
Andi, Reni,tersenyum melihat pak Jaka dan Bu yang bahagia. Tapi Gita melihatnya dengan sedih, karena Gita tak pernah mengajak kedua orangtuanya makan di tempat sebagus tempat itu.
Reni tau apa yang Gita rasakan, Reni pun mengusap pundak Gita. Dan Gita pun menoleh ke arah Reni, melihat Reni tersenyum kearahnya, Gita pun membalas senyuman nya Reni.
"Maaf ya yah Gita tidak pernah ngajak ayah dan ibu ke tempat seperti ini. Kalau nanti Gita ada rejeki, insyaallah Gita akan ajak kalian ketempat seperti ini". Ucap Gita, yang membuat kedua orangtuanya melihat kearah Gita.
Pak Jaka pun merangkul pundak sang putri." Hei anak ayah yang boto, dengerin ayah. Kamu jangan baper dong, ayah dan ibu bilang seperti itu tidak ingin membuat bikin kamu menjadi sedih. Kamu sehat dan bahagia kami sebagai orang tua sudah sangat bersyukur dan bahagia. Kalau urusan kamu ajak ketempat seperti ini, itu bonus untuk kita berdua sebagai orang tua". Kata pak Jaka, dan di angguki oleh Bu Siti.
"Ayah, ibu, Gita Ayo kita masuk cari tempat duduk, udahan sedih sedih nya. Git, perut gue udah pada demo nih, Udah ya jangan sedih, lagian Andi kan lagi traktir ultah Lo. Mubazir tau kalau nanti Andi batalin traktiran kita ini". Pak Jaka yang mendengar Reni bicara seperti itu lantas protes.
"Eh eh eh... Nggak bisa gitu dong. Masa udah mau traktir kita, mau di batalin, enak aja mau Luh Ndi borok sikut nanti". Mendengar ayah dari pacarnya bilang seperti itu,Andi langsung meringis." Ayo Git jangan sedih lagi, ayah mau makan di restoran ini. Mumpung ada yang traktir, kapan lagi di traktir calon mantu, ya nggak Bu". Kata pak Jaka dengan menaikkan kedua alisnya.
"Yaudah yuk yah,Bu, semua kita masuk. Kasian nih anak panda udah laper". Kata Andi dengan meledek Reni, Andi pun dapat pelototan dari Reni.
Pak Jaka, Bu siti, dan Gita pun berjalan lebih dulu, mencari tempat duduk untuk mereka. Sedangkan Reni dan Andi yang berjalan di belakang Gita pun berbisik.
"Widiih tanda tanda itu Ndi,si ayah Jaka udah memberikan kodenya buat elo. Dah buruan tuh buat gaet Gita". Dengan nada pelan,dan menyenggol sikut Andi.
Gita yang mendengar Reni meledek Andi hanya tersenyum saja, dan Andi tau itu.
" Beres Lo tunggu aja nanti tanggal mainnya, kamu siap kan sayang". Andi berbisik ke Gita, dan Gita pun mengangguk.
__ADS_1
Bagaikan mendapatkan kupon berhadiah dengan anggukan nya Gita. Andi merasa ingin teriak " yees... Namun takut di kata orang gila masuk mall, jadi Andi hanya senyum-senyum, dan menaikkan alisnya ke arah Reni.
Sedangkan Reni yang melihat tingkah si Andi, yang lebay nya itu. Reni hanya menunjukan jari telunjuk ke keningnya,dan memiringkan jari nya ke arah Andi. Andi cuek menanggapi ledekkan dari Reni.
Kini mereka pun sudah duduk di kursinya masing-masing, dan di depan mereka pun sudah tersedia makanan yang mereka pesan. Pak Jaka dan Bu Siti menikmati makanannya dengan Santai. Begitu Reni, Gita dan Andi. Mereka mengobrol, tertawa, terlihat keakrabannya Andi dengan keluarga Gita.
****
Back to Gilang and Jessy.
Gilang kini menemani Jessy ke sebuah mall, di mana letaknya di daerah Jakarta barat. Hanya itu yang bisa Gilang lakukan untuk menebus kesalahannya , dengan meninggalkan anaknya. Hanya dengan menemani Jessy bermain saja, dan melihat Jessy tersenyum. Rasa lelah yang Gilang rasakan hilang gitu saja.
Bagaimana tidak jadi pemandangan yang indah, seorang pria duduk sendirian di depan tempat permainan anak anak. Dengan wajah yang tampan, dan berkharisma. Membuat suatu pemandangan yang indah bagi kaum wanita, apa lagi dengan wangi parfum yang Gilang gunakan, bikin para cewek ingin nempel aja bawaannya.
Gila g mencoba cuek dengan para gadis yang tersenyum ke arahnya, ada yang melambaikan tangannya ke arah Gilang.
( eit di kata uji nyali kali ya, yang nggak kuat lambaikan tangan)
Malah ada yang berani minta kenalan dengan Gilang, nekat kali gadis itu.
" Hai, ko sendiri aja?" Gilang pun melihat ke arah gadis yang menyapanya.
__ADS_1
"Saya tidak sendiri, banyak pengunjung di mall ini". Kata Gilang yang menjawab sapaan gadis itu dengan sopan.
" Iya si banyak pengunjung di Mall ini, tapi maksud aku itu kamu yang sendirian disini. Harusnya ada dong yang menemani kamu, jangan sendiri pasti bete deh". Kata gadis itu dengan suara manis, dengan gaya centilnya." Ow iya kenalin aku Laura, kamu siapa ?" Gadis itu mengarahkan tangannya untuk bersalaman dengan Gilang.
Gilang pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Lalu Gilang pun berdiri lalu mengarahkan tangannya ke arah gadis itu, untuk menghargai seorang dengan berjabat tangan." Nama saya Elang". Lalu Gilang pun melepaskan jabatan tangan nya dari gadis yang bernama Laura." Dan saya di sini nggak hanya sendiri, Saya di sini bersama anak saya. Kalau begitu saya harus pergi untu menemui anak saya, permisi". Gilang pun meninggalkan gadis yang bernama Laura, Dan Laura pun terus memperhatikan Gilang.
Gilang merasa jengah dengan gadis itu. Karena bagi Gilang, gadis seperti itu terlalu gampang untuk dekat dengan setiap pria. Dan Gilang tidak suka dekat dengan gadis seperti itu terlalu lama, mangkanya Gilang langsung meninggalkan gadis itu. Setelah menghampiri Jessy yang sedang bermain, lalu Gilang mengajak Jessy ketempat lain. Untuk menghindari Laura yang terus memperhatikan dirinya.
"Elang nama yang bagus, cocok untuk dirinya yang berkharisma. Uuuhh... Semakin penasaran siapa dia."Kata gadis itu dengan terus memperhatikan Gilang berjalan menuntun anaknya.
Jessy terus menggandeng tangan papahnya. Sepanjang perjalanan mulut Jessy tak pernah berhenti untuk bercerita. Ada saja bahan cerita yang untuk di cerita kan ke papahnya.
"Pah, kita cari kado untuk ka Gita, kita kasih apa ya pah?" Jessy yang terus bertanya, setiap lewat depan toko." Pah bagaimana kita kasih boneka, pasti lucu". Gilang pun berhenti saat mendengar Jessy ingin memberikan kado sebuah boneka.
Lalu Gilang menatap wajah Jessy yang memancarkan bahagia saat jalan jalan bersama dirinya. Gilang pun tersenyum melihat Jessy yang tersenyum." Sayang, masa ka Gita nya di kasih boneka si. Kan ka Gita bukan anak-anak Sayang". Jawab Gilang dengan hati hat.
"Iya ya pah, Ka Gita kan bukan anak kecil ya, masa aku beliin boneka. Hihihi..." Kata Jessy dengan cekikikan." Terus beliin apa ya pah? Ka Gita sudah baik sama aku pah, aku ingin kasih ka Gita hadiah pah". Kata Jessy dengan menggoyangkan tangannya papahnya.
"Bagaimana kalau Jessy kasih kadonya tas aja.? Kalau tas pasti Ka Gita pakai nak". Gilang mengasih usulan ke Jessy.
Dan Jessy pun tersenyum lalu mengangguk kan kepalanya, sebagai tanda setuju." Iya pah setuju, usul papah bagus. Ayo pah kita cari kan tas untuk ka Gita". Dengan semangat Jessy menarik tangan papahnya,untuk mencari tas untuk hadiah ulang tahun.
__ADS_1