
" Mas, kamu itu ya. Lihat nih, ini, ini dan ini. Hampir semua nya di sini merah semua karena perbuatan di Kamu mas. Ini baru pertama aku berstatus menjadi istri kamu, tanda merah ini sudah sebanyak ini." Kata Gita dengan menunjuk bagian tubuhnya yang berwarna merah. Yang di beri tanda pemilik oleh Gilang.
Gilang tersenyum meledek.
" Ini hari pertama kamu jadi istri ku, aku beri tanda itu Git. Tanda nya kamu milik ku, kalau hari hari selanjutnya bebas aku ingin buat tanda itu di mana saja." Kata Gilang yang membuat Gita bergidik negeri.
Gilang tersenyum melihat Gita yang bertingkah aneh." Kamu melihatnya bagian itu saja Git, coba besok pagi kamu lihat di area lain. Pasti kamu akan teriak dan bersuara sangat merdu nyanyian kamu itu". Ucap Gilang dalam hati.
Dan Gita melihat suaminya yang senyum senyum sendiri, ada rasa takut tersendiri. Dan Gita pun langsung merebahkan dirinya di kasur, dan menutupi tubuhnya dengan selimut sampai ke wajahnya. Dan Gilang pun terkekeh melihat Gita seperti itu.
Gilang pun masuk ke dalam kamar mandi,dan bersih bersih. Setelah selesai, Gilang pun kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur. Mata Gilang pun sudah terasa berat,dan akhirnya Gilang pun terlelap.
Kini Gita dan Gilang sudah bangun untuk melakukan shalat subuh berdua, biasanya Gilang shalat di musholah berjamaah. Tapi tidak untuk hari ini, Gilang menemani istrinya shalat subuh pertama di rumahnya.
Setelah selesai shalat, Gita mengeringkan rambutnya, dengan hairdryer. Gita menyadari ada sesuatu berbeda di bagian lehernya, dan Gita melihat lebih dekat di cermin di bagian lehernya. Gita membelalakkan matanya saat melihat banyak tanda merah di bagian lehernya.
Dan pintu kamar pun terbuka, dengan datangnya Gilang yang membawa minuman untuk Gita dan dirinya. Gilang tersenyum melihat Gita yang bercermin.
Gilang pun meletakkan minuman nya di atas meja, lalu berjalan mendekati Gita yang kini sudah menjadi istri nya.
" Pagi sayang seger bener kamu tuh, pagi pagi.?" Sapa Gilang lalu mengecup kening Gita. Gilang melihat Gita dengan bibirnya yang cemberut." Loh kenapa sayang ko cemberut seperti itu.?"
" Mas, nih lihat, leher aku sudah seperti macan tutul ada corak di leher aku". Kata Gita dengan cemberut.
Dan Gilang melihat leher Gita lebih dekat, dan Gilang pun juga terkejut. Banyak tanda merah di leher istrinya, semuanya itu atas perbuatannya.
" Maaf ya sayang, aku gak tau kalau sampai sebanyak itu". Jawab Gilang dengan tersenyum menunjukan gigi nya yang rapih dan bersih.
"Ya jelas gak tau lah, dia mah tinggal bikin stempel aja sebanyak-banyaknya. Giliran sudah banyak begini cuma cengir cengir aja. Baru tau diam orang nya, tapi kalau urusan begitu mana bisa diem". Dumel Gita dalam hatinya.
__ADS_1
Gilang masih melihat Gita yang diam. Sebenarnya Gilang tau pasti Gita akan marah, Gilang hanya meledek Gita saja.
" Mas, terus ini bagaimana cara ngilanginnya." Kata Gita dengan bibir Cemberut.
" Itu nanti akan hilang sendiri, mungkin 3 atau 4 hari Git." Mata Gita terbuka lebar mendengar nya.
"Apa 3 hari,, aaaaahh mas Gilang terus bagaimana ini biar tidak terlihat. Aku malu tau, ternyata kamu diem diem seperti ini kelakuan kamu.?" Gilang malah terkekeh melihat sikap Gita seperti itu, apa lagi dengan menyebutkan dirinya.
" Memang kenapa sama diam nya aku, kamu heran dengan orang yang pendiam. Dengar Git, sediam diam nya seorang laki-laki. Yang namanya urusan bercinta dia gak akan diam, pasti dia yang akan memimpin permainan itu." Kata Gilang membuat Gita menjadi geli takut sendiri.
Lalu Gilang berjalan menuju sofa yang berada di kamar. Lalu Gilang mengambil sebuah parcel alat alat make-up, lalu di letakkan di meja riasnya.
Gita heran kenapa suaminya membawa parcel ke meja rias." Kenapa kamu bawa ini mas.?"
" Kamu kesini ga bawa makeup kamu kan.? Kamu bisa pakai makeup itu untuk menutupi tanda itu di leher kamu. Untuk menyamarkan saja Git". Kata Gilang yang membuat Gita tersenyum, karena mendapatkan ide cemerlang.
Gilang hanya menggelengkan kepalanya, lali Gilang membelai rambut Gita. Lalu berjalan meninggalkan Gita untuk mengambil alat gawai nya. Sedangkan Gita ia sendang sibuk merias wajah, dan menutupi tanda merah bekas ulah suaminya. Menggunakan foundation,dan bedak padat, di bagian wajah dan terutama bagian leher dipertebal foundation dan bedak nya. Tak lupa juga Gita memakai lipstik di bibir nya, agar terlihat segar di lihat.Gita senyum senyum di depan cermin, Membuat Gilang yang melihat tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Lalu Gilang pun menghampiri Gita,dan memeluk Gita dari belakang. Terlihat Gilang tersenyum dari pantulan cermin, dan Gita pun membalas senyuman nya.
" Bagaimana Git, bisa kan makeup itu di gunakan untuk menutup tanda merahnya.?" Gita pun mengangguk. Lalu Gilang pun mengecup bagian belakang kuping Gita, membuat Gita merasakan geli saat Gilang berulah.
" Mas".
" Eeemmm.... Kenapa Git.?" Kata Gilang yang masih menci*mi bagian leher Gita.
" Kalau masalah tanda bisa hilang, berarti masih bisa bikin tanda merah lagi di bagian lagi". Kata Gilang dengan tersenyum meledek, dan mengedipkan mata sebelah ke depan cermin. Dan Gita pun menatap nya dengan tatapan aneh.
Gita melihat mantan bosnya, dan Sekarang berstatus suami. Menjadi bergidik negeri, dari balik cermin." Astaga begini sikap mas Gilang aslinya, agak sengklek juga ya kaya Joko. Kirain tampang nya aja garang kelakuan minusnya melebihi wajah dinginnya".
__ADS_1
"Ko diam, Hem...?" Tanya Gilang yang sudah menyusup ke bagian leher Gita, dan Gita pun menghindar.
" Heheheh.... Mas kita keluar yuk, ga enak sama orang tua kamu. Masa aku baru jadi menantu di sini keluar kamar siang hari." Kata Gita dengan cengengesan.
" Bunda dan ayah ku faham Git,kamu tenang aja ya". Kata Gilang yang sudah memeluk tubuh Gita.
" Ya ampun mas, iya orang tua kamu faham. Tapi anak kamu, kamu ga kasian sama Jessy. Aku ga mau loh di bilang hanya peduli dan sayang sama kamu saja, yuk kita keluar." Kata kata Gita mengingat kan Gilang akan Jessy putri nya.
" Astaghfirullah... " Gilang pun melepaskan pelukannya dari tubuh Gita.
" Ya sudah yuk kita turun, habis kamu membuat aku lupa segalanya Git". Kata Gilang dengan mengedipkan matanya dengan senyuman yang menggoda.
Lalu Gilang pun berjalan menggenggam tangan Gita,dan membawa Gita ke lantai bawah. Gita pun tersenyum bahagia, dan mengusap dadanya tanda dia aman, takut di sergap kembali oleh suaminya.
Saat Gita dan Gilang menuruni anak tangganya. Mereka melihat Jessy yang akan menaiki anak tangga juga.
" Hei anak cantik papah,mau kemana sayang.?" Kata Gilang dengan mengecup pipi Jessy.
"Aku mau ke kamar papah, soalnya papah tidak ada di bawah. Biasanya papah sudah di lantai bawah lebih dulu, ini ko papah belum datang.?" Tanya Jessy yang membuat Gita dan Gilang saling menatap.
Gilang tersenyum kearah Jessy, yang kini sudah berada di gendongan nya. Dan mereka berjalan menuju sofa di ruang keluarga.
" Tadi papah sudah turun, tapi belum ada siapa siapa. Jadi papah balik ke atas membawakan minum untuk mamah ".
Jessy pun menatap ke arah Gita, dan Gita pun mengangguk." Iya sayang. Papah kamu tadi sudah ke sini, eeh belum ada siapapun".
Sedangkan di dapur ada mbok Inah, dan bunda Yuni yang sedang membuat sarapan untuk keluarga. Mereka mendengar kan Jessy bicara hanya tersenyum, karena mereka paham biasanya pengantin baru keluar kamar siang.
Bersambung....
__ADS_1