Cinta Anggita

Cinta Anggita
Flashback 1


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan sore hari, Gita dan Gilang berniat berpamitan kepada Riko dan Gina. Karena Gita dan keluarga sudah hadir di acara itu dari awal Acara.


"Mas kita balik yuk, takut anak anak lelah." Ajak Gita melihat Gandi yang sudah tertidur di gendongan.


"Yasudah pasti kamu juga lelah kan, kita balik saja. Ow iya kan mau kerumah ayah atau mau balik Git.?" Tanya Gilang yang merapihkan anak rambut yang tertiup angin.


"Ya sebenarnya badan aku juga mulai tak enak, mungkin aku lelah mas."


"_kamu sakit sayang". Gilang menyentuh kening istrinya memang terasa hangat kening Gita. " Iya sayang kening kamu agak panas, yasudah kita pulang saja."


" Iya mas Kita pulang saja, Nanti aku pamit sama ibu dan ayah. Pasti mereka masih menemaninya keluarga Reni, pasti sampai malam."


"Yasudah kita pamitan sama bunda dan yang lainnya yuk.?" Kata Gilang di angguki oleh Gita.


Akhirnya Gita dan Gilang pun pamitan dengan pak Hendra dan yang lainnya.


Tak lupa Gilang juga pamitan dengan mertuanya.


"Ayah, ibu, kami pamit pulang duluan ya. Ibu masih mau di sini.?"


"Iya nak, ayah dan ibu masih bantu bantu di sini. Yasudah kalau kamu mau pulang tidak apa-apa, seperti nya kamu juga lelah .?"


"Iya Yah, Gita sepertinya lelah. Kalau begitu kami pamit ya ayah, ibu.?"


"Yasudah kalian pulang lah istirahat, kamu juga Lang kendarai mobil nya hati hati. "


"Iya yah, kalau begitu kami pamit ya". Gilang dan Gita mencium tangan kedua orang tuanya. "Assalamualaikum...."


"Waalaikumsallam..."


Gita dan Gilang kini naik ke atas pelaminan. Untuk bersalaman dengan kedua pengantin.


"Gina, KA Riko selamat ya atas pernikahan nya. Semoga sakinah mawadah warahmah, dan cepat punya momongan." Kata Gita memberikan selamat.


"Trimakasih ya Gita, trimakasih sudah datang di acara kita". Kata Riko dengan bersalaman tangan dengan Gita.


Gita pun mengangguk dan tersenyum.


Lalu bergilir ke Gilang.


"Selamat ya Gina Riko, semoga bahagia. Dan di segera kan mempunyai momongan." Sambil bersalaman dengan Gina.


"Aamiinn... Trimakasih pak Gilang".


"Trimakasih mas Gilang sudah mau datang ke acara kami."


"Sama sama. Kalau begitu kamu sekalian mau pamit, anak anak sudah mulai rewel. Sekali lagi selamat ya buat kalian."

__ADS_1


"Iya mas, trimakasih ya". Gilang pun mengangguk.


Lalu Gilang dan Gita turun dari panggung pelaminan, dengan di bantu oleh suaminya dengan memegang tangan nya.


Kini Gita dan Gilang sudah sampai di rumah nya. Gilang melihat Jessy yang sudah tertidur, Gilang pun menggendong putri nya itu. Sedangkan Abi membantu membawa tas Mamah nya, mengantarkan Mamahnya ke dalam kamarnya.


"Mah ini tas nya aku letakkan di sini ya.?" Abi meletakkan tas Gita di atas meja.


"Iya sayang, trimakasih ya nak. Sekarang kamu bersih bersih dan istirahat ya nak.!"


"Iya mah, mamah juga istirahat ya.!"


" Iya sayang, mamah juga akan istirahat ko." Abi tersenyum lalu pergi meninggalkan mamah Gita di kamarnya.


"Anak itu dewasa sekali. Mamahnya pasti sangat beruntung mempunyai anak pintar dan penurut seperti Abi". Ucap Gita seorang diri. Melihat pintu kamarnya sudah tertutup rapat.


Gita duduk bersandar di tempat tidur, menikmati lamunannya.


"Jodoh memang tidak ada yang tau, kita berpacaran dengan siapa dan ternyata menikah dengan siapa.


Pria yang dulu yang ku harapkan aku berjodoh dengannya, malah tidak ada satupun. Dan siapa sangka, pria yang suka memaksa,nyebelin, yang tak lain bos ku sendiri. Malah kini dia yang menjadi suami ku, dan justru aku menjadi mamah muda dengan tiga orang anak. Semoga keluarga ku ini di jauhi dari bahaya dan selalu dalam lindungan munya Robb". Ucap Gita dalam hatinya.


Saat itu juga pintu kamarnya terbuka, dan ternyata suami nya yang masuk. Gita tersenyum karena Gilang tersenyum lebih dulu. Gilang berjalan mendekat ke Gita lalu duduk di sebelahnya.


"Gandi sudah tidur sayang.?"


"Sudah mas".


"Lumayan lelah hari ini aku".


Gilang pun memijat kaki Gita.


"Aku senang akhirnya Riko menemukan jodohnya." Gilang membuka obrolan nya.


Gita mengernyitkan matanya." Senang kenapa mas.?"


"Senang lah, karena dia sekarang fokus sama istrinya. Coba kemarin matanya itu masih melirik aja ke arah kamu sayang. Sama tuh sama mantan kamu yang satu, sepertinya mereka semua susah move on dari kamu deh.?"


"Entah lah, semoga mereka bahagia dengan pasangan mereka ya mas. Seperti kita yang sudah bahagia saat ini mas".


"Apa kamu bahagia Git, akhirnya kamu menikah sama aku. Apa lagi dengan status ku yang duda beranak satu, dengan sikap ku yang kaku dan cemburuan seperti ini. Apa kamu bahagia .?"


"Bahagia itu tidak perlu di ungkapkan mas, Bahagia itu di rasakan. Jika kita merasa nyaman dengan pasangan kita, dan kita bisa tersenyum dengan ikhlas, tak di paksakan itu namanya bahagia mas. Bahagia itu tidak bisa di ukur dengan apapun mas, bahkan dengan sesuatu hal terkecil saja itu kadang bisa membuat kita bahagia. Dan satu lagi mas, kita bersyukur apa yang kita punya insya Allah kita akan bahagia mas. Apalagi dengan kita memiliki tiga anak yang lucu dan pintar itu udah bahagia buat aku. Melihat kamu, anak anak dan keluarga sehat juga udah buat aku Bahagia." Gilang tersenyum mendengar kata kata istri nya.


"Aku beruntung mempunyai istri seperti kamu sayang". Gilang mengecup kening Gita.


"Aku juga bahagia mempunyai suami seperti kamu mas." Gilang tersenyum." Istirahat yuk, sudah malam pasti kamu lelah kan seharian di sana.?" Gita mengangguk dan akhirnya mereka pun tertidur dengan saling berpelukan.

__ADS_1


Beberapa Minggu kemudian, Gilang merasa aneh dengan sikap istrinya. Entah Kenapa Gita mendiami dirinya.


Memang sebelumnya mereka bertengkar kecil, karena salah paham.


Flashback


Saat itu Gita ingin meminta di temani oleh suaminya, untuk membeli sesuatu. Gita ingin sekali berdua dengan suaminya tanpa mengajak anak anak. Karena selama ini waktu untuk mereka berdua selalu sangatlah jarang, paling sekali nya berdua ya hanya di dalam kamar. Itu pun juga kadang baby Gandi menangis, merengek meminta mimi.


"Mas, besok kita kencan yuk. Kita jalan berdua, tanpa anak anak mas.?" Gilang mengerenyitkan mata nya menatap Gita.


"Tumben ada apa memangnya, kita berdua Nih. Anak anak gak di ajak.?" Gita mengangguk kan kepalanya.


"Yasudah besok aku usahakan ya sayang. Sebenarnya besok aku mau bertemu dengan seseorang, tapi besok bisa atau tidak nya aku hubungi kamu lagi. Gak apa-apa kan sayang.?"


"Iya gak apa-apa mas".


Esok hari Gita sudah bersiap siap untuk jalan berdua dengan suaminya. Tapi sebelumnya Gita mengajak anak anak mereka kerumah mertuanya, untuk menitipkan anak anak nya .


Dan tentunya mertuanya tidak keberatan, karena bunda tau Gita ingin menikmati waktu berdua dengan suaminya.


Saat Gita berada di dalam taksi, handphone milik Gita berbunyi.


"Assalamualaikum, iya mas ada apa.?"


"Kamu sudah di mana sayang.?"


"Di jalan di dalam taksi, mau ke pabrik nyusul kamu. Ada apa mas memangnya.?"


"Begini sayang mas lagi gak di pabrik, mas lagi menemui seseorang di luar. Tadi aku mau hubungi, lupa maaf ya sayang".


Mendengar seperti itu ada kekecewaan pada wajah Gita.


"Sayang, hallo sayang."


"Hemm... Yes, it is okay. . Aku jalan sendiri saja deh kalau seperti itu". Dengan suara lemas.


"Sayang aku beneran ngerasa bersalah sama kamu.?"


"Gak apa-apa mas."


"Yasudah aku lanjut lagi ya sayang.?"


"Hemm.... Iya".


"Maaf ya sayang, yasudah aku tutup telpon nya. Assalamualaikum..."


"Waalaikumsallam..."

__ADS_1


Panggilan pun terputus..


Gita berbalik arah, menuju salah satu mall. Di mana mall itu tempat favorit nya Gita dan Reni kalau lagi nongkrong, waktu belum menikah.


__ADS_2