
Tolong antarkan pak Gilang menjenguk bayi dari nyonya Anggita." Perawat itu pun mengangguk.
"Mari pak saya antar ". Gilang pun mengangguk, lalu mengikuti di belakang perawat itu untuk menemui bayi nya.
Kini Gilang berada di ruangan di mana ada anaknya di dalam inkubator. Gilang merasa hatinya ini seperti campur aduk.
Di sisi lain, Gilang bahagia anaknya sudah terlahir di dunia ini. Tapi di balik itu ada rasa sedih yang Gilang rasakan. Karena istrinya belum tersadar juga dari koma nya.
Gilang mengadzani anak nya yang baru terlahir, dengan berjenis kelamin laki-laki.
Setelah selesai Gilang tersenyum menatap anaknya itu sedang mengedipkan mata nya.
"Nak, semoga kamu menjadi anak yang kuat dan sehat ya nak. Mamah kamu sekarang sedang sakit nak, kita doa kan ya biar mamah sehat kembali." Entah kenapa bayi itu menangis, seakan mengerti apa yang Gilang ucapkan.
Dan setelah itu perawat lah yang membantu anak Gilang agar tidak menangis
Kini Gilang kembali melihat kondisi Gita yang sudah terbaring lemah.
"Sayang, Trimakasih kamu sudah melahirkan anak ku yang tampan. Tentunya wajahnya setampan aku, dan ada mirip kamu walaupun hanya sedikit. Sedikit loh gak banyak." Gilang terkekeh kecil, dan tersenyum kecut." Sayang kamu gak marah dan kesal sama mas, karena anak kita miripnya sama mas, bukan sama kamu. Bangun ya sayang kamu boleh kesal sama aku, boleh marah sama aku. Aku siap menerima Omelan kamu, asal kamu sehat lagi. Kamu juga janji kan ingin membuatkan mas cake tiramisu, Ayo kapan mas tunggu loh. Aku kangen kamu Git, kangen manjanya kamu, kangen cerita kamu, kangen bawelnya kamu." Gilang pun menutup matanya dengan tangan nya, dan terisak karena sedih melihat kondisi Gita.
Lalu seorang perawat pun datang dan Gilang di pinta keluar, karena jam besuk sudah habis.
Saat Gilang keluar dari kamar Gita, bunda Yuni menghampiri Gilang.
__ADS_1
" Lang Jessy menangis mencari kamu, dan memanggil nama Gita.? Di sana Abi pun sedang menemani Jessy, cobalah kamu temui Jessy dulu."
"Temui Jessy dulu Lang, tidak apa-apa di sini ada ayah dan ibu. Kasian Jessy dia juga membutuhkan kamu nak.?" Gilang pun mengangguk.
"Baik, kalau begitu Gilang ketempat Jessy yah.?" Pak Jaka pun mengangguk, lalu Gilang pun berjalan untuk menemui Jessy.
Kini Gilang sudah sampai di depan ruangan Jessy, dan di sana sudah ada Abi yang sedang menenangkan Jessy. Namun saat melihat Gilang datang, Jessy kembali menangis.
"Papah..."
"Sayang.. Ada yang sakit nak, maaf ya papah tadi mengurus mamah dulu nak." Sambil mengecup kening putri nya.
"Kepala dan tangan Jessy sakit pah. Pah mamah bagaimana keadaannya, dan adik bayi di perut mamah bagaimana pah.?"
Kini dua Minggu lamanya sejak kejadian kecelakaan itu, sampai hari ini Gita masih di rawat. Bahkan belum ada tanda-tanda Gita sadar. Dan sedangkan bayi mereka pun kini sudah di perbolehkan pulang. Karena berat badannya sudah normal, kini telah di urus oleh ke dua nenek dan kakeknya. Ya pak Jaka dan Bu Siti di minta untuk membantunya. Tentunya pak Jaka dan Bu Siti pun tak keberatan karena bagaimanapun itu juga cucu mereka.
Bayi Gilang yang di beri nama Gandi putra Wijaya, itu nama yang di berikan oleh Gita dan Gilang.
Sedangkan Jessy di rawat hanya tujuh hari, selebihnya di rawat di rumah oleh keluarga. Tangan Jessy pun juga di pasang gips dan penyangga untung tulangnya.
Jessy selalu murung di dalam kamarnya, Jessy nampak bersalah dengan kejadian ini.
" Ka, kalau Jessy tidak merengek untuk di belikan balon oleh mamah. Mungkin mamah gak akan tertabrak oleh mobil, pasti mamah masih bersama kita ka". Kata Jessy yang selalu merasakan bersalah." Ini semuanya salah Jessy, mamah maafkan Jessy."
__ADS_1
Abi mendengar kan semua yang Jessy keluarkan dari hatinya.
"Jessy kita tidak tau musibah itu akan datang, jadi kakak harap kamu jangan menyalakan diri kamu sendiri. Kita hanya bisa berdoa semoga mamah sehat kembali, dan bisa berkumpul dengan kita". Lalu Abi menghapus air matanya Jessy." Sudah ya jangan menangis lagi, nanti jadi jelek loh, bukannya kamu tidak suka di bilang jelek. Sekarang kamu makan ya, kamu mau cepat sehat kan. Kalau kamu sehat, kita bisa bermain dan menemani Dede Gandi. Mau ya makan kakak Abi suapi.?" Jessy pun mengangguk, dan Abi pun tersenyum.
Lalu Abi pun menyuapi Jessy dengan sabar dan telaten. Abi itu terlihat sekali dewasa nya, dan bertanggung jawab dengan keluarganya. Walaupun hanya saudara angkat tapi Abi bisa menjaga dan menenangkan Jessy. Bahkan Abi pun tau apa yang di sukai dan tidak di sukai oleh Jessy.
Balik ke rumah sakit, di mana Gita masih terbaring lemah. Tiap harinya selain Gilang pasti selalu ada yang gantikan yang menjaga Gita. Gilang sebenarnya juga tidak ingin meninggalkan Gita, Gilang hanya akan minta di gantikan kalau dirinya hanya ingin mengganti pakaian saja. Dan juga melihat anak anaknya terutama anak nya yang masih balita.
Kini Reni sedang ikut suaminya untuk menjaga Gita sahabatnya. Reni yang berada di dalam ruangan melihat Gita yang terlihat sangat tenang, dalam tidurnya.
" Hei.. Maimunah, Lo kapan bangun, jangan tidur terus. Dasar Lo, memang elo mau badan Lo gendut lagi balik lagi kaya dulu ke banyak kan tidur. Emang nya Lo gak cape tidur terus, bangun dong Git".Reni berbicara sendiri di hadapan Gita yang sedang keadaan koma. Reni berharap Gita akan merespon apa yang Reni ucapkan.
"Gita, emang Lo gak kangen gue. Udah lama loh kita gak ghibahin orang, biasanya elo suka marah kalau gue ajak gosip. Ayo dong Lo bangun, kita makan cilok bareng, gue lagi pengen makan cilok sama elo duduk di taman. Lo tega tidur terus, jahat Lo ma gue Git. Hiks.. hiks... Hiks... Reni pun akhirnya menangis karena Gita tidak menunjukkan respon nya.
Lukman pun akhirnya memeluk Reni, Lukman paham sebagai sahabat nya Reni merasakan rasa kehilangan, dan sedih melihat sahabatnya dalam keadaan koma.
"Sudah sayang, kamu yang sabar kita harus banyak berdoa untuk kesembuhan Gita."Reni pun mengangguk.
Lalu pintu terbuka dan Gilang pun masuk. Gilang melihat Reni yang sedang menangis dalam pelukan suaminya. Ada rasa tak tega melihat Reni dengan mata sembab nya, tapi Gilang tidak bisa berbuat apa-apa. Gilang sendiri merasa dirinya pun juga sama seperti Reni, menunggu Gita sadar dari koma nya.
" Liat Git, mas Gilang khawatir sama Lo, sama kaya kita semua. Emang Lo gak kasihan sama kita. Terutama sama suami dan anak anak Lo Git,ada bayi Lo yang butuh perhatian elo. Masa Lo tiduran aja Git, anak anak Lo nungguin elo". Lukman mengusap pundak Reni, lalu Reni pun berbisik di telinga gita.
"Gue yakin elo pasti dengar kan apa yang gue bilang ini, kalau iya tolong jawab Git. Gue mohon Lo respon apa yang gue bilang ke Lo, please Git. Kita bukan hanya sahabat, kita bersaudara Git. Elo sakit, gue pun juga merasa kan sakit Git." Lalu Reni tak kuat untuk bicara lagi, Reni pun langsung memeluk suaminya, dan menangis sesenggukan.
__ADS_1
Bersambung.. .