminya mengangkat tubuhnya seperti itu.
"Kamu sengaja ya meminta maaf sama aku dengan pakaian kamu seperti ini. Kamu berniat menggoda aku .?" Kata Gilang dengan senyuman nakal nya.
Gita tak paham yang dikatakan oleh suaminya itu, kini mereka sudah sampai di dalam kamar. Dan Gilang meletakkan tubuh Gita di atas kasur mereka. Dengan tatapan yang enggan berkedip, yang terus menatap Gita dengan tatapan buas.
__ADS_1