
Hingga mereka berhenti dan melepaskan ciu....mainnya, saat mendengar rengekan Gandi bayi mereka yang haus untuk minum susu. Mereka pun akhirnya melepaskan pautan bi... bir mereka. Gita pun langsung mengambil Gandi lalu Gita memberikan Asi untuk Gandi.
Gilang tersenyum, melihat keluwesan istri yang baru pertama kali menjadi seorang ibu. Tapi sudah luwes dalam mengasuh baby.
Gilang melihat Bibir Gita masih terlihat basah dan sedikit bengkak karena ulahnya. Nafas Gita pun masih terengah-engah, Gilang dengar. Karena mendengar putra nya menangis, naluri seorang ibu langsung berhenti dan meninggalkan pekerjaan nya.
Gilang melihat posisi duduk Gita membuat Gita sedikit tidak nyaman. Akhirnya Gilang pun menggeser duduknya di dekat Gita.
" Sini sayang kamu bersandar di sini, agar pinggang kamu tidak sakit." Sambil menepuk dadanya. "Pasti kan luka bekas jahitan kamu sakit, dengan posisi duduk kamu seperti itu."
"Iya sedikit nyeri sih".
"Yasudah sini, kamu bisa senderan di aku. Terus kaki kamu lurusin biar kaki kamu gak pegel." Gita pun mengangguk, dan tersenyum.
Lalu Gita menggeser posisi duduk nya,di samping suaminya,lalu bersandar pada suaminya.
"Mas senang deh ASI nya sudah keluar." Gita sambil tersenyum melihat anaknya yang menyusu dengan sangat rakus." Aku sedih aja sampai anak aku minum susu formula, bukan ASI ku sendiri. Bukan nya gak boleh minum susu formula, tapi aku sebagai ibu baru ingin merasakan peranan seorang ibu yang sebenarnya. Yang memberikan ASI eksklusif pada anak ku sendiri, apalagi aku seorang ibu untuk yang pertama kalinya, aku ingin yang terbaik untuk anakku.
" Memang Sejak kapan ASI kamu keluar Git.?"
"Tadi sore mas. Aku pernah baca di artikel mas cara agar ASI bisa keluar. Aku lihat caranya mas, dan tadi siang kan aku minta tolong kamu untuk ambilkan air hangat untuk minum kan mas.?" Gilang mengangguk kan kepalanya.
"Nah itu salah satu untuk merangsang agar ASI ku keluar, dan aku juga gak boleh stres mas. Ya aku berusaha tenang untuk tidak panik dan stres, padahal sebenarnya aku agak stres mas sampai Asi aku gak keluar."
"Kan aku sudah bilang sayang, kamu jangan sampai stres. Pasti itu akan berpengaruh untuk kamu juga".
"Iya mas, mangkanya aku tadi berusaha tenang. Dan aku juga minta susu hangat sama bunda, itu juga kata nya akan membantu aku untuk menenangkan diri. Dan yang aku baca juga Kondisi tubuh yang tenang akan membantu mekanisme tubuh kembali normal dan meningkatkan ASI. Dan kalau aku stres akan semakin menghambat produksi ASI aku mas".
__ADS_1
Penjelasan Gita, dan Gilang sebagai Suami ya hanya mendengar kan penjelasan Gita.
Sambil membelai kepala bayi mungil yang rambutnya lebat berwarna hitam. Dengan hidung mancung, membuat nilai plus untuk ketampanan anak mereka.
" Dan aku juga tadi Merangsang pu....ting susu ku mas. Aku merangsang agar ASI ku keluar, aku tempel kan pu...ting ku di mulut bayi kita mas. Dan ternyata reaksi nya cepat loh mas, dada ku langsung terasa sakit gitu, eeh Alhamdulillah ASI nya keluar. Jadi baby kita bisa deh minum ASI Mamah nya ini, ya nak." Gilang dapat melihat raut wajah Gita yang begitu bahagia bisa memberikan ASI kepada baby Gandi.
"Pintar nya istri ku, aku tambah sayang sama kamu".
"Harus dong mas, kamu tambah sayang sama aku." Gita dengan senyum manisnya. Membuat Gilang semakin gemas dengan sikap istrinya itu.
Saat Gita melihat Baby Gandi, ternyata Gandi nya tertidur.
" Anak mamah sama anak papah udah bobo lagi nih."
"Udah tidur lagi Gandi nya.? Yasudah sini pindah kan ke sini, kasian tangan kamu pegel. Yuk aku rapihkan tempat nya dulu ya.?" Gita pun mengangguk .
Gilang pun merapihkan tempat untuk baby Gandi untuk tidur. Dari meletakkan kasur kecil, bantal dan guling. Tak lupa Gilang juga sudah menyiapkan selimut di sampingnya. Gita tersenyum melihat suaminya begitu antusias nya membantu Gita.
"Sudah deh baby Gandi nya bobo tamvan. Hihihi..." Kata Gita dengan terkekeh.
"Iya sayang sekarang kamu istirahat, biar kamu ga terlalu lelah nantinya. Kamu kan juga butuh istirahat untuk kesembuhan kamu.?"
"Iya mas, terima kasih kamu sudah perhatian sama aku. Uuuuhhh ... Makin cinta sama kamu mas". Kata Gita merasa gemas dengan suaminya.
Cup
Gilang menempelkan bi...birnya di bibir Gita. "Jangan mancing mas sayang. Ini masih lama loh, sudah mancing mancing. Awas kalau sudah kembali formal aku makan kamu Git. Kalau kamu nggak mau, nanti aku hukum tiga kali lipat tiap harinya. Mau kamu Git.?" Gita dengan meringis dan merinding, mendengar ucapan suami nya.
__ADS_1
"Ya sudah aku biasa aja deh sama kamu, abis lari nya pasti kesana Mulu arahnya."
Gilang hanya tersenyum mendengar Gita ngedumel.
Gita pun merebahkan tubuhnya,dan memejamkan matanya. Memang Gita sebenarnya sangat lelah, karena kondisinya yang memang butuh banyak istirahat.
Gilang hanya tersenyum melihat istrinya yang sudah tertidur. Gilang menyelimuti tubuh Gita, dan mengecup kening Gita, dan juga putra kecilnya. Setelah itu Gilang pun ikut tertidur.
Keesokan paginya di rumahnya pak Hendra kumpul dengan seluruh keluarga. Apalagi sejak kedatangan baby Gandi, rumah pak Hendra selalu ramai. Apalagi sekarang Gita pun sudah kembali ke rumah, banyak para tetangga yang menjenguk Gita dan baby nya.
Dan tiap harinya selalu saja ada tamu yang menjenguk Gita dan anaknya. Entah dari saudara, tetangga, atau teman Gilang dan pak Hendra.
Dan tiap harinya Gita dan baby Gandi pun, setiap pagi selalu berjemur di bawah matahari pagi. Dengan baby Gandi di gendong bunda, dan Gita di kursi rodanya. Dan sesekali Gita pun belajar berjalan untuk melemaskan otot-otot nya, itulah yang di sarankan dari dokter.
Hingga suatu hari Gilang kedatangan tamu, teman Gilang dan Lukman yang bernama Tyo dan Bram.
Ingat kan teman nya Gilang saat Gilang check up,karena dadanya selalu berdebar. Apalagi di saat bersama dengan Gita dadanya semakin berdebar sangat cepat..
"Hai... Bro Gimana kabar Lo sekarang. Wah makin bahagia dong, udah nikah lagi, sekarang udah nambah anak. Tokcer banget dah teman kita ini Bram, diam diam menghanyutkan menghasilkan anak dengan bibit unggul nya". Goda Tyo dengan menepuk pundaknya.
Sedangkan Bram dan Lukman hanya terkekeh melihat Gilang selalu di ledek dengan Tyo.
"Iya lah kapan lagi coba, Gilang itu jiwa nya masih muda, berkharisma. Coba istri nya aja cantik, pintar sekali jessy mencarikan mamah baru." Timpal Bram yang ikut meledek Gilang.
Sedangkan Gilang hanya tersenyum dengan gaya cool nya.
" Sudah sudah kalian ngeledek mas Gilang aja. Terutama elo Tyo ngeledek mas Gilang, elo sendiri gimana kapan mau nyusul kita kita. Cuma elo yang belum married, keburu tekukur lo kedinginan tuh dan takut lepas dari sangkarnya nya." Mata Lukman menujuk arah pusaka nya Tyo.
__ADS_1
Bram dan Gilang jadi terkekeh, melihat wajah frustasi nya Tyo.
Bersambung......