
Gilang memberikan paper ke Gita.
"Ow iya Git, nih aku punya sesuatu untuk kamu. Kamu buka ya, aku gak tau kamu suka ga.? Tadi aku sempat keluar dan mencari sesuatu untuk kamu, semoga kamu suka ya.?"
Gita pun mengambil bingkisan dari tangan suaminya. Lalu Gita membuka isi tas tersebut, saat di lihat ada benda di bungkus kertas kado. Gita melihat ke arah suaminya yang sedang tersenyum memperhatikan dirinya. Lalu Gita membuka bungkusan kado nya.
Saat Gita buka ternyata isinya sebuah handphone, berlambang buah pear di gigit setengah.
Gita tidak tau harus bagaimana mendapatkan hadiah dari suaminya itu. Tapi karena benda itulah mereka bertengkar hebat.
Gita memasukan kembali handphone nya kedalam tas paper bag nya." Kenapa sayang ko di masukan lagi, kenapa kamu gak suka sama modelnya.?"
"Kamu bawa lagi benda itu, aku gak mau. Gara gara benda itu kita jadi berantem seperti semalam. Sekarang kamu keluar kamar mas aku mau istirahat". Gita kembali emosi mengingat pertengkaran semalam.
Akhirnya Gilang pun mengalah, dia mengambil handphone nya. Lalu di simpan di dalam lemari, lalu setelah itu Gilang pun keluar meninggalkan Gita sendiri.
Saat malamnya, Gilang beristirahat di kamar Jessy. Tidak ada niatan Gilang untuk tidur pisah dengan Gita. Karena Gilang lagi melihat foto Jessy bersama Gita, namun Gilang tertidur dikamar Jessy.
Gita yang terbangun saat malam hari, dan mencari suaminya. Matanya mencari suami nya di kamarnya, tapi tidak ada. Ada rasa sedih kembali yang Gita rasakan, Gita teringat suaminya marah dan tak tidur di rumah bersama nya di kamar. Gilang justru menginap di rumah orang tuanya, dan tega meninggalkan istrinya tidur sendirian dalam keadaan marah.
"Mas, kamu di mana.? Apa kamu
menginap lagi dengan tempat bunda, kenapa kamu tidak ada di sini lagi.?" Gita bicara sendirian
Lalu Gita turun dari tempat tidurnya, dan mencari suami nya. Di sofa kamar tidak ada, di balkon pun tak ada. Dan Gita membuka pintu kamar nya, Gita langsung menuruni anak tangga. Dan mencari di ruangan tamu, dan di dapur. Barangkali suaminya sedang membuat kopi, namun tidak ada juga. Akhirnya Gita menaiki anak tangganya kembali, dan Gita melihat pintu kamar Jessy.
"Apa mas Gilang tidur di sana.?" Gita pun berjalan menuju kamar anak sambung nya. Dan membuka pintu kamarnya.
Cklak.... Gita melihat ke seluruh ruangan. Dan saat melihat di tempat tidur Jessy, Gita melihat seseorang yang menempati tempat Jessy. Gita pun menutup pintunya lalu menghampiri suaminya yang sedang tertidur.
__ADS_1
Gita melihat suaminya tidur pun sangat gelisah." Git, Gita. Aku minta maaf, aku mohon kamu jangan pergi membawa anak kita." Gilang mengigau dengan memanggil nama Gita. Gita yang melihatnya secara langsung, Gita tersenyum mendengarnya.
"Ternyata kamu memang sangat menyesal ya mas, aku jadi tidak tega marah kepanjangan sama kamu.?"
Lalu Gita membangun kan suaminya, dengan cara di tusuk tusuk dengan jari telunjuk nya. Gilang pun membuka matanya, dan melihat ada istrinya di hadapannya.
"Loh sayang, kenapa kamu membangun kan aku. Kamu ingin sesuatu.?" Gita menggelengkan kepalanya. Gilang pasrah karena istrinya masih mode ngambeknya.
Lalu Gilang mengubah posisi nya menjadi duduk, dan tersadar kalau itu bukan kamar nya. Gilang baru tersadar kalau istri nya mencari dia sampai ke kamar Jessy, Gilang pun tersenyum melihat istrinya.
"Kamu nyariin aku Git, sampai kamu ke sini.?" Gitu pun mengangguk kan kepalanya, Gilang pun langsung tersenyum." Kita pindah ke kamar yuk, kamu ingin apa.? Hem..." Gilang pun berdiri, lalu membelai rambut Gita.
Dengan menggenggam tangan Gita, Gilang membawa keluar dari kamar Jessy ke kamarnya.
Kini mereka sudah sampai di kamar, dan sudah duduk di atas tempat tidur.
Lalu Gilang menggenggam tangan Gita, lalu Gilang mencium tangan istrinya.
" Aku sadar aku salah, sangat sadar aku memang salah Git. Tapi aku mohon jangan diami aku seperti ini, aku tidak bisa Git. Aku kangen manjanya kamu, tawa kamu, cerita kamu. Aku mohon kamu jangan terlalu lama marah sama aku Git." Gita menatap wajah suaminya dengan mata yang sudah mengembun.
Bahkan sebagian air matanya yang sekuat tenaga di bendung, ternyata gagal. Air mata itu mengalir dengan sendirinya. Gilang pun segera menghapus air mata istrinya itu.
"Aku pikir kamu tadi pergi ketempat bunda lagi, Mangkanya aku mencari kamu tadi.? Hiks.. Hiks.. hiks.." Gita pun akhirnya menangis, dan mengeluarkan semua yang membuatnya sesak.
" Kalau kamu gak bisa marah sama aku terlalu lama, dan kenapa kemarin kamu tidur di tempat bunda. Kamu tega membiarkan aku di rumah sendiri dalam keadaan kamu habis marah besar sama aku. Tanpa aku tau apa kesalahan aku yang aku lakukan, kenapa kamu tega mas, kenapa..~?" Gilang masih menundukkan kepalanya.
"Kenapa di saat aku marah, kamu gak bisa aku diamkan. Dan aku bukan orang yang pendendam seperti itu mas, Apalagi kamu suami aku sendiri. Tapi aku mohon kalau ada masalah jangan di selesaikan dengan emosi. Kita bicarakan baik baik mas, aku ga mau sampai kamu emosi seperti kemarin. Apa kamu bisa janji.?"
Gilang selama Gita bicara, Gilang dengarkan dengan rasa bersalahnya. Semua rasa sesak yang Gita tahan hilang begitu saja. Saat mengeluarkan segala uneg-uneg nya kepada suaminya.
__ADS_1
Gilang pun mengangguk kan kepalanya.
"IYa insyaallah aku janji, aku berusaha tidak melakukannya dengan emosi lain kali. Apalagi di sini ada baby, aku gak ingin kalian Kenapa Kenapa. Aku minta maaf ya sayang, aku sudah buat kamu kecewa. Sekali lagi aku minta maaf, aku sangat menyayangi kamu Anggita". Dengan di akhir kalimat nya Gilang mengecup kening Gita.
"Iya mas, aku maafkan kamu mas. Aku tidak bisa marah sama kamu mas". Gilang pun tersenyum.
Lalu Gilang mendekap erat tubuh istrinya, Gilang menenangkan istrinya sampai benar tenang. Gilang merasa bersalah akan kesalahannya yang sudah cemburu berlebihan. Padahal dulu sama mendiang istrinya dulu, Gilang tak secemburu seperti itu. Baru hanya pada Gita dia seperti itu.
Saat Gita sudah membaik, Gilang kembali menggenggam tangan Gita.
"Trimakasih sayang sudah mau memaafkan kesalahan aku." Gita pun mengangguk dan melihat jam dindingnya, menunjukkan pukul satu malam." Sekarang kita tidur ya, sudah malam. Kamu juga harus istirahat, gak boleh tidur malam malam."
"Mas, aku ga ngantuk, Aku ingin sesuatu".
Gilang tersenyum melihat tingkah istri yang menggemaskan itu." Kamu ingin apa Hem... Coba bilang.?"
"Aku ingin martabak manis yang rasa keju, pakai susu".
"Martabak manis, jam segini. Masih buka tidak ya.?"
"Aku gak mau beli, aku ingin kamu bikin sendiri. Hasil buatan tangan kamu sendiri, bukan hasil beli". Kata Gita merengek, dengan menggerakkan tangan suaminya.
"Apa.... Buat sendiri.?" Tanya Gilang kembali, dan di angguki kepalanya oleh Gita serta senyuman nya.
"Tapii...." Belum selesai Gilang bicara, Gita sudah menyelak pembicaraan suaminya.
"Tapi apa ..? Kamu gak mau buatin untuk aku dan anak kamu ini.? Yasudah gak apa-apa, aku saja yang buat sendiri.?" Jawab Gita dengan ketus.
Bersambung...
__ADS_1